*Kalau klaim atas dasar kekuasaan Mojopahit, maka Mongolia juga bisa klaim wilayah yang dikuasai oleh Jenkis Kan. Yunani bisa klaim wilayah yang dikusai oleh Alexander the Great, Turki akan juga bisa klaim wilayah yang dikuasai oleh kesultanan Otoman. Lantas bagaimana dengan Belanda dan Inggris, Porugal, Spanyol dan jangan lupa juga Jepang yang pernah berada di Hindia Belanda?*
*Apakah benar Mojopahit zaman bahula mampu mengusai wilayah seluas yang diceritakan?* 2018-05-26 4:14 GMT+02:00 [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > > Secara historis penjajahan, Papua Barat sesungguhnya bukan bagian dari > Wilayah Republik Indonesia, karena Papua Barat bukan bagian dari Hindia > Belanda. Pada tanggal 24 agustus 1828 di Lobo, Teluk Triton Kaimana > (pantai selatan Papua Barat) diproklamasikan penguasaan Papua Barat oleh > Sri Baginda Raja Nederland. Sedangkan di Bogor, 19 Februari 1936 dalam > Lembaran Negara Hindia Belanda disepakati tentang pembagian daerah > teritorial Hindia Belanda, yaitu sabang sampai Amboina tidak termasuk Papua > Barat (Nederland Neiw Guinea). > > ... > MENGAPA SOEKARNO MENGELUARKAN TRIKORA 19 DESEMBER 1961 > <https://suarawiyaimana.blogspot.com/2014/12/mengapa-soekarno-mengeluarkan-trikora.html> > > Written By Suara Wiyaimana Papua on Jumat, 19 Desember 2014 | Jumat, > Desember 19, 2014 > > > > <https://4.bp.blogspot.com/-Msye_hQ2agU/VJOFAfeMaqI/AAAAAAAAE6A/aq4WCBxP3VM/s1600/download%2B(1).jpg> > > MENGAPA SOEKARNO MENGELUARKAN TRIKORA 19 DESEMBER 1961 > > > Saudara- Saudari Rakyat Bangsa Papua Barat dan Semua Pejuang Bangsa Papua > Barat. Saya ingin menjelaskan mengapa Indonesia takut menjawab tuntutan Hak > Penentuan Nasib Sendiri Bangsa Papua. > 1. Sebelum Proklamasi Negara Republik Indonesia 1945, Indonesia (Nederlan > Indie) Papua (Nederlan Nieuw Guinea) dan Suriname (Nederland Antiles) > sebagai daerah Koloninya Belanda sementara di Persiapkan untuk menentukan > Nasib sendiri di bawah Komando atau Maklumat Jendral Mc. Artur dan > selanjutnya melalui Perjanjian atlantik dan semangat pembentukan Komisi > Dekolonisasi PBB. > Melihat peluang itu, Soekarno Presiden Pertama Indonesia mendarat di Papua > pada tahun 1942 dan melakukan perjanjian adat dengan Bangsa Papua yang > isinya menyangkut peminjaman benda-benda Pusaka Bangsa Papua untuk > mempersiapkan Negara Indonesia. Sehingga bersama-sama dengan 7 Jendral yang > kini tinggal nama dalam sejarah indonesia Mereka berhasil mendirikan Negara > Indonesia Merdeka. > Salah satu dari benda-benda Pusaka bangsa Papua yang kini digunakan > Indonesia adalah GARUDA yang kini sebagai lambang Negara Indonesia. > Untuk itu, yang menjadi alasan utama Bangsa Papua barat hingga kini belum > diberikan Hak Penentuan Nasib sendiri adalah ketakutan Indonesia bahwa > suatu saat Negara yang di Bangun Berdasarkan Barang Pinjaman dari Bangsa > Papua ini akan tinggal Nama Dalam sejarah. > Sekarang yang Perlu disadari Oleh Indonesia bahwa, untuk menjaga Kode Etik > sesama Bangsa yang Merdeka, Indonesia Harus Melepaskan Papua Dengan Aman > dan Damai, sebab Jika tidak Maryarakat Adat Papua akan Menuntut > Pengembalian Benda-Benda Pusaka Bangsa Papua yang saat ini di Pakai Sebagai > Lambang Negara Indonesa sehingga Indonesia akan terpecah Kembali Menjadi > Kerajaan-kerajaan Kecil dan nama Indonesia akan tinggal kenangan dalam > sejarah. > Sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia memiliki misteri yang tak terungkap > sejak munculnya Negara Indonesia lewat Prokalmasi RI 1945 oleh Ir. > Soekrano. Secara utuh bangsa Indonesia tidak pernah mengetahui dengan pasti > dari mana seorang Soekarno berdiri dengan gagah ditengah panasnya suhu > colonial Belanda. > Pada tahapan dimana Indonesia dan Papua sementara dipersiapkan belanda > untuk menetukan Nasib sendiri, Soekarno menjadi gelisah untuk mempercepat > kemerdekaan Indoensia, sehingga berbagai informasi dicari menyangkut > kekuatan supernatural yang dapat digunakan sebagai power untuk mempercepat > kemerdekaan Indonesia. Dengan semangat yang begitu kental itu, Soekarno > melakukan perjalanannya menuju Papua, tepatnya pada tahun 1942 Soekarno > tiba di Kaimana, Daerah ini dulunya di kenal dengan nama Emandi dalam > bahasa Mairasi suku asli Kaimana. Selanjutnya nama itu diganti lagi dengan > nama Kimam, Daerah ini juga dikenal dengan nama Kerajaan Matahari Terbit > Terbenam yang dikawal oleh tiga raja yakni Raja Kubey, Raja Alam dan Raja > Banten. > Ketika Papua Barat masih menjadi daerah sengketa akibat perebutan wilayah > ini antara Indonesia dan Belanda, tuntutan rakyat Papua Barat untuk merdeka > sebagai negara merdeka sudah ada jauh sebelum kemerdekaan Indonesia 17 > Agustus 1945. Memasuki tahun 1960-an para politisi dan negarawan Papua > Barat yang terdidik lewat sekolah Polisi dan sebuah sekolah Pamongpraja > (Bestuurschool) di Jayapura (Hollandia), dengan mendidik 400 orang antara > tahun 1944-1949 mempersiapkan kemerdekaan Papua Barat. > Selanjutnya atas desakan para politisi dan negarawan Papua Barat yang > terdidik, maka pemerintah Belanda membentuk Nieuw Guinea Raad (Dewan Nieuw > Guinea). Beberapa tokoh-tokoh terdidik yang masuk dalam Dewan ini adalah > M.W. Kaisiepo dan Mofu (Kepulauan Chouten/Teluk Cenderawasih), Nicolaus > Youwe (Hollandia), P. Torey (Ransiki/Manokwari), A.K. Gebze (Merauke), M.B. > Ramandey (Waropen), A.S. Onim (Teminabuan), N. Tanggahma (Fakfak), F. Poana > (Mimika), Abdullah Arfan (Raja Ampat). Kemudian wakil-wakil dari keturunan > Indo-Belanda adalah O de Rijke (mewakili Hollandia) dan H.F.W. Gosewisch > (mewakili Manokwari). > Setelah melakukan berbagai persiapan disertai dengan perubahan politik > yang cepat akibat ketegangan Indonesia dan Belanda, maka dibentuk Komite > Nasional yang beranggotakan 21 orang untuk membantu Dewan Nieuw Guinea > dalam mempersiapkan kemerdekaan Papua Barat. > Komite ini akhirnya dilengkapi dengan 70 orang Papua yang berpendidikan > dan berhasil melahirkan Manifesto Politik yang isinya: > MANIVETO POLITIK PAPUA BARAT > 1. Menetukan nama Negara : Papua Barat > 2. Menentukan lagu kebangsaan : Hai Tanahku Papua > 3. Menentukan bendera Negara : Bintang Kejora > 4. Menentukan bahwa bendera Bintang Kejora akan dikibarkan pada 1 November > 1961. > Lambang Negara Papua Barat adalah Burung Mambruk dengan semboyan “One > People One Soul”. > Rencana pengibaran bendera Bintang Kejora tanggal 1 November 1961 tidak > jadi dilaksanakan karena belum mendapat persetujuan dari Pemerintah > Belanda. Tetapi sOetelah persetujuan dari Komite Nasional, maka Bendera > Bintang Kejora dikibarkan pada 1 Desember 1961 di Hollandia, sekaligus > “Deklarasi Kemerdekaan Papua Barat”. Bendera Bintang Kejora dikibarkan di > samping bendera Belanda, dan lagu kebangsaan “Hai Tanahku Papua” > dinyanyikan setelah lagu kebangsaan Belanda “Wilhelmus”. > Deklarasi kemerdekaan Papua Barat ini disiarkan oleh Radio Belanda dan > Australia. Momen inilah yang menjadi Deklarasi Kemerdekaan Papua Barat > secara de facto dan de jure sebagai sebuah negara yang merdeka dan > berdaulat. > Papua Barat telah mendeklarasikan diri sebagai negara yang merdeka dan > berdaulat, tetapi kemerdekaan itu hanya berumur 19 hari, karena tanggal 19 > Desember 1961 Presiden Soekarno mengeluarkan Tri Komando Rakyat di > Alun-alun Utara Yogyakarta yang isinya: > 1. Gagalkan Pembentukan “Negara Boneka Papua” buatan Belanda Kolonial > 2. Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia > 3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan > kesatuan Tanah Air dan Bangsa. > Realisasi dari isi Trikora ini, maka Presiden Soekarno sebagai Panglima > Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat mengeluarkan Keputusan > Presiden No. 1 Tahun 1962 yang memerintahkan kepada Panglima Komando > Mandala, Mayor Jendral Soeharto untuk melakukan operasi militer ke wilayah > Irian Barat untuk merebut wilayah itu dari tangan Belanda. > Akhirnya dilakukan beberapa gelombang Operasi Militer di Papua Barat > dengan satuan militer yang diturunkan untuk operasi lewat udara dalam fase > infiltrasi seperti Operasi Banten Kedaton, Operasi Garuda, Operasi > Serigala, Operasi Kancil, Operasi Naga, Operasi Rajawali, Operasi Lumbung, > Operasi Jatayu. Operasi lewat laut adalah Operasi Show of Rorce, Operasi > Cakra, dan Operasi Lumba-lumba. Sedangkan pada fase eksploitasi dilakukan > Operasi Jayawijaya dan Operasi Khusus (Opsus). Melalui operasi ini wilayah > Papua Barat diduduki, dan dicurigai banyak orang Papua yang telah dibantai > pada waktu itu. > ALASAN PENCAPLOKAN WILAYAH PAPUA BARAT OLEH SOEKARNO > Mengapa Soekarno sangat “keras kepala” dalam merebut wilayah Papua Barat > untuk memasukannya ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia? > Soekarno mempunyai empat alasan utama dalam pencaplokan Papua Barat ke > wilayah Indonesia. Keempat alasan itu adalah klaim yang dipegang oleh > Indonesia sebagai tindakan pembenaran kekuasaan atas wilayah Papua Barat. > Keempat klaim itu adalah: > 1. Papua Barat dianggap sebagai bagian dari kerajaan Majapahit. > 2. Kepulauan Raja Ampat di daerah kepala burung, Papua Barat, oleh sultan > Tidore dan Soekarno diklaim sebagai bagian dari Kesultanan Tidore. > Kesultanan Tidore diklaim oleh Soekarno sebagai bagian dari daerah > “Indonesia Bagian Timur”. > 3. Papua Barat diklaim sebagai bagian dari negara bekas Hindia Belanda. > 4. Soekarno yang anti barat ingin menghalau pengaruh imperialisme barat di > Asia Tenggara. Di samping itu, Soekarno memiliki ambisi hegemoni untuk > mengembalikan kejayaan kerajaan Majapahit (ingat: “Ganyang Malaysia”), > termasuk Papua Barat yang ketika itu masih dijajah oleh Belanda. Mungkin > juga Soekarno memiliki perasaan curiga, bahwa pemerintah Nederlands Nieuw > Guinea di Papua Barat akan merupakan benteng Belanda untuk sewaktu-waktu > dapat menghancurkan Negara Indonesia. Hal ini dihubungkan dengan aksi > militer Belanda yang kedua (tweede politionele aktie) pada 19-12-1948 untuk > menghancurkan negara RI. > Apakah keempat klaim – sebagai alasan mengusai Papua Barat – ini benar? > Mari kita buktikan. > 1. Klaim atas Kekuasaan Majapahit > Kerajaan Majapahit (1293-1520) lahir di Jawa Timur dan memperoleh > kejayaannya di bawah raja Hayam Wuruk Rajasanagara (1350-1389). > Ensiklopedi-ensiklopedi di negeri Belanda memuat ringkasan sejarah > Majapahit, bahwa “batas kerajaan Majapahit pada jaman Gajah Mada mencakup > sebagian besar daerah Indonesia”. Sejarawan Indonesia mengklaim bahwa batas > wilayah Majapahit terbentang dari Madagaskar hingga ke pulau Pas (Chili). > Hingga saat ini belum ditemukan bukti-bukti sejarah berupa ceritera > tertulis maupun lisan atau benda-benda sejarah lainnya yang dapat digunakan > sebagai bahan-bahan ilmiah untuk membuat suatu analisa dengan definisi yang > tepat bahwa Papua Barat pernah merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit. > Mengklaim Papua Barat sebagai bagian dari kerajaan Majapahit tentunya > sangat meragukan, karena Soekarno tidak memenuhi prinsip-prinsip membuat > analisa dan definisi sejarah yang tepat, khususnya sejarah tertulis. > Berkaitan dengan kekuasaan wilayah kerajaan Majapahit di Indonesia, secara > jelas dijelaskan panjang lebar oleh Prof. Dr. Slamet Muljana, bahwa > kekuasaan kerajaan Majapahit, dalam Nagarakretagama pupuh 13 dan 14 > disebutkan bahwa kerajaan Majapahit mempunyai wilayah yang luas sekali, > baik di kepulauan Nusantara maupun di semenanjung Melayu. Pulau-pulau di > sebelah timur pulau Jawa yang paling jauh tersebut dalam pupuh 14/15 ialah > deretan pulau Ambon dan Maluku, Seram dan Timor; semenajung Melayu disebut > nama-nama Langkasuka, Kelantan, Tringgano, Paka, Muara Dingin, Tumasik, > Klang, Kedah, Jerai. Demikianlah, wilayah kerajaan Majapahit pada zaman > Hayam Wuruk menurut Nagarakretagama meluputi wilayah yang lebih luas dari > pada Negara Republik Indonesia sekarang. Hanya Irian yang tidak tersebut > sebagai batas yang terjauh di sebelah timur. Boleh dikatakan bahwa batas > sebelah timur kerajaan Majapahit ialah kepulauan Maluku. Ini berarti Papua > Barat tidak masuk dalam kekuasaan kerajaan Majapahit. Karena itu sudah > jelas bahwa Soekarno telah memanipulasikan sejarah. > 2. Klaim atas Kekuasaan Tidore > Di dalam suatu pernyataan yang di lakukan antara sultan Tidore dengan VOC > pada tahun 1660, secara sepihak sultan Tidore mengklaim bahwa kepulauan > Papua atau pulau-pulau yang termasuk di dalamnya merupakan daerah > kesultanan Tidore. > Soekarno mengklaim bahwa kesultanan Tidore merupakan “Indonesia Bagian > Timur”, maka Papua Barat merupakan bagian daripadanya. Di samping itu, > Soekarno mengklaim bahwa raja-raja di kepulauan Raja Ampat di daerah kepala > burung, Papua Barat, pernah mengadakan hubungan dengan sultan Tidore. > Apakah kedua klaim dari sultan Tidore dan Soekarno dapat dibuktikan secara > ilmiah? Gubernur kepulauan Banda, Keyts melaporkan pada tahun 1678 bahwa > dia tidak menemukan bukti adanya kekuasaan Tidore di Papua Barat. Pada > tahun 1679 Keyts menulis lagi bahwa sultan Tidore tidak perlu dihiraukan di > dalam hal Papua Barat. > Menurut laporan dari kapten Thomas Forrest (1775) dan dari Gubernur > Ternate (1778) terbukti bahwa kekuasaan sultan Tidore di Papua Barat > betul-betul tidak kelihatan. > Pada tanggal 27 Oktober 1814 dibuat sebuah kontrak antara sultan Ternate > dan Tidore yang disaksikan oleh residen Inggris, bahwa seluruh kepulauan > Papua Barat dan distrik-distrik Mansary, Karandefur, Ambarpura dan Umbarpon > pada pesisir Papua Barat (daerah sekitar Kepala Burung) akan > dipertimbangkan kemudian sebagai milik sah sultan Tidore. > Kontrak ini dibuat di luar ketahuan dan keinginan rakyat Papua Barat. > Berbagai penulis melaporkan, bahwa yang diklaim oleh sultan Tidore dengan > nama Papua adalah pulau Misol. Bukan daratan Papua seluruhnya. > Ketika sultan Tidore mengadakan perjalanan keliling ke Papua Barat pada > bulan Maret 1949, rakyat Papua Barat tidak menunjukkan keinginan mereka > untuk menjadi bagian dari kesultanan Tidore. Adanya raja-raja di Papua > Barat bagian barat, sama sekali tidak dapat dibuktikan dengan teori yang > benar. > Lahirnya sebutan ‘Raja Ampat’ berasal dari mitos. Raja Ampat berasal dari > telur burung Maleo (ayam hutan). Dari telur-telur itu lahirlah anak-anak > manusia yang kemudian menjadi raja. > Mitos ini memberikan bukti, bahwa tidak pernah terdapat raja-raja di > kepulauan Raja Ampat menurut kenyataan yang sebenarnya. Rakyat Papua Barat > pernah mengenal seorang pemimpin armada laut asal Biak: Kurabesi, yang > menurut F.C. Kamma, pernah mengadakan penjelajahan sampai ke ujung barat > Papua Barat. Kurabesi kemudian kawin dengan putri sultan Tidore. Adanya > armada Kurabesi dapat memberikan kesangsian terhadap kehadiran kekuasaan > asing di Papua Barat. > Pada tahun 1848 dilakukan suatu kontrak rahasia antara Pemerintah Hindia > Belanda (Indonesia jaman Belanda) dengan Sultan Tidore di mana pesisir > barat-laut dan barat-daya Papua Barat merupakan daerah teritorial > kesultanan Tidore. Hal ini dilakukan dengan harapan untuk mencegah > digunakannya Papua Barat sebagai papan-loncat penetrasi Inggris ke > kepulauan Maluku. Di dalam hal ini Tidore sesungguhnya hanya merupakan > vassal proportion (hubungan antara seorang yang menduduki tanah dengan > janji memberikan pelayanan militer kepada tuan tanah) terhadap kedaulatan > kekuasaan > Belanda, tulis C.S.I.J. Lagerberg. Sultan Tidore diberikan mandat oleh > Pemerintah Hindia Belanda tahun 1861 untuk mengurus perjalanan hongi > (hongi-tochten, di dalam bahasa Belanda). Ketika itu banyak pelaut asal > Biak yang berhongi (berlayar) sampai ke Tidore. Menurut C.S.I.J. Lagerberg > hongi asal Biak merupakan pembajakan laut, tapi menurut bekas-bekas pelaut > Biak, hongi ketika itu merupakan usaha menghalau penjelajah asing. > Pengejaran terhadap penjelajah asing itu dilakukan hingga ke Tidore. Untuk > menghadapi para penghalau dari Biak, sultan Tidore diberi mandat oleh > Pemerintah Hindia Belanda. > Jadi, justru yang terjadi ketika itu bukan suatu kekuasaan pemerintahan > atas teritorial Papua Barat. Setelah pada tahun 1880-an Jerman dan Inggris > secara nyata menjajah Papua New Guinea, maka Belanda juga secara nyata > memulai penjajahannya di Papua Barat pada tahun 1898 dengan membentuk dua > bagian tertentu di dalam pemerintahan otonomi (zelfbestuursgebied) Tidore, > yaitu bagian utara dengan ibukota Manokwari dan bagian selatan dengan > ibukota Fakfak. Jadi, ketika itu daerah pemerintahan Manokwari dan Fakfak > berada di bawah keresidenan Tidore. > Mengenai manipulasi sejarah berdasarkan kekuasaan Tidore atas wilayah > Papua Barat ini, Dr. George Junus Aditjondro menyatakan bahwa: > Kita mempertahankan Papua Barat karena Papua Barat adalah bagian dari > Hindia Belanda. Itu atas dasar apa? Hanya karena kesultanan Tidore > mengklaim bahwa dia menjajah Papua Barat sampai teluk Yotefa mungkin? Maka > kemudian, ketika Tidore ditaklukan oleh Belanda, Belanda belum merasa > otomatis mendapatkan hak atas penjajahan Tidore? Belanda mundur, Indonesia > punya hak atas semua eks-jajahan Tidore? Itu kan suatu mitos. Sejak kapan > berbagai daerah di Papua barat takluk kepada Tidore?... Saya kira tidak. > Yang ada adalah hubungan vertikal antara Tidore dan Papua Barat, tidak ada > kekuasaan Tidore untuk menaklukan Papua Barat. Atas dasar itu, klaim bahwa > Indonesia berhak atas seluruh Hindia Belanda dulu, merupakan imajinasi.” > Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Soekarno telah terbukti > memanipulasikan sejarah untuk mencaplok Papua Barat. Karena wilayah Papua > Barat tidak masuk dalam kekuasaan Tidore. > 3. Klaim atas kekuasaan Hindia Belanda > Secara historis penjajahan, Papua Barat sesungguhnya bukan bagian dari > Wilayah Republik Indonesia, karena Papua Barat bukan bagian dari Hindia > Belanda. Pada tanggal 24 agustus 1828 di Lobo, Teluk Triton Kaimana (pantai > selatan Papua Barat) diproklamasikan penguasaan Papua Barat oleh Sri > Baginda Raja Nederland. Sedangkan di Bogor, 19 Februari 1936 dalam Lembaran > Negara Hindia Belanda disepakati tentang pembagian daerah teritorial Hindia > Belanda, yaitu sabang sampai Amboina tidak termasuk Papua Barat (Nederland > Neiw Guinea). > Juga perlu diingat bahwa walaupun Papua Barat dan Indonesia sama-sama > merupakan jajahan Belanda, namun administrasi pemerintahan Papua Barat > diurus secara terpisah. Indonesia dijajah oleh Belanda yang kekuasaan > kolonialnya dikendalikan dari Batavia (sekarang Jakarta), kekuasaan Batavia > inilah yang telah menjalankan penjajahan Belanda atas Indonesia, yaitu > mulai dari Sabang sampai Amboina (Hindia Belanda). Kekuasaan Belanda di > Papua Barat dikendalikan dari Hollandia (sekarang Port Numbay), dengan > batas kekuasaan mulai dari Kepulauan Raja Ampat sampai Merauke (Nederland > Nieuw Guinea). > Selain itu saat tertanam dan tercabutnya kaki penjajahan Belanda di Papua > Barat tidak bertepatan waktu dengan yang terjadi di Indonesia. Kurun > waktunya berbeda, di mana Indonesia dijajah selama tiga setengah abad > sedangkan Papua Barat hanya 64 tahun (1898-1962). Tanggal 24 Agustus 1828, > ratu Belanda mengeluarkan pernyataan unilateral bahwa Papua Barat merupakan > daerah kekuasaan Belanda. Secara politik praktis, Belanda memulai > penjajahannya pada tahun 1898 dengan menanamkan pos pemerintahan pertama di > Manokwari (untuk daerah barat Papua Barat) dan di Fakfak (untuk daerah > selatan Papua Barat. Tahun 1902, pos pemerintahan lainnya dibuka di Merauke > di mana daerah tersebut terlepas dari lingkungan teritorial Fakfak. Tanggal > 1 Oktober 1962 Belanda menyerahkan Papua Barat ke dalam PBB. > Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Soekarno telah terbukti > memanipulasikan sejarah untuk mencaplok Papua Barat. Karena wilayah Papua > Barat tidak masuk dalam kekuasaan Hindia Belanda. > 4. Menghalau Pengaruh Imperialisme Barat di Asia Tenggara. > Soekarno mengancam akan memohon dukungan dari pemerintah bekas Uni Sovyet > untuk menganeksasi Papua Barat jika pemerintah Belanda tidak bersedia > menyerahkan Papua Barat ke tangan Republik Indonesia. Pemerintah Amerika > Serikat (AS) pada waktu itu sangat takut akan jatuhnya negara Indonesia ke > dalam Blok komunis. Soekarno dikenal oleh dunia barat sebagai seorang > Presiden yang sangat anti imperialisme barat dan pro Blok Timur. Pemerintah > Amerika Serikat ingin mencegah kemungkinan terjadinya perang fisik antara > Belanda dan Indonesia. > Maka Amerika Serikat memaksa pemerintah Belanda untuk menyerahkan Papua > Barat ke tangan Republik Indonesia. Di samping menekan pemerintah Belanda, > pemerintah AS berusaha mendekati presiden Soekarno. Soekarno diundang untuk > berkunjung ke Washington (Amerika Serikat) pada tahun 1961. Tahun 1962 > utusan pribadi Presiden John Kennedy yaitu Jaksa Agung Robert Kennedy > mengadakan kunjungan balasan ke Indonesia untuk membuktikan keinginan > Amerika Serikat tentang dukungan kepada Soekarno di dalam usaha > menganeksasi Papua Barat. > Untuk mengelabui mata dunia, maka proses pengambil-alihan kekuasaan di > Papua Barat dilakukan melalui jalur hukum internasional secara sah dengan > dimasukkannya masalah Papua Barat ke dalam agenda Majelis Umum PBB pada > tahun 1962. Dari dalam Majelis Umum PBB dibuatlah Perjanjian New York 15 > Agustus 1962 yang mengandung “Act of Free Choice” (Pernyataan Bebas > Memilih). Act of Free Choice kemudian diterjemahkan oleh pemerintah > Republik Indonesia sebagai PEPERA (Pernyataan Pendapat Rakyat) yang > dilaksanakan pada tahun 1969. > > *Ones Nesta Suhuniap.* > > > Sekrataris Umum KNPB > > > > >
