Terimakasih. Jawaban Anda tentang cara melawan imperialisme dengan metode imperialis cukup mempertegas posisi RRC sebagai negara imperialis berkembang yaitu, beraninya cuma menekan negara-negara yang lebih lemah pertahanan dan terutama ekonominya.
Jadi, menurut Anda kenapa RRC tidak berani membangun pulau-pulau buatan (basis militer) di sepanjang pantai timur dan pantai barat AS misalnya, sebagai cara melawan imperialisme "berciri Tiongkok"? Juga, kembali ke topik asal, seperti apa penghormatan RRC terhadap hukum internasional dalam sengketa wilayah dengan negara-negara ASEAN (bukan cuma dengan Filipina) di Laut Cina Selatan? --- yskp45@... wrote: Hello Mr. ajeg ajegilelu, melawan Imperialisme dengan methode Imperialisme itu sendiri dan di negeri Imperialisme itu sendiri, seperti di EU ( didalam EU berkumpul semua kekuatan Kolonialisme/Imperialisme, yang merampok dengan kekuatan Militer lebih dari 350 Tahun hampir diseluruh Kontionent di Dunia) inilah salahsatu Seni dari Ofensive Damai Politik Luarnegeri Pemerintahan RRT,yang tidak terlihat pada Abad ke-19 dan ke-20 dari pelaku-pelaku Hubungan kenegaraan di Arena Internasional ketika itu dan Pemerintahan RRT tidak melupakan Pembangunan Kemampuan kekuatan Militer RRT yang ampuh dan kuat. Pemerintah RRT tidak membangun Kemiskinan dan Pembodohan Warganegara RRT di negerinya,untuk itu Negara memerlukan Pembangunan Perekonomian Negeri disegala bidang, termasuk Bussines di Arena Internasional dan sampai hari ini Pemerintah RRT menghormati Hukum Internasional, dan itu bukan Sontoloyo Mr.wow,wow,wow. Istilah "China-Kuli"-penghinaan untuk manusia China,yang dipakai hampir diseluruh negeri-negeri yang dikuasai oleh Kolonialisme/Imperiliasme selama 350 Tahun, kini, dengan kehadiran RRTdi Arena Internasional yang kuat dibidang Ekonomi, pun kekuatan Militer, istilah penghinaan "China-Kuli" habis dari seluruh komunikasi. Mr.wow,wow,wow tidak mampu melihat kemenangan Kemanusiaan, yang kelihatannya kecil, tetapi menentukan status Nasional sebuah Bangsa China yang besar. Make China Great again bukan romantisme massa lalu, melainkan untuk hari ini dan menuju kedapan yang jauh, sesuai dengan Konstitusi RRT, dimana jelas-jemelas tertulis "RRT menuju pembangun masyarakat siosialis", dan itu akan melalui perjalana yang lauh berliku-liku. Imperialisme Europa Union sedang berada dalam Erosi Politik-Integrasi yang serius, dan hubungan Diplomatik yang tiggi dengan RRT akan memberikan cuaca pembentukan hubungan Internasional tanpa kekerasan Militer. Kita ikuti selanjutnya pada awal Minggu depan; delegasi Kementerian Luarnegeri RRT akan berada di Brussel ( dan itu bukan Sontoloyo, semua berjalan dalam wadah Hukum Internasional yang berlaku). -------------------------------------------- Pada Sab, 6/4/19, ajeg menulis: Nah, ini komentar agak lumayan, penuh keheranan berlumur romantisme masa lalu. "Make RRT Great and Strong again" katanya tiba-tiba. Betul, bahwa imperialisme-kapitalisme itu sontoloyo ya jelas harus dilawan. Tinggal dicari caranya. Pertanyaannya, kenapa RRC sekarang ikut-ikutan jadi sontoloyo (imperialis kapitalis)? Kalau RRC serius mau melawan AS maka yang pertama harus dilakukan adalah stop jadi sontoloyo. Kemudian unjuk gigi bikin pulau-pulau buatan (basis militer) di sepanjang pantai timur dan barat AS-Kanada untuk membuktikan kesungguhan RRC membangun komunisme di Pasifik selatan (Australia, Papua, Selandia Baru, Fiji dst). Sekurangnya, masuklah ke Honolulu, jangan cuma sampai Manila. Biarkan ASEAN jadi penonton VIP pertarungan raksasa komunis vs imperialis kapitalis di Pasifik (atau sekedar imperialis maju vs imperialis berkembang?) -- yskp45@... wrote: Sangat aneh Bung Chanct, Semenjak berakhir Perang Imperialisme Dunia ke-II. Filipina dijadikan USA sebagai basis Militer untuk mengintervensi negara-negara Asia-Tenggara, dan dari Pelabuhan Udara Manila berterbangan pesawat Udara penBom USA memBom Vietnam, mengsubversi RRT, Uni Sowyet, mengintervensi, dan mengorganisasi segala bentuk aksi penghancuran kekuasaan Negara Republik Indonesia-Presiden Soekarno, pemberontakan PRRI, PERMESTA, membantu DII/TII sampai dengan Operasi CIA yang dipimpin langsung oleh DUBES USA Marshal Green dan pelaku Lapangan John Sotckwell bersama para Jendral TNI September 1965, dan tidak seorangpun dari para heroik anti-RRT bilang itu adalah ofensive Imperialisme USA, untuk menguasai selanjutnya regional Asia dan Pacific. Permulaan Abad ke-XXI muncul RRT di Arena Internasional dengan ofensive Damai berusaha mengexpos kehadiran Militer/kekuasaan USA dari Asia & Pacific dan berteriak para anti-RRT , "itu adalah Imperialisme", amboi, amboi, Bung Chanct, pada Abad ke-XXI banyak bentuk perjuangan, dari kekuatan Demokratis Civilisasi Dunia dalam konstalasi imbangan kekuatan, yang selau berobah dan dengan RRT yang sedang menuju bentuknya. Lihat umpamyana. Artikel dibawah, belum pernah terjadi Volume perdagangan ( Business antara RRT dan Europa Union) dalam tempo duabulan terakhir mencapai 100 Milliard USDolar, dan disini kelihatan, bahwa EU sedang dalam perobahan konstalasi hubungan Internasional yang serius, dan saya ikuti,para Pimpinan RRT sangat-hati-hati, menguasai Perekonomian Imperialisme EU bukanlah masalah mudah, dan permulaan telah berjalan dengan baik, dalam ketentuan hukum Internasional. Mungkin pula akan berteriak para heroik anti-RRT, "itu adalah Imperilisme RRT menguasai PerekonomianEU...???). "Make RRT Great and Strong again". Tjaniago
