----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: ChanCT [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: "[email protected]" 
<[email protected]>; [email protected] <[email protected]>Terkirim: 
Kamis, 26 September 2019 02.46.40 GMT+2Judul: Re: [GELORA45] dibuang sayang
     
 

Yang menjadi pertanyaan dan seharusnya dipikirkan lebih CERMAT oleh pakar-pakar 
pemerhati dan peduli gerak perjalanaqn bangsa ini, mengapa dan pantaskah 
anak-anak sekolah (dibawah-umur) turun kejalan memperjuangkan "cita-cita" yg 
dianggap luhur itu dengan KEKERASAN, menghujat aparat keamanan dengan hujan 
batu, ...???
 
Mudah2an saja TIDAK terjadi seperti aksi kerusuhan di HK, dimana seorang anak 
usia 13 tahun tertangkap saat ikut aksi memblokir Bandara-HK tertangkap. Dan 
atas dasar pengakuannya, aksi hari itu dia bisa dapatkan HK$4 .000,- dan selama 
lebih 2bulan lebih ini, sejak bulan Juni dia berhasil dapatkan sekitar 30Ribu 
dollar! Hampir-hampir dia sudah berniat mengajak adiknya, ... Masa kanak-kanak 
yang masih POLOS itu harus didorong untuk utamakan menguasai ilmu 
sebaik-baiknya, bukan didorong melanggar HUKUM menuntut TUJUAN absurd yg tidak 
masuk akal dengan kejar "penghasilan" yg cukup menggiurkan itu!!! Tempo hari 
juga ada berita seorang pemuda Ir. sudah dapatkan kerjaan cukup baik, dengan 
bayaran 19Ribu juga nekad melepaskan kerjaan, menjadi aktifis aksi kerusuhan, 
... karena sebulan bisa dapatkan lebih 30ribu Dollar!
 
 
Apa jadinya BANGSA ini kalau anak-anak bangsa yg tumbuh menjadi manusia-manusia 
anarkis, yang main labrak dan secara BRUTAL perjuangkan kehendak sendiri TANPA 
PEDULIKAN kesatuan dan persatuan BANGSA!
 

 
 

 
 ajeg [email protected] [GELORA45] 於 25/9/2019 21:58 寫道:
  
      Mumpung demo lagi jeda maghrib, ngetik iseng. 
  Hari ini mahasiswa-mahasiswi Jakarta absen memberi kuliah #TurunkanJokowi di 
Gedung DPR/MPR. Tetapi ada dosen-dosen pengganti yang terdiri dari ribuan 
pelajar sekolah menengah yang sebagian besar berseragam STM/SMK (bukan merk 
mobil kondang).  Tanpa babi atau bu para "dosen" ini langsung menguliahi polisi 
dengan hujan batu yang cukup deras.  
  Selalu, partisipasi pelajar dalam demonstrasi pro Rakyat selalu mengagumkan. 
Bayangkan, di usia yang masih sangat muda mereka terpaksa turuntangan dalam 
urusan para dewasa yang tidak becus, hehe... Diantara demo dengan jumlah 
pelajar yang besar antara lain, demo Tritura'66; Malari'74; SU-MPR'78; dan 
Reformasi'98.  
  Berbeda dari semua demo pro Rakyat itu, boleh jadi demo TurunkanJokowi2019 
ini paling istimewa. Para pelajar tampil solo tanpa didampingi kakak-kakak 
mahasiswa maupun pemuda-pemudi demonstran. Sangat mandiri. Bahkan korps pelajar 
yang terkenal ahli tawuran ini kelihatan mahir bikin barikade api dari ban-ban 
bekas.  
  Dari pengakuan beberapa pelajar, gerakan mereka terkoordinir melalui media s 
osial. Namun tidak sedikit yang mengaku geram  melihat kekerasan polisi 
terhadap abang-abang mahasiswa sehingga merasa terpanggil untuk melawan polisi 
yang merupakan musuh bebuyutan sehari-hari mereka. Maksudnya, mereka mau 
mengatakan konsolidasi dan koordinasi antar-STM :) berlangsung secara offline. 
Sedangkan tagar #STMMelawan di media sosial hanya sebagai kode asap untuk 
bergerak.  O ya? 
  Pertanyaannya, ke mana mahasiswa/i Jakarta hari ini, kok baik hati sekali 
berbagi jadwal kuliah dengan adik-adik STM/SMK.  
  Tidak satu pelajar pun bisa menjawab siapa yang berkoordinasi dengan 
mahasiswa untuk jadwal hari ini, kecuali berupaya membela bahwa para  abang dan 
mpok mahasiswa absen lantaran ditangkapi dan masuk rumahsakit! Apa nggak pengin 
nangis lihat kecintaan adik terhadap kakaknya begini... 
  Barangka li (barangkali lho) yang tahu jawabannya ya cuma kakak-kakak pembina 
di istana. Itu pun tidak ada jaminan kakak pembina sudi  atau bernyali untuk 
menjawab. 
  Baiklah, rupanya kuliah sudah dimulai lagi. Dengan sessi dialog hujan batu 
dijawab hujan petasan dan airmata (gas).  
  Yang sebel buang saja catatan iseng ini.  
  
  
     
 
 
|  | 不含病毒。www.avg.com  |

     

Kirim email ke