Ingat, ... yang diakui selama ini BUKAN KECURANGAN Penyelenggara PEMILU, KPU, Bawaslu! Tapi, ... kecurangan dikedua belah pihak, yang katanya dilakukan dari kubu-01 dan kubu-02, ... tinggal dilihat pembuktiannya sampai dimana oleh bawaslu, bisa masuk pinalti atau tidak!

ajeg [email protected] [GELORA45] 於 7/5/2019 9:58 寫道:
Yang pasti kubu TKN bahkan Jokowinya sendiri sudah mengakui adanyanya kecurangan.

Mana bisa pengakuan ini ditutupi dengan brimob berpeluru tajam, sedangkan laporan masyarakat berupa data, video, audio, foto, tentang kecurangan dan ketidakadilan terus membanjir di medsos sejak sebelum 17 April hingga hari ini. Hampir setiap hari ada saja temuan baru di berbagai daerah, sampai Wiranto kewalahan membantah lalu mau main bungkam medsos.

Kenapa begitu? Nah, silakan ikuti terus perkembangannya dari berbagai sumber. Pahami masalah sebenarnya. Jangan cuma ongkang-ongkang minta diceritakan lalu seenaknya membantah sambil njeplak sebagai jubir penguasa, hahaha!

Paham masalah (dalam urusan apa pun) sangat baik kok untuk kesehatan.

--- SADAR@... wrote:

    Dalam pengertian saya, yang dikatakan pemilu harus JURDIL, jujur
    dan adil itu utamanya bagi PENYELENGGARA PEMILU tidak boleh
    berpihak pada salah satu kubu capres dengan lakukan kecurangan!
    Tentu sangat sulit dihindari adanya kecurangan pihak peserta
    pemilu yang jutaan itu! Sampai detik ini yang berhasil saya ikuti
    dari jauh, BELUM ada pembuktian akurat pihak KPU, Bawaslu,
    penyelenggara pemilu yg berbuat curang! Atau bung bisa ajukan data
    fakta akurat untuk membuktikan itu???

    Yang banyak diberitakan sebagai kecurangan, sebelum pencoblosan,
    bpn mengajukan kecurigaan DPT sampai jutaan yg dipersoalkan, dan
    sudah ditanggapi KPU dan mengoreksi kesalahan yg ternyata memang
    salah. Adanya ASN, polisi, kepala desa, direktur BUMN yg gunakan
    mewenang untuk mobilisasi pegawai memilih kubu-01, ... ada oknum
    main politik-uang, bagi-bagi amplop;

    Kemudian di hari pencoblosan, ditemukan ada surat-suara sudah
    dicoblos, ada TPS menerima beberapa warga tidak terdaftar DPT bisa
    nyoblos, ... menolak antrian warga utk nyoblos hanya karena waktu
    sudah berakhir, kurang surat-suara terjadi, dsb, dll.nya lagi, ...
    Dan, nampaknya masih bisa ditangani KPU dengan cukup baik,
    termasuk pemilihan di TPS itu diulang atau dilanjutkan, ...

    Begitu juga dengan kesalahan-kesalahan hitungan suara, kesalahan
    input suara yg terjadi di TPS dan hitungan di kecamatan, ... yg
    dinyatakan kesalahan manusia itu! Segera bisa dibetulkan! Dan
    menurut saya dengan keterbukaan disetiap TPS dan adanya
    saksi-saksi begitu banyak disetiap TPS, membuat SULIT atau bahkan
    tidak mungkin terjadi kecurangan! Kecuali kepala TPS itu berhasil
    sekongkol dengan saksi-saksi yg ada, ...! Dan kalau itu bisa
    terjadi, juga sangat sulit untuk terjadi secara struktural,
    sistimatis dan masif, ... spt dituduhkan bpn! Yaa, coba saja kita
    tunggu bagaimana tanggapan Bawaslu atas laporan bpn yg katanya
    lebih 71 ribu kecurangan yang disampaikan itu.

    TENTU saya juga tidak akan menganggap hanya bumbu dapur yg jadi
    masalah dihadapi rakyat banyak! Itukan sekadar menanggapi apa yb
    bung ajukan saja. Yang ingin saya ajukan, apa yang bisa dicapai
    dalam perjuangan rakyat tentu sesuai dengan keadaan OBJEKTIF
    ketika itu, utamanya imbangan kekuatan rakyat dengan penguasa.
    Nampaknya, dengan bisa dikeluarkan berbagai jenis kartu Jokowi
    itulah yg bisa diterima sekarang ini. Itulah kemampuan kekuatan
    rakyat yg ada sekarang ini, untuk sedikit membantu mengatasi
    kesulitan hidup yg dihadapi di lapisan bawah. Untuk mencapai
    BANTUAN lebih baik bahkan radikal, yaa harus diperjuangkan lebih
    lanjut, ... dan jelas itu hanya mungkin dicapai dikemudian hari!

    Tapi tidak menampik, menentang ataupun menghujat apa yang bisa
    dicapai sekarang ini! Sekalipun saya sendiri berpendapat, kalau
    saja pemerintah belum berkemampuan, belum mungkin menyediakan dana
    lebih besar, bentuk-betuk subsidi yg hendak diberikan, akan lebih
    baik dan bijaksana dijatuhkan pada warga yang betul membutuhkan
    subsidi. TIDAK spt sekarang diberlakukan untuk seluruh warga!
    Akibatnya, BPJS membludag dan pemerintah kesulitan membahar hutang
    RS yg sudah menangani warga yg berobat di RS itu.

    Mungkin pendataan catatan sipil masih amburadul, itu kalau saya
    perhatikan KPU dalam menyusun DPT, masih begitu banyak masalah,
    ... tentu akan sulit untuk menentukan secara akurat warga yg butuh
    BANTUAN subsidi pemerintah, ...! Jadi, spt sekarang ini berlakukan
    saja utk seluruh warga! Ambil gampangnya saja, syukurlah kalau
    langkah berikut pemerintah masih bisa menemukan cara membayar
    hutang dengan dikeluarkan kartu BPJS itu.


    ajeg 於 7/5/2019 2:26 寫道:
    Azas pemilu adalah jujur dan adil. Kubu Jokowi-Maruf sudah
    mengakui ada kecurangan.

    Lepas dari siapa pelaku kecurangan, pengakuan ini jelas
    menyatakan bahwa pemilu 2019 melanggar azas jurdil. Ada
    pelanggaran terhadap hal yang prinsip. Ditambah jatuhnya ratusan
    petugas meninggal, sudah pasti pemilu 2019 adalah pemilu yang
    terburuk. Sarat masalah. Apa pengakuan ini mau diabaikan? Apa
    pemilu seburuk ini tidak mengganggu Anda sehingga tetap
    mati-matian membela kepentingan penguasa? Apa penguasa itu pernah
    membela kepentingan Anda?

    Jangan lupa, masalah yang ditimpakan Jokowi ke para pemilihnya
    bukan cuma harga bumbu dapur.

    --- SADAR@... wrote:

        Lalu, ... karena kedua capres yg muncul dianggap tidak ideal,
        sama-sama BUTUT, bung jadi GOLPUUUT!!! Setelah menghadapi
        masalah konkrit harga bumbu dapur terus naik, berteriak, ...
        pihak pemerintah yang berkuasa sekarang bisa keluarkan
        kartu-kartu yg mungkin sedikit membantu. Lalu, bung hendak
        menuntut dibagikan saja bumbu dapur itu? atau menemukan jalan
        apa yang masih bisa dilakukan rakyat dibawah???


        ajeg 於 6/5/2019 14:45 寫道:

        Hahaha, kayak Mahfud saja Anda, omongannya normatif tapi
        berpihaknya tetap ke penguasa. Selalu cari aman.

        Anda salah mengartikan kalimat saya tentang kemungkinan MK
        kesurupan lagi seperti 2014 sehingga mendukung kecurangan:
        "Lalu Rakyat mau apa? Bisa apa menghadapi de jure kekuasaan?

        Rakyat memang tidak bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi
        kelicikan nekolim yang memakai hukum sebagai alat kekuasaan,
        menguasai de jure.

        Tetapi Rakyat punya de facto.

        Harga bumbu dapur saja (rawit, bawang, garam dll) setiap hari
        naik. Sudah lebih 100% dari bulan lalu. Belum lagi kebutuhan
        lain. Semua angka bergejolak. Satu-satunya yang stabil adalah
        pertumbuhan. Masih tetap 5% ...

        Lalu, pemerintah berkuasa mau apa? Bisa apa menghadapi de
        facto ini? Bagi-bagi kartu?!?

        --- SADAR@... wrote:

        Yaaa, ... TIDAK ADA jalan lain kecuali yg merasa diri pejuang
        RAKYAT harus bergerak lebih cepat dan bijaksana perkuat diri,
        sehingga mampu menampilkan capresnya sendiri yang dianggap
        ideal dan memenangkannya!

        Selama belum berkemampuan, yaa seperti sekarang ini hanya
        bisa ikutan menangkan capres yg dianggap sedikit lebih baik
        utk rakyat, ...! Inilah proses yang harus dilalui dan tidak
        mungkin dilompati. Gunakanlah sebaik-baiknya untuk berjuang
        memperkokoh yang dinamakan barisan kekuatan rakyat, jangan
        buang waktu lewat begitu saja dengan hanya menggerutu,
        menyalahkan ini atau menghujat itu! Cambuklah diri sendiri
        kenapa lebih 20 tahun terakhir ini TIDAK juga BERHASIL
        perkuat diri sehingga berkemampuan melawan neolib, kekuasaan
        oligarki yg kangkangi kekuasaan selama ini!!!

        Cobalah perhatikan, sepintas bisa dikatakan kalah dengan
        kelompok Islam radikalis yg nampak makin agresif unjuk gigi
        dimana-mana itu, ... Beruntunglah kemungkinan besar sudah
        bisa dipastikan Prabowo kalah! Bukankah kalau Prabowo
        berhasil menang, akan terbuka luang bagi Islam radikal itu
        mengembangkan kekuatan dan lebih celaka bagi rakyat banyak!

        ajeg 於 5/5/2019 22:11 寫道:

        Seperti saya bilang, tidak ada jaminan Bawaslu-KPU akan
        menanggapi laporan kecurangan karena sang dalang antek
        nekolim terlanjur memakai pakem kecurangan 2014,
        "diselesaikan secara hukum" ke MK -- hebat ah, tiba-tiba Anda
        percaya pada penegakkan hukum yang Anda bilang butut, hehe...
        Jauh de jure dari de facto.

        Taruhlah semua berjalan lancar seperti 2014, MK membenarkan
        kecurangan dan Jokowi dilantik jadi presiden lagi. Lalu
        Rakyat mau apa? Bisa apa menghadapi de jure kekuasaan?

        Paling jadinya seperti deja vu era SBY, bangsa ini buang
        waktu 10 tahun; periode I si SBY pura-pura sibuk kelahi
        dengan teroris dan periode II repot menangkis tamparan
        kader-kadernya yang ketahuan korup. Rakyat keleleran.

        Bagaimana dengan rezim sekarang? Jelas Rakyat buang waktu 5
        tahun lagi untuk sekedar mengulang: 1. dijejali curhat "saya
        bukan PKI"; 2. pertumbuhan 5%; 3. dicekik harga kebutuhan; 4.
        menanggung utang baru untuk bayar bunga utang lama; 5.
        nyampah di laut dengan bangkai kapal dll. dsb. Apa Rakyat mau
        mengulang de facto kayak gini lagi?

        Ini bukan soal menang-menangan atau prokontra wiwiwowo, ini
        soal akal sehat dan hak Rakyat untuk melanjutkan kehidupan di
        negeri sendiri.

        --- SADAR@... wrote:

        Tentu kecurang-kecurangï yg terbukti itu akan ditindak
        lanjuti oleh Bawaslu dan KPU sebagai penyelenggara Pemilu,
        ... Yang JELAS sampai hari ini saya BELUM dengar ada
        kecurangan yg terungkap dilakukan KPU!

        Seperti terjadi pencoblosan surat-suara di Selangor Malaysia
        sampai 40-50ribu untuk capres 01, juga dilakukan sementara
        oknum, dan masih belum bisa dipastikan apakah surat-suara itu
        asli yg dikeluarkan KPU, karena masih dibawah pemeriksaan
        polisi Malaysia-dan Indonesia. Tapi, segera akan dilakukan
        pemilihan ulang, sekitar 15 May utk warga yg sudah daftar
        gunakan pos, ... di Surabaya juga terjadi kesalahan TPS yg
        menerima sejumlah pemilih tidak terdaftar dalam DPT, akhirnya
        dilakukan pemilihan ulang. Pokoknya, kesalahan yg dikatakan
        kecurangan-kecurangan itu pada pokoknya bisa terungkap oleh
        saksi-saksi di TPS ataupun oleh Bawaslu, dan masih bisa
        ditindak lanjuti untuk dilakukan pemilihan ulang, ... Itulah
        tanggungjawab KPU.

        Kalau saja masih ada yg belum puas, dan mampu ajukan
        bukti-bukti kecurangan yang lebih mendasar, yaa laporkan saja
        ke BAWASLU, kalau masih juga meragukan keakuratan hasil
        hitungan manual PKU yg nanti diumumkan KPU, ya ajukan pada
        MK! Gitu aja kok repot!

        ajeg 於 5/5/2019 15:34 寫道:

        Pesertanya saja ngaku ada kecurangan. Tinggal, sejauh mana
        KPU berani mengakui adanya kecurangan.

        Terlepas siapa pun pelakunya, 01; 02; atau pihak ketiga,
        tetap saja pemilu adalah tanggungjawab KPU.

        --- SADAR@... wrote;

        Hahahaa, ... itu kan kecurangan-kecurangan yang terjadi
        dilakukan dibawah, baik kubu-01 maupun kubu-02, ... bukan
        kecurangan yang dilakukan KPU! Dan, ... semua kecurangan yg
        terjadi itu harusnya diadukan ke Bawaslu beserta
        bukti-buktinya untuk ditanggapi, bisa betul bisa juga bukan
        apa-apa!

        Kita tunggu saja kesimpulannya, ... Tapi, yang PASTI, sampai
        sekarang ini BELUM ada yg bisa buktikan kecurangan sistem
        penghitungan IT yg dilakukan KPU spt bung ajukan itu
        (Rumusnya, 1+2+3=123.)! Itu jelas HOAX dan hanya utk
        delegitimasi KPU saja! Juga belum ada yang ajukan dalam
        penghitungaqn suara dari TPS yg beranjak ke kecamatan,
        propinsi dan pusat itu, kecuali yg dianggap kesalahan
        manusia, ... kesalahan input, kesalahan C1, kesalahan hitung
        dll., yang sulit dikatakan kesengajaan.

        ajeg 於 5/5/2019 14:26 寫道:
        Jadi, kecurangan memang ada.
        Betul-betul pemilu terburuk. Satu saja suara Rakyat hilang
        itu sama artinya dengan kejahatan berat atas kemanusiaan.
        Apalagi pemilu ini menghilangkan nyawa ratusan petugas!
        Hampir duakali lipat jumlahnya dari korban tewas bom Srilanka.
        
http://www.tribunnews.com/nasional/2019/05/02/akui-ada-kecurangan-pemilu-tkn-jokowi-maruf-tapi-tak-terstruktur-sistematis-dan-masif





---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke