Dua Abad Marx: Mengubah Dunia, Itulah Soalnya!
Belajar dari kegagalan Komune Paris, Marx menilai diperlukan kediktatoran 
proletar untuk menghancurkan mesin kekuasaan borjuis dan perlawanan sekaratnya. 
Mereka tidak akan menyerahkan kekuasaan dan semua hak istimewanya dengan 
sukarela7 Mei 2018



Patung Karl Marx di Trier, Jerman [Foto: Istimewa]
Koran Sulindo – Karl Marx lahir di Trier pada 5 Mei 1818. Sebuah kota yang 
berada di sebelah barat Jerman dan disebut sebagai kota tertua di negara itu. 
Karl Marx berayahkan Heinrich Marx (Yahudi Prusia) dan ibunya bernama Henrietta 
Pressburg (Yahudi Belanda). Merujuk kepada kitab biografi Karl Marx yang 
ditulis Franz Mehring, Heinrich merupakan seorang pengacara terkemuka di kota 
itu.Akan tetapi, demi mempertahankan posisi borjuisnya, Heinrich terpaksa 
meninggalkan keyakinan Yahudinya dan pada masa itu diartikan sebagai emansipasi 
sosial. Istri Marx adalah Jenny von Westphalen yang berasal dari keluarga 
aristokrat, dan empat tahun lebih tua dari Marx. Dalam pergaulan, Jenny 
dikagumi karena kecantikan dan juga karakter serta temperamennya. Itu pula yang 
membuatnya hidup bahagia bersama Marx, kendati harus menghadapi dan mengatasi 
segala macam tantangan perjuangan dan kesulitan hidup.Jenny merupakan tokoh 
perempuan yang memberi contoh keteguhan komitmen kepada perjuangan untuk 
sosialisme revolusioner. Sebagai istri pemikir besar, Jenny tidak berfungsi 
sebagai “pelengkap” atau aksesori. Ia adalah kekuatan aktif dalam perjuangan 
pembebasan kelas proletar dari modal. Jenny mengatur pertemuan komunis, 
menyediakan tempat tinggal dan bantuan kepada pelarian politik serta membantu 
Marx menghasilkan karya-karya besar dalam filsafat dan ekonomi.Pandangan dan 
ajaran Marx bersumber kepada tiga aliran ideologi yang paling maju di abad 
ke-19 yakni filsafat klasik Jerman, ekonomi politik klasik Inggris dan 
sosialisme Prancis. Marx menolak idealismenya Hegel, namun menganggap 
dialektikanya sebagai doktrin perkembangan yang paling dalam dan menyeluruh. Ia 
lantas mengambil dan mengembangkan aspek revolusioner dari filsafat Hegel 
itu.Inti dari dialektika itu adalah dunia harus dilihat sebagai sebuah kesatuan 
atau kompleks dari proses di mana hal ihwal yang kelihatannya stabil namun 
sebenarnya mengalami perubahan terus menerus. Materialisme Feuerbach yang 
mekanik dan non-historis dikembangkan Marx menjadi materialisme historis, 
dimana esensi manusia adalah kompleks atau kesatuan dari seluruh hubungan 
sosial. Materialisme mekanik hanya menginterpretasi dunia, tidak mengerti bahwa 
masalahnya adalah mengubah dunia, mengubah kenyataan sosial.Musim semi 1847, 
Marx dan Engels masuk dan aktif dalam Liga Komunis yang bekerja di bawah tanah. 
Untuk memenuhi permintaan Liga Komunis, mereka menulis Manifesto Partai Komunis 
yang terkenal itu. Untuk pertama kalinya diajukan sebuah konsep pandangan dunia 
baru berdasarkan pada materialisme, dialektika sebagai doktrin perkembangan 
paling dalam dan menyeluruh, teori perjuangan kelas dan peran revolusioner 
kelas proletar, pencipta masyarakat komunis.Dalam suratnya kepada J. Wejdemeyer 
pada 5 Maret 1852, Marx mengatakan, ia bukan yang pertama menemukan adanya 
kelas dan perjuangan kelas dalam masyarakat. Sejarawan borjuis sudah 
menemukannya jauh sebelumnya. Marx menegaskan kembali kebenaran itu dan 
mengajukan lebih lanjut, perjuangan kelas akan membawa kepada kediktatoran 
proletariat yang merupakan transisi menuju penghapusan semua kelas dan 
masyarakat tanpa kelas.Marx sempat menyaksikan perebutan kekuasaan borjuis oleh 
kelas proletar Paris dan pendirian Komune Paris pada 18 Maret 1871. Salah satu 
pelajaran yang disimpulkan Marx dari kekalahan Komune Paris adalah kekuasaan 
proletar tidak dapat berfungsi dengan menggunakan mesin birokrasi dan militer 
negara borjuis. Diperlukan kediktatoran proletariat untuk menghancurkan mesin 
kekuasaan borjuis dan perlawanan sekaratnya. Mereka tidak akan menyerahkan 
kekuasaan dan semua hak istimewanya dengan sukarela.Kaum reformis dan 
revisionis memungkiri teori perjuangan kelas. Mereka menggantikannya dengan 
kolaborasi kelas. Dalam Manifesto Partai Komunis, Marx menyatakan, sejarah 
semua masyarakat adalah sejarah perjuangan kelas. Engels menambahkan, kecuali 
dalam masyarakat primitif yang tidak berkelas. Mao Tse Tung mewarisi dan 
mengembangkan Marxisme-Leninisme dengan antara lain, menegaskan adanya 
perjuangan kelas bahkan dalam periode transisi panjang menuju 
komunisme.Kemenangan revolusi sosialis dan pembangunan sosialisme masih belum 
merupakan kemenangan definif kaum proletar dan kelas pekerja lainnya. Tesis ini 
sudah terbukti kebenarannya oleh restorasi kapitalisme di Uni Soviet dan 
Tiongkok.
Marx dan Engels dalam film The Young Marx [Foto: Istimewa]Perjuangan Kelas
Dengan dipungkirinya perjuangan kelas, logislah kalau kaum revisionis dan 
reformis juga memungkiri kediktatoran proletariat. Salah satu argumentasi yang 
mereka ajukan adalah kediktatoran proletariat bertentangan dengan demokrasi dan 
langsung mereka menunjuk Stalin dengan Gulag sebagai contoh. Sumber terbesar 
dari kebohongan dan pemalsuan fakta sejarah pembangunan sosialisme dan Partai 
Komunis Uni Soviet, tak diragukan lagi, datang dari dedengkot revisionisme 
modern Khrushchov.Besar sekali kemungkinan para pembenci Stalin tidak akan 
percaya dalam proses pembuatan Konstitusi Baru 1936, justru Stalin yang 
mengusulkan sistim pemungutan suara yang universal, sama derajat, langsung dan 
rahasia. Untuk jabatan di lembaga-lembaga negara, wakil Partai Komunis harus 
berhadapan dan berkompetisi dengan wakil dari segala macam organisasi yang 
dibentuk warga Soviet. Usul itu mendapat tentangan keras dari para Sekretaris 
Partai Pertama di berbagai daerah Soviet. Mereka takut kehilangan posisinya. 
Khrushchov, ketika itu, menjabat Sekretaris Partai di Ukraina.Absurdnya tuduhan 
kediktatoran proletariat bertentangan dengan demokrasi juga telah dibuktikan 
Revolusi Besar Kebudayaan Proletar (RBKP) yang dipimpin Mao. “Kekacauan” RBKP 
yang dilihat para pemantau berwawasan sempit justru mencerminkan demokrasi 
seluas-luasnya di Tiongkok sosialis. Rakyat diimbau untuk menunjukkan dan 
membongkar borok, ketidakadilan dan hal-hal buruk lainnya yang merugikan mereka 
yang dilakukan para pejabat Partai dan pemerintah, tak peduli apapun 
kedudukannya.Rakyat berani mempertahankan pendapatnya hingga baku pukul, justru 
karena tahu kekuasaan ada di tangan mereka. Tentara Pembebasan Rakyat atau 
Polisi tidak akan menangkap mereka yang mengkritik atau mengecam pejabat 
melalui koran dinding berhuruf besar. Karena itu Deng Xiao Ping, dedengkot 
revisionis Tiongkok sangat benci dan takut pada massa selama berkobar RBKP. 
Begitu kaum revisionis berkuasa melalui kudeta 1976, demonstrasi di Tiananmen 
1989, mendapat penindasan kejam oleh Tentara.Lebih absurd lagi orang yang 
melihat kediktatoran proletariat sebagai sebab dari keruntuhan Uni Soviet dan 
negeri-negeri Eropa Timur. Itu karena tidak mengerti hakikat dan isi perjuangan 
kaum Marxis-Leninis melawan revisionisme modern dan tak bisa diharapkan akan 
mengerti dan menerima pengkhianatan kaum revisionis modern telah melemahkan dan 
akhirnya mengubah watak kelas kekuasaan negara. Kediktatoran proletariat sudah 
menjadi kediktatoran kaum kapitalis birokrat yang menggunakan Partai Komunis 
sebagai selubung dan kedoknya.Contoh lebih aktual bisa dilihat pada Partai 
Komunis dan negara Tiongkok sekarang. Dapatkah kita berkata di Tiongkok 
sekarang ada kediktatoran proletariat, sementara kaum buruhnya bekerja 12 jam 
sehari, enam hari seminggu, tanpa jaminan sosial dan upah pun kadang-kadang 
lambat atau tak dibayar? Sementara itu banyak orang-orang superkaya merangkap 
sebagai anggota Partai Komunis?Lenin menjelaskan, kediktatoran proletariat 
adalah perjuangan yang konsisten di bidang militer, ekonomi, pendidikan dan 
administratif, berdarah atau tak berdarah, tanpa atau dengan kekerasan, melawan 
kekuatan dan tradisi masyarakat lama. Lenin melihat adat kebiasaan puluhan juta 
orang sebagai kekuatan paling dahsyat dan buruk. Justru itulah juga yang 
menjadi salah satu sasaran RBKP yang dilancarkan Mao.Lenin menganggap seribu 
kali lebih mudah menaklukkan kaum borjuasi besar yang terkonsentrasi ketimbang 
“menundukkan” berjuta-juta kaum pemilik kecil. Melalui kegiatan sehari-hari 
yang tak kelihatan dan sulit ditangkap, tapi menghilangkan semangat, mereka 
mencapai hasil yang dibutuhkan kaum borjuasi dan cenderung merestorasi 
kedudukan kaum borjuasi.Kepemilikan Pribadi
Orang komunis sering diserang karena programnya yang bertujuan menghapuskan 
kepemilikan pribadi. Alasannya, hak mendapatkan kekayaan pribadi sebagai hasil 
dari kerjanya sendiri merupakan dasar dari kebebasan semua individu.Marx 
menjelaskan, kalau yang dimaksud adalah kepemilikan petani dan perajin kecil 
atas kekayaan yang didapat dari kerja kerasnya sendiri, sistim komunis tidak 
perlu menghapuskannya. Karena kepemilikan itu sudah dihancurkan oleh 
perkembangan industri kapitalis. Buruh tidak melahirkan kekayaan untuk dirinya 
sendiri dari hasil kerja upahnya. Upah minimum buruh hanya cukup untuk bertahan 
hidup dan bertahan agar bisa terus bekerja.Sebaliknya buruh menciptakan modal, 
satu jenis kekayaan yang mengisap tenaga kerja manusia. Modal tidak akan 
bertambah tanpa pasokan baru kerja upah untuk dieksplotasi lagi.. Modal adalah 
produk dari sebuah kolektif yang dapat digerakkan oleh tindakan semua anggota 
kolektif tersebut. Oleh karena itu modal tidak semata-mata bersifat personal, 
tapi merupakan kekuatan sosial. Modal bukan uang simpanan pribadi yang tidak 
‘digerakkan’ dalam usaha yang melahirkan nilai lebih.Dalam masyarakat 
kapitalis, menurut Marx, kepemilikan pribadi menyingkirkan 90 persen penduduk. 
Kepemilikan pribadi segelintir manusia bisa eksis karena 90 persen penduduk 
tidak memiliki apa-apa!Kenyataan di abad ke-21 ini membuktikan validitas dari 
apa yang dikatakan Marx. Lembaga Oxfam menyatakan satu persen penduduk dunia 
menguasai 82 persen total kekayaan dunia pada 2017. Sementara 50 persen 
penduduk termiskin di dunia tidak mendapat apa-apa. Para pimpinan perusahaan 
atau CEO merek fashion terkenal hanya perlu empat hari untuk memperoleh upah 
yang setara dengan pendapatan seumur hidup buruh pabrik garmen di Bangladesh. 
Sedangkan di Indonesia, kekayaan empat orang terkaya setara dengan apa yang 
dimiliki 100 juta rakyat termiskin.Kenyataan dunia yang menunjukkan bagaimana 
modal menguasai dan menentukan kehidupan manusia di bumi ini, hanya kaum 
reformis dan revisionis yang terus membela sepak terjang para pemilik modal 
besar. [Tatiana Lukman]

Kirim email ke