Mas Rovicky yang kita kenal baik, dan Mas Rizal yang juga baik (semoga dibacanya), serta sahabat kita semua yang baik pula.
Membicarakan Blok Cepu tidak akan habis bila tidak ada solusi yang bijak dari para pemerhatinya. Lebih baik lagi bila saling bertemu dan saling menghargai. Di satu pihak Mas Rizal sebagai jubir dari tim negosiasi tsb dan pihak lain yang punya tanggung jawab (etika) profesi. Marilah kita saling berbaik sangka terhadap pihak lainnya karena sinergi yang baik akan menghasilnya sesuatu yang baik pula. Sementara kita "simpan dulu" kepentingan yang kita pegang karena ada kepentingan lain yang lebih utama, yaitu keserasian antara aspek legal, teknis, finalsial dan kesejahteraan. Bicara itu memang mudah tapi mudah-mudahan ada korelasi yang positif. Memang benar, bangsa kita "masih belajar" mengelola sumber dayanya. Namun bila tidak ada lagi "goodwill" dan "policy" dari pemerintah untuk mendorong para tenaga kerja intelektualnya untuk maju dan mengelola sumber daya bangsanya sendiri secara adil, jujur dan profesional, maka jangan harap nantinya bangsa kita menjadi "leader" di negaranya sendiri. Apalagi bersaing dalam forum regional dan internasional. Maaf bila ada pernyataan saya yang kurang berkenan. Dari seorang yang masih peduli dengan bangsanya, serta juga aktif di asosiasi profesi nasional dan internasional --- Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mas Rizal yang baik, > > Selamat atas "kesuksesan" anda. (maaf masih dalam > "tanda kutip" karena > saya terpaksa menganggap ini masih wacana pribadi > anda yg menyatakan > sukses). > > Sudah sejak awal (ketika dioperasikan HUMPUSS) saya > melihat bahwa Cepu > ini sudah kontroversial. Awalnya Blok Cepu ini > sebuah kontrak TAC > (Technical Assistant Contract), adalah kontrak pada > kontrak2 sejenis > sebelumnya isinya berupa bantuan dalam proses > produksi, bukan > eksplorasi. Namun saya ndak tahu apa sebabnya > tiba-tiba melakukan > kegiatan eksplorasi. Pada waktu itupun saya sebagai > praktisi di Migas > di Indonesia cukup bangga karena "ada" perusahaan > nasional yg "berani" > melakukan eksplorasi. Walopun "cara" mendapatkan > daerah konsesinya > dengan fasilitas. Which is OK to me, lah masih > "anak-anak" kan wajar > kalau dapet subsidi "uang jajan". > > Namun perjalan sejarah berikutnya berubah lain lagi. > Blok ini entah > bagaimana "berubah" menjadi PSC dan ini tentusaja > mengundang > pertanyaan dan menjadi delik khusus, apakah bisa > kontrak berubah. Dan > fenomena inipun dipertanyakan oleh salah satu BOD > IPA (Indonesian > Petroleum Associacion). > > Yang ingin saya garis bawahi adalah adanya > "kejadian" perubahan > kontrak. Bisa jadi kontark baru ini bagus (entah > versi siapapun), > namun yg saya sayangkan sepertinya ada "pelanggaran" > komitmen awal. > Dimana menurut saya komitmen awal harus diseleseikan > dulu. Dan > sepertinya kelemahan org Indonesia ini adalah > mempertahankan komitmen. > Dan anda tahukan, bahwa komitmen daerah ini yg > seharusnya berenti > tahun 2010. Namun saya heran kenapa anda menyatakan > Indonesia akan > menikmati hasil setelah 2012 itupun "kalau > memenangkan" arbitrase. > Bukankah kontrak TAC dengan humpus yg berubah ke PSC > ini akan berakhir > dengan sendirinya tahun 2010 ? Dan perpanjangan > kontrak bukanlah > sebuah "keharusan" ? > > PSC (Production Sharing Contract) pada prinsipnya > mirip BOT (Build > Operate and Transfer), mirip membangun jalan Tol. > Artinya pada akhir > kontrak harus ditransfer dulu ke "host country", > perkara nantinya > diperpanjang lagi itu tidak apa-apa, apalagi kalau > menuntungkan kedua > belah pihak. Tetapi menganggap bahwa perpanjangan > kontrak sebagai > sebuah keharusan yg bisa menuai badai arbitrase > menurutku logika yang > "salah besar". Karena menyalahi ide BOT diatas. > Walopun ternyata jalan > Tol yg juga BOT-pun ndak dikembalikan juga ke negara > ya :)... ok ini > perkara lain. > > Perpanjangan kontrak yg belum berakhir karena > diburu-buru ini tidak > hanya Kontrak Cepu. Bahkan kontrak Freeport dulu > juga diperpanjang > sebelum masa kontrak berakhir. Ini yang harus > diperhatikan Mas Rizal. > Bahwa memperpanjang kontrak yg masih jauuuh akan > berakhir seringkali > "menjebak". Jadi saran saya seleseikan dulu kontrak > baru diperpanjang > setelah dikembalikan. Kan wajar to ? > > Mas Rizal, saat ini saya bekerja di Kuala Lumpur, > Malaysia. Dan saya > punya kesempatan banyak melihat bagaimana industri > migas Malaysia > melalui Petronas-nya berkembang pesat. Sitem PSC > mereka diadopsi dari > PSC Indonesia, namun modifikasi yg dilakukannya > sangat canggih. > Silahkan mampir di blog saya ( rovicky.blogspot.com > ), saya > menguraikan panjang lebar tentang perbandingan PSC > Indonesia dan > Malaysia. Dimana salah satunya adalah Malaysia > menjalankan PSC ya > persis sistem BOT. Yaitu semua kontrak PSC yg habis > dikembalikan ke > Petronas dan dikelola sendiri oleh Petronas. Dan > jangan kaget saat ini > ada 150 Geoscience dan Engineer Indonesia yg bekerja > di Kuala Lumpur. > Hampir semua project Petronas pasti "dihiasi" oleh > GGE Indonesia. Jadi > bukan hanya TKI pembantu dan buruh saja yg ada di > Malaysia. > > Nah ada tiga point yg ingin saya sampaikan mas > Rizal. > - Bahwa ide BOT dijalankan dengan baik di Petronas > sehingga Petronas > dapat "belajar" mengendalikan sendiri > perminyakannya. Dan GGE > Indonesia telah telah kehilangan Cepu sebagai ladang > belajar. > - GGE Indonesia ini sudah mampu mengelola lapangan > minyak. Dan ini > justru diakui oleh Petronas namun justru tidak > diakui di dalam negeri, > bahkan tidak diakui oleh pemerintahnya sendiri > (paling tidak secara > tak langsung). > - PSC term tidak hanya masalah "fiskal". Split > kadang kala tidak > berarti banyak dalam longterm production. Ketahuilah > kita hanya sukses > menjalankan PSC yg pertama saja. Dimana plateu > production kita ini > hanya bertahan 20-30 tahun sejak PSC dicanangkan. > Artinya hanya satu > kali periode kontrak PSC. > > Nah kembali soal Cepu Blok. Saya tahun kemarin > (2005) pernah membuat > seminar bersama teman-teman di Indonesia lewat > IAGI-HAGI (Ikatan Ahli > Geologi Indonesia - Himpunan Ahli Geofisika > Indonesia). Pada waktu itu > yg saya katakan hanyalah soal kemampuan orang > Indonesia mengelola > Cepu. Mengapa saya berkonsentrasi disini karena rasa > bangga dan diakui > mampu impaknya ternyata sangat besar. Memang tidak > instant seperti yg > Mas Rizal katakan "untuk saat ini" yg mampu membuat > sekolahan dan > puskesmas. Ungkapan ketidak mampuan Indonesia > mengelola Cepu inilah yg > "menohok urat malu" teman-teman saya di HAGI dan > IAGI. Sehinga mereka > merasa dipermalukan dengan ungkapan tidak mampu > sebagai pengelola > lapangan minyak. > > Barangkali bener kata anda bahwa mereka masih > cerewet dan merengek2, > namun ya inilah kondisi bangsamu Mas Rizal. Anda > barangkali sudah > berjalan terlalu maju kedepan. Namun pelajaran yg > saya ambil dari > Malaysia justru sebaliknya dengan anda. Mereka > (pemerintah Malysia) > saat ini sedang "melindungi" Mobil Nasionalnya, > Proton, dengan > menurunkan harganya sekitar 2-3 %. Hanya satu alasan > logis yg saya > rasakan, untuk meningkatkan kebanggan rakyat > menggunakan mobil > bikinannya dan sebagai Bangsa Malaysia. Nah anda yg > dalam posisi > sebagai negosiator justru memposisikan bangsa > sendiri dalam posisi > dibawah. Wah nyesel saya Mas Rizal ... maaf. > > Ya, Saya saat ini juga tidak akan berkepanjangan > memikirkan soal Cepu > ini lagi. Karena saya barusaja menemukan kembali > "harta karun" negara > saya berupa cadangan geothermal yg cadangannya > merupakan 40% cadangan > dunia, dan nilainya setara dengan 8 milyar BOE, > bandingkan dengan Cepu > yg hanya 500-700 juta barrel. Nah saya aprreciate > kalau anda masih > ingin berkutet sebagai negosiator didalam sektor > geothermal ini. > Karena energi geothermal ini hanya bisa diubah > menjadi listrik > sehingga relatif "aman" tidak dijarah negara2 yg > rakus energi. Nah, > Mas Rizal kalau memang anda bener mau sukses, > tolong Energi > Geothermal ini "dikawal" lagi ya ... > === message truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

