Lha, jelas-jelas SENADA dengan propaganda IMPERIALISME AS, kok masih mau disangkal! Apa bedanya??? Kalau menganggap jalan SUTERA, OBOR untuk melawan politik imperialisme AS dalam mengangkangi dunia itu dianggap penipuan disiang hari bolong, ...??? Tidak berani melihat dan mengakui pernyataan-pernyataan yang jelas membuktikan perbaikan, kemajuan yang terjadi dengan BANTUAN RRT di negara-negara terbelakang Afrika, Pakistan, Srilanka bahkan juga Indonesia. Yang didengar dan dipercaya penuh hanya suara sumbang yg menunjang suara AS!!!

Ketenangan LCS rusak dan jadi TEGANG sepenuhnya akibat usaha AS kembali hendak kuasai kawan Asia ini, khususnya setelah Obama berkuasa! AS yang mengobok-obok jadi suasana keruh di LCS, ... BENAR sikap Tiongkok, TIDAK ADA urusan AS di LCS jangan ikut campur, Tiongkok bisa menyelesaikan sendiri dengan negara-negara bersangkutan! Dengan prinsip maju bersama, untung bersama, ...! Menjaga kebersamaan dan harmonisasi di LCS!

Sikap Tiongkok terhadap LCS dan hubungan persahabatan dengan negara-negara tetangga tidak pernah berubah, sejak masa Mao sampai sekarang juga BEGITU! Sejalan dengan paham Tao Te Ching yang dikutip Rosyidin itu!


Tatiana Lukman 於 19/11/2018 2:03 寫道:

Ini cuplikan tulisan Rosyidin.

Dinamika keamanan di kawasan khususnya terkait dengan isu Laut China Selatan menunjukkan tren yang menarik diamati. Baru-baru ini China menunjukkan sikap kooperatif di kawasan yang ditandai oleh latihan militer bersama antara China dan negara-negara ASEAN di Provinsi Guangdong, wilayah pesisir Laut China Selatan selama sepekan. Ide ini sebenarnya sudah diusulkan China pada 2015 ketika menggelar pertemuan dengan menteri pertahanan se-ASEAN. Menurut China, latihan militer bersama itu merupakan suatu /confidence building measure/ (CBM) guna menurunkan ketegangan di kawasan.

Sikap China ini bertolak belakang dengan kebiasaannya yang ofensif dan terkesan enggan mematuhi norma-norma internasional. China begitu keras memaksakan kepentingannya, bahkan berhasil memecah-belah ASEAN sebagaimana terjadi pada saat pertemuan tingkat menteri ASEAN di Pnom Penh pada 2012 ketika organisasi regional itu gagal mencapai komunike bersama (/joint communique/). Momen kegagalan ASEAN ini membuat Menteri Luar Negeri Indonesia (kala itu) Marty Natalegawa frustrasi, dan menyebutnya sebagai "salah satu kegagalan terbesar dalam karier diplomatik saya" (Natalegawa, 2018: 130).

Lantas, apa yang membuat China mengubah sikapnya terhadap ASEAN? Penjelasan yang paling masuk akal adalah China berusaha "merangkul" ASEAN untuk mencegah campur tangan AS di wilayah Laut China Selatan. Selama ini China memandang kehadiran AS sebagai sumber ketidakstabilan keamanan regional. Berulangkali keduanya terlibat insiden yang meningkatkan eskalasi konflik. Seperti yang terjadi baru-baru ini ketika kapal perang AS USS Decatur yang sedang melakukan 'operasi navigasi bebas' dihalau kapal perang China karena dianggap mengancam kedaulatannya.

Si Chan remo ini memang sudah nggak ketulungan lagi gobloknya!! Ha...ha.. sudah tidak bisa baca dengan betul!!  Menuduh saya "senada" dengan propaganda AS... Busyeeet!! Tapi tidak ditunjukkan mana yang memperlihatkan "senada" itu... Siapa yang bilang Taoisme mengajarkan penjajahan terhadap negeri lain??? Rosyidin mengutip "Barangsiapa yang berambisi menguasai dunia, dia tidak akan berhasil. Dunia ini adalah tempat yang sakral yang tidak mungkin dikuasai oleh siapapun. Orang yang melakukannya tidak akan berhasil. Bila dipaksakan juga akan gagal". (/Tao Te Ching/, Bab 29) justru utk menunjukkan ajaran Taoisme itu. Dan ajaran itulah yang membuat Tkk MENGUBAH sikapnya dalam hubungannya dengan ASEAN dan Laut Tkk Selatan, yang tadinya sangat agresif dan keras, sekarang menjadi lebih kooperatif!!! Uh, gobloknya si Chan ini!! Semuanya harus dijelaskan!!! Dan karena itu juga saya bilang Tkk kapitalis tidak menerapkan Marxisme-Leninisme, tapi Taoisme dan Konghucuisme!!!

Dibilang penjilat penguasa Tkk, marah-marah si Chan, tapi dalam komentar dan postingannya, jelas ia perlihatkan sikap menjilatnya. Sekarang dia ulangi lagi Jalan sutera, One Belt one Road sebagai proyek  untuk "kemajuan bersama", "keuntungan bersama", "menang bersama" . Semua itu adalah penipuan ditengah hari bolong!!!

Saya tampilkan lagi komentar yang berkaitan dengan "bantuan" dan "perdagangan" Tkk.  Teksnya dalam bhs Inggris. Mudah-mudahan si chan bisa mengerti dengan baik bahasa Inggris. Lha kalau dalam bhs Indonesia saja, dia sudah tdk bisa mengerti, bagaimana dalam bhs Inggris! Tapi tak perlu merendahkannya, lihat saya nanti bagaimana reaksinya.

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Supaya tidak cape bacanya, mengingat banyak orang tidak suka baca panjang-panjang, saya tampilkan saja beberapa kutipan dari sebuah tulisan yang menyangkut penanaman modal Tiongkok di Afrika pada jaman Mao dan setelah Deng xiaoping dan kliknya berkuasa dan merestorasi kapitalisme.

Pada jaman Mao, bantuan Tkk betul-betul diabdikan untuk membantu negeri itu dan Tkk sosialis tidak menggunakan bantuan itu untuk mengeksplotasi kekayaan alam negeri itu.

Sebaliknya, setelah tahun 2000, Tkk kapitalis menggunakan kebutuhan negeri-negeri Afrika untuk membangun infrastrukturnya guna mendapatkan keuntungan untuk dirinya sendiri. Bantuan Tkk untuk pembangunan infrastruktur, pada umumnya menguntungkan korporasi Tkk sendiri, melalui syarat penggunaan perlengkapan dan bahan yang diproduksi oleh korporasinya sendiri. Inilah yang saya bilang, dalam keadaan krisis dunia dimana Tkk sendiri mengalami kelambatan pertumbuhan dan menurunnya permintaan dari AS dan Eropa, maka syarat ini adalah untuk menyelamatkan korporasi Tkk dari kebangkrutan karena turun permintaan atas produknya.

Apa jaminan yang diberikan negeri pengutang kepada Tkk?? Sumber kekayaan negeri itu!!! Tidak heran kalau modal yang ditumplekkan Tkk di Afrika umumnya berkaitan dengan penguasaan Tkk atas sumber alamnya.

Tahun 2008, China Railway Group mendapatkan hak menambang tembaga dan cobalt di Kongo dengan mengibarkan slogan "proyek infrastruktur untuk sumber alam".

Disamping untuk mendapatkan kekayaan alam Afrika, modal Tkk mengalir ke Afrika juga untuk menciptakan kesempatan bisnis bagi korporasi Tkk sendiri. Analis Tkk sendiri mengakui:"Ketika kami memberi bantuan sebesar RMB 1 miliar kepada Afrika, kami akan mendapatkan kontrak layanan senilai USD 1 miliar (RMB 6 miliar) dari Afrika."  Sebagai imbalan untuk sebagian besar bantuan keuangan Tkk ke Afrika, Beijing mengharuskan pembangunan infrastruktur dan kontrak lainnya mendukung korporasi penyedia layanan Tkk: 70 persen dari kontrak itu harus dengan perusahaan yang  sudah "disetujui," kebanyakan milik negara, baru sisanya terbuka untuk perusahaan lokal, tapi ha...ha..banyak di antaranya juga merupakan usaha patungan dengan kelompok Tkk.   Jadi , apa yang dilihat banyak orang sebagai "bantuan" Tkk ke Afrika sebenarnya, dalam prakteknya, menciptakan bisnis bagi perusahaan Tkk  dan menciptakan pekerjaan untuk pekerja Tkk. Inilah sebetulnya tujuan pokok dari strategi 'going out" dari Tkk.

Ni ming bai ma?? Mengertikah anda???

Apa itu neo-kolonialisme? Apakah neo-kolonialisme perlu mengirim pasukannya??? Cukup dengan mengirim modalnya saja, kan? Kenapa dulu Bung Karno koar-koar :"go to hell with your aid! dan sangat anti neo-kolonialisme??? Tanyalah kepada rumput yang bergoyang.....begitu jawab si Ebiet!!!

During the Cold War, foreign aid an important political tool that China used to gain Africa’s diplomatic recognition and to compete with the United States and the Soviet Union for Africa’s support. Between 1963 and 1964, Zhou Enlai visited 10 African countries and announced the well-known “Eight Principles of Foreign Economic and Technological Assistance.”[10] <https://www.brookings.edu/opinions/chinas-aid-to-africa-monster-or-messiah/#_ftn10> These aid principles were designed to compete simultaneously with the “imperialists” (the United States) and the “revisionists” (the Soviet Union) for Africa’s approval and support.

These efforts were enhanced during the Cultural Revolution under the influence of a radical revolutionary ideology, *_motivating China to provide large amounts of foreign aid to Africa despite its own domestic economic difficulties_*. [11] <https://www.brookings.edu/opinions/chinas-aid-to-africa-monster-or-messiah/#_ftn11> One famous example was the Tanzania-Zambia Railway built between 1970 and 1975, for which China provided a zero-interest loan of RMB 980 million. By the mid-1980s, China’s generous assistance had opened the door to diplomatic recognition with 44 African countries. [12] <https://www.brookings.edu/opinions/chinas-aid-to-africa-monster-or-messiah/#_ftn12>

Since the beginning of China’s reform and opening up, especially after 2000, Africa has become an increasingly important economic partner for China. Africa enjoys rich natural resources and market potential, and urgently needs infrastructure and development finance to stimulate economic growth.Chinese development finance, combined with the aid, aims at not only benefiting the local recipient countries, but also China itself... For example, *_China’s “tied aid” for infrastructure usually favors Chinese companies (especially state-owned enterprises), while its loans are in many cases backed by African natural resources._*

Much Chinese financing to Africa is associated with *_securing the continent’s natural resources_*.Using what is sometimes characterized as the “Angola Model,” Chinas frequently provides low-interest loans to nations who rely on commodities, such as oil or mineral resources, as collateral.[13] <https://www.brookings.edu/opinions/chinas-aid-to-africa-monster-or-messiah/#_ftn13> In these cases, the recipient nations usually suffer from low credit ratings and have great difficulty obtaining funding from the international financial market; China makes financing relatively available—with certain conditions.

Though commodity-backed loans were not created by China – leading Western banks were making such loans to African countries, including Angola and Ghana, before China Eximbank and Angola completed their first oil-backed loan in March 2004 – but the Chinese built the model to scale and applied it using a systematic approach. In Angola in 2006, USD 4 billion in such loans probably helped Chinese oil companies win the exploitation rights to multiple oil blocks.[14] <https://www.brookings.edu/opinions/chinas-aid-to-africa-monster-or-messiah/#_ftn14> In 2010, Sinopec’s acquisition of a 50 percent stake in Block 18 coincided with the disbursement of the first tranche of Eximbank funding, and in 2005, Sinopec’s acquisition of rights to Block 3/80 coincided with the announcement of a new USD 2 billion loan from China Eximbank to the Angolan government.*[15]* <https://www.brookings.edu/opinions/chinas-aid-to-africa-monster-or-messiah/#_ftn15>*_In 2008, the China Railway Group used the same model to secure the mining rights to the Democratic Republic of Congo’s copper and cobalt mines under the slogan “(Infrastructure) projects for resources.”_**_[16] <https://www.brookings.edu/opinions/chinas-aid-to-africa-monster-or-messiah/#_ftn16>_* According to Debra Brautigam, a top expert on China-Africa relations, between 2004 and 2011, *_China reached similar unprecedented deals with at least seven resource-rich African countries_*, with a total volume of nearly USD 14 billion.[17] <https://www.brookings.edu/opinions/chinas-aid-to-africa-monster-or-messiah/#_ftn17>

In addition to securing Africa’s natural resources, China’s capital flows into Africa also create business opportunities for Chinese service contractors, such as construction companies. According to Chinese analysts, Africa is China’s second-largest supplier of service contracts, and “*_when we provide Africa assistance of RMB 1 billion, we will get service contracts worth USD 1 billion (RMB 6 billion) from Africa_*.”[18] <https://www.brookings.edu/opinions/chinas-aid-to-africa-monster-or-messiah/#_ftn18>*_In exchange for most Chinese financial aid to Africa, Beijing requires that infrastructure construction and other contracts favor Chinese service providers: 70 percent of them go to “approved,” mostly state-owned, Chinese companies, and the rest are open to local firms, many of which are also joint ventures with Chinese groups_*.[19] <https://www.brookings.edu/opinions/chinas-aid-to-africa-monster-or-messiah/#_ftn19> In this sense, China’s financing to Africa, including aid, *_creates business for Chinese companies and employment opportunities for Chinese laborers, a critical goal of Beijing’s Going Out strategy_*.

Saya tekankan lagi. Coba baca tuh! Untuk 1 billion RMB "bantuan" yang diberikan Tkk kepada Afrika, Tkk mendapat "service contracts" bernilai 6 billion !!!! Untungnya ENAM KALI LIPAT!!! Ha..ha... sempoanya jalan betul tuh!!! Itulah yang buat Chan, maju bersama, menang bersama!!! Orang waras mana yang percaya ocehen kaum revisionis ini????

On Sunday, November 18, 2018, 2:10:47 PM GMT+1, ChanCT [email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:


Lho, ketentuan peraturan LCS dengan 9 garis putus itu kan sesaat setelah PD-II berakhir, dan Tiongkok ketika itu diwakili Tiongkok Nasionalis, Kuomintang. Makanya sampai sekarang Pemerintah Tiongkok Nasionalis/Taiwan juga tetap mengakui LCS-9garisputus ini.

Tempo hari Menlu RRT, Wang Yi pernah dengan tandas menyatakan, Pulau Natuna milik Indonesia, yang perlu diperhatikan adalah LCS dengan batas 9garis-putus itu dibawah pengaturan Tiongkok.


ajeg 於 18/11/2018 19:16 寫道:

Kalau begitu apa alasan RRC memprotes / keberatan
atas penggantian nama LCS di wilayah perairan Indonesia
menjadi LNU; 'Laut Natuna Utara'?

--- SADAR@... wrote:

Hahahaa, ... nenek dalam tempurung yang begitu keras berteriak "pembela rakyat" ternyata SENADA dengan propaganda imperialisme AS.


Saya tidak tahu latar belakang Rosydin ini, ... tapi yang pasti ajaran Taoisme dan Konghuchu TIDAK mengajarkan menjajah negara lain! Dan "Jalan Sutera" atau OBOR yang dijalankan Tiongkok sekarang ini dengan prinsip Bekerja Bersama, Maju Bersama, Untung Bersama dan Menang BERSAMA, ... bertolak-belakang dengan yang dijalankan kapitalisme/imperialisme 2 ratus tahun terakhir ini, MENJAJAH Negara lain dan melakukan penghisapan hanya untuk keuntungan, kemajuan negaranya sendiri!

Sudah cukup banyak fakta diajukan masalah sengketa perairan Laut Tiongkok Selatan biarlah diselesaikan tersendiri antara Tiongkok dan negara bersangkutan, tidak perlu direcoki dan campurtangan AS! Saya yakin ketegangan yg semula terjadi dengan Filipina akan terselesaikan dengan lebih baik tanpa campurtangan AS! Begitu juga dengan Vietnam, ... Suasana perairan Laut Tiongkok Selatan akan TETAP DAMAI dan HARMONIS! TIDAK ada yang perlu diributkan apalagi bikin tegang suasana, kecuali sejalan dengan kehendak AS! Agar negara-negara itu membeli lebih banyak senjata untuk menghadapi RRT saja! Negara-negara AREAN dirugikan dan hanya AS yang diuntungkan!

Tatiana Lukman 於 16/11/2018 1:50 寫道:

Tulisan dosen Rosyidin ini membantu orang untuk mengerti hakekat dan tujuan sebenarnya dari kebijakan  luar negeri TKK. Oleh para pejabat resminya, sudah tentu Tkk berusaha menampilkan dirinya sebagai kekuatan ekonomi dan militer yang seolah-olah tidak ingin berdominasi. Semua orang yang berpikir logis tentu melihat ofensif agresif Tkk. Dosen Resyidin mencerminkannya dalam kutipan ini  “Sikap China ini bertolak belakang dengan kebiasaannya yang ofensif dan terkesan enggan mematuhi norma-norma internasional. China begitu keras memaksakan kepentingannya, bahkan berhasil memecah-belah ASEAN sebagaimana terjadi pada saat pertemuan tingkat menteri ASEAN di Pnom Penh pada 2012 ketika organisasi regional itu gagal mencapai komunike bersama (/joint communique/). Momen kegagalan ASEAN ini membuat Menteri Luar Negeri Indonesia (kala itu) Marty Natalegawa frustrasi, dan menyebutnya sebagai "salah satu kegagalan terbesar dalam karier diplomatik saya" (Natalegawa, 2018: 130).

Jelas bahwa ofensif dan pembangkangan terhadap norma-norma Internasional itu lahir dari sifat Tkk sendiri yang sudah memasuki tahap imperialis. Tentu Chan ingin membantah. Tapi tidak ada argumentasi yang syah untuk membantahnya. Karena sepak terjang Tkk sendiri yang mencerminkan sikap negara besar yang memaksakan kepentingannya. Mirip tidak dengan sikap AS??? Dipupuri dengan bedak termahalpun, tidak akan bisa Tkk menutupi wajah sosial imperialisnya, sosialis dalam kata-kata, tapi imperialis dalam perbuatan.

Lantas. mengapa sekarang Tkk mengubah kebijakannya? Sang dosen juga memberi jawaban yang baik. “Penjelasan yang paling masuk akal adalah China berusaha "merangkul" ASEAN untuk mencegah campur tangan AS di wilayah Laut China Selatan.

Ekonomi Tkk sudah terintegrasi sepenuhnya dalam sistim ekonomi kapitalis dunia, dalam kondisinya sebagai pabriknya dunia, ia membutuhkan bahan baku dan minyak untuk menopang pertumbuhannya.  Sama-sama membutuhkan minyak dan bahan baku lainnya, tak terhindarkan bentrokan dan persaingan dengan kekuatan imperialis lainnya, terutama AS sebagai kekuatan imperialis tradisionil yang sedang menuju kebangkrutannya. Dari segi ekonomi Tkk sudah menjadi superpower tapi dari segi militer masih belum bisa menandingi AS.

Nah, disinilah sekarang masalahnya. Mau tidak kita digunakan oleh Tkk untuk membela kepentingan imperialnya? Wilayah Laut Tkk Selatan sudah dicaploknya. Untuk menjaga dan membelanya dari saingannya, imperialis Tkk, maka dia harus merangkul negara-negara ASEAN. Maka  muncullah  tampang mesam-mesemnya Kaisar Xijingping dalam berbagai kunjungannya di luar negeri.

Satu point lagi yang menunjukkan Tkk bukan sebuah negara sosialis yang menggunakan Marxisme-Leninisme sebagai dasar filsafat dan pembimbing sepak terjangnya. Dosen juga menjelaskannya dengan gamblang. Yang diterapkan Tkk adalah Taoisme dan juga ajaran Konghucu. Ya cocok sudah!! One Belt One Road alias Jalan Sutera memang sangat dibutuhkan Tkk untuk mendapatkan rute perdagangan yang dia kontrol sendiri dalam usahanya untuk melampaui kekuasaan AS.

Tulisan Rosydin ini membuka tabir selubung yang terus dipropagandakan Tkk serta para pendukungnya seolah-olah ofensif ekonomi dalam bentuk penanaman modalnya bertujuan untuk memajukan negeri penerima modal alias pengutang. Artinya, pembelejetan terhadap penanaman modal Tkk di segala pelosok dunia yang diajukan oleh nenek dalam tempurung ini, kok mendapatkan gemanya dalam tulisan dosen Rosydin!!!

On Thursday, November 8, 2018, 8:25:52 PM GMT+1, Awind wrote:

https://news.detik.com/kolom/d-4293120/kultur-strategis-china-di-laut-china-selatan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.172679329.360779424.1541698862-2136032096.1541698862

Kamis 08 November 2018, 15:24 WIB


    Kolom


  Kultur Strategis China di Laut China Selatan

Mohamad Rosyidin - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4293120/kultur-strategis-china-di-laut-china-selatan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.172679329.360779424.1541698862-2136032096.1541698862#>
Mohamad Rosyidin <https://news.detik.com/kolom/d-4293120/kultur-strategis-china-di-laut-china-selatan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.172679329.360779424.1541698862-2136032096.1541698862#>

<https://news.detik.com/kolom/d-4293120/kultur-strategis-china-di-laut-china-selatan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.172679329.360779424.1541698862-2136032096.1541698862#><https://news.detik.com/kolom/d-4293120/kultur-strategis-china-di-laut-china-selatan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.172679329.360779424.1541698862-2136032096.1541698862#>
Kultur Strategis China di Laut China Selatan Foto: Australia Plus ABC

*Jakarta* - "Barangsiapa yang berambisi menguasai dunia, dia tidak akan berhasil. Dunia ini adalah tempat yang sakral yang tidak mungkin dikuasai oleh siapapun. Orang yang melakukannya tidak akan berhasil. Bila dipaksakan juga akan gagal". (/Tao Te Ching/, Bab 29)

Dinamika keamanan di kawasan khususnya terkait dengan isu Laut China Selatan menunjukkan tren yang menarik diamati. Baru-baru ini China menunjukkan sikap kooperatif di kawasan yang ditandai oleh latihan militer bersama antara China dan negara-negara ASEAN di Provinsi Guangdong, wilayah pesisir Laut China Selatan selama sepekan. Ide ini sebenarnya sudah diusulkan China pada 2015 ketika menggelar pertemuan dengan menteri pertahanan se-ASEAN. Menurut China, latihan militer bersama itu merupakan suatu /confidence building measure/ (CBM) guna menurunkan ketegangan di kawasan.

Sikap China ini bertolak belakang dengan kebiasaannya yang ofensif dan terkesan enggan mematuhi norma-norma internasional. China begitu keras memaksakan kepentingannya, bahkan berhasil memecah-belah ASEAN sebagaimana terjadi pada saat pertemuan tingkat menteri ASEAN di Pnom Penh pada 2012 ketika organisasi regional itu gagal mencapai komunike bersama (/joint communique/). Momen kegagalan ASEAN ini membuat Menteri Luar Negeri Indonesia (kala itu) Marty Natalegawa frustrasi, dan menyebutnya sebagai "salah satu kegagalan terbesar dalam karier diplomatik saya" (Natalegawa, 2018: 130).

Lantas, apa yang membuat China mengubah sikapnya terhadap ASEAN? Penjelasan yang paling masuk akal adalah China berusaha "merangkul" ASEAN untuk mencegah campur tangan AS di wilayah Laut China Selatan. Selama ini China memandang kehadiran AS sebagai sumber ketidakstabilan keamanan regional. Berulangkali keduanya terlibat insiden yang meningkatkan eskalasi konflik. Seperti yang terjadi baru-baru ini ketika kapal perang AS USS Decatur yang sedang melakukan 'operasi navigasi bebas' dihalau kapal perang China karena dianggap mengancam kedaulatannya.

*Kultur Strategis
*
Pendekatan kooperatif China terhadap ASEAN menunjukkan bahwa Beijing tidak selalu menggunakan cara-cara koersif untuk mewujudkan ambisinya menguasai Laut China Selatan. Selama ini sebagian besar pengamat memandang semata-mata dari agresivitas China namun jarang yang melihat sisi "lunak" kebijakan negara itu. Padahal, dalam kultur strategis China, kebijakan luar negeri diimplementasikan dengan mengkombinasikan dua pendekatan yang pada dasarnya saling bertentangan yakni penggunaan sarana militer (koersif) dan sarana kerja sama (kooperatif).

Menurut ahli hubungan internasional Universitas Harvard Alastair Ian Johnston, kultur strategis merupakan seperangkat gagasan yang mempengaruhi para pembuat kebijakan untuk merumuskan strategi pertahanan guna menangkal ancaman (Johnston, 1995). Dengan kata lain, konsep ini merujuk pada sistem keyakinan dan pemahaman elite-elite politik suatu negara yang membentuk persepsi terhadap ancaman nasional. Persepsi ini sangat dipengaruhi oleh budaya dan sistem nilai yang dianut suatu masyarakat.

Dalam kasus politik luar negeri China di Laut China Selatan, salah satu gagasan yang cukup besar pengaruhnya adalah Taoisme (selain Konfusianisme). Kutipan pada pembuka tulisan ini diambil dari kitab karangan Lao Tzu /Tao/ /Te Ching/ (ditulis sekitar abad ke-6 sebelum Masehi). Maknanya kurang lebih sikap penolakan terhadap hegemoni kekuasaan oleh satu negara di dalam sistem internasional. Setiap ambisi menjadi untuk mendominasi sistem akan mendapatkan tantangan dari negara lain. Cara pandang ini serupa dengan gagasan keseimbangan kekuasaan (/balance of power/) dari negara-negara Barat.

Pendekatan kooperatif China, dengan demikian, dapat ditafsirkan sebagai bentuk upaya China untuk mengimbangi (lebih tepatnya menghalau) kekuatan AS di kawasan. China tahu bahwa sebagian negara anggota ASEAN memiliki kedekatan hubungan dengan AS, khususnya Filipina dan Vietnam. China dan Filipina pernah bersitegang gara-gara keputusan Mahkamah Arbitrase UNCLOS di Den Haag pada 2016 yang memenangkan tuntutan Filipina sekalipun kemudian kedua negara akhirnya memutuskan untuk tetap menjaga hubungan baik. Dengan Vietnam, China mendapatkan tantangan lebih berat karena pemerintah Hanoi semakin memperluas aliansi dengan rival-rival China.

Pada Maret 2017 lalu kapal induk AS USS Carl Vinson berkunjung ke Vietnam sebagai bentuk dukungan AS kepada Vietnam. Vietnam juga memperkuat kerja sama keamanan dengan Australia, India, dan Jepang.

Melihat dinamika geopolitik ini, China merasa perlu mengkooptasi negara-negara ASEAN supaya lebih dekat ke China dan menjauh dari pengaruh AS. China juga paham betul bahwa ASEAN bukanlah lawan tandingnya yang sepadan sehingga kebijakan merangkul ASEAN di sini lebih sebagai strategi meminimalisasi kecondongan ASEAN pada AS, bukan menundukkan ASEAN. Kesediaan China berkompromi dengan ASEAN soal mekanisme penyelesaian konflik atau /Code/ /of Conduct/ (COC) yang mencapai kesepakatan pada Agustus 2018 lalu harus dibaca sebagai manuver China dalam rangka "membeli" kepercayaan ASEAN.

Kesepakatan itu bisa jadi bukan tujuan utama China. Sekali lagi kepentingan China di Laut China Selatan hanya satu, yaitu menjadikan kawasan sengketa itu wilayah kedaulatannya. Sesuai dengan filosofi Taoisme /Yin/ dan /Yang/, strategi kooperatif itu barangkali hanya pelengkap dari strategi koersif China membangun pangkalan militer di Spratly. Baik sarana militer dan kerja sama harus diimplementasikan secara seimbang, bukan saling meniadakan. Kekuatan militer dan kerja sama adalah dua instrumen untuk mencapai tujuan yang sama.

*Peran Indonesia*

Sebagai /primus inter pares /di kawasan, Indonesia harus hati-hati melihat perubahan sikap China tersebut. Mengingat kultur strategis China yang memandang bahwa kerja sama merupakan salah satu instrumen kepentingan nasional dan bukan untuk mencapai kepentingan bersama, Indonesia perlu mengembangkan strategi kebijakan luar negeri yang lebih aktif, adaptif, dan transformatif.

Pertama, Indonesia harus segera memulihkan reputasinya sebagai "/honest broker/" di kawasan. Dunia internasional sejak lama menaruh kepercayaan yang tinggi kepada Indonesia sebagai juru damai, penengah, dan /agenda-setter/ di banyak forum multilateral. Kepercayaan itu kini terkesan memudar karena karakter kebijakan luar negeri Presiden Jokowi yang lebih memprioritaskan pada pendekatan bilateralisme alih-alih multilateralisme.

Pemerintah mungkin akan menepis anggapan itu, dan itu sah-sah saja. Namun, fakta-fakta menunjukkan bahwa keterlibatan Indonesia di forum-forum multilateral hanyalah cara untuk menjajaki pertemuan-pertemuan bilateral dengan negara mitra.

Kedua, kebijakan luar negeri Indonesia harus adaptif menyikapi dinamika isu Laut China Selatan. Jika selama ini Indonesia memandang kebijakan China hanya dilandasi oleh kalkulasi untung-rugi, perlu cara pandang berbeda untuk memahami karakter kebijakan luar negeri China terutama di kawasan. Para pembuat kebijakan perlu menyadari bahwa persoalan Laut China Selatan bukan semata soal kepentingan nasional negara kuat, melainkan melibatkan faktor-faktor budaya yang berakar dari sejarah. Konsekuensinya, penyelesaian konflik ini tidak bisa dilakukan hanya dengan pendekatan rasionalistik-mekanistik seperti dialog di level regional.

Pemerintah perlu melibatkan pihak-pihak di luar pemerintah untuk melakukan diplomasi /track/-II yang lebih informal dengan mengedepankan sarana-sarana non-politis. Pendekatan budaya barangkali bisa menjadi instrumen diplomatik alternatif dari yang sudah ada.

Ketiga, Indonesia perlu memainkan peran kepemimpinan transformatif dengan merangkul negara-negara lain untuk mencapai pemahaman bersama. Melibatkan negara-negara /rising power/ seperti Rusia dan India penting untuk mengurangi dominasi China dan AS di kawasan. Gagasan ini sejalan dengan doktrin 'keseimbangan dinamis' (/dynamic equilibrium/) yang digagas Marty Natalegawa bahwa negara-negara kuat tidak diperkenankan mendominasi, melainkan harus patuh pada norma-norma yang telah disepakati bersama.

Selain itu, prinsip kolaborasi lebih dikedepankan ketimbang menonjolkan rivalitas. Di sinilah kapasitas diplomasi Indonesia akan diuji, sejauh mana mampu mengkooptasi negara-negara kuat untuk saling berkolaborasi mengesampingkan ego masing-masing.

*Mohamad Rosyidin* /dosen di Departemen Hubungan Internasional Universitas Diponegoro
/
*(mmu/mmu)*
*
*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini <https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang! china <https://www.detik.com/tag/china/> laut china selatan <https://www.detik.com/tag/laut-china-selatan/> asean <https://www.detik.com/tag/asean/>



alt <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient> 不含病毒。www.avg.com <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>

<#DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>




---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke