Mas Rizal yang baik, Selamat atas "kesuksesan" anda. (maaf masih dalam "tanda kutip" karena saya terpaksa menganggap ini masih wacana pribadi anda yg menyatakan sukses).
Sudah sejak awal (ketika dioperasikan HUMPUSS) saya melihat bahwa Cepu ini sudah kontroversial. Awalnya Blok Cepu ini sebuah kontrak TAC (Technical Assistant Contract), adalah kontrak pada kontrak2 sejenis sebelumnya isinya berupa bantuan dalam proses produksi, bukan eksplorasi. Namun saya ndak tahu apa sebabnya tiba-tiba melakukan kegiatan eksplorasi. Pada waktu itupun saya sebagai praktisi di Migas di Indonesia cukup bangga karena "ada" perusahaan nasional yg "berani" melakukan eksplorasi. Walopun "cara" mendapatkan daerah konsesinya dengan fasilitas. Which is OK to me, lah masih "anak-anak" kan wajar kalau dapet subsidi "uang jajan". Namun perjalan sejarah berikutnya berubah lain lagi. Blok ini entah bagaimana "berubah" menjadi PSC dan ini tentusaja mengundang pertanyaan dan menjadi delik khusus, apakah bisa kontrak berubah. Dan fenomena inipun dipertanyakan oleh salah satu BOD IPA (Indonesian Petroleum Associacion). Yang ingin saya garis bawahi adalah adanya "kejadian" perubahan kontrak. Bisa jadi kontark baru ini bagus (entah versi siapapun), namun yg saya sayangkan sepertinya ada "pelanggaran" komitmen awal. Dimana menurut saya komitmen awal harus diseleseikan dulu. Dan sepertinya kelemahan org Indonesia ini adalah mempertahankan komitmen. Dan anda tahukan, bahwa komitmen daerah ini yg seharusnya berenti tahun 2010. Namun saya heran kenapa anda menyatakan Indonesia akan menikmati hasil setelah 2012 itupun "kalau memenangkan" arbitrase. Bukankah kontrak TAC dengan humpus yg berubah ke PSC ini akan berakhir dengan sendirinya tahun 2010 ? Dan perpanjangan kontrak bukanlah sebuah "keharusan" ? PSC (Production Sharing Contract) pada prinsipnya mirip BOT (Build Operate and Transfer), mirip membangun jalan Tol. Artinya pada akhir kontrak harus ditransfer dulu ke "host country", perkara nantinya diperpanjang lagi itu tidak apa-apa, apalagi kalau menuntungkan kedua belah pihak. Tetapi menganggap bahwa perpanjangan kontrak sebagai sebuah keharusan yg bisa menuai badai arbitrase menurutku logika yang "salah besar". Karena menyalahi ide BOT diatas. Walopun ternyata jalan Tol yg juga BOT-pun ndak dikembalikan juga ke negara ya :)... ok ini perkara lain. Perpanjangan kontrak yg belum berakhir karena diburu-buru ini tidak hanya Kontrak Cepu. Bahkan kontrak Freeport dulu juga diperpanjang sebelum masa kontrak berakhir. Ini yang harus diperhatikan Mas Rizal. Bahwa memperpanjang kontrak yg masih jauuuh akan berakhir seringkali "menjebak". Jadi saran saya seleseikan dulu kontrak baru diperpanjang setelah dikembalikan. Kan wajar to ? Mas Rizal, saat ini saya bekerja di Kuala Lumpur, Malaysia. Dan saya punya kesempatan banyak melihat bagaimana industri migas Malaysia melalui Petronas-nya berkembang pesat. Sitem PSC mereka diadopsi dari PSC Indonesia, namun modifikasi yg dilakukannya sangat canggih. Silahkan mampir di blog saya ( rovicky.blogspot.com ), saya menguraikan panjang lebar tentang perbandingan PSC Indonesia dan Malaysia. Dimana salah satunya adalah Malaysia menjalankan PSC ya persis sistem BOT. Yaitu semua kontrak PSC yg habis dikembalikan ke Petronas dan dikelola sendiri oleh Petronas. Dan jangan kaget saat ini ada 150 Geoscience dan Engineer Indonesia yg bekerja di Kuala Lumpur. Hampir semua project Petronas pasti "dihiasi" oleh GGE Indonesia. Jadi bukan hanya TKI pembantu dan buruh saja yg ada di Malaysia. Nah ada tiga point yg ingin saya sampaikan mas Rizal. - Bahwa ide BOT dijalankan dengan baik di Petronas sehingga Petronas dapat "belajar" mengendalikan sendiri perminyakannya. Dan GGE Indonesia telah telah kehilangan Cepu sebagai ladang belajar. - GGE Indonesia ini sudah mampu mengelola lapangan minyak. Dan ini justru diakui oleh Petronas namun justru tidak diakui di dalam negeri, bahkan tidak diakui oleh pemerintahnya sendiri (paling tidak secara tak langsung). - PSC term tidak hanya masalah "fiskal". Split kadang kala tidak berarti banyak dalam longterm production. Ketahuilah kita hanya sukses menjalankan PSC yg pertama saja. Dimana plateu production kita ini hanya bertahan 20-30 tahun sejak PSC dicanangkan. Artinya hanya satu kali periode kontrak PSC. Nah kembali soal Cepu Blok. Saya tahun kemarin (2005) pernah membuat seminar bersama teman-teman di Indonesia lewat IAGI-HAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia - Himpunan Ahli Geofisika Indonesia). Pada waktu itu yg saya katakan hanyalah soal kemampuan orang Indonesia mengelola Cepu. Mengapa saya berkonsentrasi disini karena rasa bangga dan diakui mampu impaknya ternyata sangat besar. Memang tidak instant seperti yg Mas Rizal katakan "untuk saat ini" yg mampu membuat sekolahan dan puskesmas. Ungkapan ketidak mampuan Indonesia mengelola Cepu inilah yg "menohok urat malu" teman-teman saya di HAGI dan IAGI. Sehinga mereka merasa dipermalukan dengan ungkapan tidak mampu sebagai pengelola lapangan minyak. Barangkali bener kata anda bahwa mereka masih cerewet dan merengek2, namun ya inilah kondisi bangsamu Mas Rizal. Anda barangkali sudah berjalan terlalu maju kedepan. Namun pelajaran yg saya ambil dari Malaysia justru sebaliknya dengan anda. Mereka (pemerintah Malysia) saat ini sedang "melindungi" Mobil Nasionalnya, Proton, dengan menurunkan harganya sekitar 2-3 %. Hanya satu alasan logis yg saya rasakan, untuk meningkatkan kebanggan rakyat menggunakan mobil bikinannya dan sebagai Bangsa Malaysia. Nah anda yg dalam posisi sebagai negosiator justru memposisikan bangsa sendiri dalam posisi dibawah. Wah nyesel saya Mas Rizal ... maaf. Ya, Saya saat ini juga tidak akan berkepanjangan memikirkan soal Cepu ini lagi. Karena saya barusaja menemukan kembali "harta karun" negara saya berupa cadangan geothermal yg cadangannya merupakan 40% cadangan dunia, dan nilainya setara dengan 8 milyar BOE, bandingkan dengan Cepu yg hanya 500-700 juta barrel. Nah saya aprreciate kalau anda masih ingin berkutet sebagai negosiator didalam sektor geothermal ini. Karena energi geothermal ini hanya bisa diubah menjadi listrik sehingga relatif "aman" tidak dijarah negara2 yg rakus energi. Nah, Mas Rizal kalau memang anda bener mau sukses, tolong Energi Geothermal ini "dikawal" lagi ya ... Salam Rovicky Dwi Putrohari Geologist Indonesia Anggota : IAGI-HAGI-IPA --- In [EMAIL PROTECTED], "Rizal Mallarangeng" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Blok Cepu, Mission Accomplished > > Oleh Rizal Mallarangeng > > > > Kesepakatan Blok Cepu adalah sebuah prestasi tersendiri dalam sejarah > perminyakan Indonesia. Seharusnya kita merayakan keberhasilan itu dan > kemudian memikirkan bagaimana potensi penghasilan tambahan yang cukup besar > bagi negara dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat. === deleted just for safe memory.==== -- http://rovicky.blogspot.com/ --Writer needs 10 steps faster than readeR -- --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

