Semua orang yang memahami perjuangan bangsa-bangsa di Nusantara pasti tahu
bahwa kemerdekaan Indonesia tidak untuk memusuhi siapa pun, negara mana pun..
Sebab, Indonesia secara dialektis adalah antitesa dari penjajahan.
Jadi, satu-satunya musuh yang harus dilawan bangsa Indonesia hanyalah isme,
kolonialisme-imperialisme, yang jelas tidak berperikemanusiaan dan
perikeadilan. Founding mothers & fathers mau bangsa merdeka ini tidak gampang
terkecoh urusan lahiriah dan golongan, baik itu londo imperialis putih, londo
hitam, londo kuning, maupun londo sawo mateng. Bagi saya, normal saja Anda
tidak tahu tentang itu karena Anda terlalu sibuk memaksakan cara pandang rasis
supaya saya memusuhi negara ini dan itu hanya karena Anda jiper pada ras yang
lain.
Khusus soal RRC Ping-Ping, Anda kan akui sendiri negara itu sebagai imperialis
terhadap EU. Panjang lebar Anda ngoceh untuk menyanjung bahwa negara
imperialis-baru itu adalah imperialis yang menghormati hukum internasional,
tanpa sepatah kata pun Anda jawab pertanyaan saya:
"seperti apa penghormatan RRC terhadap hukum internasional dalam sengketa
wilayah dengan negara-negara ASEAN (bukan cuma dengan Filipina) di Laut Cina
Selatan?"
Kalau tidak sanggup jawab ya tidak ada gunanya omong kosong Anda dilanjutkan.
--- yskp45@... wrote:
300 Tahun lebih,Spanyol Portugal, Inggeris, Perancis,
Belgia,Niederland,Jerman,merampok diseluruh Kontinent Duniai ini, termasuk di
China. Dengan kemenangan Uni Sowyet dalam Perang Dunia ke-II hancur system
Kolonialisme/Imperialisme Europa. Dan kemudian semua kaum Kolonial tsb.
dikumpulkan oleh US-Presiden Truman dalam satu Club yang bernama NATO: untuk
Spanol, Portugal, Inggeris, Perancis, Belgia,.Nierdeland dan Jerman mereka
membutuhkan NATO untuk merebut kembali posisi Kolonialisme mereka yang hilang;
untuk USA-membutuhkan Europa untuk batu loncatan expansionisme ke Kontinent
lainnya, terutama untuk melawan Uni Sowyet/Russia.
Yang sangat anehnya, tidak sepatahkatapun dari Anda mengenai kebrutalan
Kolonialisme/Imperialisme EU/NATO-USA, dan Anda pindahkan system Imperialisme
itu kepada RRT, atau Anda berharapan dengan anti-sosialisme akan memperoleh
Hadiah Nobel?
Atau, "seerkor Anjing menggonggongi sebuah bayangan; Anjing-Anjing lainnya
menerima signal tsb. sebagai bahaya realitas", dan menggonggonglah semuanya wow
wow wow, menggonggongi bayangan, bukan realitas".
Demikian yang sedang tejadi.
Saya pernah mengikuti sebuaht ulisan dengan inisial " Noroyono 1963," dengan
dramatis menulis:
“Awas, Bahaya Kuning dari Utara”, “PENJAJAH KUNING SEDANG MENGINTAI INDONESIA
" KE ARAH KOLONIALISME CHINA “, dan sesudah ini bermunculan Tulisan-Tulisan
Anti-RRT dengan nada seperti yang Anda Tulis "Imperialisme, Kapitalisme -
Sontoloyo,etc. dan itulah mereka-mereka, yang mengonggongi bayangan..". tanpa
menguasai siatuasi civilisasi Dunia pada Abad ke-XXI ini; bahwasanya Republik
Indonesia semenjak lebih dari 1/2 Abad Perkonomiannya dikuasai oleh
Perusahaan-Perusahaan Raksasa USA dan Kementerian Pertahanan R.I dikuasai oleh
CIA, semuanya diam seribu bahasa..
Delegasi Pemerintah RRT pada Pertemuan di Belgia- dengan EU mendemonstrasikan
Ofensive Politik Luarnegeri yang Damia dari RRT, dengan segalam ketentuan Hukum
Internasional yang berlaku.
--------------------------------
Pada Ming, 7/4/19, ajeg menulis:
Terimakasih. Jawaban Anda tentang cara melawan imperialisme dengan metode
imperialis cukup mempertegas posisi RRC sebagai negara imperialis berkembang
yaitu, beraninya cuma menekan negara-negara yang lebih lemah pertahanan dan
terutama ekonominya.
Jadi, menurut Anda kenapa RRC tidak berani membangun pulau-pulau buatan (basis
militer) di sepanjang pantai timur dan pantai barat AS misalnya, sebagai cara
melawan imperialisme "berciri Tiongkok"?
Juga, kembali ke topik asal, seperti apa penghormatan RRC terhadap hukum
internasional dalam sengketa wilayah dengan negara-negara ASEAN (bukan cuma
dengan Filipina) di Laut Cina Selatan?
--- yskp45@... wrote:
Hello Mr. ajeg ajegilelu, melawan Imperialisme dengan methode Imperialisme itu
sendiri dan di negeri Imperialisme itu sendiri, seperti di EU ( didalam EU
berkumpul semua kekuatan Kolonialisme/Imperialisme, yang merampok dengan
kekuatan Militer lebih dari 350 Tahun hampir diseluruh Kontionent di Dunia)
inilah salahsatu Seni dari Ofensive Damai Politik Luarnegeri Pemerintahan
RRT,yang tidak terlihat pada Abad ke-19 dan ke-20 dari pelaku-pelaku Hubungan
kenegaraan di Arena Internasional ketika itu dan Pemerintahan RRT tidak
melupakan Pembangunan Kemampuan kekuatan Militer RRT yang ampuh dan kuat.
Pemerintah RRT tidak membangun Kemiskinan dan Pembodohan Warganegara RRT di
negerinya,untuk itu Negara memerlukan Pembangunan Perekonomian Negeri disegala
bidang, termasuk Bussines di Arena Internasional dan sampai hari ini Pemerintah
RRT menghormati Hukum Internasional, dan itu bukan Sontoloyo Mr.wow,wow,wow.
Istilah "China-Kuli"-penghinaan untuk manusia China,yang dipakai hampir
diseluruh negeri-negeri yang dikuasai oleh Kolonialisme/Imperiliasme selama 350
Tahun, kini, dengan kehadiran RRTdi Arena Internasional yang kuat dibidang
Ekonomi, pun kekuatan Militer, istilah penghinaan "China-Kuli" habis dari
seluruh komunikasi. Mr.wow,wow,wow tidak mampu melihat kemenangan Kemanusiaan,
yang kelihatannya kecil, tetapi menentukan status Nasional sebuah Bangsa China
yang besar.
Make China Great again bukan romantisme massa lalu, melainkan untuk hari ini
dan menuju kedapan yang jauh, sesuai dengan Konstitusi RRT, dimana
jelas-jemelas tertulis "RRT menuju pembangun masyarakat siosialis", dan itu
akan melalui perjalana yang lauh berliku-liku.
Imperialisme Europa Union sedang berada dalam Erosi Politik-Integrasi yang
serius, dan hubungan Diplomatik yang tiggi dengan RRT akan memberikan cuaca
pembentukan hubungan Internasional tanpa kekerasan Militer. Kita ikuti
selanjutnya pada awal Minggu depan; delegasi Kementerian Luarnegeri RRT akan
berada di Brussel ( dan itu bukan Sontoloyo, semua berjalan dalam wadah Hukum
Internasional yang berlaku).
--------------------------------------------
Pada Sab, 6/4/19, ajeg menulis:
Nah, ini komentar agak lumayan, penuh keheranan berlumur romantisme masa
lalu. "Make RRT Great and Strong again" katanya tiba-tiba.
Betul, bahwa imperialisme-kapitalisme itu sontoloyo ya jelas harus dilawan.
Tinggal dicari caranya. Pertanyaannya, kenapa RRC sekarang ikut-ikutan jadi
sontoloyo (imperialis kapitalis)?
Kalau RRC serius mau melawan AS maka yang pertama harus dilakukan adalah stop
jadi sontoloyo. Kemudian unjuk gigi bikin pulau-pulau buatan (basis militer) di
sepanjang pantai timur dan barat AS-Kanada untuk membuktikan kesungguhan RRC
membangun komunisme di Pasifik selatan (Australia, Papua, Selandia Baru, Fiji
dst). Sekurangnya, masuklah ke Honolulu, jangan cuma sampai Manila.
Biarkan ASEAN jadi penonton VIP pertarungan raksasa komunis vs imperialis
kapitalis di Pasifik (atau sekedar imperialis maju vs imperialis berkembang?)
-- yskp45@... wrote:
Sangat aneh Bung Chanct,
Semenjak berakhir Perang Imperialisme Dunia ke-II. Filipina dijadikan USA
sebagai basis Militer untuk mengintervensi negara-negara Asia-Tenggara, dan
dari Pelabuhan Udara Manila berterbangan pesawat Udara penBom USA memBom
Vietnam, mengsubversi RRT, Uni Sowyet, mengintervensi, dan mengorganisasi
segala bentuk aksi penghancuran kekuasaan Negara Republik Indonesia-Presiden
Soekarno, pemberontakan PRRI, PERMESTA, membantu DII/TII sampai dengan Operasi
CIA yang dipimpin langsung oleh DUBES USA Marshal Green dan pelaku Lapangan
John Sotckwell bersama para Jendral TNI September 1965, dan tidak seorangpun
dari para heroik anti-RRT bilang itu adalah ofensive Imperialisme USA, untuk
menguasai selanjutnya regional Asia dan Pacific.
Permulaan Abad ke-XXI muncul RRT di Arena Internasional dengan ofensive Damai
berusaha mengexpos kehadiran Militer/kekuasaan USA dari Asia & Pacific dan
berteriak para anti-RRT , "itu adalah Imperialisme", amboi, amboi, Bung Chanct,
pada Abad ke-XXI banyak bentuk perjuangan, dari kekuatan Demokratis Civilisasi
Dunia dalam konstalasi imbangan kekuatan, yang selau berobah dan dengan RRT
yang sedang menuju bentuknya. Lihat umpamyana. Artikel dibawah, belum pernah
terjadi Volume perdagangan ( Business antara RRT dan Europa Union) dalam tempo
duabulan terakhir mencapai 100 Milliard USDolar, dan disini kelihatan, bahwa EU
sedang dalam perobahan konstalasi hubungan Internasional yang serius, dan saya
ikuti,para Pimpinan RRT sangat-hati-hati, menguasai Perekonomian Imperialisme
EU bukanlah masalah mudah, dan permulaan telah berjalan dengan baik, dalam
ketentuan hukum Internasional.
Mungkin pula akan berteriak para heroik anti-RRT, "itu adalah Imperilisme RRT
menguasai PerekonomianEU...???).
"Make RRT Great and Strong again".
Tjaniago