Sdr. Rovicky mungkin tidak membaca e-mail saya. Seperti saya katakan pada waktu kontrak TAC ditanda-tangani di dalam kontrak dicantumkan peta dan koordinat2 daerah kerja. Disitu jelas dicantumkan bahwa lapangan2 tua Kawengan, Ledok dan Nglobo itu dikeluarkan (carved out) dari wilayah kerja TAC, dan dalam kontrak juga ditegaskan boleh melakukan explorasi. Kalau tidak boleh explorasi, ya apa yang akan diproduksikan?karena lapangan tua semuanya di-carved-out dan tetap dioperasikan oleh Pertamina. Secara teknis yuridis formil daerah TAC itu sudah dikembalikan oleh ExxonMobil ke Pertamina (mungkin tahun 2004?), dan kemudian ExxonMobil itu sepertinya farm-in di sebagian saja dari daerah ex-TAC, dan terjadi agreement dengan yang memfarm-outnya dalam bentuk yang disebut Joint Operation Agreement yang sebetulnya hampir sama dengani JOB, hanya saja kalau di JOB itu General Manager orang Pertamina, kalau di JOA ini General Managernya orang Exxon-Mobil. Jadi tidak ada transfer dari TAC ke PSC, TAC-nya dibubarkan dulu, dikembalikan ke Pertamina. Daerah ex-TAC itu kemudian diberikan ke PT Pertamina Cepu dalam bentuk PSC (split 85-15) kemudian sebagaian daerah di relinguish, dan sisanya yang oleh Pertamina di-farm-outkan ke Mobil dan perusahan Daerah dengan pembagian interest dari yg 15% itu 45 Pertamina Cepu, 45% ExxonMobil Cepu, dan 10% dicadangkan untuk perusahaan daerah
Cukup lihay pemerintah itu, walaupun jelimet.
RPK
----- Original Message ----- From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]>; "HAGI-Net" <[EMAIL PROTECTED]>; "migas indonesia" <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, March 28, 2006 3:59 PM
Subject: [iagi-net-l] Surat terbuka buat mas Rizal Mallarangeng


Mas Rizal yang baik,

Selamat atas "kesuksesan" anda. (maaf masih dalam "tanda kutip" karena
saya terpaksa menganggap ini masih wacana pribadi anda yg menyatakan
sukses).

Sudah sejak awal (ketika dioperasikan HUMPUSS) saya melihat bahwa Cepu
ini sudah kontroversial. Awalnya Blok Cepu ini sebuah kontrak TAC
(Technical Assistant Contract), adalah kontrak pada kontrak2 sejenis
sebelumnya isinya berupa bantuan dalam proses produksi, bukan
eksplorasi. Namun saya ndak tahu apa sebabnya tiba-tiba melakukan
kegiatan eksplorasi. Pada waktu itupun saya sebagai praktisi di Migas
di Indonesia cukup bangga karena "ada" perusahaan nasional yg "berani"
melakukan eksplorasi. Walopun "cara" mendapatkan daerah konsesinya
dengan fasilitas. Which is OK to me, lah masih "anak-anak" kan wajar
kalau dapet subsidi "uang jajan".

Namun perjalan sejarah berikutnya berubah lain lagi. Blok ini entah
bagaimana "berubah" menjadi PSC dan ini tentusaja mengundang
pertanyaan dan menjadi delik khusus, apakah bisa kontrak berubah. Dan
fenomena inipun dipertanyakan oleh salah satu BOD IPA (Indonesian
Petroleum Associacion).

Yang ingin saya garis bawahi adalah adanya "kejadian" perubahan
kontrak. Bisa jadi kontark baru ini bagus (entah versi siapapun),
namun yg saya sayangkan sepertinya ada "pelanggaran" komitmen awal.
Dimana menurut saya komitmen awal harus diseleseikan dulu. Dan
sepertinya kelemahan org Indonesia ini adalah mempertahankan komitmen.
Dan anda tahukan, bahwa komitmen daerah ini yg seharusnya berenti
tahun 2010. Namun saya heran kenapa anda menyatakan Indonesia akan
menikmati hasil setelah 2012 itupun "kalau memenangkan" arbitrase.
Bukankah kontrak TAC dengan humpus yg berubah ke PSC ini akan berakhir
dengan sendirinya tahun 2010 ? Dan perpanjangan kontrak bukanlah
sebuah "keharusan" ?

PSC (Production Sharing Contract) pada prinsipnya mirip BOT (Build
Operate and Transfer), mirip membangun jalan Tol. Artinya pada akhir
kontrak harus ditransfer dulu ke "host country", perkara nantinya
diperpanjang lagi itu tidak apa-apa, apalagi kalau menuntungkan kedua
belah pihak. Tetapi menganggap bahwa perpanjangan kontrak sebagai
sebuah keharusan yg bisa menuai badai arbitrase menurutku logika yang
"salah besar". Karena menyalahi ide BOT diatas. Walopun ternyata jalan
Tol yg juga BOT-pun ndak dikembalikan juga ke negara ya :)... ok ini
perkara lain.

Perpanjangan kontrak yg belum berakhir karena diburu-buru ini tidak
hanya Kontrak Cepu. Bahkan kontrak Freeport dulu juga diperpanjang
sebelum masa kontrak berakhir. Ini yang harus diperhatikan Mas Rizal.
Bahwa memperpanjang kontrak yg masih jauuuh akan berakhir seringkali
"menjebak". Jadi saran saya seleseikan dulu kontrak baru diperpanjang
setelah dikembalikan. Kan wajar to ?

Mas Rizal, saat ini saya bekerja di Kuala Lumpur, Malaysia. Dan saya
punya kesempatan banyak melihat bagaimana industri migas Malaysia
melalui Petronas-nya berkembang pesat. Sitem PSC mereka diadopsi dari
PSC Indonesia, namun modifikasi yg dilakukannya sangat canggih.
Silahkan mampir di blog saya ( rovicky.blogspot.com ), saya
menguraikan panjang lebar tentang perbandingan PSC Indonesia dan
Malaysia. Dimana salah satunya adalah Malaysia menjalankan PSC ya
persis sistem BOT. Yaitu semua kontrak PSC yg habis dikembalikan ke
Petronas dan dikelola sendiri oleh Petronas. Dan jangan kaget saat ini
ada 150 Geoscience dan Engineer Indonesia yg bekerja di Kuala Lumpur.
Hampir semua project Petronas pasti "dihiasi" oleh GGE Indonesia. Jadi
bukan hanya TKI pembantu dan buruh saja yg ada di Malaysia.

Nah ada tiga point yg ingin saya sampaikan mas Rizal.
- Bahwa ide BOT dijalankan dengan baik di Petronas sehingga Petronas
dapat "belajar" mengendalikan sendiri perminyakannya. Dan GGE
Indonesia telah telah kehilangan Cepu sebagai ladang belajar.
- GGE Indonesia ini sudah mampu mengelola lapangan minyak. Dan ini
justru diakui oleh Petronas namun justru tidak diakui di dalam negeri,
bahkan tidak diakui oleh pemerintahnya sendiri (paling tidak secara
tak langsung).
- PSC term tidak hanya masalah "fiskal". Split kadang kala tidak
berarti banyak dalam longterm production. Ketahuilah kita hanya sukses
menjalankan PSC yg pertama saja. Dimana plateu production kita ini
hanya bertahan 20-30 tahun sejak PSC dicanangkan. Artinya hanya satu
kali periode kontrak PSC.

Nah kembali soal Cepu Blok. Saya tahun kemarin (2005) pernah membuat
seminar bersama teman-teman di Indonesia lewat IAGI-HAGI (Ikatan Ahli
Geologi Indonesia - Himpunan Ahli Geofisika Indonesia). Pada waktu itu
yg saya katakan hanyalah soal kemampuan orang Indonesia mengelola
Cepu. Mengapa saya berkonsentrasi disini karena rasa bangga dan diakui
mampu impaknya ternyata sangat besar. Memang tidak instant seperti yg
Mas Rizal katakan "untuk saat ini" yg mampu membuat sekolahan dan
puskesmas. Ungkapan ketidak mampuan Indonesia mengelola Cepu inilah yg
"menohok urat malu" teman-teman saya di HAGI dan IAGI. Sehinga mereka
merasa dipermalukan dengan ungkapan tidak mampu sebagai pengelola
lapangan minyak.

Barangkali bener kata anda bahwa mereka masih cerewet dan merengek2,
namun ya inilah kondisi bangsamu Mas Rizal. Anda barangkali sudah
berjalan terlalu maju kedepan. Namun pelajaran yg saya ambil dari
Malaysia justru sebaliknya dengan anda. Mereka (pemerintah Malysia)
saat ini sedang "melindungi" Mobil Nasionalnya, Proton, dengan
menurunkan harganya sekitar 2-3 %. Hanya satu alasan logis yg saya
rasakan, untuk meningkatkan kebanggan rakyat menggunakan mobil
bikinannya dan sebagai Bangsa Malaysia. Nah anda yg dalam posisi
sebagai negosiator justru memposisikan bangsa sendiri dalam posisi
dibawah. Wah nyesel saya Mas Rizal ... maaf.

Ya, Saya saat ini juga tidak akan berkepanjangan memikirkan soal Cepu
ini lagi. Karena saya barusaja menemukan kembali "harta karun" negara
saya berupa cadangan geothermal yg cadangannya merupakan 40% cadangan
dunia, dan nilainya setara dengan 8 milyar BOE, bandingkan dengan Cepu
yg hanya 500-700 juta barrel. Nah saya aprreciate kalau anda masih
ingin berkutet sebagai negosiator didalam sektor geothermal ini.
Karena energi geothermal ini hanya bisa diubah menjadi listrik
sehingga relatif "aman" tidak dijarah negara2 yg rakus energi. Nah,
Mas Rizal kalau memang anda bener mau sukses,  tolong Energi
Geothermal ini "dikawal" lagi ya ...

Salam

Rovicky Dwi Putrohari
Geologist Indonesia
Anggota : IAGI-HAGI-IPA

--- In [EMAIL PROTECTED], "Rizal Mallarangeng" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:



Blok Cepu, Mission Accomplished

Oleh Rizal Mallarangeng



Kesepakatan Blok Cepu adalah sebuah prestasi tersendiri dalam sejarah
perminyakan Indonesia. Seharusnya kita merayakan keberhasilan itu dan
kemudian memikirkan bagaimana potensi penghasilan tambahan yang cukup besar bagi negara dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat.
=== deleted just for safe memory.====
--
http://rovicky.blogspot.com/

--Writer needs 10 steps faster than readeR --

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke