Ini cuplikan tulisan Rosyidin.
Dinamika keamanan di kawasan khususnya terkait dengan isu Laut China Selatan 
menunjukkan tren yang menarik diamati. Baru-baru ini China menunjukkan sikap 
kooperatif di kawasan yang ditandai oleh latihan militer bersama antara China 
dan negara-negara ASEAN di Provinsi Guangdong, wilayah pesisir Laut China 
Selatan selama sepekan. Ide ini sebenarnya sudah diusulkan China pada 2015 
ketika menggelar pertemuan dengan menteri pertahanan se-ASEAN. Menurut China, 
latihan militer bersama itu merupakan suatu confidence building measure (CBM) 
guna menurunkan ketegangan di kawasan.

Sikap China ini bertolak belakang dengan kebiasaannya yang ofensif dan terkesan 
enggan mematuhi norma-norma internasional. China begitu keras memaksakan 
kepentingannya, bahkan berhasil memecah-belah ASEAN sebagaimana terjadi pada 
saat pertemuan tingkat menteri ASEAN di Pnom Penh pada 2012 ketika organisasi 
regional itu gagal mencapai komunike bersama (joint communique). Momen 
kegagalan ASEAN ini membuat Menteri Luar Negeri Indonesia (kala itu) Marty 
Natalegawa frustrasi, dan menyebutnya sebagai "salah satu kegagalan terbesar 
dalam karier diplomatik saya" (Natalegawa, 2018: 130).

Lantas, apa yang membuat China mengubah sikapnya terhadap ASEAN? Penjelasan 
yang paling masuk akal adalah China berusaha "merangkul" ASEAN untuk mencegah 
campur tangan AS di wilayah Laut China Selatan. Selama ini China memandang 
kehadiran AS sebagai sumber ketidakstabilan keamanan regional. Berulangkali 
keduanya terlibat insiden yang meningkatkan eskalasi konflik. Seperti yang 
terjadi baru-baru ini ketika kapal perang AS USS Decatur yang sedang melakukan 
'operasi navigasi bebas' dihalau kapal perang China karena dianggap mengancam 
kedaulatannya. 

Si Chan remo ini memang sudah nggak ketulungan lagi gobloknya!! Ha...ha.. sudah 
tidak bisa baca dengan betul!!  Menuduh saya "senada" dengan propaganda AS... 
Busyeeet!! Tapi tidak ditunjukkan mana yang memperlihatkan "senada" itu... 
Siapa yang bilang Taoisme mengajarkan penjajahan terhadap negeri lain??? 
Rosyidin mengutip "Barangsiapa yang berambisi menguasai dunia, dia tidak akan 
berhasil. Dunia ini adalah tempat yang sakral yang tidak mungkin dikuasai oleh 
siapapun. Orang yang melakukannya tidak akan berhasil. Bila dipaksakan juga 
akan gagal". (Tao Te Ching, Bab 29)  justru utk menunjukkan ajaran Taoisme itu. 
Dan ajaran itulah yang membuat Tkk MENGUBAH sikapnya dalam hubungannya dengan 
ASEAN dan Laut Tkk Selatan, yang tadinya sangat agresif dan keras, sekarang 
menjadi lebih kooperatif!!! Uh, gobloknya si Chan ini!! Semuanya harus 
dijelaskan!!! Dan karena itu juga saya bilang Tkk kapitalis tidak menerapkan 
Marxisme-Leninisme, tapi Taoisme dan Konghucuisme!!!
Dibilang penjilat penguasa Tkk, marah-marah si Chan, tapi dalam komentar dan 
postingannya, jelas ia perlihatkan sikap menjilatnya. Sekarang dia ulangi lagi 
Jalan sutera, One Belt one Road sebagai proyek  untuk "kemajuan bersama", 
"keuntungan bersama","menang bersama" . Semua itu adalah penipuan ditengah hari 
bolong!!!

Saya tampilkan lagi komentar yang berkaitan dengan "bantuan" dan "perdagangan" 
Tkk.  Teksnya dalam bhs Inggris. Mudah-mudahan si chan bisa mengerti dengan 
baik bahasa Inggris. Lha kalau dalam bhs Indonesia saja, dia sudah tdk bisa 
mengerti, bagaimana dalam bhs Inggris! Tapi tak perlu merendahkannya, lihat 
saya nanti bagaimana reaksinya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------


 Supaya tidak capebacanya, mengingat banyak orang tidak suka baca 
panjang-panjang, saya tampilkansaja beberapa kutipan dari sebuah tulisan yang 
menyangkut penanaman modalTiongkok di Afrika pada jaman Mao dan setelah Deng 
xiaoping dan kliknyaberkuasa dan merestorasi kapitalisme.



Pada jaman Mao,bantuan Tkk betul-betul diabdikan untuk membantu negeri itu dan 
Tkk sosialistidak menggunakan bantuan itu untuk mengeksplotasi kekayaan alam 
negeri itu.

 Sebaliknya, setelahtahun 2000, Tkk kapitalis menggunakan kebutuhan 
negeri-negeri Afrika untukmembangun infrastrukturnya guna mendapatkan 
keuntungan untuk dirinya sendiri.Bantuan Tkk untuk pembangunan infrastruktur, 
pada umumnya menguntungkan korporasiTkk sendiri, melalui syarat penggunaan 
perlengkapan dan bahan yang diproduksioleh korporasinya sendiri. Inilah yang 
saya bilang, dalam keadaan krisis duniadimana Tkk sendiri mengalami kelambatan 
pertumbuhan dan menurunnya permintaandari AS dan Eropa, maka syarat ini adalah 
untuk menyelamatkan korporasi Tkkdari kebangkrutan karena turun permintaan atas 
produknya.



Apajaminan yang diberikan negeri pengutang kepada Tkk?? Sumber kekayaan 
negeriitu!!! Tidak heran kalau modal yang ditumplekkan Tkk di Afrika 
umumnyaberkaitan dengan penguasaan Tkk atas sumber alamnya. 

Tahun2008, China Railway Group mendapatkan hak menambang tembaga dan cobalt di 
Kongodengan mengibarkan slogan "proyek infrastruktur untuk sumberalam". 

Disampinguntuk mendapatkan kekayaan alam Afrika, modal Tkk mengalir ke Afrika 
juga untukmenciptakan kesempatan bisnis bagi korporasi Tkk sendiri. Analis Tkk 
sendirimengakui:"Ketika kami memberi bantuan sebesar RMB 1 miliar kepada 
Afrika,kami akan mendapatkan kontrak layanan senilai USD 1 miliar (RMB 6 
miliar) dariAfrika."  Sebagai imbalan untuk sebagian besar bantuan keuangan 
Tkkke Afrika, Beijing mengharuskan pembangunan infrastruktur dan kontrak 
lainnyamendukung korporasi penyedia layanan Tkk: 70 persen dari kontrak itu 
harus denganperusahaan yang  sudah "disetujui," kebanyakan milik negara,baru 
sisanya terbuka untuk perusahaan lokal, tapi ha...ha..banyak di antaranyajuga 
merupakan usaha patungan dengan kelompok Tkk.   Jadi , apa yangdilihat banyak 
orang sebagai "bantuan" Tkk ke Afrika sebenarnya,dalam prakteknya, menciptakan 
bisnis bagi perusahaan Tkk  danmenciptakan pekerjaan untuk pekerja Tkk. Inilah 
sebetulnya tujuan pokok daristrategi 'going out" dari Tkk.

Niming bai ma?? Mengertikah anda??? 

Apa ituneo-kolonialisme? Apakah neo-kolonialisme perlu mengirim pasukannya??? 
Cukupdengan mengirim modalnya saja, kan? Kenapa dulu Bung Karno koar-koar 
:"goto hell with your aid! dan sangat anti neo-kolonialisme??? Tanyalah kepada 
rumput yang bergoyang.....begitujawab si Ebiet!!!



During the Cold War, foreign aid an important political tool that Chinaused to 
gain Africa’s diplomatic recognition and to compete with the UnitedStates and 
the Soviet Union for Africa’s support. Between 1963 and 1964, Zhou Enlai 
visited 10 African countries andannounced the well-known “Eight Principles of 
Foreign Economic andTechnological Assistance.”[10] These aid principleswere 
designed to compete simultaneously with the “imperialists” (the UnitedStates) 
and the “revisionists” (the Soviet Union) for Africa’s approval andsupport.



These efforts were enhanced during the Cultural Revolution under theinfluence 
of a radical revolutionary ideology, motivating China toprovide large amounts 
of foreign aid to Africa despite its own domesticeconomic difficulties. [11] 
One famous example was the Tanzania-ZambiaRailway built between 1970 and 1975, 
for which China provided a zero-interestloan of RMB 980 million. By the 
mid-1980s, China’s generous assistance hadopened the door to diplomatic 
recognition with 44 African countries. [12]

Since the beginning of China’s reform and openingup, especially after 2000, 
Africa hasbecome an increasingly important economic partner for China. Africa 
enjoys richnatural resources and market potential, and urgently needs 
infrastructure anddevelopment finance to stimulate economic 
growth.Chinesedevelopment finance, combined with the aid, aims at not only 
benefiting thelocal recipient countries, but also China itself... For example, 
China’s“tied aid” for infrastructure usually favors Chinese companies 
(especiallystate-owned enterprises), while its loans are in many cases backed 
by Africannatural resources.

Much Chinese financing to Africa is associated with securingthe continent’s 
natural resources.Using what is sometimes characterizedas the “Angola Model,” 
Chinas frequently provides low-interest loans to nationswho rely on 
commodities, such as oil or mineral resources, as collateral.[13] In these 
cases, the recipient nations usuallysuffer from low credit ratings and have 
great difficulty obtaining funding fromthe international financial market; 
China makes financing relatively available—withcertain conditions.

Though commodity-backed loans were not created by China – leadingWestern banks 
were making such loans to African countries, including Angola andGhana, before 
China Eximbank and Angola completed their first oil-backed loanin March 2004 – 
but the Chinese built the model to scale and applied it using asystematic 
approach. In Angola in 2006, USD 4 billion in such loans probablyhelped Chinese 
oil companies win the exploitation rights to multiple oilblocks.[14] In 2010, 
Sinopec’s acquisition of a 50percent stake in Block 18 coincided with the 
disbursement of the first trancheof Eximbank funding, and in 2005, Sinopec’s 
acquisition of rights to Block 3/80coincided with the announcement of a new USD 
2 billion loan from China Eximbankto the Angolan government.[15]  In 2008, the 
China Railway Group used the same modelto secure the mining rights to the 
Democratic Republic of Congo’s copper andcobalt mines under the slogan 
“(Infrastructure) projects for resources.”[16] According to Debra Brautigam, a 
top expert onChina-Africa relations, between 2004 and 2011, China reached 
similar unprecedented deals with atleast seven resource-rich African countries, 
with a total volumeof nearly USD 14 billion.[17]
In addition to securing Africa’s natural resources, China’s capitalflows into 
Africa also create business opportunities for Chinese servicecontractors, such 
as construction companies. According to Chinese analysts,Africa is China’s 
second-largest supplier of service contracts, and “whenwe provide Africa 
assistance of RMB 1 billion, we will get service contractsworth USD 1 billion 
(RMB 6 billion) from Africa.”[18] In exchange for most Chinese financialaid to 
Africa, Beijing requires that infrastructure construction and othercontracts 
favor Chinese service providers: 70 percent of them go to “approved,”mostly 
state-owned, Chinese companies, and the rest are open to local firms,many of 
which are also joint ventures with Chinese groups.[19] In this sense, China’s 
financing to Africa,including aid, creates business for Chinese companies and 
employmentopportunities for Chinese laborers, a critical goal of Beijing’s 
Going Outstrategy.
Saya tekankan lagi. Coba baca tuh! Untuk 1 billion RMB "bantuan" yang diberikan 
Tkk kepada Afrika, Tkk mendapat "service contracts" bernilai 6 billion !!!! 
Untungnya ENAM KALI LIPAT!!! Ha..ha... sempoanya jalan betul tuh!!! Itulah yang 
buat Chan, maju bersama, menang bersama!!! Orang waras mana yang percaya ocehen 
kaum revisionis ini????
    On Sunday, November 18, 2018, 2:10:47 PM GMT+1, ChanCT 
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:  
 
     
 

Lho, ketentuan peraturan LCS dengan 9 garis putus itu kan sesaat setelah PD-II 
berakhir, dan Tiongkok ketika itu diwakili Tiongkok Nasionalis, Kuomintang. 
Makanya sampai sekarang Pemerintah Tiongkok Nasionalis/Taiwan juga tetap 
mengakui LCS-9garisputus ini. 
 
 
Tempo hari Menlu RRT, Wang Yi pernah dengan tandas menyatakan, Pulau Natuna 
milik Indonesia, yang perlu diperhatikan adalah LCS dengan batas 9garis-putus 
itu dibawah pengaturan Tiongkok. 
 
 
 ajeg 於 18/11/2018 19:16 寫道:
  
   
 
      Kalau begitu apa alasan RRC memprotes / keberatan 
   atas penggantian nama LCS di wilayah perairan Indonesia 
  menjadi LNU; 'Laut Natuna Utara'?      
         --- SADAR@... wrote: 
Hahahaa, ... nenek dalam tempurung yang begitu keras berteriak "pembela rakyat" 
ternyata SENADA dengan propaganda imperialisme AS.
 
       
  Saya tidak tahu latar belakang Rosydin ini, ... tapi yang pasti ajaran 
Taoisme dan Konghuchu TIDAK mengajarkan menjajah negara lain! Dan "Jalan 
Sutera" atau OBOR yang dijalankan Tiongkok sekarang ini dengan prinsip Bekerja 
Bersama, Maju Bersama, Untung Bersama dan Menang  BERSAMA, ... 
bertolak-belakang dengan yang dijalankan kapitalisme/imperialisme 2 ratus tahun 
terakhir ini, MENJAJAH Negara lain dan melakukan penghisapan hanya untuk 
keuntungan, kemajuan negaranya sendiri! 
   Sudah cukup banyak fakta diajukan masalah sengketa perairan Laut Tiongkok 
Selatan biarlah diselesaikan tersendiri antara Tiongkok dan negara 
bersangkutan, tidak perlu direcoki dan campurtangan AS! Saya yakin ketegangan 
yg semula terjadi dengan Filipina akan terselesaikan dengan lebih baik tanpa 
campurtangan AS! Begitu juga dengan Vietnam, ... Suasana perairan Laut Tiongkok 
Selatan akan TETAP DAMAI dan HARMONIS! TIDAK ada yang perlu diributkan apalagi 
bikin tegang suasana, kecuali sejalan dengan kehendak AS! Agar negara-negara 
itu  membeli lebih banyak senjata untuk menghadapi RRT saja! Negara-negara 
AREAN dirugikan dan hanya AS yang diuntungkan! 
  Tatiana Lukman 於 16/11/2018 1:50 寫道: 
  Tulisan dosen Rosyidin ini membantu orang untuk mengerti hakekat dan tujuan 
sebenarnya dari kebijakan  luar negeri TKK. Oleh para pejabat resminya, sudah 
tentu Tkk berusaha menampilkan dirinya sebagai kekuatan ekonomi dan militer 
yang seolah-olah tidak ingin berdominasi. Semua orang yang berpikir logis tentu 
melihat ofensif agresif Tkk. Dosen Resyidin mencerminkannya dalam kutipan ini  
“Sikap China ini bertolak belakang dengan kebiasaannya yang ofensif dan 
terkesan enggan mematuhi norma-norma internasional. China begitu keras  
memaksakan kepentingannya, bahkan berhasil memecah-belah ASEAN sebagaimana 
terjadi pada saat pertemuan tingkat menteri ASEAN di Pnom Penh pada 2012 ketika 
organisasi regional itu gagal mencapai komunike bersama (joint communique). 
Momen kegagalan ASEAN ini membuat Menteri Luar Negeri Indonesia (kala itu) 
Marty Natalegawa frustrasi, dan menyebutnya sebagai "salah satu kegagalan 
terbesar dalam karier diplomatik saya" (Natalegawa, 2018: 130).
  
  Jelas bahwa ofensif dan pembangkangan terhadap norma-norma Internasional itu 
lahir dari sifat Tkk sendiri yang sudah memasuki tahap  imperialis. Tentu Chan 
ingin membantah. Tapi tidak ada argumentasi yang syah untuk membantahnya. 
Karena sepak terjang Tkk sendiri yang mencerminkan sikap negara besar yang 
memaksakan kepentingannya. Mirip tidak dengan sikap AS??? Dipupuri dengan bedak 
termahalpun,  tidak akan bisa Tkk menutupi wajah sosial imperialisnya, sosialis 
dalam kata-kata, tapi imperialis dalam perbuatan. 
  Lantas. mengapa sekarang Tkk mengubah kebijakannya? Sang dosen juga memberi 
jawaban yang baik. “Penjelasan yang paling masuk akal adalah China berusaha 
"merangkul" ASEAN untuk mencegah campur tangan AS di wilayah Laut China Selatan.
  
  Ekonomi Tkk sudah terintegrasi sepenuhnya dalam sistim ekonomi kapitalis 
dunia, dalam kondisinya sebagai pabriknya dunia, ia membutuhkan bahan baku dan 
minyak untuk menopang pertumbuhannya.  Sama-sama membutuhkan minyak dan bahan 
baku lainnya, tak terhindarkan bentrokan dan persaingan dengan kekuatan 
imperialis lainnya,  terutama AS sebagai kekuatan imperialis tradisionil yang 
sedang menuju kebangkrutannya. Dari segi ekonomi Tkk sudah menjadi superpower 
tapi dari segi militer masih belum bisa menandingi AS.
  
  Nah, disinilah sekarang masalahnya. Mau tidak kita digunakan oleh Tkk untuk 
membela kepentingan imperialnya? Wilayah Laut Tkk Selatan sudah dicaploknya. 
Untuk menjaga dan membelanya dari saingannya, imperialis Tkk, maka dia harus 
merangkul negara-negara ASEAN. Maka  muncullah  tampang mesam-mesemnya Kaisar 
Xijingping dalam berbagai kunjungannya di luar negeri.  
  Satu point lagi yang menunjukkan Tkk bukan sebuah negara sosialis yang 
menggunakan Marxisme-Leninisme sebagai dasar filsafat dan pembimbing sepak 
terjangnya. Dosen juga menjelaskannya dengan gamblang. Yang diterapkan Tkk 
adalah Taoisme dan juga ajaran  Konghucu. Ya cocok sudah!! One Belt One Road 
alias Jalan Sutera memang sangat dibutuhkan Tkk untuk mendapatkan rute 
perdagangan yang dia kontrol sendiri dalam usahanya untuk melampaui kekuasaan 
AS. 
  Tulisan Rosydin ini membuka tabir selubung yang terus dipropagandakan Tkk 
serta para pendukungnya seolah-olah ofensif ekonomi dalam bentuk penanaman 
modalnya bertujuan untuk memajukan negeri penerima modal alias pengutang. 
Artinya, pembelejetan  terhadap penanaman modal Tkk di segala pelosok dunia 
yang diajukan oleh nenek dalam tempurung ini, kok mendapatkan gemanya dalam 
tulisan dosen Rosydin!!! 
   On Thursday, November 8, 2018, 8:25:52 PM GMT+1, Awind wrote:       
https://news.detik.com/kolom/d-4293120/kultur-strategis-china-di-laut-china-selatan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.172679329.360779424.1541698862-2136032096.1541698862
 
  Kamis 08 November 2018, 15:24 WIB 
Kolom
 
Kultur Strategis China di Laut China Selatan
 Mohamad Rosyidin - detikNews          Mohamad Rosyidin     
       Foto: Australia Plus ABC 
   Jakarta - "Barangsiapa yang berambisi menguasai dunia, dia tidak akan 
berhasil. Dunia ini adalah tempat yang sakral yang tidak mungkin dikuasai oleh 
siapapun. Orang yang melakukannya tidak akan berhasil. Bila dipaksakan juga 
akan  gagal". (Tao Te Ching, Bab 29) 
  Dinamika keamanan di kawasan khususnya terkait dengan isu Laut China Selatan 
menunjukkan tren yang menarik diamati. Baru-baru ini China menunjukkan sikap 
kooperatif di kawasan yang ditandai oleh latihan militer bersama antara China 
dan negara-negara ASEAN di Provinsi Guangdong, wilayah pesisir Laut China 
Selatan selama sepekan. Ide ini sebenarnya sudah diusulkan China pada 2015 
ketika menggelar pertemuan dengan menteri pertahanan se-ASEAN. Menurut China, 
latihan militer bersama itu merupakan suatu confidence building measure (CBM) 
guna menurunkan ketegangan di kawasan.
 
 Sikap China ini bertolak belakang dengan kebiasaannya yang ofensif dan 
terkesan enggan mematuhi norma-norma internasional. China begitu keras 
memaksakan kepentingannya, bahkan berhasil memecah-belah ASEAN sebagaimana 
terjadi pada saat pertemuan tingkat menteri ASEAN di Pnom Penh pada 2012 ketika 
organisasi regional itu gagal mencapai komunike bersama (joint communique). 
Momen kegagalan ASEAN ini membuat Menteri Luar Negeri Indonesia (kala itu) 
Marty Natalegawa frustrasi, dan menyebutnya sebagai "salah satu kegagalan 
terbesar dalam karier diplomatik saya" (Natalegawa, 2018: 130).
 
 Lantas, apa yang membuat China mengubah sikapnya terhadap ASEAN? Penjelasan 
yang paling masuk akal adalah China berusaha "merangkul" ASEAN untuk mencegah 
campur tangan AS di wilayah Laut China Selatan. Selama ini China memandang 
kehadiran AS sebagai sumber ketidakstabilan keamanan regional. Berulangkali 
keduanya terlibat insiden yang meningkatkan eskalasi konflik. Seperti yang 
terjadi baru-baru ini ketika kapal perang AS USS Decatur yang sedang  melakukan 
'operasi navigasi bebas' dihalau kapal perang China karena dianggap mengancam 
kedaulatannya. 
 
 Kultur Strategis
 
 Pendekatan kooperatif China terhadap ASEAN menunjukkan bahwa Beijing tidak 
selalu menggunakan cara-cara koersif untuk mewujudkan ambisinya menguasai Laut 
China Selatan. Selama ini sebagian besar pengamat memandang semata-mata dari 
agresivitas China namun jarang yang melihat sisi "lunak" kebijakan negara itu. 
Padahal, dalam kultur strategis China, kebijakan luar negeri diimplementasikan 
dengan mengkombinasikan dua pendekatan yang pada dasarnya saling bertentangan 
yakni penggunaan sarana militer (koersif) dan sarana kerja sama (kooperatif). 
 
 Menurut ahli hubungan internasional Universitas Harvard Alastair Ian Johnston, 
kultur strategis merupakan seperangkat gagasan yang mempengaruhi para pembuat 
kebijakan untuk merumuskan strategi pertahanan guna menangkal ancaman 
(Johnston, 1995). Dengan kata lain, konsep ini merujuk pada sistem keyakinan 
dan pemahaman elite-elite politik suatu negara yang membentuk persepsi terhadap 
ancaman nasional. Persepsi ini sangat dipengaruhi  oleh budaya dan sistem nilai 
yang dianut suatu masyarakat. 
 
 Dalam kasus politik luar negeri China di Laut China Selatan, salah satu 
gagasan yang cukup besar pengaruhnya adalah Taoisme (selain Konfusianisme). 
Kutipan pada pembuka tulisan ini diambil dari kitab karangan Lao  Tzu Tao Te 
Ching (ditulis sekitar abad ke-6 sebelum Masehi). Maknanya kurang lebih sikap 
penolakan terhadap hegemoni kekuasaan oleh satu negara di dalam sistem 
internasional. Setiap ambisi menjadi untuk mendominasi sistem akan mendapatkan 
tantangan dari negara lain. Cara pandang ini serupa dengan gagasan keseimbangan 
kekuasaan (balance of power) dari negara-negara Barat.
 
 Pendekatan kooperatif China, dengan demikian, dapat ditafsirkan sebagai bentuk 
upaya China untuk mengimbangi (lebih tepatnya menghalau) kekuatan AS di 
kawasan. China tahu bahwa sebagian negara anggota ASEAN memiliki kedekatan 
hubungan dengan AS, khususnya Filipina dan Vietnam. China dan Filipina pernah 
bersitegang gara-gara keputusan Mahkamah Arbitrase UNCLOS di Den Haag pada 2016 
yang memenangkan tuntutan Filipina sekalipun kemudian kedua negara akhirnya 
memutuskan untuk tetap menjaga hubungan baik. Dengan Vietnam, China mendapatkan 
tantangan lebih berat karena pemerintah Hanoi semakin memperluas aliansi dengan 
rival-rival China. 
 
 Pada Maret 2017 lalu kapal induk AS USS Carl Vinson berkunjung ke Vietnam 
sebagai bentuk dukungan AS kepada Vietnam. Vietnam juga memperkuat kerja sama 
keamanan dengan Australia, India, dan Jepang.
 
 Melihat dinamika geopolitik ini, China merasa perlu mengkooptasi negara-negara 
ASEAN supaya lebih dekat ke China dan menjauh dari pengaruh AS. China juga 
paham betul bahwa ASEAN bukanlah lawan tandingnya yang sepadan sehingga 
kebijakan merangkul ASEAN di sini lebih sebagai strategi meminimalisasi 
kecondongan ASEAN pada AS, bukan menundukkan ASEAN. Kesediaan China berkompromi 
dengan ASEAN soal mekanisme penyelesaian konflik atau Code of Conduct (COC) 
yang mencapai kesepakatan pada Agustus 2018 lalu harus dibaca sebagai manuver 
China dalam rangka "membeli" kepercayaan ASEAN. 
 
 Kesepakatan itu bisa jadi bukan tujuan utama China. Sekali lagi kepentingan 
China di Laut China Selatan hanya satu, yaitu menjadikan kawasan sengketa itu 
wilayah kedaulatannya. Sesuai dengan filosofi Taoisme Yin dan Yang, strategi 
kooperatif itu barangkali hanya pelengkap dari strategi koersif China membangun 
pangkalan militer di Spratly. Baik sarana militer dan kerja sama harus 
diimplementasikan secara seimbang, bukan saling meniadakan. Kekuatan militer  
dan kerja sama adalah dua instrumen untuk mencapai tujuan yang sama. 
 
 Peran Indonesia
 
 Sebagai primus inter pares di kawasan, Indonesia harus hati-hati melihat 
perubahan sikap China tersebut. Mengingat kultur strategis China yang memandang 
bahwa kerja sama merupakan salah satu instrumen kepentingan nasional dan bukan 
untuk mencapai kepentingan bersama, Indonesia perlu mengembangkan strategi 
kebijakan luar negeri yang lebih aktif, adaptif, dan transformatif. 
 
 Pertama, Indonesia harus segera memulihkan reputasinya sebagai "honest broker" 
di kawasan. Dunia internasional sejak lama menaruh kepercayaan yang tinggi 
kepada Indonesia sebagai juru damai, penengah, dan agenda-setter di banyak 
forum multilateral. Kepercayaan itu kini terkesan memudar karena karakter 
kebijakan luar negeri Presiden Jokowi yang lebih memprioritaskan pada 
pendekatan bilateralisme alih-alih multilateralisme. 
 
 Pemerintah mungkin akan menepis anggapan itu, dan itu sah-sah saja. Namun, 
fakta-fakta menunjukkan bahwa keterlibatan Indonesia di forum-forum 
multilateral hanyalah cara untuk menjajaki pertemuan-pertemuan bilateral dengan 
negara mitra.
 
 Kedua, kebijakan luar negeri Indonesia harus adaptif menyikapi dinamika isu 
Laut China Selatan. Jika selama ini Indonesia memandang kebijakan China hanya 
dilandasi oleh kalkulasi untung-rugi, perlu cara pandang berbeda untuk memahami 
karakter kebijakan luar negeri China terutama di kawasan. Para pembuat 
kebijakan perlu menyadari bahwa persoalan Laut China Selatan bukan semata soal 
kepentingan nasional negara kuat, melainkan melibatkan faktor-faktor budaya 
yang berakar dari sejarah. Konsekuensinya, penyelesaian konflik ini tidak bisa 
dilakukan hanya dengan pendekatan rasionalistik-mekanistik seperti dialog di 
level regional. 
 
 Pemerintah perlu melibatkan pihak-pihak di luar pemerintah untuk melakukan 
diplomasi track-II yang lebih informal dengan mengedepankan sarana-sarana 
non-politis. Pendekatan budaya barangkali bisa menjadi instrumen diplomatik 
alternatif dari yang sudah ada.
 
 Ketiga, Indonesia perlu memainkan peran kepemimpinan transformatif dengan 
merangkul negara-negara lain untuk mencapai pemahaman bersama. Melibatkan 
negara-negara rising power seperti Rusia dan India penting untuk mengurangi 
dominasi China dan AS di kawasan. Gagasan ini sejalan dengan doktrin 
'keseimbangan dinamis' (dynamic equilibrium) yang digagas Marty Natalegawa 
bahwa negara-negara kuat tidak diperkenankan mendominasi, melainkan harus patuh 
pada norma-norma yang telah disepakati bersama. 
 
 Selain itu, prinsip kolaborasi lebih dikedepankan ketimbang menonjolkan 
rivalitas. Di sinilah kapasitas diplomasi Indonesia akan diuji, sejauh mana 
mampu mengkooptasi negara-negara kuat untuk saling berkolaborasi 
mengesampingkan ego masing-masing.
 
 Mohamad Rosyidin dosen di Departemen Hubungan Internasional Universitas 
Diponegoro
  
 (mmu/mmu) 
   Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar 
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini 
sekarang!   china laut china selatan asean  
             
 
 
 
|  | 不含病毒。www.avg.com  |

   #yiv0103150727 #yiv0103150727 -- #yiv0103150727ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv0103150727 
#yiv0103150727ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv0103150727 
#yiv0103150727ygrp-mkp #yiv0103150727hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv0103150727 #yiv0103150727ygrp-mkp #yiv0103150727ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv0103150727 #yiv0103150727ygrp-mkp .yiv0103150727ad 
{padding:0 0;}#yiv0103150727 #yiv0103150727ygrp-mkp .yiv0103150727ad p 
{margin:0;}#yiv0103150727 #yiv0103150727ygrp-mkp .yiv0103150727ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0103150727 #yiv0103150727ygrp-sponsor 
#yiv0103150727ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0103150727 
#yiv0103150727ygrp-sponsor #yiv0103150727ygrp-lc #yiv0103150727hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0103150727 
#yiv0103150727ygrp-sponsor #yiv0103150727ygrp-lc .yiv0103150727ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0103150727 #yiv0103150727actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0103150727 
#yiv0103150727activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0103150727
 #yiv0103150727activity span {font-weight:700;}#yiv0103150727 
#yiv0103150727activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv0103150727 #yiv0103150727activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0103150727 #yiv0103150727activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv0103150727 #yiv0103150727activity span 
.yiv0103150727underline {text-decoration:underline;}#yiv0103150727 
.yiv0103150727attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv0103150727 .yiv0103150727attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv0103150727 .yiv0103150727attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0103150727 .yiv0103150727attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0103150727 .yiv0103150727attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv0103150727 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv0103150727 .yiv0103150727bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0103150727 
.yiv0103150727bold a {text-decoration:none;}#yiv0103150727 dd.yiv0103150727last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0103150727 dd.yiv0103150727last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0103150727 
dd.yiv0103150727last p span.yiv0103150727yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv0103150727 div.yiv0103150727attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv0103150727 div.yiv0103150727attach-table 
{width:400px;}#yiv0103150727 div.yiv0103150727file-title a, #yiv0103150727 
div.yiv0103150727file-title a:active, #yiv0103150727 
div.yiv0103150727file-title a:hover, #yiv0103150727 div.yiv0103150727file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0103150727 div.yiv0103150727photo-title a, 
#yiv0103150727 div.yiv0103150727photo-title a:active, #yiv0103150727 
div.yiv0103150727photo-title a:hover, #yiv0103150727 
div.yiv0103150727photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0103150727 
div#yiv0103150727ygrp-mlmsg #yiv0103150727ygrp-msg p a 
span.yiv0103150727yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0103150727 
.yiv0103150727green {color:#628c2a;}#yiv0103150727 .yiv0103150727MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv0103150727 o {font-size:0;}#yiv0103150727 
#yiv0103150727photos div {float:left;width:72px;}#yiv0103150727 
#yiv0103150727photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0103150727 
#yiv0103150727photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0103150727
 #yiv0103150727reco-category {font-size:77%;}#yiv0103150727 
#yiv0103150727reco-desc {font-size:77%;}#yiv0103150727 .yiv0103150727replbq 
{margin:4px;}#yiv0103150727 #yiv0103150727ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0103150727 #yiv0103150727ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0103150727 
#yiv0103150727ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0103150727 
#yiv0103150727ygrp-mlmsg select, #yiv0103150727 input, #yiv0103150727 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0103150727 
#yiv0103150727ygrp-mlmsg pre, #yiv0103150727 code {font:115% 
monospace;}#yiv0103150727 #yiv0103150727ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv0103150727 #yiv0103150727ygrp-mlmsg #yiv0103150727logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv0103150727 #yiv0103150727ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv0103150727 #yiv0103150727ygrp-msg 
p#yiv0103150727attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0103150727 
#yiv0103150727ygrp-reco #yiv0103150727reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0103150727 #yiv0103150727ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0103150727 #yiv0103150727ygrp-sponsor 
#yiv0103150727ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0103150727 
#yiv0103150727ygrp-sponsor #yiv0103150727ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0103150727 
#yiv0103150727ygrp-sponsor #yiv0103150727ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv0103150727 #yiv0103150727ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv0103150727 #yiv0103150727ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv0103150727 #yiv0103150727ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0103150727 
#yiv0103150727ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv0103150727   

Kirim email ke