Konon.... menurut sahibul hikayat, pada jaman Majapahit manusia bisa terbang, 
jadi bisa menguasai wilayah seluas apapun, sesuka yg mendongeng. ---

 

 Kesalahpahaman perihal Majapahit menguasai seluruh Nusantara, menurut Hasan, 
disebabkan para founding fathers Indonesia, utamanya Muh. Yamin, sedang mencari 
formula untuk menciptakan satu kesatuan Indonesia (nation building).
 

 Saat itu Indonesia masih terkotak-kotak dalam semangat kesukuan dengan adanya 
Jong Java, Jong Celebes, dan Jong Sumatera. Karena itulah disebutkan bahwa 
konsep Nusantara yang sudah ada pada zaman Singasari dengan nama Dipantara 
lantas diperkuat pada zaman Majapahit.
 

 Landasannya sumpah Patih Gajah Mada yang terkenal itu. Padahal, kata Hasan, 
asal-usul adanya sumpah itu adalah kitab Pararaton yang di dalamnya juga banyak 
kisah dongeng, seperti Ken Arok bisa terbang dan lain sebagainya.
 

 "Membacanya harus hati-hati karena Pararaton sangat istanasentris dan 
mencampurkan fakta dengan mitos," ucap Hasan.
 ...
 Baru Diketahui, Majapahit Tak Pernah Kuasai Nusantara 
https://www.liputan6.com/regional/read/2485464/baru-diketahui-majapahit-tak-pernah-kuasai-nusantara
 


 
---In [email protected], <ilmesengero@...> wrote :

 

 Kalau klaim atas dasar kekuasaan Mojopahit,  maka Mongolia juga bisa klaim 
wilayah yang dikuasai oleh Jenkis Kan. Yunani bisa klaim wilayah yang dikusai 
oleh Alexander the Great, Turki akan juga bisa klaim wilayah yang dikuasai oleh 
kesultanan Otoman. Lantas bagaimana dengan Belanda dan Inggris, Porugal, 
Spanyol dan jangan lupa juga Jepang yang pernah berada di Hindia Belanda?
 

 Apakah benar Mojopahit zaman bahula mampu mengusai wilayah seluas yang 
diceritakan?


 
 2018-05-26 4:14 GMT+02:00 jonathangoeij@... mailto:jonathangoeij@... 
[GELORA45] <[email protected] mailto:[email protected]>:
   
 

 Secara historis penjajahan, Papua Barat sesungguhnya bukan bagian dari Wilayah 
Republik Indonesia, karena Papua Barat bukan bagian dari Hindia Belanda. Pada 
tanggal 24 agustus 1828 di Lobo, Teluk Triton Kaimana (pantai selatan Papua 
Barat) diproklamasikan penguasaan Papua Barat oleh Sri Baginda Raja Nederland. 
Sedangkan di Bogor, 19 Februari 1936 dalam Lembaran Negara Hindia Belanda 
disepakati tentang pembagian daerah teritorial Hindia Belanda, yaitu sabang 
sampai Amboina tidak termasuk Papua Barat (Nederland Neiw Guinea).

 ...
 MENGAPA SOEKARNO MENGELUARKAN TRIKORA 19 DESEMBER 1961 
https://suarawiyaimana.blogspot.com/2014/12/mengapa-soekarno-mengeluarkan-trikora.html
 

 
 Written By Suara Wiyaimana Papua on Jumat, 19 Desember 2014 | Jumat, Desember 
19, 2014 

 
https://4.bp.blogspot.com/-Msye_hQ2agU/VJOFAfeMaqI/AAAAAAAAE6A/aq4WCBxP3VM/s1600/download%2B(1).jpg
 

 
 MENGAPA SOEKARNO MENGELUARKAN TRIKORA 19 DESEMBER 1961
 

 Saudara- Saudari Rakyat Bangsa Papua Barat dan Semua Pejuang Bangsa Papua 
Barat. Saya ingin menjelaskan mengapa Indonesia takut menjawab tuntutan Hak 
Penentuan Nasib Sendiri Bangsa Papua.
 1. Sebelum Proklamasi Negara Republik Indonesia 1945, Indonesia (Nederlan 
Indie) Papua (Nederlan Nieuw Guinea) dan Suriname (Nederland Antiles) sebagai 
daerah Koloninya Belanda sementara di Persiapkan untuk menentukan Nasib sendiri 
di bawah Komando atau Maklumat Jendral Mc. Artur dan selanjutnya melalui 
Perjanjian atlantik dan semangat pembentukan Komisi Dekolonisasi PBB.
 Melihat peluang itu, Soekarno Presiden Pertama Indonesia mendarat di Papua 
pada tahun 1942 dan melakukan perjanjian adat dengan Bangsa Papua yang isinya 
menyangkut peminjaman benda-benda Pusaka Bangsa Papua untuk mempersiapkan 
Negara Indonesia. Sehingga bersama-sama dengan 7 Jendral yang kini tinggal nama 
dalam sejarah indonesia Mereka berhasil mendirikan Negara Indonesia Merdeka.
 Salah satu dari benda-benda Pusaka bangsa Papua yang kini digunakan Indonesia 
adalah GARUDA yang kini sebagai lambang Negara Indonesia.
Untuk itu, yang menjadi alasan utama Bangsa Papua barat hingga kini belum 
diberikan Hak Penentuan Nasib sendiri adalah ketakutan Indonesia bahwa suatu 
saat Negara yang di Bangun Berdasarkan Barang Pinjaman dari Bangsa Papua ini 
akan tinggal Nama Dalam sejarah.
 Sekarang yang Perlu disadari Oleh Indonesia bahwa, untuk menjaga Kode Etik 
sesama Bangsa yang Merdeka, Indonesia Harus Melepaskan Papua Dengan Aman dan 
Damai, sebab Jika tidak Maryarakat Adat Papua akan Menuntut Pengembalian 
Benda-Benda Pusaka Bangsa Papua yang saat ini di Pakai Sebagai Lambang Negara 
Indonesa sehingga Indonesia akan terpecah Kembali Menjadi Kerajaan-kerajaan 
Kecil dan nama Indonesia akan tinggal kenangan dalam sejarah.
 Sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia memiliki misteri yang tak terungkap sejak 
munculnya Negara Indonesia lewat Prokalmasi RI 1945 oleh Ir. Soekrano. Secara 
utuh bangsa Indonesia tidak pernah mengetahui dengan pasti dari mana seorang 
Soekarno berdiri dengan gagah ditengah panasnya suhu colonial Belanda.
 Pada tahapan dimana Indonesia dan Papua sementara dipersiapkan belanda untuk 
menetukan Nasib sendiri, Soekarno menjadi gelisah untuk mempercepat kemerdekaan 
Indoensia, sehingga berbagai informasi dicari menyangkut kekuatan supernatural 
yang dapat digunakan sebagai power untuk mempercepat kemerdekaan Indonesia. 
Dengan semangat yang begitu kental itu, Soekarno melakukan perjalanannya menuju 
Papua, tepatnya pada tahun 1942 Soekarno tiba di Kaimana, Daerah ini dulunya di 
kenal dengan nama Emandi dalam bahasa Mairasi suku asli Kaimana. Selanjutnya 
nama itu diganti lagi dengan nama Kimam, Daerah ini juga dikenal dengan nama 
Kerajaan Matahari Terbit Terbenam yang dikawal oleh tiga raja yakni Raja Kubey, 
Raja Alam dan Raja Banten.
 Ketika Papua Barat masih menjadi daerah sengketa akibat perebutan wilayah ini 
antara Indonesia dan Belanda, tuntutan rakyat Papua Barat untuk merdeka sebagai 
negara merdeka sudah ada jauh sebelum kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. 
Memasuki tahun 1960-an para politisi dan negarawan Papua Barat yang terdidik 
lewat sekolah Polisi dan sebuah sekolah Pamongpraja (Bestuurschool) di Jayapura 
(Hollandia), dengan mendidik 400 orang antara tahun 1944-1949 mempersiapkan 
kemerdekaan Papua Barat.
 Selanjutnya atas desakan para politisi dan negarawan Papua Barat yang 
terdidik, maka pemerintah Belanda membentuk Nieuw Guinea Raad (Dewan Nieuw 
Guinea). Beberapa tokoh-tokoh terdidik yang masuk dalam Dewan ini adalah M.W. 
Kaisiepo dan Mofu (Kepulauan Chouten/Teluk Cenderawasih), Nicolaus Youwe 
(Hollandia), P. Torey (Ransiki/Manokwari), A.K. Gebze (Merauke), M.B. Ramandey 
(Waropen), A.S. Onim (Teminabuan), N. Tanggahma (Fakfak), F. Poana (Mimika), 
Abdullah Arfan (Raja Ampat). Kemudian wakil-wakil dari keturunan Indo-Belanda 
adalah O de Rijke (mewakili Hollandia) dan H.F.W. Gosewisch (mewakili 
Manokwari).
Setelah melakukan berbagai persiapan disertai dengan perubahan politik yang 
cepat akibat ketegangan Indonesia dan Belanda, maka dibentuk Komite Nasional 
yang beranggotakan 21 orang untuk membantu Dewan Nieuw Guinea dalam 
mempersiapkan kemerdekaan Papua Barat.
 Komite ini akhirnya dilengkapi dengan 70 orang Papua yang berpendidikan dan 
berhasil melahirkan Manifesto Politik yang isinya:
 MANIVETO POLITIK PAPUA BARAT
 1. Menetukan nama Negara : Papua Barat
 2. Menentukan lagu kebangsaan : Hai Tanahku Papua
 3. Menentukan bendera Negara : Bintang Kejora
 4. Menentukan bahwa bendera Bintang Kejora akan dikibarkan pada 1 November 
1961.
 Lambang Negara Papua Barat adalah Burung Mambruk dengan semboyan “One People 
One Soul”.
 Rencana pengibaran bendera Bintang Kejora tanggal 1 November 1961 tidak jadi 
dilaksanakan karena belum mendapat persetujuan dari Pemerintah Belanda. Tetapi 
sOetelah persetujuan dari Komite Nasional, maka Bendera Bintang Kejora 
dikibarkan pada 1 Desember 1961 di Hollandia, sekaligus “Deklarasi Kemerdekaan 
Papua Barat”. Bendera Bintang Kejora dikibarkan di samping bendera Belanda, dan 
lagu kebangsaan “Hai Tanahku Papua” dinyanyikan setelah lagu kebangsaan Belanda 
“Wilhelmus”.
 Deklarasi kemerdekaan Papua Barat ini disiarkan oleh Radio Belanda dan 
Australia. Momen inilah yang menjadi Deklarasi Kemerdekaan Papua Barat secara 
de facto dan de jure sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat.
 Papua Barat telah mendeklarasikan diri sebagai negara yang merdeka dan 
berdaulat, tetapi kemerdekaan itu hanya berumur 19 hari, karena tanggal 19 
Desember 1961 Presiden Soekarno mengeluarkan Tri Komando Rakyat di Alun-alun 
Utara Yogyakarta yang isinya:
 1. Gagalkan Pembentukan “Negara Boneka Papua” buatan Belanda Kolonial
2. Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan 
kesatuan Tanah Air dan Bangsa.
 Realisasi dari isi Trikora ini, maka Presiden Soekarno sebagai Panglima Besar 
Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat mengeluarkan Keputusan Presiden No. 1 
Tahun 1962 yang memerintahkan kepada Panglima Komando Mandala, Mayor Jendral 
Soeharto untuk melakukan operasi militer ke wilayah Irian Barat untuk merebut 
wilayah itu dari tangan Belanda.
Akhirnya dilakukan beberapa gelombang Operasi Militer di Papua Barat dengan 
satuan militer yang diturunkan untuk operasi lewat udara dalam fase infiltrasi 
seperti Operasi Banten Kedaton, Operasi Garuda, Operasi Serigala, Operasi 
Kancil, Operasi Naga, Operasi Rajawali, Operasi Lumbung, Operasi Jatayu. 
Operasi lewat laut adalah Operasi Show of Rorce, Operasi Cakra, dan Operasi 
Lumba-lumba. Sedangkan pada fase eksploitasi dilakukan Operasi Jayawijaya dan 
Operasi Khusus (Opsus). Melalui operasi ini wilayah Papua Barat diduduki, dan 
dicurigai banyak orang Papua yang telah dibantai pada waktu itu.
 ALASAN PENCAPLOKAN WILAYAH PAPUA BARAT OLEH SOEKARNO
 Mengapa Soekarno sangat “keras kepala” dalam merebut wilayah Papua Barat untuk 
memasukannya ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia? Soekarno 
mempunyai empat alasan utama dalam pencaplokan Papua Barat ke wilayah 
Indonesia. Keempat alasan itu adalah klaim yang dipegang oleh Indonesia sebagai 
tindakan pembenaran kekuasaan atas wilayah Papua Barat. Keempat klaim itu 
adalah:
 1. Papua Barat dianggap sebagai bagian dari kerajaan Majapahit.
2. Kepulauan Raja Ampat di daerah kepala burung, Papua Barat, oleh sultan 
Tidore dan Soekarno diklaim sebagai bagian dari Kesultanan Tidore. Kesultanan 
Tidore diklaim oleh Soekarno sebagai bagian dari daerah “Indonesia Bagian 
Timur”.
 3. Papua Barat diklaim sebagai bagian dari negara bekas Hindia Belanda.
4. Soekarno yang anti barat ingin menghalau pengaruh imperialisme barat di Asia 
Tenggara. Di samping itu, Soekarno memiliki ambisi hegemoni untuk mengembalikan 
kejayaan kerajaan Majapahit (ingat: “Ganyang Malaysia”), termasuk Papua Barat 
yang ketika itu masih dijajah oleh Belanda. Mungkin juga Soekarno memiliki 
perasaan curiga, bahwa pemerintah Nederlands Nieuw Guinea di Papua Barat akan 
merupakan benteng Belanda untuk sewaktu-waktu dapat menghancurkan Negara 
Indonesia. Hal ini dihubungkan dengan aksi militer Belanda yang kedua (tweede 
politionele aktie) pada 19-12-1948 untuk menghancurkan negara RI.
 Apakah keempat klaim – sebagai alasan mengusai Papua Barat – ini benar? Mari 
kita buktikan.
 1. Klaim atas Kekuasaan Majapahit
 Kerajaan Majapahit (1293-1520) lahir di Jawa Timur dan memperoleh kejayaannya 
di bawah raja Hayam Wuruk Rajasanagara (1350-1389). Ensiklopedi-ensiklopedi di 
negeri Belanda memuat ringkasan sejarah Majapahit, bahwa “batas kerajaan 
Majapahit pada jaman Gajah Mada mencakup sebagian besar daerah Indonesia”. 
Sejarawan Indonesia mengklaim bahwa batas wilayah Majapahit terbentang dari 
Madagaskar hingga ke pulau Pas (Chili).
 Hingga saat ini belum ditemukan bukti-bukti sejarah berupa ceritera tertulis 
maupun lisan atau benda-benda sejarah lainnya yang dapat digunakan sebagai 
bahan-bahan ilmiah untuk membuat suatu analisa dengan definisi yang tepat bahwa 
Papua Barat pernah merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit. Mengklaim Papua 
Barat sebagai bagian dari kerajaan Majapahit tentunya sangat meragukan, karena 
Soekarno tidak memenuhi prinsip-prinsip membuat analisa dan definisi sejarah 
yang tepat, khususnya sejarah tertulis.
Berkaitan dengan kekuasaan wilayah kerajaan Majapahit di Indonesia, secara 
jelas dijelaskan panjang lebar oleh Prof. Dr. Slamet Muljana, bahwa kekuasaan 
kerajaan Majapahit, dalam Nagarakretagama pupuh 13 dan 14 disebutkan bahwa 
kerajaan Majapahit mempunyai wilayah yang luas sekali, baik di kepulauan 
Nusantara maupun di semenanjung Melayu. Pulau-pulau di sebelah timur pulau Jawa 
yang paling jauh tersebut dalam pupuh 14/15 ialah deretan pulau Ambon dan 
Maluku, Seram dan Timor; semenajung Melayu disebut nama-nama Langkasuka, 
Kelantan, Tringgano, Paka, Muara Dingin, Tumasik, Klang, Kedah, Jerai. 
Demikianlah, wilayah kerajaan Majapahit pada zaman Hayam Wuruk menurut 
Nagarakretagama meluputi wilayah yang lebih luas dari pada Negara Republik 
Indonesia sekarang. Hanya Irian yang tidak tersebut sebagai batas yang terjauh 
di sebelah timur. Boleh dikatakan bahwa batas sebelah timur kerajaan Majapahit 
ialah kepulauan Maluku. Ini berarti Papua Barat tidak masuk dalam kekuasaan 
kerajaan Majapahit. Karena itu sudah jelas bahwa Soekarno telah memanipulasikan 
sejarah.
 2. Klaim atas Kekuasaan Tidore
 Di dalam suatu pernyataan yang di lakukan antara sultan Tidore dengan VOC pada 
tahun 1660, secara sepihak sultan Tidore mengklaim bahwa kepulauan Papua atau 
pulau-pulau yang termasuk di dalamnya merupakan daerah kesultanan Tidore.
 Soekarno mengklaim bahwa kesultanan Tidore merupakan “Indonesia Bagian Timur”, 
maka Papua Barat merupakan bagian daripadanya. Di samping itu, Soekarno 
mengklaim bahwa raja-raja di kepulauan Raja Ampat di daerah kepala burung, 
Papua Barat, pernah mengadakan hubungan dengan sultan Tidore.
 Apakah kedua klaim dari sultan Tidore dan Soekarno dapat dibuktikan secara 
ilmiah? Gubernur kepulauan Banda, Keyts melaporkan pada tahun 1678 bahwa dia 
tidak menemukan bukti adanya kekuasaan Tidore di Papua Barat. Pada tahun 1679 
Keyts menulis lagi bahwa sultan Tidore tidak perlu dihiraukan di dalam hal 
Papua Barat.
 Menurut laporan dari kapten Thomas Forrest (1775) dan dari Gubernur Ternate 
(1778) terbukti bahwa kekuasaan sultan Tidore di Papua Barat betul-betul tidak 
kelihatan.
 Pada tanggal 27 Oktober 1814 dibuat sebuah kontrak antara sultan Ternate dan 
Tidore yang disaksikan oleh residen Inggris, bahwa seluruh kepulauan Papua 
Barat dan distrik-distrik Mansary, Karandefur, Ambarpura dan Umbarpon pada 
pesisir Papua Barat (daerah sekitar Kepala Burung) akan dipertimbangkan 
kemudian sebagai milik sah sultan Tidore.
Kontrak ini dibuat di luar ketahuan dan keinginan rakyat Papua Barat. Berbagai 
penulis melaporkan, bahwa yang diklaim oleh sultan Tidore dengan nama Papua 
adalah pulau Misol. Bukan daratan Papua seluruhnya.
Ketika sultan Tidore mengadakan perjalanan keliling ke Papua Barat pada bulan 
Maret 1949, rakyat Papua Barat tidak menunjukkan keinginan mereka untuk menjadi 
bagian dari kesultanan Tidore. Adanya raja-raja di Papua Barat bagian barat, 
sama sekali tidak dapat dibuktikan dengan teori yang benar.
Lahirnya sebutan ‘Raja Ampat’ berasal dari mitos. Raja Ampat berasal dari telur 
burung Maleo (ayam hutan). Dari telur-telur itu lahirlah anak-anak manusia yang 
kemudian menjadi raja.
 Mitos ini memberikan bukti, bahwa tidak pernah terdapat raja-raja di kepulauan 
Raja Ampat menurut kenyataan yang sebenarnya. Rakyat Papua Barat pernah 
mengenal seorang pemimpin armada laut asal Biak: Kurabesi, yang menurut F.C. 
Kamma, pernah mengadakan penjelajahan sampai ke ujung barat Papua Barat. 
Kurabesi kemudian kawin dengan putri sultan Tidore. Adanya armada Kurabesi 
dapat memberikan kesangsian terhadap kehadiran kekuasaan asing di Papua Barat.
 Pada tahun 1848 dilakukan suatu kontrak rahasia antara Pemerintah Hindia 
Belanda (Indonesia jaman Belanda) dengan Sultan Tidore di mana pesisir 
barat-laut dan barat-daya Papua Barat merupakan daerah teritorial kesultanan 
Tidore. Hal ini dilakukan dengan harapan untuk mencegah digunakannya Papua 
Barat sebagai papan-loncat penetrasi Inggris ke kepulauan Maluku. Di dalam hal 
ini Tidore sesungguhnya hanya merupakan vassal proportion (hubungan antara 
seorang yang menduduki tanah dengan janji memberikan pelayanan militer kepada 
tuan tanah) terhadap kedaulatan kekuasaan
Belanda, tulis C.S.I.J. Lagerberg. Sultan Tidore diberikan mandat oleh 
Pemerintah Hindia Belanda tahun 1861 untuk mengurus perjalanan hongi 
(hongi-tochten, di dalam bahasa Belanda). Ketika itu banyak pelaut asal Biak 
yang berhongi (berlayar) sampai ke Tidore. Menurut C.S.I.J. Lagerberg hongi 
asal Biak merupakan pembajakan laut, tapi menurut bekas-bekas pelaut Biak, 
hongi ketika itu merupakan usaha menghalau penjelajah asing. Pengejaran 
terhadap penjelajah asing itu dilakukan hingga ke Tidore. Untuk menghadapi para 
penghalau dari Biak, sultan Tidore diberi mandat oleh Pemerintah Hindia Belanda.
 Jadi, justru yang terjadi ketika itu bukan suatu kekuasaan pemerintahan atas 
teritorial Papua Barat. Setelah pada tahun 1880-an Jerman dan Inggris secara 
nyata menjajah Papua New Guinea, maka Belanda juga secara nyata memulai 
penjajahannya di Papua Barat pada tahun 1898 dengan membentuk dua bagian 
tertentu di dalam pemerintahan otonomi (zelfbestuursgebied) Tidore, yaitu 
bagian utara dengan ibukota Manokwari dan bagian selatan dengan ibukota Fakfak. 
Jadi, ketika itu daerah pemerintahan Manokwari dan Fakfak berada di bawah 
keresidenan Tidore.
Mengenai manipulasi sejarah berdasarkan kekuasaan Tidore atas wilayah Papua 
Barat ini, Dr. George Junus Aditjondro menyatakan bahwa:
 Kita mempertahankan Papua Barat karena Papua Barat adalah bagian dari Hindia 
Belanda. Itu atas dasar apa? Hanya karena kesultanan Tidore mengklaim bahwa dia 
menjajah Papua Barat sampai teluk Yotefa mungkin? Maka kemudian, ketika Tidore 
ditaklukan oleh Belanda, Belanda belum merasa otomatis mendapatkan hak atas 
penjajahan Tidore? Belanda mundur, Indonesia punya hak atas semua eks-jajahan 
Tidore? Itu kan suatu mitos. Sejak kapan berbagai daerah di Papua barat takluk 
kepada Tidore?... Saya kira tidak. Yang ada adalah hubungan vertikal antara 
Tidore dan Papua Barat, tidak ada kekuasaan Tidore untuk menaklukan Papua 
Barat. Atas dasar itu, klaim bahwa Indonesia berhak atas seluruh Hindia Belanda 
dulu, merupakan imajinasi.”
 Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Soekarno telah terbukti 
memanipulasikan sejarah untuk mencaplok Papua Barat. Karena wilayah Papua Barat 
tidak masuk dalam kekuasaan Tidore.
 3. Klaim atas kekuasaan Hindia Belanda
 Secara historis penjajahan, Papua Barat sesungguhnya bukan bagian dari Wilayah 
Republik Indonesia, karena Papua Barat bukan bagian dari Hindia Belanda. Pada 
tanggal 24 agustus 1828 di Lobo, Teluk Triton Kaimana (pantai selatan Papua 
Barat) diproklamasikan penguasaan Papua Barat oleh Sri Baginda Raja Nederland. 
Sedangkan di Bogor, 19 Februari 1936 dalam Lembaran Negara Hindia Belanda 
disepakati tentang pembagian daerah teritorial Hindia Belanda, yaitu sabang 
sampai Amboina tidak termasuk Papua Barat (Nederland Neiw Guinea).
 Juga perlu diingat bahwa walaupun Papua Barat dan Indonesia sama-sama 
merupakan jajahan Belanda, namun administrasi pemerintahan Papua Barat diurus 
secara terpisah. Indonesia dijajah oleh Belanda yang kekuasaan kolonialnya 
dikendalikan dari Batavia (sekarang Jakarta), kekuasaan Batavia inilah yang 
telah menjalankan penjajahan Belanda atas Indonesia, yaitu mulai dari Sabang 
sampai Amboina (Hindia Belanda). Kekuasaan Belanda di Papua Barat dikendalikan 
dari Hollandia (sekarang Port Numbay), dengan batas kekuasaan mulai dari 
Kepulauan Raja Ampat sampai Merauke (Nederland Nieuw Guinea).
 Selain itu saat tertanam dan tercabutnya kaki penjajahan Belanda di Papua
Barat tidak bertepatan waktu dengan yang terjadi di Indonesia. Kurun waktunya 
berbeda, di mana Indonesia dijajah selama tiga setengah abad sedangkan Papua 
Barat hanya 64 tahun (1898-1962). Tanggal 24 Agustus 1828, ratu Belanda 
mengeluarkan pernyataan unilateral bahwa Papua Barat merupakan daerah kekuasaan 
Belanda. Secara politik praktis, Belanda memulai penjajahannya pada tahun 1898 
dengan menanamkan pos pemerintahan pertama di Manokwari (untuk daerah barat 
Papua Barat) dan di Fakfak (untuk daerah selatan Papua Barat. Tahun 1902, pos 
pemerintahan lainnya dibuka di Merauke di mana daerah tersebut terlepas dari 
lingkungan teritorial Fakfak. Tanggal 1 Oktober 1962 Belanda menyerahkan Papua 
Barat ke dalam PBB.
 Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Soekarno telah terbukti 
memanipulasikan sejarah untuk mencaplok Papua Barat. Karena wilayah Papua Barat 
tidak masuk dalam kekuasaan Hindia Belanda.
 4. Menghalau Pengaruh Imperialisme Barat di Asia Tenggara.
 Soekarno mengancam akan memohon dukungan dari pemerintah bekas Uni Sovyet 
untuk menganeksasi Papua Barat jika pemerintah Belanda tidak bersedia 
menyerahkan Papua Barat ke tangan Republik Indonesia. Pemerintah Amerika 
Serikat (AS) pada waktu itu sangat takut akan jatuhnya negara Indonesia ke 
dalam Blok komunis. Soekarno dikenal oleh dunia barat sebagai seorang Presiden 
yang sangat anti imperialisme barat dan pro Blok Timur. Pemerintah Amerika 
Serikat ingin mencegah kemungkinan terjadinya perang fisik antara Belanda dan 
Indonesia.
 Maka Amerika Serikat memaksa pemerintah Belanda untuk menyerahkan Papua Barat 
ke tangan Republik Indonesia. Di samping menekan pemerintah Belanda, pemerintah 
AS berusaha mendekati presiden Soekarno. Soekarno diundang untuk berkunjung ke 
Washington (Amerika Serikat) pada tahun 1961. Tahun 1962 utusan pribadi 
Presiden John Kennedy yaitu Jaksa Agung Robert Kennedy mengadakan kunjungan 
balasan ke Indonesia untuk membuktikan keinginan Amerika Serikat tentang 
dukungan kepada Soekarno di dalam usaha menganeksasi Papua Barat.
 Untuk mengelabui mata dunia, maka proses pengambil-alihan kekuasaan di Papua 
Barat dilakukan melalui jalur hukum internasional secara sah dengan 
dimasukkannya masalah Papua Barat ke dalam agenda Majelis Umum PBB pada tahun 
1962. Dari dalam Majelis Umum PBB dibuatlah Perjanjian New York 15 Agustus 1962 
yang mengandung “Act of Free Choice” (Pernyataan Bebas Memilih). Act of Free 
Choice kemudian diterjemahkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai PEPERA 
(Pernyataan Pendapat Rakyat) yang dilaksanakan pada tahun 1969.
 

 Ones Nesta Suhuniap.
 

 Sekrataris Umum KNPB
 

 

 
 
 
 
 




 

Kirim email ke