Namanya orang ndablek ya seperti si Chan itu!! Ngotot walaupun menghadapi bukti 
yang sebenarnya tak bisa dibantah. Wong jelas-jelas yang dinamakan "bantuan" 
itu adalah untuk menjarah kekayaan alam negeri-negeri Afrika, untuk mendapatkan 
kontrak-kontrak yang menguntungkan korporasi Tkk sendiri, untuk mengirim tenaga 
kerjanya sendiri, masih ngotot bilang itu sama dengan kebijakan jaman Mao!! Si 
Chan dengan sengaja mau menutupi kesamaan sepak terjang kaum kolonial Belanda 
dan semua kaum kolonial eropa lainnya  yang juga mengincar kekayaan alam 
negeri-negeri yang dijajahnya dengan sepak terjang neo-kolonial Tkk sekarang!! 
Dia sama sekali tidak berkomentar tentang tulisan itu sendiri, dan tidak bisa 
membantah fakta yang ditampilkan. "Bantuan" 1 billion RMB melahirkan service 
contract untuk perusahan Tkk bernilai 6 billion RMB!! Sempoanya jalan!! Orang 
seperti bung Djie mengakui bahwa sudah tentu perusahaan ingin cari untung!! 
Nah, ya memang begitu!! Jangan hipokrit!! berkoar-koar untuk kemajuan bersama, 
kemenangan bersama!!! Hanya roang yang tak waras mempercayainya.
 Nah, sekarang, silahkan menyimak bagaimana kaum pemodal Tkk juga mengincar 
kekayaan alam (minyak) di hutan Amazon, Ecuador. Kebijakan Pemerintah Ecuador 
yang sekarang, seperti boneka-boneka kaum pemodal asing di negeri-negeri Dunia 
Ketiga, tidak berbeda.  Karena itu Pemerintah Ecuador menghadapi perlawanan 
masyarakat adat yang berjuang mempertahankan tanah dan hutannya. si Chan pernah 
mempostingkan pendapat seorang presiden sebuah negeri Afrika yang memuji "kerja 
sama" dengan Tkk. Lha, ya jelas dong!! Kan seperti raja Jokowi. Dia juga akan 
bicara sangat positif kalau ditanya tentang penanaman modal Tkk, makanya dia 
terima semua syarat-syarat yang diajukan Tkk. Jangan lupa bahwa tangan-tangan 
kotor kaum imperialis tidak akan bisa masuk ke dalam kehidupan ekonomi sebuah 
negeri tanpa kolaborasi dari kaum kompradornya!! Kaum pemodal Tkk tidak akan 
bisa menjarah kekayaan alam negeri itu tanpa kolaborasi dari pemerintahan yang 
merupakan antek imperialis!! Jalan sutera atau One Belt dan One Road adalah 
untuk memajukan kepentingan nasional imperialis Tkk sendiri dalam persaingannya 
dengan imperialis tradisional AS... Yang satu sedang melemah, yang satunya 
sedang berkembang, kedua-duanya membutuhkan bahan baku yang hanya ada di banyak 
negeri Dunia Ketiga. Makanya mereka berebut dan bersaing untuk memperbesar 
pengaruh masing-masing!!!
Mau tahu mengapa pemerintah Ecuador sampai harus menyerahkan hutan Amazon 
dengan minyak diperutnya itu?? Karena HUTANG!!! Utang Ecuador kepada Tkk sudah 
sampai sepersepuluh dari GDPnya. Dan juga karena Ecuador sudah begitu 
BERGANTUNG kepada Tkk untuk  pembiayaan apa yang disebut "pembangunan"..... 
Hanya orang yang buta yang tidak melihat hari depan Indonesia kalau tidak ada 
perlawanan terhadap kecenderungan pemeirntah Indonesia yang juga menggantungkan 
pembiayaan "pembangunannya" kepada modal asing termasuk Tiongkok!!!
Mau lihat ngototnya dan ndableknya si Chan yang tidak mau mengakui kenyataan??? 
Soal Srilangka dimana-mana orang sudah tahu dan memperingatkan bahaya yang 
dihadapi sebuah negeri yang punya utang tinggi dengan Tkk. Eh, si Chan masih 
punya muka untuk membanggakan "bantuan" Tkk kapitalis kepada Srilangka!!! 
Busyeeet!!
Kalau RR bilang, kok tega-teganya ladang bisnis untuk rakyat, UKM, mau 
diserahkan 100% sama asing?? Nah, masyarakat adat Ecuador juga bisa bilang kok 
tega-teganya negara yang katanya sosialis, mengincar kekayaan alam yang 
terkandung di hutan tropikal Amazon, yang merupakan PARU-PARU dunia, untuk 
kepentingan nasionalnya sendiri???? Coba bantah tulisan di bawah dan juga 
tulisan yang dari Afrika itu. bukan cuma ngebulet=-bulet dan mengulang-ulang 
"nenek dalam tempurung"!!






"We demand that public and private oil companies across the world not 
participate in the bidding process that systematically violates the rights of 
Ecuador To Sell A Third Of Its Amazon Rainforest To Chinese Oil Companies


Indigenous groups claim they have not consented to oil projects, as politicians 
visit Beijing to publicise bidding process
Ecuador plans to auction off more than three million hectares of pristine 
Amazonian rainforest to Chinese oil companies, angering indigenous groups and 
underlining the global environmental toll of China's insatiable thirst for 
energy. 

On Monday morning a group of Ecuadorean politicians pitched bidding contracts 
to representatives of Chinese oil companies at a Hilton hotel in central 
Beijing, on the fourth leg of a roadshow to publicise the bidding process. 
Previous meetings in Ecuador's capital, Quito, and in Houston and Paris were 
each confronted with protests by indigenous groups. 

Attending the roadshow were black-suited representatives from oil companies 
including China Petrochemical and China National Offshore Oil. "Ecuador is 
willing to establish a relationship of mutual benefit – a win-win 
relationship," said Ecuador's ambassador to China in opening remarks. 

According to the California-based NGO Amazon Watch, seven indigenous groups who 
inhabit the land claim that they have not consented to oil projects, which 
would devastate the area's environment and threaten their traditional way of 
life. 

"We demand that public and private oil companies across the world not 
participate in the bidding process that systematically violates the rights of 
seven indigenous nationalities by imposing oil projects in their ancestral 
territories," a group of Ecuadorean organised indigenous associations wrote in 
an open letter last autumn. seven indigenous nationalities by imposing oil 
projects in their ancestral territories," a group of Ecuadorean organised 
indigenous associations wrote in an open letter last autumn. 





In an interview, Ecuador's secretary of hydrocarbons, Andrés Donoso Fabara, 
accused indigenous leaders of misrepresenting their communities to achieve 
political goals. "These guys with a political agenda, they are not thinking 
about development or about fighting against poverty," he said.

Fabara said the government had decided not to open certain blocks of land to 
bidding because it lacked support from local communities. "We are entitled by 
law, if we wanted, to go in by force and do some activities even if they are 
against them," he said. "But that's not our policy."


Amazon Watch said the deal would violate China's own new investment guidelines, 
issued jointly by the ministries of commerce and environmental protection last 
month. The third clause of the guidelines says Chinese enterprises should 
"promote harmonious development of local economy, environment and community" 
while operating abroad.

Fabara said he was not aware of the guidelines. "We're looking for global 
investors, not just investors from China," he said. "But of course Chinese 
companies are really aggressive. In a bidding process, they might present the 
winning bids." 

Critics say national debt may be a large part of the Ecuadorean government's 
calculations. Ecuador owed China more than £4.6bn ($7bn) as of last summer, 
more than a tenth of its GDP. China began loaning billions of dollars to 
Ecuador in 2009 in exchange for oil shipments. More recently China helped fund 
two of its biggest hydroelectric infrastructure projects. Ecuador may soon 
build a $12.5bn oil refinery with Chinese financing.


"My understanding is that this is more of a debt issue – it's because the 
Ecuadoreans are so dependent on the Chinese to finance their development that 
they're willing to compromise in other areas such as social and environmental 
regulations," said Adam Zuckerman, environmental and human rights campaigner at 
Amazon Watch. "The message that they're trying to send to international 
investors is not in line with reality."

Last July the inter-American court on human rights ruled to prohibit oil 
developments in the Sarayaku, a tropical rainforest territory in southern 
Ecuador that is accessible only by plane and canoe, in order to preserve its 
rich cultural heritage and biodiversity. The court also mandated that 
governments obtain "free, prior and informed consent" from native groups before 
approving oil activities on their indigenous land. 

A TV news report broadcast by the US Spanish-language network Telemundo showed 
members of Ecuadorean native groups – some wearing traditional facepaint and 
headdresses – waving protest banners and scuffling with security guards outside 
the Ecuadorean government's roadshow stop in Houston. 

"What the government's been saying as they have been offering up our territory 
is not true; they have not consulted us, and we're here to tell the big 
investors that they don't have our permission to exploit our land," Narcisa 
Mashienta, a women's leader of Ecuador's Shuar people, said in the report..


    On Monday, November 19, 2018, 6:20:14 AM GMT+1, Chalik Hamid 
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:  
 
     

 

   ----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: ajeg [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>Kepada: ChanCT <[email protected]>Terkirim: 
Minggu, 18 November 2018 12.20.37 GMT+1Judul: Re: [GELORA45] Kultur Strategis 
China di Laut China Selatan
     


 
Kalau begitu apa alasan RRC memprotes / keberatan 
atas penggantian nama LCS di wilayah perairan Indonesia 
menjadi LNU; 'Laut Natuna Utara'?
--- SADAR@... wrote:
Hahahaa, ... nenek dalam tempurung yang begitu keras berteriak "pembela rakyat" 
ternyata SENADA dengan propaganda imperialisme AS.


Saya tidak tahu latar belakang Rosydin ini, ... tapi yang pasti ajaran Taoisme 
dan Konghuchu TIDAK mengajarkan menjajah negara lain! Dan "Jalan Sutera" atau 
OBOR yang dijalankan Tiongkok sekarang ini dengan prinsip Bekerja Bersama, Maju 
Bersama, Untung Bersama dan Menang BERSAMA, ... bertolak-belakang dengan yang 
dijalankan kapitalisme/imperialisme 2 ratus tahun terakhir ini, MENJAJAH Negara 
lain dan melakukan penghisapan hanya untuk keuntungan, kemajuan negaranya 
sendiri!
Sudah cukup banyak fakta diajukan masalah sengketa perairan Laut Tiongkok 
Selatan biarlah diselesaikan tersendiri antara Tiongkok dan negara 
bersangkutan, tidak perlu direcoki dan campurtangan AS! Saya yakin ketegangan 
yg semula terjadi dengan Filipina akan terselesaikan dengan lebih baik tanpa 
campurtangan AS! Begitu juga dengan Vietnam, ... Suasana perairan Laut Tiongkok 
Selatan akan TETAP DAMAI dan HARMONIS! TIDAK ada yang perlu diributkan apalagi 
bikin tegang suasana, kecuali sejalan dengan kehendak AS! Agar negara-negara 
itu membeli lebih banyak senjata untuk menghadapi RRT saja! Negara-negara AREAN 
dirugikan dan hanya AS yang diuntungkan!
Tatiana Lukman 於 16/11/2018 1:50 寫道:
 Tulisan dosen Rosyidin ini membantu orang untuk mengerti hakekat dan tujuan 
sebenarnya dari kebijakan  luar negeri TKK. Oleh para pejabat resminya, sudah 
tentu Tkk berusaha menampilkan dirinya sebagai kekuatan ekonomi dan militer 
yang seolah-olah tidak ingin berdominasi. Semua orang yang berpikir logis tentu 
melihat ofensif agresif Tkk. Dosen Resyidin mencerminkannya dalam kutipan ini  
“Sikap China ini bertolak belakang dengan kebiasaannya yang ofensif dan 
terkesan enggan mematuhi norma-norma internasional. China begitu keras 
memaksakan kepentingannya, bahkan berhasil memecah-belah ASEAN sebagaimana 
terjadi pada saat pertemuan tingkat menteri ASEAN di Pnom Penh pada 2012 ketika 
organisasi regional itu gagal mencapai komunike bersama (joint communique). 
Momen kegagalan ASEAN ini membuat Menteri Luar Negeri Indonesia (kala itu) 
Marty Natalegawa frustrasi, dan menyebutnya sebagai "salah satu kegagalan 
terbesar dalam karier diplomatik saya" (Natalegawa, 2018: 130).

Jelas bahwa ofensif dan pembangkangan terhadap norma-norma Internasional itu 
lahir dari sifat Tkk sendiri yang sudah memasuki tahap imperialis. Tentu Chan 
ingin membantah. Tapi tidak ada argumentasi yang syah untuk membantahnya. 
Karena sepak terjang Tkk sendiri yang mencerminkan sikap negara besar yang 
memaksakan kepentingannya. Mirip tidak dengan sikap AS??? Dipupuri dengan bedak 
termahalpun, tidak akan bisa Tkk menutupi wajah sosial imperialisnya, sosialis 
dalam kata-kata, tapi imperialis dalam perbuatan.
Lantas. mengapa sekarang Tkk mengubah kebijakannya? Sang dosen juga memberi 
jawaban yang baik. “Penjelasan yang paling masuk akal adalah China berusaha 
"merangkul" ASEAN untuk mencegah campur tangan AS di wilayah Laut China Selatan.

Ekonomi Tkk sudah terintegrasi sepenuhnya dalam sistim ekonomi kapitalis dunia, 
dalam kondisinya sebagai pabriknya dunia, ia membutuhkan bahan baku dan minyak 
untuk menopang pertumbuhannya.  Sama-sama membutuhkan minyak dan bahan baku 
lainnya, tak terhindarkan bentrokan dan persaingan dengan kekuatan imperialis 
lainnya, terutama AS sebagai kekuatan imperialis tradisionil yang sedang menuju 
kebangkrutannya. Dari segi ekonomi Tkk sudah menjadi superpower tapi dari segi 
militer masih belum bisa menandingi AS.

Nah, disinilah sekarang masalahnya. Mau tidak kita digunakan oleh Tkk untuk 
membela kepentingan imperialnya? Wilayah Laut Tkk Selatan sudah dicaploknya. 
Untuk menjaga dan membelanya dari saingannya, imperialis Tkk, maka dia harus 
merangkul negara-negara ASEAN. Maka  muncullah  tampang mesam-mesemnya Kaisar 
Xijingping dalam berbagai kunjungannya di luar negeri.
Satu point lagi yang menunjukkan Tkk bukan sebuah negara sosialis yang 
menggunakan Marxisme-Leninisme sebagai dasar filsafat dan pembimbing sepak 
terjangnya. Dosen juga menjelaskannya dengan gamblang. Yang diterapkan Tkk 
adalah Taoisme dan juga ajaran Konghucu. Ya cocok sudah!! One Belt One Road 
alias Jalan Sutera memang sangat dibutuhkan Tkk untuk mendapatkan rute 
perdagangan yang dia kontrol sendiri dalam usahanya untuk melampaui kekuasaan 
AS.
Tulisan Rosydin ini membuka tabir selubung yang terus dipropagandakan Tkk serta 
para pendukungnya seolah-olah ofensif ekonomi dalam bentuk penanaman modalnya 
bertujuan untuk memajukan negeri penerima modal alias pengutang. Artinya, 
pembelejetan terhadap penanaman modal Tkk di segala pelosok dunia yang diajukan 
oleh nenek dalam tempurung ini, kok mendapatkan gemanya dalam tulisan dosen 
Rosydin!!!
On Thursday, November 8, 2018, 8:25:52 PM GMT+1, Awind wrote:
https://news.detik.com/kolom/d-4293120/kultur-strategis-china-di-laut-china-selatan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.172679329.360779424.1541698862-2136032096.1541698862
 
  Kamis 08 November 2018, 15:24 WIB 
Kolom
 
Kultur Strategis China di Laut China Selatan
 Mohamad Rosyidin - detikNews          Mohamad Rosyidin     
      Foto: Australia Plus ABC
  Jakarta - "Barangsiapa yang berambisi menguasai dunia, dia tidak akan 
berhasil. Dunia ini adalah tempat yang sakral yang tidak mungkin dikuasai oleh 
siapapun. Orang yang melakukannya tidak akan berhasil. Bila dipaksakan juga 
akan gagal". (Tao Te Ching, Bab 29)
 Dinamika keamanan di kawasan khususnya terkait dengan isu Laut China Selatan 
menunjukkan tren yang menarik diamati. Baru-baru ini China menunjukkan sikap 
kooperatif di kawasan yang ditandai oleh latihan militer bersama antara China 
dan negara-negara ASEAN di Provinsi Guangdong, wilayah pesisir Laut China 
Selatan selama sepekan. Ide ini sebenarnya sudah diusulkan China pada 2015 
ketika menggelar pertemuan dengan menteri pertahanan se-ASEAN. Menurut  China, 
latihan militer bersama itu merupakan suatu confidence building measure (CBM) 
guna menurunkan ketegangan di kawasan.
 
 Sikap China ini bertolak belakang dengan kebiasaannya yang ofensif dan 
terkesan enggan mematuhi norma-norma internasional. China begitu keras 
memaksakan kepentingannya, bahkan berhasil memecah-belah ASEAN sebagaimana 
terjadi pada saat pertemuan tingkat menteri ASEAN di Pnom Penh pada 2012 ketika 
organisasi regional itu gagal mencapai komunike bersama (joint communique). 
Momen kegagalan ASEAN ini membuat Menteri Luar Negeri Indonesia (kala itu) 
Marty Natalegawa frustrasi, dan menyebutnya sebagai "salah satu kegagalan 
terbesar dalam karier diplomatik saya" (Natalegawa, 2018: 130).
 
 Lantas, apa yang membuat China mengubah sikapnya terhadap ASEAN? Penjelasan 
yang paling masuk akal adalah China berusaha "merangkul" ASEAN untuk mencegah 
campur tangan AS di wilayah Laut China Selatan. Selama ini China memandang 
kehadiran AS sebagai sumber ketidakstabilan keamanan regional. Berulangkali 
keduanya terlibat insiden yang meningkatkan eskalasi konflik. Seperti yang 
terjadi baru-baru ini ketika kapal perang AS USS Decatur yang sedang  melakukan 
'operasi navigasi bebas' dihalau kapal perang China karena dianggap mengancam 
kedaulatannya. 
 
 Kultur Strategis
 
 Pendekatan kooperatif China terhadap ASEAN menunjukkan bahwa Beijing tidak 
selalu menggunakan cara-cara koersif untuk mewujudkan ambisinya menguasai Laut 
China Selatan. Selama ini sebagian besar pengamat memandang semata-mata dari 
agresivitas China namun jarang yang melihat sisi "lunak" kebijakan negara itu. 
Padahal, dalam kultur strategis China, kebijakan luar negeri diimplementasikan 
dengan mengkombinasikan dua pendekatan yang pada dasarnya saling  bertentangan 
yakni penggunaan sarana militer (koersif) dan sarana kerja sama (kooperatif). 
 
 Menurut ahli hubungan internasional Universitas Harvard Alastair Ian Johnston, 
kultur strategis merupakan seperangkat gagasan yang mempengaruhi para pembuat 
kebijakan untuk merumuskan strategi pertahanan guna menangkal ancaman 
(Johnston, 1995). Dengan kata lain, konsep ini merujuk pada sistem keyakinan 
dan pemahaman elite-elite politik suatu negara yang membentuk persepsi terhadap 
ancaman nasional. Persepsi ini sangat dipengaruhi oleh budaya dan sistem nilai 
yang dianut suatu masyarakat. 
 
 Dalam kasus politik luar negeri China di Laut China Selatan, salah satu 
gagasan yang cukup besar pengaruhnya adalah Taoisme (selain Konfusianisme). 
Kutipan pada pembuka tulisan ini diambil dari kitab karangan Lao Tzu Tao Te 
Ching (ditulis sekitar abad ke-6 sebelum Masehi). Maknanya kurang lebih sikap 
penolakan terhadap hegemoni kekuasaan oleh satu negara di dalam sistem 
internasional. Setiap ambisi menjadi untuk mendominasi sistem akan mendapatkan 
tantangan dari negara lain. Cara pandang ini serupa dengan gagasan keseimbangan 
kekuasaan (balance of power) dari negara-negara Barat.
 
 Pendekatan kooperatif China, dengan demikian, dapat ditafsirkan sebagai bentuk 
upaya China untuk mengimbangi (lebih tepatnya menghalau) kekuatan AS di 
kawasan. China tahu bahwa sebagian negara anggota ASEAN memiliki kedekatan 
hubungan dengan AS, khususnya Filipina dan Vietnam. China dan Filipina pernah 
bersitegang gara-gara keputusan Mahkamah Arbitrase UNCLOS di Den Haag pada 2016 
yang memenangkan tuntutan Filipina sekalipun kemudian kedua negara  akhirnya 
memutuskan untuk tetap menjaga hubungan baik. Dengan Vietnam, China mendapatkan 
tantangan lebih berat karena pemerintah Hanoi semakin memperluas aliansi dengan 
rival-rival China. 
 
 Pada Maret 2017 lalu kapal induk AS USS Carl Vinson berkunjung ke Vietnam 
sebagai bentuk dukungan AS kepada Vietnam. Vietnam juga memperkuat kerja sama 
keamanan dengan Australia, India, dan Jepang.
 
 Melihat dinamika geopolitik ini, China merasa perlu mengkooptasi negara-negara 
ASEAN supaya lebih dekat ke China dan menjauh dari pengaruh AS. China juga 
paham betul bahwa ASEAN bukanlah lawan tandingnya yang sepadan sehingga 
kebijakan merangkul ASEAN di sini lebih sebagai strategi meminimalisasi 
kecondongan ASEAN pada AS, bukan menundukkan ASEAN. Kesediaan China berkompromi 
dengan ASEAN soal mekanisme penyelesaian konflik atau Code of Conduct (COC) 
yang mencapai kesepakatan pada Agustus 2018 lalu harus dibaca sebagai manuver 
China dalam rangka "membeli" kepercayaan ASEAN. 
 
 Kesepakatan itu bisa jadi bukan tujuan utama China. Sekali lagi kepentingan 
China di Laut China Selatan hanya satu, yaitu menjadikan kawasan sengketa itu 
wilayah kedaulatannya. Sesuai dengan filosofi Taoisme Yin dan Yang, strategi 
kooperatif itu barangkali hanya pelengkap dari strategi koersif China membangun 
pangkalan militer di Spratly. Baik sarana militer dan kerja sama harus 
diimplementasikan secara seimbang, bukan saling meniadakan. Kekuatan militer 
dan kerja sama adalah dua instrumen untuk mencapai tujuan yang sama. 
 
 Peran Indonesia
 
 Sebagai primus inter pares di kawasan, Indonesia harus hati-hati melihat 
perubahan sikap China tersebut. Mengingat kultur strategis China yang memandang 
bahwa kerja sama merupakan salah satu instrumen kepentingan nasional dan bukan 
untuk mencapai kepentingan bersama, Indonesia perlu mengembangkan strategi 
kebijakan luar negeri yang lebih aktif, adaptif, dan transformatif. 
 
 Pertama, Indonesia harus segera memulihkan reputasinya sebagai "honest broker" 
di kawasan. Dunia internasional sejak lama menaruh kepercayaan yang tinggi 
kepada Indonesia sebagai juru damai, penengah, dan agenda-setter di banyak 
forum multilateral. Kepercayaan itu kini terkesan memudar karena karakter 
kebijakan luar negeri Presiden Jokowi yang lebih memprioritaskan pada 
pendekatan bilateralisme alih-alih multilateralisme. 
 
 Pemerintah mungkin akan menepis anggapan itu, dan itu sah-sah saja. Namun, 
fakta-fakta menunjukkan bahwa keterlibatan Indonesia di forum-forum 
multilateral hanyalah cara untuk menjajaki pertemuan-pertemuan bilateral dengan 
negara mitra.
 
 Kedua, kebijakan luar negeri Indonesia harus adaptif menyikapi dinamika isu 
Laut China Selatan. Jika selama ini Indonesia memandang kebijakan China hanya 
dilandasi oleh kalkulasi untung-rugi, perlu cara pandang berbeda untuk memahami 
karakter kebijakan luar negeri China terutama di kawasan. Para pembuat 
kebijakan perlu menyadari bahwa persoalan Laut China Selatan bukan semata soal 
kepentingan nasional negara kuat, melainkan melibatkan faktor-faktor budaya  
yang berakar dari sejarah. Konsekuensinya, penyelesaian konflik ini tidak bisa 
dilakukan hanya dengan pendekatan rasionalistik-mekanistik seperti dialog di 
level regional. 
 
 Pemerintah perlu melibatkan pihak-pihak di luar pemerintah untuk melakukan 
diplomasi track-II yang lebih informal dengan mengedepankan sarana-sarana 
non-politis. Pendekatan budaya barangkali bisa menjadi instrumen diplomatik 
alternatif dari yang sudah ada.
 
 Ketiga, Indonesia perlu memainkan peran kepemimpinan transformatif dengan 
merangkul negara-negara lain untuk mencapai pemahaman bersama. Melibatkan 
negara-negara rising power seperti Rusia dan India penting untuk mengurangi 
dominasi China dan AS di kawasan. Gagasan ini sejalan dengan doktrin 
'keseimbangan dinamis' (dynamic equilibrium) yang digagas Marty Natalegawa 
bahwa negara-negara kuat tidak diperkenankan mendominasi, melainkan harus patuh 
pada norma-norma yang telah disepakati bersama. 
 
 Selain itu, prinsip kolaborasi lebih dikedepankan ketimbang menonjolkan 
rivalitas. Di sinilah kapasitas diplomasi Indonesia akan diuji, sejauh mana 
mampu mengkooptasi negara-negara kuat untuk saling berkolaborasi 
mengesampingkan ego masing-masing.
 
 Mohamad Rosyidin dosen di Departemen Hubungan Internasional Universitas 
Diponegoro
  
 (mmu/mmu)
  Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar 
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini 
sekarang!   china laut china selatan asean 
         #yiv3836804407 #yiv3836804407 -- #yiv3836804407ygrp-mkp {border:1px 
solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv3836804407 
#yiv3836804407ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv3836804407 
#yiv3836804407ygrp-mkp #yiv3836804407hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv3836804407 #yiv3836804407ygrp-mkp #yiv3836804407ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv3836804407 #yiv3836804407ygrp-mkp .yiv3836804407ad 
{padding:0 0;}#yiv3836804407 #yiv3836804407ygrp-mkp .yiv3836804407ad p 
{margin:0;}#yiv3836804407 #yiv3836804407ygrp-mkp .yiv3836804407ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv3836804407 #yiv3836804407ygrp-sponsor 
#yiv3836804407ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv3836804407 
#yiv3836804407ygrp-sponsor #yiv3836804407ygrp-lc #yiv3836804407hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv3836804407 
#yiv3836804407ygrp-sponsor #yiv3836804407ygrp-lc .yiv3836804407ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv3836804407 #yiv3836804407actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv3836804407 
#yiv3836804407activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv3836804407
 #yiv3836804407activity span {font-weight:700;}#yiv3836804407 
#yiv3836804407activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv3836804407 #yiv3836804407activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv3836804407 #yiv3836804407activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv3836804407 #yiv3836804407activity span 
.yiv3836804407underline {text-decoration:underline;}#yiv3836804407 
.yiv3836804407attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv3836804407 .yiv3836804407attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv3836804407 .yiv3836804407attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv3836804407 .yiv3836804407attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv3836804407 .yiv3836804407attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv3836804407 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv3836804407 .yiv3836804407bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv3836804407 
.yiv3836804407bold a {text-decoration:none;}#yiv3836804407 dd.yiv3836804407last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3836804407 dd.yiv3836804407last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3836804407 
dd.yiv3836804407last p span.yiv3836804407yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv3836804407 div.yiv3836804407attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv3836804407 div.yiv3836804407attach-table 
{width:400px;}#yiv3836804407 div.yiv3836804407file-title a, #yiv3836804407 
div.yiv3836804407file-title a:active, #yiv3836804407 
div.yiv3836804407file-title a:hover, #yiv3836804407 div.yiv3836804407file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv3836804407 div.yiv3836804407photo-title a, 
#yiv3836804407 div.yiv3836804407photo-title a:active, #yiv3836804407 
div.yiv3836804407photo-title a:hover, #yiv3836804407 
div.yiv3836804407photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv3836804407 
div#yiv3836804407ygrp-mlmsg #yiv3836804407ygrp-msg p a 
span.yiv3836804407yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv3836804407 
.yiv3836804407green {color:#628c2a;}#yiv3836804407 .yiv3836804407MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv3836804407 o {font-size:0;}#yiv3836804407 
#yiv3836804407photos div {float:left;width:72px;}#yiv3836804407 
#yiv3836804407photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv3836804407 
#yiv3836804407photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv3836804407
 #yiv3836804407reco-category {font-size:77%;}#yiv3836804407 
#yiv3836804407reco-desc {font-size:77%;}#yiv3836804407 .yiv3836804407replbq 
{margin:4px;}#yiv3836804407 #yiv3836804407ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv3836804407 #yiv3836804407ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3836804407 
#yiv3836804407ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv3836804407 
#yiv3836804407ygrp-mlmsg select, #yiv3836804407 input, #yiv3836804407 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3836804407 
#yiv3836804407ygrp-mlmsg pre, #yiv3836804407 code {font:115% 
monospace;}#yiv3836804407 #yiv3836804407ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv3836804407 #yiv3836804407ygrp-mlmsg #yiv3836804407logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv3836804407 #yiv3836804407ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv3836804407 #yiv3836804407ygrp-msg 
p#yiv3836804407attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv3836804407 
#yiv3836804407ygrp-reco #yiv3836804407reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv3836804407 #yiv3836804407ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv3836804407 #yiv3836804407ygrp-sponsor 
#yiv3836804407ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv3836804407 
#yiv3836804407ygrp-sponsor #yiv3836804407ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv3836804407 
#yiv3836804407ygrp-sponsor #yiv3836804407ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv3836804407 #yiv3836804407ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv3836804407 #yiv3836804407ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv3836804407 #yiv3836804407ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv3836804407 
#yiv3836804407ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv3836804407   

Kirim email ke