Jadi, menurut Anda protes RRC itu tanpa alasan kecuali 
hanya karena sikap keras kepalanya?
Ya rapopo, itu artinya RRC tetap memelihara kultur strateginya 
sebagai ancaman bagi ASEAN dan hukum laut internasional. 
Dengan begitu dunia melihat RRC memang tidak serius dengan 
prinsip kebersamaan itu. Tidak peduli pada tetangga, itulah yang 
akan menjadi ukuran pergaulan RRC di dunia.
Jangan salahkan Filipina kalau mengingatkan kedekatannya 
dengan Washington. Juga jangan salahkan Vietnam karena rujuk 
dengan AS. 

--- SADAR@... wrote:
Lho, ketentuan peraturan LCS dengan 9 garis putus itu kan sesaat setelah PD-II 
berakhir, dan Tiongkok ketika itu diwakili Tiongkok Nasionalis, Kuomintang. 
Makanya sampai sekarang Pemerintah Tiongkok Nasionalis/Taiwan juga tetap 
mengakui LCS-9garisputus ini. 
  
Tempo hari Menlu RRT, Wang Yi pernah dengan tandas menyatakan, Pulau Natuna 
milik Indonesia, yang perlu diperhatikan adalah LCS dengan batas 9garis-putus 
itu dibawah pengaturan Tiongkok. 
 
 
 ajeg 於 18/11/2018 19:16 寫道:

Kalau begitu apa alasan RRC memprotes / keberatan    atas penggantian nama LCS 
di wilayah perairan Indonesia 
  menjadi LNU; 'Laut Natuna Utara'?

--- SADAR@... wrote: 

Hahahaa, ... nenek dalam tempurung yang begitu keras berteriak "pembela rakyat" 
ternyata SENADA dengan propaganda imperialisme AS.
Saya tidak tahu latar belakang Rosydin ini, ... tapi yang pasti ajaran Taoisme 
dan Konghuchu TIDAK mengajarkan menjajah negara lain! Dan "Jalan Sutera" atau 
OBOR yang dijalankan Tiongkok sekarang ini dengan prinsip Bekerja Bersama, Maju 
Bersama, Untung Bersama dan Menang  BERSAMA, ... bertolak-belakang dengan yang 
dijalankan kapitalisme/imperialisme 2 ratus tahun terakhir ini, MENJAJAH Negara 
lain dan melakukan penghisapan hanya untuk keuntungan, kemajuan negaranya 
sendiri! 
   Sudah cukup banyak fakta diajukan masalah sengketa perairan Laut Tiongkok 
Selatan biarlah diselesaikan tersendiri antara Tiongkok dan negara 
bersangkutan, tidak perlu direcoki dan campurtangan AS! Saya yakin ketegangan 
yg semula terjadi dengan Filipina akan terselesaikan dengan lebih baik tanpa 
campurtangan AS! Begitu juga dengan Vietnam, ... Suasana perairan Laut Tiongkok 
Selatan akan TETAP DAMAI dan HARMONIS! TIDAK ada yang perlu diributkan apalagi 
bikin tegang suasana, kecuali sejalan dengan kehendak AS! Agar negara-negara 
itu  membeli lebih banyak senjata untuk menghadapi RRT saja! Negara-negara 
AREAN dirugikan dan hanya AS yang diuntungkan! 

  Tatiana Lukman 於 16/11/2018 1:50 寫道: 
  Tulisan dosen Rosyidin ini membantu orang untuk mengerti hakekat dan tujuan 
sebenarnya dari kebijakan  luar negeri TKK. Oleh para pejabat resminya, sudah 
tentu Tkk berusaha menampilkan dirinya sebagai kekuatan ekonomi dan militer 
yang seolah-olah tidak ingin berdominasi. Semua orang yang berpikir logis tentu 
melihat ofensif agresif Tkk. Dosen Resyidin mencerminkannya dalam kutipan ini  
“Sikap China ini bertolak belakang dengan kebiasaannya yang ofensif dan 
terkesan enggan mematuhi norma-norma internasional. China begitu keras  
memaksakan kepentingannya, bahkan berhasil memecah-belah ASEAN sebagaimana 
terjadi pada saat pertemuan tingkat menteri ASEAN di Pnom Penh pada 2012 ketika 
organisasi regional itu gagal mencapai komunike bersama (joint communique). 
Momen kegagalan ASEAN ini membuat Menteri Luar Negeri Indonesia (kala itu) 
Marty Natalegawa frustrasi, dan menyebutnya sebagai "salah satu kegagalan 
terbesar dalam karier diplomatik saya" (Natalegawa, 2018: 130).
  
  Jelas bahwa ofensif dan pembangkangan terhadap norma-norma Internasional itu 
lahir dari sifat Tkk sendiri yang sudah memasuki tahap  imperialis. Tentu Chan 
ingin membantah. Tapi tidak ada argumentasi yang syah untuk membantahnya. 
Karena sepak terjang Tkk sendiri yang mencerminkan sikap negara besar yang 
memaksakan kepentingannya. Mirip tidak dengan sikap AS??? Dipupuri dengan bedak 
termahalpun,  tidak akan bisa Tkk menutupi wajah sosial imperialisnya, sosialis 
dalam kata-kata, tapi imperialis dalam perbuatan. 
  Lantas. mengapa sekarang Tkk mengubah kebijakannya? Sang dosen juga memberi 
jawaban yang baik. “Penjelasan yang paling masuk akal adalah China berusaha 
"merangkul" ASEAN untuk mencegah campur tangan AS di wilayah Laut China Selatan.
  
  Ekonomi Tkk sudah terintegrasi sepenuhnya dalam sistim ekonomi kapitalis 
dunia, dalam kondisinya sebagai pabriknya dunia, ia membutuhkan bahan baku dan 
minyak untuk menopang pertumbuhannya.  Sama-sama membutuhkan minyak dan bahan 
baku lainnya, tak terhindarkan bentrokan dan persaingan dengan kekuatan 
imperialis lainnya,  terutama AS sebagai kekuatan imperialis tradisionil yang 
sedang menuju kebangkrutannya. Dari segi ekonomi Tkk sudah menjadi superpower 
tapi dari segi militer masih belum bisa menandingi AS.
  
  Nah, disinilah sekarang masalahnya. Mau tidak kita digunakan oleh Tkk untuk 
membela kepentingan imperialnya? Wilayah Laut Tkk Selatan sudah dicaploknya. 
Untuk menjaga dan membelanya dari saingannya, imperialis Tkk, maka dia harus 
merangkul negara-negara ASEAN. Maka  muncullah  tampang mesam-mesemnya Kaisar 
Xijingping dalam berbagai kunjungannya di luar negeri.  
  Satu point lagi yang menunjukkan Tkk bukan sebuah negara sosialis yang 
menggunakan Marxisme-Leninisme sebagai dasar filsafat dan pembimbing sepak 
terjangnya. Dosen juga menjelaskannya dengan gamblang. Yang diterapkan Tkk 
adalah Taoisme dan juga ajaran  Konghucu. Ya cocok sudah!! One Belt One Road 
alias Jalan Sutera memang sangat dibutuhkan Tkk untuk mendapatkan rute 
perdagangan yang dia kontrol sendiri dalam usahanya untuk melampaui kekuasaan 
AS. 
  Tulisan Rosydin ini membuka tabir selubung yang terus dipropagandakan Tkk 
serta para pendukungnya seolah-olah ofensif ekonomi dalam bentuk penanaman 
modalnya bertujuan untuk memajukan negeri penerima modal alias pengutang. 
Artinya, pembelejetan  terhadap penanaman modal Tkk di segala pelosok dunia 
yang diajukan oleh nenek dalam tempurung ini, kok mendapatkan gemanya dalam 
tulisan dosen Rosydin!!! 
   On Thursday, November 8, 2018, 8:25:52 PM GMT+1, Awind wrote:       
https://news.detik.com/kolom/d-4293120/kultur-strategis-china-di-laut-china-selatan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.172679329.360779424.1541698862-2136032096.1541698862
 
  Kamis 08 November 2018, 15:24 WIB 
Kolom
 
Kultur Strategis China di Laut China Selatan
 Mohamad Rosyidin - detikNews          Mohamad Rosyidin     
       Foto: Australia Plus ABC 
   Jakarta - "Barangsiapa yang berambisi menguasai dunia, dia tidak akan 
berhasil. Dunia ini adalah tempat yang sakral yang tidak mungkin dikuasai oleh 
siapapun. Orang yang melakukannya tidak akan berhasil. Bila dipaksakan juga 
akan  gagal". (Tao Te Ching, Bab 29) 
  Dinamika keamanan di kawasan khususnya terkait dengan isu Laut China Selatan 
menunjukkan tren yang menarik diamati. Baru-baru ini China menunjukkan sikap 
kooperatif di kawasan yang ditandai oleh latihan militer bersama antara China 
dan negara-negara ASEAN di Provinsi Guangdong, wilayah pesisir Laut China 
Selatan selama sepekan. Ide ini sebenarnya sudah diusulkan China pada 2015 
ketika menggelar pertemuan dengan menteri pertahanan se-ASEAN. Menurut China, 
latihan militer bersama itu merupakan suatu confidence building measure (CBM) 
guna menurunkan ketegangan di kawasan.
 
 Sikap China ini bertolak belakang dengan kebiasaannya yang ofensif dan 
terkesan enggan mematuhi norma-norma internasional. China begitu keras 
memaksakan kepentingannya, bahkan berhasil memecah-belah ASEAN sebagaimana 
terjadi pada saat pertemuan tingkat menteri ASEAN di Pnom Penh pada 2012 ketika 
organisasi regional itu gagal mencapai komunike bersama (joint communique). 
Momen kegagalan ASEAN ini membuat Menteri Luar Negeri Indonesia (kala itu) 
Marty Natalegawa frustrasi, dan menyebutnya sebagai "salah satu kegagalan 
terbesar dalam karier diplomatik saya" (Natalegawa, 2018: 130).
 
 Lantas, apa yang membuat China mengubah sikapnya terhadap ASEAN? Penjelasan 
yang paling masuk akal adalah China berusaha "merangkul" ASEAN untuk mencegah 
campur tangan AS di wilayah Laut China Selatan. Selama ini China memandang 
kehadiran AS sebagai sumber ketidakstabilan keamanan regional. Berulangkali 
keduanya terlibat insiden yang meningkatkan eskalasi konflik. Seperti yang 
terjadi baru-baru ini ketika kapal perang AS USS Decatur yang sedang  melakukan 
'operasi navigasi bebas' dihalau kapal perang China karena dianggap mengancam 
kedaulatannya. 
 
 Kultur Strategis
 
 Pendekatan kooperatif China terhadap ASEAN menunjukkan bahwa Beijing tidak 
selalu menggunakan cara-cara koersif untuk mewujudkan ambisinya menguasai Laut 
China Selatan. Selama ini sebagian besar pengamat memandang semata-mata dari 
agresivitas China namun jarang yang melihat sisi "lunak" kebijakan negara itu. 
Padahal, dalam kultur strategis China, kebijakan luar negeri diimplementasikan 
dengan mengkombinasikan dua pendekatan yang pada dasarnya saling bertentangan 
yakni penggunaan sarana militer (koersif) dan sarana kerja sama (kooperatif). 
 
 Menurut ahli hubungan internasional Universitas Harvard Alastair Ian Johnston, 
kultur strategis merupakan seperangkat gagasan yang mempengaruhi para pembuat 
kebijakan untuk merumuskan strategi pertahanan guna menangkal ancaman 
(Johnston, 1995). Dengan kata lain, konsep ini merujuk pada sistem keyakinan 
dan pemahaman elite-elite politik suatu negara yang membentuk persepsi terhadap 
ancaman nasional. Persepsi ini sangat dipengaruhi  oleh budaya dan sistem nilai 
yang dianut suatu masyarakat. 
 
 Dalam kasus politik luar negeri China di Laut China Selatan, salah satu 
gagasan yang cukup besar pengaruhnya adalah Taoisme (selain Konfusianisme). 
Kutipan pada pembuka tulisan ini diambil dari kitab karangan Lao  Tzu Tao Te 
Ching (ditulis sekitar abad ke-6 sebelum Masehi). Maknanya kurang lebih sikap 
penolakan terhadap hegemoni kekuasaan oleh satu negara di dalam sistem 
internasional. Setiap ambisi menjadi untuk mendominasi sistem akan mendapatkan 
tantangan dari negara lain. Cara pandang ini serupa dengan gagasan keseimbangan 
kekuasaan (balance of power) dari negara-negara Barat.
 
 Pendekatan kooperatif China, dengan demikian, dapat ditafsirkan sebagai bentuk 
upaya China untuk mengimbangi (lebih tepatnya menghalau) kekuatan AS di 
kawasan. China tahu bahwa sebagian negara anggota ASEAN memiliki kedekatan 
hubungan dengan AS, khususnya Filipina dan Vietnam. China dan Filipina pernah 
bersitegang gara-gara keputusan Mahkamah Arbitrase UNCLOS di Den Haag pada 2016 
yang memenangkan tuntutan Filipina sekalipun kemudian kedua negara akhirnya 
memutuskan untuk tetap menjaga hubungan baik. Dengan Vietnam, China mendapatkan 
tantangan lebih berat karena pemerintah Hanoi semakin memperluas aliansi dengan 
rival-rival China. 
 
 Pada Maret 2017 lalu kapal induk AS USS Carl Vinson berkunjung ke Vietnam 
sebagai bentuk dukungan AS kepada Vietnam. Vietnam juga memperkuat kerja sama 
keamanan dengan Australia, India, dan Jepang.
 
 Melihat dinamika geopolitik ini, China merasa perlu mengkooptasi negara-negara 
ASEAN supaya lebih dekat ke China dan menjauh dari pengaruh AS. China juga 
paham betul bahwa ASEAN bukanlah lawan tandingnya yang sepadan sehingga 
kebijakan merangkul ASEAN di sini lebih sebagai strategi meminimalisasi 
kecondongan ASEAN pada AS, bukan menundukkan ASEAN. Kesediaan China berkompromi 
dengan ASEAN soal mekanisme penyelesaian konflik atau Code of Conduct (COC) 
yang mencapai kesepakatan pada Agustus 2018 lalu harus dibaca sebagai manuver 
China dalam rangka "membeli" kepercayaan ASEAN. 
 
 Kesepakatan itu bisa jadi bukan tujuan utama China. Sekali lagi kepentingan 
China di Laut China Selatan hanya satu, yaitu menjadikan kawasan sengketa itu 
wilayah kedaulatannya. Sesuai dengan filosofi Taoisme Yin dan Yang, strategi 
kooperatif itu barangkali hanya pelengkap dari strategi koersif China membangun 
pangkalan militer di Spratly. Baik sarana militer dan kerja sama harus 
diimplementasikan secara seimbang, bukan saling meniadakan. Kekuatan militer  
dan kerja sama adalah dua instrumen untuk mencapai tujuan yang sama. 
 
 Peran Indonesia
 
 Sebagai primus inter pares di kawasan, Indonesia harus hati-hati melihat 
perubahan sikap China tersebut. Mengingat kultur strategis China yang memandang 
bahwa kerja sama merupakan salah satu instrumen kepentingan nasional dan bukan 
untuk mencapai kepentingan bersama, Indonesia perlu mengembangkan strategi 
kebijakan luar negeri yang lebih aktif, adaptif, dan transformatif. 
 
 Pertama, Indonesia harus segera memulihkan reputasinya sebagai "honest broker" 
di kawasan. Dunia internasional sejak lama menaruh kepercayaan yang tinggi 
kepada Indonesia sebagai juru damai, penengah, dan agenda-setter di banyak 
forum multilateral. Kepercayaan itu kini terkesan memudar karena karakter 
kebijakan luar negeri Presiden Jokowi yang lebih memprioritaskan pada 
pendekatan bilateralisme alih-alih multilateralisme. 
 
 Pemerintah mungkin akan menepis anggapan itu, dan itu sah-sah saja. Namun, 
fakta-fakta menunjukkan bahwa keterlibatan Indonesia di forum-forum 
multilateral hanyalah cara untuk menjajaki pertemuan-pertemuan bilateral dengan 
negara mitra.
 
 Kedua, kebijakan luar negeri Indonesia harus adaptif menyikapi dinamika isu 
Laut China Selatan. Jika selama ini Indonesia memandang kebijakan China hanya 
dilandasi oleh kalkulasi untung-rugi, perlu cara pandang berbeda untuk memahami 
karakter kebijakan luar negeri China terutama di kawasan. Para pembuat 
kebijakan perlu menyadari bahwa persoalan Laut China Selatan bukan semata soal 
kepentingan nasional negara kuat, melainkan melibatkan faktor-faktor budaya 
yang berakar dari sejarah. Konsekuensinya, penyelesaian konflik ini tidak bisa 
dilakukan hanya dengan pendekatan rasionalistik-mekanistik seperti dialog di 
level regional. 
 
 Pemerintah perlu melibatkan pihak-pihak di luar pemerintah untuk melakukan 
diplomasi track-II yang lebih informal dengan mengedepankan sarana-sarana 
non-politis. Pendekatan budaya barangkali bisa menjadi instrumen diplomatik 
alternatif dari yang sudah ada.
 
 Ketiga, Indonesia perlu memainkan peran kepemimpinan transformatif dengan 
merangkul negara-negara lain untuk mencapai pemahaman bersama. Melibatkan 
negara-negara rising power seperti Rusia dan India penting untuk mengurangi 
dominasi China dan AS di kawasan. Gagasan ini sejalan dengan doktrin 
'keseimbangan dinamis' (dynamic equilibrium) yang digagas Marty Natalegawa 
bahwa negara-negara kuat tidak diperkenankan mendominasi, melainkan harus patuh 
pada norma-norma yang telah disepakati bersama. 
 
 Selain itu, prinsip kolaborasi lebih dikedepankan ketimbang menonjolkan 
rivalitas. Di sinilah kapasitas diplomasi Indonesia akan diuji, sejauh mana 
mampu mengkooptasi negara-negara kuat untuk saling berkolaborasi 
mengesampingkan ego masing-masing.
 
 Mohamad Rosyidin dosen di Departemen Hubungan Internasional Universitas 
Diponegoro
  
 (mmu/mmu) 
   Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar 
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini 
sekarang!   china laut china selatan asean
  

Kirim email ke