Vick, kelihatannya tak ada jaminan bahwa brain itu pasti menemukan minyak,
walaupun Wallace Pratt pernah bilang "oil is firstly found in the minds of
men". Dan saat brain itu kembali ke negeri ini pun tak ada jaminan juga bahwa
akan menemukan minyak. Pikiran memang harus bagus, tetapi kalau tempatnya
memang kering (contoh : Melawi, Ketungau, Mandai, Keriau, Kahayan), ya akan
tetap kering juga sebagus apapun pikiran itu. Upper Kutei Basin itu pernah
dikerjakan oleh lebih dari 10 operator expat dari akhir tahun 1969an, tentu
banyak yang punya beautiful mind pernah mengerjakannya. Toh sampai sekarang pun
di peta status basin Indonesia ia tetap : drilled basin, no discovery.
Tapi benar, bahwa dengan go international semua pengalaman dan keahlian
(semoga) akan bertambah, hanya rasanya tidak selalu berkorelasi positif dengan
penemuan hidrokarbon.
Salam,
awang
Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
----deleted
Namun kalau dihitung "hasil kerja" yg dilakukan si pekerja tsb (berupa
laporan tenis, nilai ilmu, nilai intelektual dll) tentunya bernilai
lebih dari 10-20 rb $/bl. Nah seandainya nilai "brain" ini akhirnya
dipakai utk melakukan pengeboran dan menghasilkan minyak jutaan barel
minyak yg bernilai lebih dari jutaan $$$, maka nilai "brain" ini
menjadi tak ternilai lagi tingginya. Sehingga jelas bahwa negara yg
mengalami brain drain akan "rugi" kehilangan kesempatan untuk
memperoleh jutaan $.
----deleted
---------------------------------
Do you Yahoo!?
All your favorites on one personal page � Try My Yahoo!