Wah setabal apa bukunya Junghuhn di P3G itu Pak Awang? 20 cm 4 buku itu?
Tulisan tangan atau sudah hasil mesin ketik/cetak? Baru saya tahu kalau
Junghuhn juga geologist.

Apa saja di baca oleh Pak Awang ini. Bahasa Belanda-pun amat faham, dari
pernah sebut 2000'an buku di rumah beliau. Sayang saya belum boleh
melihatnya di Bogor itu. 

Memang, bagi tukang loak, banyak buku nilainya hanya beberapa ribu.
Tapi, bagi yang berilmu, sering harga menjadi berlipat. Contoh nilai
tinggi ilmu tentang info harga transportasi laut Indonesia bisa seharga
orang menemukan ladang Minyak. Logikanya: bila tak ada transpotasi laut
Indonesia, maka transpotasi minyak dari TimTeng ke Jepang, lebih jauh,
dan harga minyak menjadi 2 kali lipat ke konsumen!. 

Bagi yang tak tahu nilai tingginya, fosil kepala Trinil ya untuk mainan
sepak-bola saja waktu itu. Padahal, Dobois, jauh-jauh dari Eropa,
melihat kemungkinan fosil ada disitu. Juga Walace, melihat keberagaman
ya di Indonesia. Geologist dunia, belum mantab kalau belum melihat
ke-kompleks-an geologi Indonesia. Kaya ya Indonesia.

Junghuhn disebut mulai memetakakan geologi Indonesia, th 1839. Wah,
masih jauh dari "malaise" kejatuhan ekonomi 1860, waktu mesin pertama
dengan bahan bakar ditemukan, lalu Otto (Jerman) membuat paten 1880'an.
Minyak lalu baru di cari, Drake ngebor pertama, 1885. Mobil Ford baru
mulai di produksi 1895, harga minyak masih rendah, 3 USD/barel.  Tentu
hasil pemetaan itu untuk dasar pencarian minyak dan temukan ladang
Cepu/Wonokromo itu, untuk juga explorasi hingga Sumatra
Utara-Tengah-Selatan di akhir abad 19 ini. 

Sebenarnya saya tertaik dengan buku "Rob Nieuwenhuys "Oost Indische
Spiegel" (1972), kalau bisa bahasanya. Kayaknya di loak Kwitang itu ada
buku bahasa aslinya tulisan Einstein, tapi ya tidak ku beli wong gak
ngerti bahasanya.

Salam,
Maryanto.

-----Original Message-----
From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, May 09, 2005 1:03 PM
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [iagi-net-l] Junghuhn : Bukan Hanya Karena Kina


Bagaimana kita mengenal Junghuhn ? Orang pertama yang membawa dan
menanam kina (di Lembang) ? Sungguh lebih dari itu. Junghuhn adalah
sepenting Verbeek, Fennema, dan van Bemmelen dalam perkembangan
pengetahuan geologi Indonesia. 
 
Kalau sempat ke Bandung dan mampir ke perpustakaan P3G di Jl.
Diponegoro, ada dua buku kuno sangat tebal tentang Jawa. Yang satu
tulisan Franz Junghuhn (1848), "Java : Deszelfs Gedaante, Bekleeding en
Inwendige Structuur" dan yang lain tulisan Verbeek dan Fennema (1896),
"Geologische Beschrijving van Java en Madoera". Saya membuka2 buku2 itu
hampir 17 tahun yang lalu, saat mengumpulkan keterangan tentang Ciletuh.
Semoga sekarang masih terjaga dengan baik.
 
Junghuhn, adalah peneliti dan penulis pertama geologi Jawa. Datang ke
Indonesia tahun 1835 sebagai seorang dokter tentara dengan sikap hidup
penuh kekecewaan dan penderitaan akibat perang di Jerman dan Prancis.
"Hiduplah dengan dirimu sendiri. Jangan bergaul dengan seorang pun.
Jangan mencari kepuasan hati pada orang-orang lain, jangan mencari
kebahagiaan di luar dirimu, jangan mendewa-dewakan sesuatu selain alam
raya" Begitulah sumpah dan "pengakuan iman" Junghuhn saat ia memasuki
pelabuhan Pasar Ikan, Batavia 12 Oktober 1835. 
 
Junghuhn lahir di Jerman tahun 1809, dididik dengan sangat keras oleh
ayahnya, masuk ke kedokteran, dipaksa keluar untuk berdinas di
ketentaraan Prusia (Jerman). Dijatuhi hukuman 10 tahun akibat
pelanggaran disiplin. Meringkuk 20 bulan di penjara kuno, lari ke
Prancis. Mendaftar sebagai tenaga sukarela tentara Prancis. Bertugas di
Afrika. Dikirim pulang ke Prancis karena sakit. Lari ke Belanda,
mendaftar sebagai tentara dan dikirim ke Oost Indies (Indonesia). 
 
Di Indonesia, Junghuhn hanya bertugas tiga tahun tujuh bulan sebagai
dokter di Batavia, Bogor, Semarang, Yogyakarta. Dia menghabiskan waktu
bujangannya dengan berkelana SEMBILAN tahun dari Ujung Kulon ke
Banyuwangi, dari pantai Laut Jawa ke pantai Samudera Hindia. Mendaki
semua gunung di Jawa, berjalan bersama para kulinya meneliti batuan,
flora, fauna, mengambil sampel, tidur di gubuk-gubuk penduduk atau
berkemah di tengah hutan. 
Tentu dia kini bahagia sebab mendapatkan panggilan hidupnya.
 
Tahun 1848, Junghuhn kembali ke Belanda sebagai cuti sakit. Kali ini dia
tidak lari lagi, tetapi menggunakan waktu cuti sakitnya untuk menulis
semua hasil penelitian sembilan tahunnya, maka keluarlah bukunya yang
terkenal itu dalam empat volume. Kalau mau berapa tebalnya bukunya itu
kalau ditumpuk, silakan main ke P3G Bandung, moga-moga masih ada...
 
Tahun 1855, Junghuhn kembali ke Indonesia membawa dua hal : kina dan
seorang istri. Dengan pengetahuannya yang komprehensif tentang Jawa, dia
tahu bahwa di Lembang lah kina paling baik harus ditanam. Nah, atas jasa
Junghuhn lah kalau Indonesia pernah menjadi produsen pil kina nomor 1 di
dunia. 
 
Setelah punya isteri dan anak-anak, Junghuhn tak berkelana lagi. Tak ada
tempat di Jawa yang tak pernah didatanginya. Dia memilih tinggal di
lereng Gunung Tangkuban Perahu, yang dia sebut sebagai "batin manusia
yang aman tenteram". Tahun 1864, Junghuhn menghembuskan nafasnya yang
terakhir di sebuah kamar dengan jendela terbuka ke arah gunung-gunung
dan hutan-hutan di Priangan. "Aku ingin berpamitan dengan gunung-gunung
dan hutan-hutanku tercinta" Itulah kata-kata terakhir yang diingat dr.
Groneman sahabat yang menemani saat2 terakhirnya.
 
Begitulah yang tertulis dalam buku Rob Nieuwenhuys "Oost Indische
Spiegel" (1972), sebuah buku bagus yang memuat ulasan2 tentang 30 buku
penting yang diterbitkan dari pertengahan 1800an sampai pertengahan
1900an. Di pedagang buku bekas, tak jarang kita akan menemukan buku2
bagus dan penting...
 
"Kebahagiaanmu, hiburanmu, harapan dan kepercayaanmu hendaklah berakar
semata-mata dalam alam raya yang secara diam-diam, namun tetap abadi
bergerak di dalam makhluk-makhlukNya" (Franz Wilhelm Junghuhn, 1835).
 
salam,
awang
 


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke