Pak Awang, Trimakasih, tulisan-tulisan Anda telah menambah wawasan dan pengetahuan kami. Saya kira sudah waktunya karya Anda tidak hanya ditulis di milis ini tetapi juga dikiirm ke media masa yang lebih luas jangkauannya (misalnya koran bermutu,Intisari, National Geographic dll). Tulisan ilmiah populer akan tetap menarik lho, apalagi yang ada hubungannya dengan geologi. Saya kira almarhum Junghun itu akhli pertanian yang memperkenalkan pohon kina yang legendaris sebagai obat malaria, rupanya beliau itu geologist. Lalu dimanakah makam beliau? Ngomong-2 siapakah akhli Belanda yang dimakamkan di Pangalengan? Saya tunggu tulisan-2 lainnya.
Salam, Sugeng *Tulisan Anda saya baca dari Piano-3 well (Anda pasti tertarik ini). *Apakah kiriman Serpentinite dari pulau Batanta sudah sampai? -----Original Message----- From: Awang Satyana To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED] Sent: 9/05/05 13:03 Subject: [iagi-net-l] Junghuhn : Bukan Hanya Karena Kina Bagaimana kita mengenal Junghuhn ? Orang pertama yang membawa dan menanam kina (di Lembang) ? Sungguh lebih dari itu. Junghuhn adalah sepenting Verbeek, Fennema, dan van Bemmelen dalam perkembangan pengetahuan geologi Indonesia. Kalau sempat ke Bandung dan mampir ke perpustakaan P3G di Jl. Diponegoro, ada dua buku kuno sangat tebal tentang Jawa. Yang satu tulisan Franz Junghuhn (1848), "Java : Deszelfs Gedaante, Bekleeding en Inwendige Structuur" dan yang lain tulisan Verbeek dan Fennema (1896), "Geologische Beschrijving van Java en Madoera". Saya membuka2 buku2 itu hampir 17 tahun yang lalu, saat mengumpulkan keterangan tentang Ciletuh. Semoga sekarang masih terjaga dengan baik. Junghuhn, adalah peneliti dan penulis pertama geologi Jawa. Datang ke Indonesia tahun 1835 sebagai seorang dokter tentara dengan sikap hidup penuh kekecewaan dan penderitaan akibat perang di Jerman dan Prancis. "Hiduplah dengan dirimu sendiri. Jangan bergaul dengan seorang pun. Jangan mencari kepuasan hati pada orang-orang lain, jangan mencari kebahagiaan di luar dirimu, jangan mendewa-dewakan sesuatu selain alam raya" Begitulah sumpah dan "pengakuan iman" Junghuhn saat ia memasuki pelabuhan Pasar Ikan, Batavia 12 Oktober 1835. Junghuhn lahir di Jerman tahun 1809, dididik dengan sangat keras oleh ayahnya, masuk ke kedokteran, dipaksa keluar untuk berdinas di ketentaraan Prusia (Jerman). Dijatuhi hukuman 10 tahun akibat pelanggaran disiplin. Meringkuk 20 bulan di penjara kuno, lari ke Prancis. Mendaftar sebagai tenaga sukarela tentara Prancis. Bertugas di Afrika. Dikirim pulang ke Prancis karena sakit. Lari ke Belanda, mendaftar sebagai tentara dan dikirim ke Oost Indies (Indonesia). Di Indonesia, Junghuhn hanya bertugas tiga tahun tujuh bulan sebagai dokter di Batavia, Bogor, Semarang, Yogyakarta. Dia menghabiskan waktu bujangannya dengan berkelana SEMBILAN tahun dari Ujung Kulon ke Banyuwangi, dari pantai Laut Jawa ke pantai Samudera Hindia. Mendaki semua gunung di Jawa, berjalan bersama para kulinya meneliti batuan, flora, fauna, mengambil sampel, tidur di gubuk-gubuk penduduk atau berkemah di tengah hutan. Tentu dia kini bahagia sebab mendapatkan panggilan hidupnya. Tahun 1848, Junghuhn kembali ke Belanda sebagai cuti sakit. Kali ini dia tidak lari lagi, tetapi menggunakan waktu cuti sakitnya untuk menulis semua hasil penelitian sembilan tahunnya, maka keluarlah bukunya yang terkenal itu dalam empat volume. Kalau mau berapa tebalnya bukunya itu kalau ditumpuk, silakan main ke P3G Bandung, moga-moga masih ada... Tahun 1855, Junghuhn kembali ke Indonesia membawa dua hal : kina dan seorang istri. Dengan pengetahuannya yang komprehensif tentang Jawa, dia tahu bahwa di Lembang lah kina paling baik harus ditanam. Nah, atas jasa Junghuhn lah kalau Indonesia pernah menjadi produsen pil kina nomor 1 di dunia. Setelah punya isteri dan anak-anak, Junghuhn tak berkelana lagi. Tak ada tempat di Jawa yang tak pernah didatanginya. Dia memilih tinggal di lereng Gunung Tangkuban Perahu, yang dia sebut sebagai "batin manusia yang aman tenteram". Tahun 1864, Junghuhn menghembuskan nafasnya yang terakhir di sebuah kamar dengan jendela terbuka ke arah gunung-gunung dan hutan-hutan di Priangan. "Aku ingin berpamitan dengan gunung-gunung dan hutan-hutanku tercinta" Itulah kata-kata terakhir yang diingat dr. Groneman sahabat yang menemani saat2 terakhirnya. Begitulah yang tertulis dalam buku Rob Nieuwenhuys "Oost Indische Spiegel" (1972), sebuah buku bagus yang memuat ulasan2 tentang 30 buku penting yang diterbitkan dari pertengahan 1800an sampai pertengahan 1900an. Di pedagang buku bekas, tak jarang kita akan menemukan buku2 bagus dan penting... "Kebahagiaanmu, hiburanmu, harapan dan kepercayaanmu hendaklah berakar semata-mata dalam alam raya yang secara diam-diam, namun tetap abadi bergerak di dalam makhluk-makhlukNya" (Franz Wilhelm Junghuhn, 1835). salam, awang __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

