Yang menjadi pertanyaan dan seharusnya dipikirkan lebih CERMAT oleh pakar-pakar pemerhati dan peduli gerak perjalanaqn bangsa ini, mengapa dan pantaskah anak-anak sekolah (dibawah-umur) turun kejalan memperjuangkan "cita-cita" yg dianggap luhur itu dengan KEKERASAN, menghujat aparat keamanan dengan hujan batu, ...???

Mudah2an saja TIDAK terjadi seperti aksi kerusuhan di HK, dimana seorang anak usia 13 tahun tertangkap saat ikut aksi memblokir Bandara-HK tertangkap. Dan atas dasar pengakuannya, aksi hari itu dia bisa dapatkan HK$4 .000,- dan selama lebih 2bulan lebih ini, sejak bulan Juni dia berhasil dapatkan sekitar 30Ribu dollar! Hampir-hampir dia sudah berniat mengajak adiknya, ... Masa kanak-kanak yang masih POLOS itu harus didorong untuk utamakan menguasai ilmu sebaik-baiknya, bukan didorong melanggar HUKUM menuntut TUJUAN absurd yg tidak masuk akal dengan kejar "penghasilan" yg cukup menggiurkan itu!!! Tempo hari juga ada berita seorang pemuda Ir. sudah dapatkan kerjaan cukup baik, dengan bayaran 19Ribu juga nekad melepaskan kerjaan, menjadi aktifis aksi kerusuhan, .... karena sebulan bisa dapatkan lebih 30ribu Dollar!

Apa jadinya BANGSA ini kalau anak-anak bangsa yg tumbuh menjadi manusia-manusia anarkis, yang main labrak dan secara BRUTAL perjuangkan kehendak sendiri TANPA PEDULIKAN kesatuan dan persatuan BANGSA!



ajeg [email protected] [GELORA45] 於 25/9/2019 21:58 寫道:
Mumpung demo lagi jeda maghrib, ngetik iseng.

Hari ini mahasiswa-mahasiswi Jakarta absen memberi kuliah #TurunkanJokowi di Gedung DPR/MPR. Tetapi ada dosen-dosen pengganti yang terdiri dari ribuan pelajar sekolah menengah yang sebagian besar berseragam STM/SMK (bukan merk mobil kondang). Tanpa babi atau bu para "dosen" ini langsung menguliahi polisi dengan hujan batu yang cukup deras.

Selalu, partisipasi pelajar dalam demonstrasi pro Rakyat selalu mengagumkan. Bayangkan, di usia yang masih sangat muda mereka terpaksa turuntangan dalam urusan para dewasa yang tidak becus, hehe... Diantara demo dengan jumlah pelajar yang besar antara lain, demo Tritura'66; Malari'74; SU-MPR'78; dan Reformasi'98.

Berbeda dari semua demo pro Rakyat itu, boleh jadi demo TurunkanJokowi2019 ini paling istimewa. Para pelajar tampil solo tanpa didampingi kakak-kakak mahasiswa maupun pemuda-pemudi demonstran. Sangat mandiri. Bahkan korps pelajar yang terkenal ahli tawuran ini kelihatan mahir bikin barikade api dari ban-ban bekas.

Dari pengakuan beberapa pelajar, gerakan mereka terkoordinir melalui media s osial. Namun tidak sedikit yang mengaku geram melihat kekerasan polisi terhadap abang-abang mahasiswa sehingga merasa terpanggil untuk melawan polisi yang merupakan musuh bebuyutan sehari-hari mereka. Maksudnya, mereka mau mengatakan konsolidasi dan koordinasi antar-STM :) berlangsung secara offline. Sedangkan tagar #STMMelawan di media sosial hanya sebagai kode asap untuk bergerak.  O ya?

Pertanyaannya, ke mana mahasiswa/i Jakarta hari ini, kok baik hati sekali berbagi jadwal kuliah dengan adik-adik STM/SMK.

Tidak satu pelajar pun bisa menjawab siapa yang berkoordinasi dengan mahasiswa untuk jadwal hari ini, kecuali berupaya membela bahwa para abang dan mpok mahasiswa absen lantaran ditangkapi dan masuk rumahsakit! Apa nggak pengin nangis lihat kecintaan adik terhadap kakaknya begini...

Barangka li (barangkali lho) yang tahu jawabannya ya cuma kakak-kakak pembina di istana. Itu pun tidak ada jaminan kakak pembina sudi atau bernyali untuk menjawab.

Baiklah, rupanya kuliah sudah dimulai lagi. Dengan sessi dialog hujan batu dijawab hujan petasan dan airmata (gas).

Yang sebel buang saja catatan iseng ini.






--
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke