Nama besar Junghuhn juga dikenal di kalangan avonturir dan pendaki gunung,
sebagai orang pertama yang mendaki & mengidentifikasi keberadaan 30 gunung
di Jawa yang ber-elevasi di atas 2000 mdpl di Pulau Jawa. Sekilas kata2
Junghuhn yang menjadi sumber inspirasi banyak pendaki gunung:
" Masih jelas dalam ingatanku kesan pemandangan hutan-hutan Pulau Jawa yang
tak putusnya diselubungi kehijau-hijauan alami yang memesona. Juga pada
beribu-ribu bunga di dalamnya yang senantiasa menyebarkan wewangian dan
aroma asli nan penuh nikmat, Jelas juga dalam ingatanku berisiknya
daun-daun yang diembus angin laut yang lembut, meniup sela-sela pepohonan
pisang sampai ke pucuk-pucuk pepohonan kelapa. Jauh di dalam hutan
terdengar tak henti-hentinya suara gemuruh jatuhnya air terjun dari lereng
gunung yang terjal ke sungai yang berbatu-batu.
Mengalami semua ini, aku sungguh-sungguh merasa seolah-olah kami sudah lama
berkenalan, dan aku tak dapat berbuat lain selain menundukkan kepala dan
berdoa, berterima kasih kepada Sang Pencipta.
Kini timbul dalam hati sanubariku perasaan rindu dan hasrat kuat untuk
kembali ke tempat itu, dan memuja: Hai gunung-gunung dan hutan-hutan, salam
cinta dan terima kasih, sampai jumpa lagi !" (FW Junghuhn)
Sayangnya, dibandingkan nama besar dan jasanya, tak demikian penghargaan
masyarakat kepadanya. Terakhir kali saya bersepeda ke Taman Junghuhn di
Jayagiri, Lembang tahun lalu kondisinya sudah sangat memprihatinkan dan
tidak terawat. Tugu dan nisannya sudah berlumut dan kotor. Menurut sang
kuncen, dana perawatan Taman dan makam beliau sudah lama terhenti bersamaan
dengan ditutupnya Goethe Institute, Bandung. Sedihnya lagi, banyak orang
yang mengunjungi makamnya, tetapi bukan untuk mengenang jasa2nya, tetapi
karena menganggapnya keramat dan untuk mencari pesugihan...hiks...hiks.
salam
Ferry
Awang Satyana
<awangsatyana@ To: [email protected], [EMAIL
PROTECTED]
yahoo.com> cc:
Subject: [iagi-net-l] Junghuhn :
Bukan Hanya Karena Kina
05/09/2005
01:03 PM
Please respond
to iagi-net
Bagaimana kita mengenal Junghuhn ? Orang pertama yang membawa dan menanam
kina (di Lembang) ? Sungguh lebih dari itu. Junghuhn adalah sepenting
Verbeek, Fennema, dan van Bemmelen dalam perkembangan pengetahuan geologi
Indonesia.
Kalau sempat ke Bandung dan mampir ke perpustakaan P3G di Jl. Diponegoro,
ada dua buku kuno sangat tebal tentang Jawa. Yang satu tulisan Franz
Junghuhn (1848), "Java : Deszelfs Gedaante, Bekleeding en Inwendige
Structuur" dan yang lain tulisan Verbeek dan Fennema (1896), "Geologische
Beschrijving van Java en Madoera". Saya membuka2 buku2 itu hampir 17 tahun
yang lalu, saat mengumpulkan keterangan tentang Ciletuh. Semoga sekarang
masih terjaga dengan baik.
Junghuhn, adalah peneliti dan penulis pertama geologi Jawa. Datang ke
Indonesia tahun 1835 sebagai seorang dokter tentara dengan sikap hidup
penuh kekecewaan dan penderitaan akibat perang di Jerman dan Prancis.
"Hiduplah dengan dirimu sendiri. Jangan bergaul dengan seorang pun. Jangan
mencari kepuasan hati pada orang-orang lain, jangan mencari kebahagiaan di
luar dirimu, jangan mendewa-dewakan sesuatu selain alam raya" Begitulah
sumpah dan "pengakuan iman" Junghuhn saat ia memasuki pelabuhan Pasar Ikan,
Batavia 12 Oktober 1835.
Junghuhn lahir di Jerman tahun 1809, dididik dengan sangat keras oleh
ayahnya, masuk ke kedokteran, dipaksa keluar untuk berdinas di ketentaraan
Prusia (Jerman). Dijatuhi hukuman 10 tahun akibat pelanggaran disiplin.
Meringkuk 20 bulan di penjara kuno, lari ke Prancis. Mendaftar sebagai
tenaga sukarela tentara Prancis. Bertugas di Afrika. Dikirim pulang ke
Prancis karena sakit. Lari ke Belanda, mendaftar sebagai tentara dan
dikirim ke Oost Indies (Indonesia).
Di Indonesia, Junghuhn hanya bertugas tiga tahun tujuh bulan sebagai dokter
di Batavia, Bogor, Semarang, Yogyakarta. Dia menghabiskan waktu bujangannya
dengan berkelana SEMBILAN tahun dari Ujung Kulon ke Banyuwangi, dari pantai
Laut Jawa ke pantai Samudera Hindia. Mendaki semua gunung di Jawa, berjalan
bersama para kulinya meneliti batuan, flora, fauna, mengambil sampel, tidur
di gubuk-gubuk penduduk atau berkemah di tengah hutan.
Tentu dia kini bahagia sebab mendapatkan panggilan hidupnya.
Tahun 1848, Junghuhn kembali ke Belanda sebagai cuti sakit. Kali ini dia
tidak lari lagi, tetapi menggunakan waktu cuti sakitnya untuk menulis semua
hasil penelitian sembilan tahunnya, maka keluarlah bukunya yang terkenal
itu dalam empat volume. Kalau mau berapa tebalnya bukunya itu kalau
ditumpuk, silakan main ke P3G Bandung, moga-moga masih ada...
Tahun 1855, Junghuhn kembali ke Indonesia membawa dua hal : kina dan
seorang istri. Dengan pengetahuannya yang komprehensif tentang Jawa, dia
tahu bahwa di Lembang lah kina paling baik harus ditanam. Nah, atas jasa
Junghuhn lah kalau Indonesia pernah menjadi produsen pil kina nomor 1 di
dunia.
Setelah punya isteri dan anak-anak, Junghuhn tak berkelana lagi. Tak ada
tempat di Jawa yang tak pernah didatanginya. Dia memilih tinggal di lereng
Gunung Tangkuban Perahu, yang dia sebut sebagai "batin manusia yang aman
tenteram". Tahun 1864, Junghuhn menghembuskan nafasnya yang terakhir di
sebuah kamar dengan jendela terbuka ke arah gunung-gunung dan hutan-hutan
di Priangan. "Aku ingin berpamitan dengan gunung-gunung dan hutan-hutanku
tercinta" Itulah kata-kata terakhir yang diingat dr. Groneman sahabat yang
menemani saat2 terakhirnya.
Begitulah yang tertulis dalam buku Rob Nieuwenhuys "Oost Indische Spiegel"
(1972), sebuah buku bagus yang memuat ulasan2 tentang 30 buku penting yang
diterbitkan dari pertengahan 1800an sampai pertengahan 1900an. Di pedagang
buku bekas, tak jarang kita akan menemukan buku2 bagus dan penting...
"Kebahagiaanmu, hiburanmu, harapan dan kepercayaanmu hendaklah berakar
semata-mata dalam alam raya yang secara diam-diam, namun tetap abadi
bergerak di dalam makhluk-makhlukNya" (Franz Wilhelm Junghuhn, 1835).
salam,
awang
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------