Di mana-mana Tentara turun tangan. Untuk menggusur rakyat, untuk melindungi 
perusahaan yang konflik dengan rakyat, untuk mengintimidasi rakyat dan ormas 
yang berani melawan. Sekarang untuk beli gabah petani dengan harga murah.. 
Semua ini terjadi dalam  rezim Jokowi-JK. Barusan saya postingkan bagaimana 
reforma agrarianya Jokowi malah melahirkan tuan tanah di Papua. Ada yang bisa 
mengajukan contoh hasil rezim Jokowi yang BENAR-BENAR menguntungkan rakyat 
kecil???
Warga Maros Resah, TNI Turun Tangan Beli Murah Gabah Petani
Reporter: 
Jumaedy
Editor: 
Lukman
Selasa , 13 Maret 2018 18:04
Petani di Maros mulai panen padi.MAROS, RAKYATSULSEL.COM – Pengusaha gabah 
lokal di Kabupaten Maros merasa resah dengan adanya keterlibatan TNI dalam 
melakukan pembelian gabah di masyarakat dengan harga yang rendah. Salah satu 
pengusaha lokal, Irwan mengatakan jika sudah empat malam ia dihadang oleh TNI 
saat hendak membawa gabah yang ia beli di masyarakat.“Saya sudah empat malam 
dihadang oleh anggota Kodim, tapi saya perlihatkan surat resmi saya. Tapi tetap 
ditahan bahkan surat mobil juga diambil dan saya disuruh menghadap ke pak 
Dandim. Jadi saya ketemu pak Dandim, tidak ada juga kejelasan,” ujar Irwan, 
Selasa (13/03).Selain Irwan, pengusaha lokal lainnya H Jama harus menjual 
gabahnya ke pihak TNI sebanyak 1 Ton dengan harga dibawah dari harga 
pembeliaannya di petani.“Kami sudah beli dengan harga Rp 4.700 tapi di lokasi 
ada dari pihak TNI yang minta beli 1 ton dengan harga Rp4.500 itu saya kasi 1 
ton. Kita kasi karena kita takut meski pun kita sudah tahu itu rugi Rp 200, 
tapi daripada gabah saya yang lain itu sekitar 10 ton harus ditahan dan bisa 
saja itu rusak. Dan saya dengar kalau di koramil itu dikasi jatah 60 ton minggu 
ini,” ujar H Jama.Selain itu, seorang pengusaha gabah lainnya Muhammad Nur, 
juga menyetor sekitar 2 ton ke pihak TNI. “Saya juga disuruh stor 2 ton dengan 
harga Rp4.500 padahal itu kami beli Rp4.650, bapak saya yang langsung kasi 
karena takut,” ungkap Nur.Ia melanjutkan jika ia bersama pengusaha gabah 
lainnya merasa resah karena pihak TNI mengharuskan pengusaha membeli gabah 
dengan harga rendah, sementara petani ingin jual dengan harga tinggi.“Contoh 
kecilnya kita di Desa Alatengae, dengan rata-rata gabah 6 Ton/Ha dengan selisih 
harga sekitar Rp200 maka dengan luas lahan sekitar 600an Hektar maka akan ada 
selisih sekitar Rp 720 Juta, kalau di Kecamatan Bantimurung dengan luas lahan 
3000-an Hektare maka akan ada selisih sekitar Rp3,6 M, kalau se Kabupaten Maros 
sekitar 26.000 Hektare itu ada diangka Rp 31 Miliar. Itu baru selisi Rp 200. 
Bayangkan berapa kerugian petani,” papar Nur yang juga merupakan Mahasiswa 
Agribisnis, Fapertahut, Univ UMMA Maros.Sementara itu Dandim 1422 Maros, Letkol 
Kav Mardi Ambar Fajarianto, mengatakan jika petani tidak perlu heran jika ada 
anggota Kodim yang bertindak menghalau penjualan gabah dari petani ke tengkulak 
di lapangan. Seperti yang terjadi di sejumlah wilayah di Maros dan daerah 
lainnya. Hal itu, dilakukan semata-mata agar gabah petani bisa diserap maksimal 
oleh Bulog.“Semalam ada beberapa titik, anggota kami berhasil menghalau 
penjualan gabah petani oleh tengkulak yang akan dibawa ke Sidrap. Gabah itu 
kita arahkan ke mitra Bulog untuk dibeli. Mereka memang sengaja membeli gabah 
di malam hari,” ungkapnya.Kita berupaya melakukan pemenuhan stok beras ini 
dilakukan dengan nama operasi Serapan Gabah Petani (Sergap). Melalui operasi 
ini, TNI turun langsung ke petani menghalau penjualan gabah dari petani ke para 
pedagang di luar mitra Bulog yang disinyalir akan ditimbun ataupun di ekspor 
keluar dengan cara ilegal.Ia melanjutkan, jika petani tidak boleh terkecoh 
dengan harga tinggi yang ditawarkan oleh tengkulak. Pasalnya, banyak dari 
mereka yang memainkan bobot timbangan. Meski selisih harga bisa mencapai seribu 
rupiah dari harga resmi Bulog, namun kuantitasnya jelas lebih sedikit.“Mereka 
(tengkulak) berani dengan harga tinggi dari harga normal Bulog Rp 4.400 itu. 
Tapi mereka memainkan timbangan. Meski nilai uangnya lebih banyak, tapi kan 
kuantitas beratnya sedikit. Yah sama saja. Itu cuma akal-akalan,” ungkap 
Mardi.Selama ini kata dia, banyak tengkulak yang bermain di Maros. Mereka 
membeli gabah di sini, lalu membawanya ke daerah Sidrap untuk ditimbun ataupun 
dikirim keluar daerah bahkan luar negeri secara ilegal. Petani seharusnya 
berfikir, jika saat ini untung, mereka akan kembali merugi saat harga beras 
naik di pasaran.“Tugas kami ini memang berdasarkan perintah Presiden melalu 
seluruh jajaran TNI Angkatan Darat. Logikanya, jika harga pangan tinggi tentu 
akan berdampak pada stabilitas keamanan negara yang menjadi tugas pokok kami,” 
sebutnya.Untuk musim panen rendeng ini, Pemkab Maros sendiri menargetkan 11 
ribu ton gabah atau setara dengan 8.800 ton beras dari petani. Target itu, 
optimis bisa dipenuhi lantaran tahun lalu bahkan melebihi dari 100 persen 
pencapaian. Sementara untuk serapan Bulog, tahun ini ditargetkan 6-7 ribu 
ton.“Kita optimis bisa capai target produksi itu. Karena tahun lalu kita bisa 
lampauhi. Saat ini memang semua pihak, berkonsentrasi agar target serapan Bulog 
bisa dipenuhi. Kita heran produksi tinggi tapi malah kita serapan minim,” kata 
Kadis Pertanian Maros, Muhammad Nurdin. (*)

Kirim email ke