Lho, ... bukankah seandainya saja TIDAK TERJADI KESALAHAN, KEBERHASILAN RRT 
akan JAUH lebih heibat lagi! Bukan saja ditahun 1972 berhasil MEMAKSA AS 
berubah sikap, Presiden Nixon datang sendiri ke Beijing bersalaman dengan Ketua 
Mao, merubah politik blokade sejagad menjadi “bersahabat”, tapi ditahun 1972 
itu, RRT sudah MAKMUR seperti sekarang menjadi jadi ancaman berat AS, dan 
sekarang sudah bisa mengungguli AS! Mengapa?

Karena kenyataan KAPITAL milik perseorangan itu justru merangsang setiap orang 
tumbuh berkembang lebih CEPAT, ....! Tentu hak-milik kapital perseorangan itu 
kalau dibiarkan tumbuh liar akan menjadi kapitalisme serakah dan kejam dalam 
penghisapan tenaga kerja, jadi keserakahan dan kekejaman itu saja yg harus 
dicegah dan ditindak dengan sanksi HUKUM, dan, ... karena RAKYAT sudah pegang 
kekuasaan pemerintah, sudah seharusnya berkemampuan untuk mengendalikan dan 
menjinakkan kapitalis yg diberi kesempatan tumbuh berkembang untuk mempercepat 
perputaran ekonomi nasional. Dan Pemerintah yang berkuasa pula yang berhak 
menentukan pembagian keuntungan lebih bijaksana, untuk meningkatkan 
kesejahteraan rakyat pekerja, ... Jadi, menurut saya TIDAK PERLU buru-buru 
laksanakan Rev. Sosialisme dengan membasmi kapitalis. Itu namanya kebablasan, 
dan inilah kesalahan ketua Mao, pertama, ...

Kedua, KESADARAN massa rakyat, khususnya myoritas PETANI juga belum bisa 
menerima sepenuhnya kerja kolektif sebagaimana prinsip kerja komune rakyat 
begitu. Banyaak petani jadi merasa tertipu, saat masa perang petani dibagi 
tanah, setelah perang menang baru juga 6 tahunan, tanah garapan diambil alih 
kembali menjadi milik komune! Sedang kader-kader Partai yg membimbing komune 
rakyat itu juga belum tergembleng baik dengan kehidupan bersama, baik dalam 
pembagian kerja terjadi ketidak adilan, begitu juga saat pembagian hasil kerja, 
... yg akhirnya banyak menimbulkan ketidak puasan dan itu banyak memerosotkan 
semangat kerja petani. Begitu juga makan bersama dikantin komune, terjadi 
banyak pemborosan, ... sedang cara begitu tidak mendorong orang kerja lebih 
giat untuk bisa makan lebih banyak!

Ketiga, komune rakyat dijalankan secara ekstrim-kiri, semua yang berbau 
perseorangan, seperti mengerjakan sebidak tanah sendiri, memelihara ternak 
(ayam, babi) sendiri, menjual kelebihan sayuran, ayam, telor, daging babi dsb., 
... jadi dilarang! Akibatnya bukan membebaskan tenaga kerja, tapi dalam praktek 
justru menekan inisiatif, kreatifitas tenaga kerja, ...!

Masih beruntung dgn kesalahan2 itu, kerja produksi masih terbilang naik, bahkan 
produksi pangan bisa dikatakan mencukupi sekalipun belum berlebih banyak, ... 
Seandainya saja Ketua Mao ketika itu berani mendengar pendapat berbeda dan 
memberi kesempatan membuktikan dalam praktek, katakanlah dipraktekkan saja 
pendapat-beda itu dibeberapa kabupaten atau bahkan berapa propinsi, ... tentu 
hasilnya segera bisa nampak jelas, dan, ... yang lebih penting Tiongkok bisa 
menghindari tidak sedikit orang mati-kelaparan saat menghadapi 3 tahun 
berturut-turut bencana-alam BERAT (1959-1961), dan PKT tidak sampai harus 
kehilangan banyak kader-kader baiknya, yang jatuh korban dalam setiap gerakan 
“Anti-Kanan”, dan puncaknya dimasa RBKP selama 11 tahun itu! 



From: Tatiana Lukman jetaimemuc...@yahoo.com [GELORA45] 
Sent: Monday, February 12, 2018 12:56 AM
To: GELORA45@yahoogroups.com ; ajeg 
Subject: Re: [GELORA45] Ilusi tentang Imperialisme adalah virus yang mematikan

  

Makanya, bung Ajeg,  saya bilang si chan itu oportunis. bla-blanya yang panjang 
sangat sering sekali tidak konsisten dan berkontradiksi sendiri. Lupa dia sama 
apa yang ditulisnya sendiri. dia sudah kebingungan cari argumentasi untuk 
membela kaum remo. Coba lihat saja tulisannya itu. Sampai-sampai menyebut Dong 
fang hong segala, prinsip berdikari Mao!!! Tapi di pihak lain dia selalu bilang 
Mao SALAH, TERLALU AWAL MEMBABAT KAUM KAPITALIS. Lantas di mana logikanya? 
Sudah SALAH, KOK MASIH BISA melahirkan hasil pembangunan sosialis yang membuat 
AS berubah sikap!!! Kalau sudah salah garisnya, ya harusnya GAGAL!! Kok malah 
berhasil!!! Sama dengan Lenin yang dia salahkan juga karena membabat 
kapitalisme... Tapi, nanti kapan diperlukan, dia puji lagi Lenin (seperti waktu 
Tkk menerbitkan kembali buku-buku Lenin. Wong sudah  dianggap "salah" revolusi 
Oktobernya, ngapain nerbitan buku Lenin lagi. Siapa yang mau belajar teori yang 
jelas sudah "SALAH") Hebat sekali si Chan ini, ya, bayangin Mao dan Lenin 
dianggapnya SALAH!!!



On Thursday, February 8, 2018 4:19 PM, "ajeg ajegil...@yahoo.com [GELORA45]" 
<GELORA45@yahoogroups.com> wrote:




  
Saya stabilo saja pernyataan Anda di bawah.


--- SADAR@... wrote:

  
Yang membuka pintu PBB masuk bagi RRT dan mendepak keluar Taiwan tentu saja 
bukan perubahan SIKAP AS! Yang ironis, justru saat itu ketua PBB dipegang Adam 
Malik, sedang Soeharto juga masih TETAP BERKERAS menentang RRT masuk PBB, 
sebagaimana politik AS ketika itu! Saya tidak tahu bagaimana Adam Malik ketika 
berperan, sehingga dalam hitungan suara, yg menyetujui usul Albania menerima 
RRT menjadi perwakilan Tiongkok satu-satunya di PBB bisa dimenangkan, ...... 
Itu terjadi di bulan Sept. 1971! Jadi, keberhasilan perjuangan Albania dan 
negara-negara yang mendukung RRT merupakan perwakilan TIongkok yang sah, bukan 
AS. Tidak ada masalah kunjungan Nixon ke Beijing utk UPAH kepada ketua Mao.

Perubahan sikap AS dari usaha mencekik mati bayi RRT yg baru lahir 1 Oktober 
1949 itu dengan politik blokade sejagad yg dijalan sejak tahun 1950 baru 
terjebol ya ditahun 1971, setelah melihat kenyataan bukan saja ekonomi RRT 
tetap maju dengan BERDIKARI, tapi juga PERTAHANAN Tiongkok maju lebih dahsyat, 
dengan keberhasilan meledakkan bom-Atom pertama di tahun 1964, lalu menembak 
jatuh pesawat pengintai U2 yg selama itu menjadi kebanggaan AS dan, .... 
ditahun 1971, dimasa berkobar RBKP sedang sampai puncak kerusuhannya, 
diramalkan banyak ekonom barat, ekonomi RRT sudah berada ditepi jurang 
keruntuhannya, RRT justru BERHASIL meluncurkan Satelite-I dengan 
mengkumandangkan lagu Dong Fang Hong (= Merah Diufuk Timur), lalu diikuti 
dengan diterima masuknya RRT di PBB, ......! Politik blokade sejagade yg 
dijalan AS terhadap RRT jelas GAGAL-TOTAL! Inilah yg MEMAKSA Nixon terbang ke 
Beijing untuk merubah bentuk perjuangannya, dari konfrontasi dengan RRT menjadi 
perjuangan secara DAMAI setelah bersalaman dengan Ketua Mao! Tentu perjuangan 
secara DAMAI tidak bisa diartikan kolaborasi dan TUNDUK pada imperialisme! 
Tentu saja TIDAK! Lha jelas sampai sekarang perjuangan dibidang ekonomi antara 
RRT-AS makin SENGIT, juga dibidang senjata pertahanan, teknologi, ... dan tentu 
juga dibidang politik, akhirnya memaksa AS, setelah Trump naik panggung, tidak 
segan-segan jalan politik proteksionisme, untuk melindungi dan mendahulukan AS 
kembali jaya dan jadi super-power yg menentukan dunia. Menjadikan RRT sebagai 
ancaman terberat, bahkan menuduh RRT sedang jalankan imperialisme di 
Amerika-Latin, untuk menghadang pengaruh RRT yg sudah mulai masuk ke 
Amerika-Latin itu. Hehehee, ...

Salam,
ChanCT


From: ajeg

Yang berobah itu justru AS, dari mati-matian mendukung Taiwan 

di PBB jadi menggelar karpet merah untuk RRC. Jadi, kunjungan 

Nixon ke Beijing tahun 1972 untuk minta upah kepada Mao karena 

merasa berjasa telah mendepak Taiwan dari PBB dan mempersilakan 

RRC menjadi anggota PBB sejak 1971. 



Sebelumnya, AS terus menolak RRC menjadi anggota PBB, dan itu 

menjadi salahsatu alasan Indonesi a keluar dari PBB 1965. Jadi, 

memang sangat jelas dan sangat-sangat gamblang AS adalah dalang
G30S untuk mengubur kesetiakawanan RI terhadap RRC di PBB.

--- SADAR@... wrote: 
Ini nenek dalam tempurung sudah TIDAK WARAS! Memangnya siapa yang berilusi 
terhadap IMPERIALISME apalagi mengatakan sifat imperialisme berubah??? Yang 
berubah itu bentuk kontradiksi dan perjuangan melawan imperialisme sesuai 
dengan berubahan sikap imperialisme itu sendiri, ... dn INGAT perubahan itu 
justru dijalankan saat Ketua Mao masih HIDUP, dan bisa menemui pres. Nixon 
untuk BERSALAMAN!

Jangan memelintir pendapat orang yang berbeda apalagi dengan main FITNAH!


From: Tatiana Lukman


Ilusi terhadap Imperialisme membuat rakyat tidak mungkin mempertahankan 
kebebasan dalam politik dan berdikari dalam ekonomi. Kalau sebuah negeri 
berilusi terhadap imperialisme maka kedaulatannya akan dilanggar dan hancurlah 
negeri itu. Iran dan Libia merupakan contoh yang tragis. Pengalaman sejarah dan 
kebenaran menunjukkan bahwa ilusi terhadap imperialisme berarti mati!!

Ilusi tentang Imperialisme adalah virus yang mematikan. Siapa yang berilusi 
akan perubahan dalam watak Imperialisme??? Kaum revisionis modern Soviet dengan 
dedengkotnya Khrustjov adalah yang dengan terang-terangan menyebar ilusi 
tentang perubahan sifat imperialisme sehingga dihimbaunya kaum revolusione r 
untuk berkoexistensi secara damai dengan imperialisme dan antek-anteknya. 
Sekarang siapa yang mewarisi ilusi itu?? Dengan terang-terangan si Chan 
mengatakan sifat imperialisme berubah!!!

Illusion about Imperialism Is Deadly Virus by Son So Yon


  
Illusion about imperialism makes it impossible to maintain independence in 
politics and self-sustenance in economy.

If a country is obsessed by illusion about imperialism, its sovereignty is 
violated and flouted and it won't escape from doom.

The tragic situation in Iraq and Libya clearly proved this.

Today, the imperialists' strong-arm policy is facing the fate of doom.

Creating such illusion is no more than last-ditch efforts of the imperialists 
to realize their ambition to dominate the world.

If one fails to discern this and harbors such illusion, one will cook one's own 
goose as well as help the imperialists prolo ng their remaining days.

The countries aspiring after independence should keep strict vigilance over and 
root out the slightest illusion about imperialism and adhere to the Juche 
character and national character.

It is the lesson of history and the truth that illusion about imperialism 
precisely means death.









Kirim email ke