Kalau menurut bung Jonathan ketika Gubernur Hindia-Belanda
bertekuklutut terhadap kekuasaan Jepang dalam masa PD-II itu wilayah
geografi yang dikapitulasikan meliputi seluruh wilayah Hindia-Belanda
atau sebagian saja?



Am 26 May 2018 14:13:28 +0000
schrieb "[email protected] [GELORA45]" <[email protected]>:

> Konon.... menurut sahibul hikayat, pada jaman Majapahit manusia bisa
> terbang, jadi bisa menguasai wilayah seluas apapun, sesuka yg
> mendongeng. ---
> 
>  
> 
>  Kesalahpahaman perihal Majapahit menguasai seluruh Nusantara,
> menurut Hasan, disebabkan para founding fathers Indonesia, utamanya
> Muh. Yamin, sedang mencari formula untuk menciptakan satu kesatuan
> Indonesia (nation building). 
> 
>  Saat itu Indonesia masih terkotak-kotak dalam semangat kesukuan
> dengan adanya Jong Java, Jong Celebes, dan Jong Sumatera. Karena
> itulah disebutkan bahwa konsep Nusantara yang sudah ada pada zaman
> Singasari dengan nama Dipantara lantas diperkuat pada zaman
> Majapahit. 
> 
>  Landasannya sumpah Patih Gajah Mada yang terkenal itu. Padahal, kata
> Hasan, asal-usul adanya sumpah itu adalah kitab Pararaton yang di
> dalamnya juga banyak kisah dongeng, seperti Ken Arok bisa terbang dan
> lain sebagainya. 
> 
>  "Membacanya harus hati-hati karena Pararaton sangat istanasentris
> dan mencampurkan fakta dengan mitos," ucap Hasan. ...
>  Baru Diketahui, Majapahit Tak Pernah Kuasai Nusantara
> https://www.liputan6.com/regional/read/2485464/baru-diketahui-majapahit-tak-pernah-kuasai-nusantara
>  
> 
> 
>  
> ---In [email protected], <ilmesengero@...> wrote :
> 
>  
> 
>  Kalau klaim atas dasar kekuasaan Mojopahit,  maka Mongolia juga bisa
> klaim wilayah yang dikuasai oleh Jenkis Kan. Yunani bisa klaim
> wilayah yang dikusai oleh Alexander the Great, Turki akan juga bisa
> klaim wilayah yang dikuasai oleh kesultanan Otoman. Lantas bagaimana
> dengan Belanda dan Inggris, Porugal, Spanyol dan jangan lupa juga
> Jepang yang pernah berada di Hindia Belanda? 
> 
>  Apakah benar Mojopahit zaman bahula mampu mengusai wilayah seluas
> yang diceritakan?
> 
> 
>  
>  2018-05-26 4:14 GMT+02:00 jonathangoeij@... mailto:jonathangoeij@...
> [GELORA45] <[email protected]
> mailto:[email protected]>: 
> 
>  Secara historis penjajahan, Papua Barat sesungguhnya bukan bagian
> dari Wilayah Republik Indonesia, karena Papua Barat bukan bagian dari
> Hindia Belanda. Pada tanggal 24 agustus 1828 di Lobo, Teluk Triton
> Kaimana (pantai selatan Papua Barat) diproklamasikan penguasaan Papua
> Barat oleh Sri Baginda Raja Nederland. Sedangkan di Bogor, 19
> Februari 1936 dalam Lembaran Negara Hindia Belanda disepakati tentang
> pembagian daerah teritorial Hindia Belanda, yaitu sabang sampai
> Amboina tidak termasuk Papua Barat (Nederland Neiw Guinea).
> 
>  ...
>  MENGAPA SOEKARNO MENGELUARKAN TRIKORA 19 DESEMBER 1961
> https://suarawiyaimana.blogspot.com/2014/12/mengapa-soekarno-mengeluarkan-trikora.html
>  
> 
>  
>  Written By Suara Wiyaimana Papua on Jumat, 19 Desember 2014 | Jumat,
> Desember 19, 2014 
> 
>  
> https://4.bp.blogspot.com/-Msye_hQ2agU/VJOFAfeMaqI/AAAAAAAAE6A/aq4WCBxP3VM/s1600/download%2B(1).jpg
>  
> 
>  
>  MENGAPA SOEKARNO MENGELUARKAN TRIKORA 19 DESEMBER 1961
>  
> 
>  Saudara- Saudari Rakyat Bangsa Papua Barat dan Semua Pejuang Bangsa
> Papua Barat. Saya ingin menjelaskan mengapa Indonesia takut menjawab
> tuntutan Hak Penentuan Nasib Sendiri Bangsa Papua. 1. Sebelum
> Proklamasi Negara Republik Indonesia 1945, Indonesia (Nederlan Indie)
> Papua (Nederlan Nieuw Guinea) dan Suriname (Nederland Antiles)
> sebagai daerah Koloninya Belanda sementara di Persiapkan untuk
> menentukan Nasib sendiri di bawah Komando atau Maklumat Jendral Mc.
> Artur dan selanjutnya melalui Perjanjian atlantik dan semangat
> pembentukan Komisi Dekolonisasi PBB. Melihat peluang itu, Soekarno
> Presiden Pertama Indonesia mendarat di Papua pada tahun 1942 dan
> melakukan perjanjian adat dengan Bangsa Papua yang isinya menyangkut
> peminjaman benda-benda Pusaka Bangsa Papua untuk mempersiapkan Negara
> Indonesia. Sehingga bersama-sama dengan 7 Jendral yang kini tinggal
> nama dalam sejarah indonesia Mereka berhasil mendirikan Negara
> Indonesia Merdeka. Salah satu dari benda-benda Pusaka bangsa Papua
> yang kini digunakan Indonesia adalah GARUDA yang kini sebagai lambang
> Negara Indonesia. Untuk itu, yang menjadi alasan utama Bangsa Papua
> barat hingga kini belum diberikan Hak Penentuan Nasib sendiri adalah
> ketakutan Indonesia bahwa suatu saat Negara yang di Bangun
> Berdasarkan Barang Pinjaman dari Bangsa Papua ini akan tinggal Nama
> Dalam sejarah. Sekarang yang Perlu disadari Oleh Indonesia bahwa,
> untuk menjaga Kode Etik sesama Bangsa yang Merdeka, Indonesia Harus
> Melepaskan Papua Dengan Aman dan Damai, sebab Jika tidak Maryarakat
> Adat Papua akan Menuntut Pengembalian Benda-Benda Pusaka Bangsa Papua
> yang saat ini di Pakai Sebagai Lambang Negara Indonesa sehingga
> Indonesia akan terpecah Kembali Menjadi Kerajaan-kerajaan Kecil dan
> nama Indonesia akan tinggal kenangan dalam sejarah. Sejarah
> kemerdekaan bangsa Indonesia memiliki misteri yang tak terungkap
> sejak munculnya Negara Indonesia lewat Prokalmasi RI 1945 oleh Ir.
> Soekrano. Secara utuh bangsa Indonesia tidak pernah mengetahui dengan
> pasti dari mana seorang Soekarno berdiri dengan gagah ditengah
> panasnya suhu colonial Belanda. Pada tahapan dimana Indonesia dan
> Papua sementara dipersiapkan belanda untuk menetukan Nasib sendiri,
> Soekarno menjadi gelisah untuk mempercepat kemerdekaan Indoensia,
> sehingga berbagai informasi dicari menyangkut kekuatan
> [email protected], "[email protected]"
> <[email protected]>, "Sunny ambon [email protected]
> [nasional-list]" <[email protected]>, "'j.gedearka'
> [email protected] [nasional-list]"
> <[email protected]>, Tatiana Lukman
> <[email protected]>, Harry Singgih <[email protected]>,
> Daeng <[email protected]>, Rachmat Hadi-Soetjipto
> <[email protected]>, Gol <[email protected]>, Mitri
> <[email protected]>, Lingkar Sitompul
> <[email protected]>, Farida Ishaja <[email protected]>,
> Oman Romana <[email protected]>, Harsono Sutedjo
> <[email protected]>, Billy Gunadi <[email protected]>,
> "[email protected]" <[email protected]>, "Ronggo A."
> <[email protected]>, Sie Tik Tan <[email protected]>, Sahala
> Silalahi <[email protected]>, Tjoa <[email protected]>, "N.
> Nugroho" <[email protected]>, WIN DJOYO <[email protected]>,
> Everistus Kayep <[email protected]>,
> [email protected], "[email protected]"
> <[email protected]> yang dapat digunakan sebagai power
> untuk mempercepat kemerdekaan Indonesia. Dengan semangat yang begitu
> kental itu, Soekarno melakukan perjalanannya menuju Papua, tepatnya
> pada tahun 1942 Soekarno tiba di Kaimana, Daerah ini dulunya di kenal
> dengan nama Emandi dalam bahasa Mairasi suku asli Kaimana.
> Selanjutnya nama itu diganti lagi dengan nama Kimam, Daerah ini juga
> dikenal dengan nama Kerajaan Matahari Terbit Terbenam yang dikawal
> oleh tiga raja yakni Raja Kubey, Raja Alam dan Raja Banten. Ketika
> Papua Barat masih menjadi daerah sengketa akibat perebutan wilayah
> ini antara Indonesia dan Belanda, tuntutan rakyat Papua Barat untuk
> merdeka sebagai negara merdeka sudah ada jauh sebelum kemerdekaan
> Indonesia 17 Agustus 1945. Memasuki tahun 1960-an para politisi dan
> negarawan Papua Barat yang terdidik lewat sekolah Polisi dan sebuah
> sekolah Pamongpraja (Bestuurschool) di Jayapura (Hollandia), dengan
> mendidik 400 orang antara tahun 1944-1949 mempersiapkan kemerdekaan
> Papua Barat. Selanjutnya atas desakan para politisi dan negarawan
> Papua Barat yang terdidik, maka pemerintah Belanda membentuk Nieuw
> Guinea Raad (Dewan Nieuw Guinea). Beberapa tokoh-tokoh terdidik yang
> masuk dalam Dewan ini adalah M.W. Kaisiepo dan Mofu (Kepulauan
> Chouten/Teluk Cenderawasih), Nicolaus Youwe (Hollandia), P. Torey
> (Ransiki/Manokwari), A.K. Gebze (Merauke), M.B. Ramandey (Waropen),
> A.S. Onim (Teminabuan), N. Tanggahma (Fakfak), F. Poana (Mimika),
> Abdullah Arfan (Raja Ampat). Kemudian wakil-wakil dari keturunan
> Indo-Belanda adalah O de Rijke (mewakili Hollandia) dan H.F.W.
> Gosewisch (mewakili Manokwari). Setelah melakukan berbagai persiapan
> disertai dengan perubahan politik yang cepat akibat ketegangan
> Indonesia dan Belanda, maka dibentuk Komite Nasional yang
> beranggotakan 21 orang untuk membantu Dewan Nieuw Guinea dalam
> mempersiapkan kemerdekaan Papua Barat. Komite ini akhirnya dilengkapi
> dengan 70 orang Papua yang berpendidikan dan berhasil melahirkan
> Manifesto Politik yang isinya: MANIVETO POLITIK PAPUA BARAT 1.
> Menetukan nama Negara : Papua Barat 2. Menentukan lagu kebangsaan :
> Hai Tanahku Papua 3. Menentukan bendera Negara : Bintang Kejora 4.
> Menentukan bahwa bendera Bintang Kejora akan dikibarkan pada 1
> November 1961. Lambang Negara Papua Barat adalah Burung Mambruk
> dengan semboyan “One People One Soul”. Rencana pengibaran bendera
> Bintang Kejora tanggal 1 November 1961 tidak jadi dilaksanakan karena
> belum mendapat persetujuan dari Pemerintah Belanda. Tetapi sOetelah
> persetujuan dari Komite Nasional, maka Bendera Bintang Kejora
> dikibarkan pada 1 Desember 1961 di Hollandia, sekaligus “Deklarasi
> Kemerdekaan Papua Barat”. Bendera Bintang Kejora dikibarkan di
> samping bendera Belanda, dan lagu kebangsaan “Hai Tanahku Papua”
> dinyanyikan setelah lagu kebangsaan Belanda “Wilhelmus”. Deklarasi
> kemerdekaan Papua Barat ini disiarkan oleh Radio Belanda dan
> Australia. Momen inilah yang menjadi Deklarasi Kemerdekaan Papua
> Barat secara de facto dan de jure sebagai sebuah negara yang merdeka
> dan berdaulat. Papua Barat telah mendeklarasikan diri sebagai negara
> yang merdeka dan berdaulat, tetapi kemerdekaan itu hanya berumur 19
> hari, karena tanggal 19 Desember 1961 Presiden Soekarno mengeluarkan
> Tri Komando Rakyat di Alun-alun Utara Yogyakarta yang isinya: 1.
> Gagalkan Pembentukan “Negara Boneka Papua” buatan Belanda Kolonial 2.
> Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia 3.
> Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan
> kesatuan Tanah Air dan Bangsa. Realisasi dari isi Trikora ini, maka
> Presiden Soekarno sebagai Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan
> Irian Barat mengeluarkan Keputusan Presiden No. 1 Tahun 1962 yang
> memerintahkan kepada Panglima Komando Mandala, Mayor Jendral Soeharto
> untuk melakukan operasi militer ke wilayah Irian Barat untuk merebut
> wilayah itu dari tangan Belanda. Akhirnya dilakukan beberapa
> gelombang Operasi Militer di Papua Barat dengan satuan militer yang
> diturunkan untuk operasi lewat udara dalam fase infiltrasi seperti
> Operasi Banten Kedaton, Operasi Garuda, Operasi Serigala, Operasi
> Kancil, Operasi Naga, Operasi Rajawali, Operasi Lumbung, Operasi
> Jatayu. Operasi lewat laut adalah Operasi Show of Rorce, Operasi
> Cakra, dan Operasi Lumba-lumba. Sedangkan pada fase eksploitasi
> dilakukan Operasi Jayawijaya dan Operasi Khusus (Opsus). Melalui
> operasi ini wilayah Papua Barat diduduki, dan dicurigai banyak orang
> Papua yang telah dibantai pada waktu itu. ALASAN PENCAPLOKAN WILAYAH
> PAPUA BARAT OLEH SOEKARNO Mengapa Soekarno sangat “keras kepala”
> dalam merebut wilayah Papua Barat untuk memasukannya ke dalam wilayah
> Negara Kesatuan Republik Indonesia? Soekarno mempunyai empat alasan
> utama dalam pencaplokan Papua Barat ke wilayah Indonesia. Keempat
> alasan itu adalah klaim yang dipegang oleh Indonesia sebagai tindakan
> pembenaran kekuasaan atas wilayah Papua Barat. Keempat klaim itu
> adalah: 1. Papua Barat dianggap sebagai bagian dari kerajaan
> Majapahit. 2. Kepulauan Raja Ampat di daerah kepala burung, Papua
> Barat, oleh sultan Tidore dan Soekarno diklaim sebagai bagian dari
> Kesultanan Tidore. Kesultanan Tidore diklaim oleh Soekarno
> [email protected], "[email protected]"
> <[email protected]>, "Sunny ambon [email protected]
> [nasional-list]" <[email protected]>, "'j.gedearka'
> [email protected] [nasional-list]"
> <[email protected]>, Tatiana Lukman
> <[email protected]>, Harry Singgih <[email protected]>,
> Daeng <[email protected]>, Rachmat Hadi-Soetjipto
> <[email protected]>, Gol <[email protected]>, Mitri
> <[email protected]>, Lingkar Sitompul
> <[email protected]>, Farida Ishaja <[email protected]>,
> Oman Romana <[email protected]>, Harsono Sutedjo
> <[email protected]>, Billy Gunadi <[email protected]>,
> "[email protected]" <[email protected]>, "Ronggo A."
> <[email protected]>, Sie Tik Tan <[email protected]>, Sahala
> Silalahi <[email protected]>, Tjoa <[email protected]>, "N.
> Nugroho" <[email protected]>, WIN DJOYO <[email protected]>,
> Everistus Kayep <[email protected]>,
> [email protected], "[email protected]"
> <[email protected]> bagian dari daerah “Indonesia Bagian
> Timur”. 3. Papua Barat diklaim sebagai bagian dari negara bekas
> Hindia Belanda. 4. Soekarno yang anti barat ingin menghalau pengaruh
> imperialisme barat di Asia Tenggara. Di samping itu, Soekarno
> memiliki ambisi hegemoni untuk mengembalikan kejayaan kerajaan
> Majapahit (ingat: “Ganyang Malaysia”), termasuk Papua Barat yang
> ketika itu masih dijajah oleh Belanda. Mungkin juga Soekarno memiliki
> perasaan curiga, bahwa pemerintah Nederlands Nieuw Guinea di Papua
> Barat akan merupakan benteng Belanda untuk sewaktu-waktu dapat
> menghancurkan Negara Indonesia. Hal ini dihubungkan dengan aksi
> militer Belanda yang kedua (tweede politionele aktie) pada 19-12-1948
> untuk menghancurkan negara RI. Apakah keempat klaim – sebagai alasan
> mengusai Papua Barat – ini benar? Mari kita buktikan. 1. Klaim atas
> Kekuasaan Majapahit Kerajaan Majapahit (1293-1520) lahir di Jawa
> Timur dan memperoleh kejayaannya di bawah raja Hayam Wuruk
> Rajasanagara (1350-1389). Ensiklopedi-ensiklopedi di negeri Belanda
> memuat ringkasan sejarah Majapahit, bahwa “batas kerajaan Majapahit
> pada jaman Gajah Mada mencakup sebagian besar daerah Indonesia”.
> Sejarawan Indonesia mengklaim bahwa batas wilayah Majapahit
> terbentang dari Madagaskar hingga ke pulau Pas (Chili). Hingga saat
> ini belum ditemukan bukti-bukti sejarah berupa ceritera tertulis
> maupun lisan atau benda-benda sejarah lainnya yang dapat digunakan
> sebagai bahan-bahan ilmiah untuk membuat suatu analisa dengan
> definisi yang tepat bahwa Papua Barat pernah merupakan bagian dari
> Kerajaan Majapahit. Mengklaim Papua Barat sebagai bagian dari
> kerajaan Majapahit tentunya sangat meragukan, karena Soekarno tidak
> memenuhi prinsip-prinsip membuat analisa dan definisi sejarah yang
> tepat, khususnya sejarah tertulis. Berkaitan dengan kekuasaan wilayah
> kerajaan Majapahit di Indonesia, secara jelas dijelaskan panjang
> lebar oleh Prof. Dr. Slamet Muljana, bahwa kekuasaan kerajaan
> Majapahit, dalam Nagarakretagama pupuh 13 dan 14 disebutkan bahwa
> kerajaan Majapahit mempunyai wilayah yang luas sekali, baik di
> kepulauan Nusantara maupun di semenanjung Melayu. Pulau-pulau di
> sebelah timur pulau Jawa yang paling jauh tersebut dalam pupuh 14/15
> ialah deretan pulau Ambon dan Maluku, Seram dan Timor; semenajung
> Melayu disebut nama-nama Langkasuka, Kelantan, Tringgano, Paka, Muara
> Dingin, Tumasik, Klang, Kedah, Jerai. Demikianlah, wilayah kerajaan
> Majapahit pada zaman Hayam Wuruk menurut Nagarakretagama meluputi
> wilayah yang lebih luas dari pada Negara Republik Indonesia sekarang.
> Hanya Irian yang tidak tersebut sebagai batas yang terjauh di sebelah
> timur. Boleh dikatakan bahwa batas sebelah timur kerajaan Majapahit
> ialah kepulauan Maluku. Ini berarti Papua Barat tidak masuk dalam
> kekuasaan kerajaan Majapahit. Karena itu sudah jelas bahwa Soekarno
> telah memanipulasikan sejarah. 2. Klaim atas Kekuasaan Tidore Di
> dalam suatu pernyataan yang di lakukan antara sultan Tidore dengan
> VOC pada tahun 1660, secara sepihak sultan Tidore mengklaim bahwa
> kepulauan Papua atau pulau-pulau yang termasuk di dalamnya merupakan
> daerah kesultanan Tidore. Soekarno mengklaim bahwa kesultanan Tidore
> merupakan “Indonesia Bagian Timur”, maka Papua Barat merupakan bagian
> daripadanya. Di samping itu, Soekarno mengklaim bahwa raja-raja di
> kepulauan Raja Ampat di daerah kepala burung, Papua Barat, pernah
> mengadakan hubungan dengan sultan Tidore. Apakah kedua klaim dari
> sultan Tidore dan Soekarno dapat dibuktikan secara ilmiah? Gubernur
> kepulauan Banda, Keyts melaporkan pada tahun 1678 bahwa dia tidak
> menemukan bukti adanya kekuasaan Tidore di Papua Barat. Pada tahun
> 1679 Keyts menulis lagi bahwa sultan Tidore tidak perlu dihiraukan di
> dalam hal Papua Barat. Menurut laporan dari kapten Thomas Forrest
> (1775) dan dari Gubernur Ternate (1778) terbukti bahwa kekuasaan
> sultan Tidore di Papua Barat betul-betul tidak kelihatan. Pada
> tanggal 27 Oktober 1814 dibuat sebuah kontrak antara sultan Ternate
> dan Tidore yang disaksikan oleh residen Inggris, bahwa seluruh
> kepulauan Papua Barat dan distrik-distrik Mansary, Karandefur,
> Ambarpura dan Umbarpon pada pesisir Papua Barat (daerah sekitar
> Kepala Burung) akan dipertimbangkan kemudian sebagai milik sah sultan
> Tidore. Kontrak ini dibuat di luar ketahuan dan keinginan rakyat
> Papua Barat. Berbagai penulis melaporkan, bahwa yang diklaim oleh
> sultan Tidore dengan nama Papua adalah pulau Misol. Bukan daratan
> Papua seluruhnya. Ketika sultan Tidore mengadakan perjalanan keliling
> ke Papua Barat pada bulan Maret 1949, rakyat Papua Barat tidak
> menunjukkan keinginan mereka untuk menjadi bagian dari kesultanan
> Tidore. Adanya raja-raja di Papua Barat bagian barat, sama sekali
> tidak dapat dibuktikan dengan teori yang benar. Lahirnya sebutan
> ‘Raja Ampat’ berasal dari mitos. Raja Ampat berasal dari telur burung
> Maleo (ayam hutan). Dari telur-telur itu lahirlah anak-anak manusia
> yang kemudian menjadi raja. Mitos ini memberikan bukti, bahwa
> [email protected], "[email protected]"
> <[email protected]>, "Sunny ambon [email protected]
> [nasional-list]" <[email protected]>, "'j.gedearka'
> [email protected] [nasional-list]"
> <[email protected]>, Tatiana Lukman
> <[email protected]>, Harry Singgih <[email protected]>,
> Daeng <[email protected]>, Rachmat Hadi-Soetjipto
> <[email protected]>, Gol <[email protected]>, Mitri
> <[email protected]>, Lingkar Sitompul
> <[email protected]>, Farida Ishaja <[email protected]>,
> Oman Romana <[email protected]>, Harsono Sutedjo
> <[email protected]>, Billy Gunadi <[email protected]>,
> "[email protected]" <[email protected]>, "Ronggo A."
> <[email protected]>, Sie Tik Tan <[email protected]>, Sahala
> Silalahi <[email protected]>, Tjoa <[email protected]>, "N.
> Nugroho" <[email protected]>, WIN DJOYO <[email protected]>,
> Everistus Kayep <[email protected]>,
> [email protected], "[email protected]"
> <[email protected]> pernah terdapat raja-raja di
> kepulauan Raja Ampat menurut kenyataan yang sebenarnya. Rakyat Papua
> Barat pernah mengenal seorang pemimpin armada laut asal Biak:
> Kurabesi, yang menurut F.C. Kamma, pernah mengadakan penjelajahan
> sampai ke ujung barat Papua Barat. Kurabesi kemudian kawin dengan
> putri sultan Tidore. Adanya armada Kurabesi dapat memberikan
> kesangsian terhadap kehadiran kekuasaan asing di Papua Barat. Pada
> tahun 1848 dilakukan suatu kontrak rahasia antara Pemerintah Hindia
> Belanda (Indonesia jaman Belanda) dengan Sultan Tidore di mana
> pesisir barat-laut dan barat-daya Papua Barat merupakan daerah
> teritorial kesultanan Tidore. Hal ini dilakukan dengan harapan untuk
> mencegah digunakannya Papua Barat sebagai papan-loncat penetrasi
> Inggris ke kepulauan Maluku. Di dalam hal ini Tidore sesungguhnya
> hanya merupakan vassal proportion (hubungan antara seorang yang
> menduduki tanah dengan janji memberikan pelayanan militer kepada tuan
> tanah) terhadap kedaulatan kekuasaan Belanda, tulis C.S.I.J.
> Lagerberg. Sultan Tidore diberikan mandat oleh Pemerintah Hindia
> Belanda tahun 1861 untuk mengurus perjalanan hongi (hongi-tochten, di
> dalam bahasa Belanda). Ketika itu banyak pelaut asal Biak yang
> berhongi (berlayar) sampai ke Tidore. Menurut C.S.I.J. Lagerberg
> hongi asal Biak merupakan pembajakan laut, tapi menurut bekas-bekas
> pelaut Biak, hongi ketika itu merupakan usaha menghalau penjelajah
> asing. Pengejaran terhadap penjelajah asing itu dilakukan hingga ke
> Tidore. Untuk menghadapi para penghalau dari Biak, sultan Tidore
> diberi mandat oleh Pemerintah Hindia Belanda. Jadi, justru yang
> terjadi ketika itu bukan suatu kekuasaan pemerintahan atas teritorial
> Papua Barat. Setelah pada tahun 1880-an Jerman dan Inggris secara
> nyata menjajah Papua New Guinea, maka Belanda juga secara nyata
> memulai penjajahannya di Papua Barat pada tahun 1898 dengan membentuk
> dua bagian tertentu di dalam pemerintahan otonomi
> (zelfbestuursgebied) Tidore, yaitu bagian utara dengan ibukota
> Manokwari dan bagian selatan dengan ibukota Fakfak. Jadi, ketika itu
> daerah pemerintahan Manokwari dan Fakfak berada di bawah keresidenan
> Tidore. Mengenai manipulasi sejarah berdasarkan kekuasaan Tidore atas
> wilayah Papua Barat ini, Dr. George Junus Aditjondro menyatakan
> bahwa: Kita mempertahankan Papua Barat karena Papua Barat adalah
> bagian dari Hindia Belanda. Itu atas dasar apa? Hanya karena
> kesultanan Tidore mengklaim bahwa dia menjajah Papua Barat sampai
> teluk Yotefa mungkin? Maka kemudian, ketika Tidore ditaklukan oleh
> Belanda, Belanda belum merasa otomatis mendapatkan hak atas
> penjajahan Tidore? Belanda mundur, Indonesia punya hak atas semua
> eks-jajahan Tidore? Itu kan suatu mitos. Sejak kapan berbagai daerah
> di Papua barat takluk kepada Tidore?... Saya kira tidak. Yang ada
> adalah hubungan vertikal antara Tidore dan Papua Barat, tidak ada
> kekuasaan Tidore untuk menaklukan Papua Barat. Atas dasar itu, klaim
> bahwa Indonesia berhak atas seluruh Hindia Belanda dulu, merupakan
> imajinasi.” Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Soekarno
> telah terbukti memanipulasikan sejarah untuk mencaplok Papua Barat.
> Karena wilayah Papua Barat tidak masuk dalam kekuasaan Tidore. 3.
> Klaim atas kekuasaan Hindia Belanda Secara historis penjajahan, Papua
> Barat sesungguhnya bukan bagian dari Wilayah Republik Indonesia,
> karena Papua Barat bukan bagian dari Hindia Belanda. Pada tanggal 24
> agustus 1828 di Lobo, Teluk Triton Kaimana (pantai selatan Papua
> Barat) diproklamasikan penguasaan Papua Barat oleh Sri Baginda Raja
> Nederland. Sedangkan di Bogor, 19 Februari 1936 dalam Lembaran Negara
> Hindia Belanda disepakati tentang pembagian daerah teritorial Hindia
> Belanda, yaitu sabang sampai Amboina tidak termasuk Papua Barat
> (Nederland Neiw Guinea). Juga perlu diingat bahwa walaupun Papua
> Barat dan Indonesia sama-sama merupakan jajahan Belanda, namun
> administrasi pemerintahan Papua Barat diurus secara terpisah.
> Indonesia dijajah oleh Belanda yang kekuasaan kolonialnya
> dikendalikan dari Batavia (sekarang Jakarta), kekuasaan Batavia
> inilah yang telah menjalankan penjajahan Belanda atas Indonesia,
> yaitu mulai dari Sabang sampai Amboina (Hindia Belanda). Kekuasaan
> Belanda di Papua Barat dikendalikan dari Hollandia (sekarang Port
> Numbay), dengan batas kekuasaan mulai dari Kepulauan Raja Ampat
> sampai Merauke (Nederland Nieuw Guinea). Selain itu saat tertanam dan
> tercabutnya kaki penjajahan Belanda di Papua Barat tidak bertepatan
> waktu dengan yang terjadi di Indonesia. Kurun waktunya berbeda, di
> mana Indonesia dijajah selama tiga setengah abad sedangkan Papua
> Barat hanya 64 tahun (1898-1962). Tanggal 24 Agustus 1828, ratu
> Belanda mengeluarkan pernyataan unilateral bahwa Papua Barat
> merupakan daerah kekuasaan Belanda. Secara politik praktis, Belanda
> memulai penjajahannya pada tahun 1898 dengan menanamkan pos
> pemerintahan pertama di Manokwari (untuk daerah barat Papua Barat)
> dan di Fakfak (untuk daerah selatan Papua Barat. Tahun 1902, pos
> pemerintahan lainnya dibuka di Merauke di mana daerah tersebut
> terlepas dari lingkungan teritorial Fakfak. Tanggal 1 Oktober 1962
> Belanda menyerahkan Papua Barat ke dalam PBB. Dari uraian di atas
> dapat disimpulkan bahwa Soekarno telah terbukti memanipulasikan
> sejarah untuk mencaplok Papua Barat. Karena wilayah Papua Barat tidak
> masuk dalam kekuasaan Hindia Belanda. 4. Menghalau Pengaruh
> Imperialisme Barat di Asia Tenggara. Soekarno mengancam akan memohon
> dukungan dari pemerintah bekas Uni Sovyet untuk menganeksasi Papua
> Barat jika pemerintah Belanda tidak bersedia menyerahkan Papua Barat
> ke tangan Republik Indonesia. Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada
> waktu itu sangat takut akan jatuhnya negara Indonesia ke dalam Blok
> komunis. Soekarno dikenal oleh dunia barat sebagai seorang Presiden
> yang sangat anti imperialisme barat dan pro Blok Timur. Pemerintah
> Amerika Serikat ingin mencegah kemungkinan terjadinya perang fisik
> antara Belanda dan Indonesia. Maka Amerika Serikat memaksa pemerintah
> Belanda untuk menyerahkan Papua Barat ke tangan Republik Indonesia.
> Di samping menekan pemerintah Belanda, pemerintah AS berusaha
> mendekati presiden Soekarno. Soekarno diundang untuk berkunjung ke
> Washington (Amerika Serikat) pada tahun 1961. Tahun 1962 utusan
> pribadi Presiden John Kennedy yaitu Jaksa Agung Robert Kennedy
> mengadakan kunjungan balasan ke Indonesia untuk membuktikan keinginan
> Amerika Serikat tentang dukungan kepada Soekarno di dalam usaha
> menganeksasi Papua Barat. Untuk mengelabui mata dunia, maka proses
> pengambil-alihan kekuasaan di Papua Barat dilakukan melalui jalur
> hukum internasional secara sah dengan dimasukkannya masalah Papua
> Barat ke dalam agenda Majelis Umum PBB pada tahun 1962. Dari dalam
> Majelis Umum PBB dibuatlah Perjanjian New York 15 Agustus 1962 yang
> mengandung “Act of Free Choice” (Pernyataan Bebas Memilih). Act of
> Free Choice kemudian diterjemahkan oleh pemerintah Republik Indonesia
> sebagai PEPERA (Pernyataan Pendapat Rakyat) yang dilaksanakan pada
> tahun 1969. 
> 
>  Ones Nesta Suhuniap.
>  
> 
>  Sekrataris Umum KNPB
>  
> 
>  
> 
>  
>  
>  
>  
>  
> 
> 
> 
> 
>  
> 

Kirim email ke