Pak Ismail, Ada beberapa saran yang dikemukakan di seminar tersebut. Pak Suyitno Patmosukismo (IPA) misalnya menyarankan melihat kembali aturan ring fencing, sehingga dana di suatu blok operasi berstatus produksi bisa dipakai di blok lain yang eksplorasi atau malahan untuk new venture-nya. Liberasi ini memang bertentangan dengan prinsip-prinsip KPS yang berlaku di Indonesia, walaupun kelihatannya akan mampu mendorong kegiatan eksplorasi di lahan frontier. Untuk itu, perlu dilihat dengan hati2. Pak Hardy Prasetyo (staf ahli Menteri ESDM) menyarankan untuk melihat kembali dan merevisi peta cekungan Indonesia, benarkah kita mempunyai 60 cekungan ? Cekungan2 kecil di seputar Laut Banda misalnya, kemungkinan besar mereka tak punya prospektivitas hidrokarbon. Untuk itu, dihapus saja dari peta cekungan. Atau, bedakan antara peta cekungan minyak dan peta cekungan sedimen. Ini untuk menjelaskan bahwa 60 cekungan sedimen itu tak sama dengan 60 cekungan minyak. Yang sudah jelas cekungan minyak baru 16 dari 60 cekungan itu. Salah satu masalah juga adalah bahwa Pemerintah kita belum berhasil menyelesaikan tumpang tindih lahan kehutanan dengan pertambangan. Akibat ini, Pegunungan Tengah Papua tak bisa diapa-apakan sudah lebih dari lima tahun ini, padahal Pegunungan Tengah ini masih terusan pegunungan yang sama di PNG yang telah terbukti mengandung lapangan-lapangan minyak penting (mis Hedinia, Iagifu). Banyak saran dan kesimpulan bagus dari seminar2, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana merealisasikannya. Kelihatannya itu menjadi masalah kita semua... salam, awang
ismail zaini <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Pak Awang , ada nggak kesimpulan dari seminar tsb Hal Hal riel yang harus dilakukan Guna mendorong/mempercepat adanya Eksplorasi dan Produksi Migas , spt dikatakan dalam waktu 21 tahun hanya ada 2 cekungan tambahan dan disisi lain produksinya juga cenderung ada penurunan.( dan cost recovery semakin besar .... begitu kata Pak Kortubi dan BPKP dikoran kemarin ) Diwaktu yang bersamaan Dirjen Minerbapabum ESDM juga melaksanakan Seminar yang subtansinya hampir sama , cuma beda komoditinya / Mineral ,Batubara dan Panasbumi , ( sepertinya di ESDM lagi musim seminar , maklum akhir tahun..... ) Salah satu kesimpulannya untuk mempercepat pemanfaatan Geothermal akan dibentuk Tim Khusus ( seperti Tim Nas gitu ) dg Keprres guna merumuskan semua permasalahan dan mencari terobotosan penyelesaiannya, dg melibatkan semua institusi terkait baik dari ESDM , Dept Kehutanan , Dept Keuangan/ Pajak maupun unsur lainya , Mungkin biar gak mbulat mbulet .. gitu. ISM ----- Original Message ----- From: "Awang Harun Satyana" To: Sent: Friday, December 08, 2006 3:15 PM Subject: [iagi-net-l] Sedimentary Basins of Indonesia : Historical and Updated Status Berikut adalah ringkasan hal2 yang saya presentasikan dan diskusikan di dalam seminar Badan Penelitian dan Pengembangan dan Badan Geologi Departemen ESDM bertema "Optimasi Kegiatan Penelitian dan Pengembangan untuk Mendorong Peningkatan Eksplorasi dan Produksi Migas" (7 Desember 2006). Semoga berguna. Penyebaran jalur minyak Indonesia secara regional pertama kali dikemukakan oleh van Bemmelen (1949), untuk mineralisasi dikemukakan oleh Westerveld (1952). Masa kini, kita tahu jalur-jalur minyak itu digambarkan ke dalam sebaran-sebaran cekungan. van Bemmelen membagi jalur-jalur itu ke dalam 11 jalur : 1. East Sumatra Belt (north, mid, south Sumatra), 2. West Sumatra Belt (fore-arc basins Sumatra sekarang), 3. SE Sunda Belt (maksudnya SE Sundaland, termasuk north Java dan Madura, SE Borneo, E Borneo dan NE Borneo, Sabah), 4. Central Borneo (Melawi-Ketungau sekarang), 4a. NW Borneo (Sarawak-Brunei sekarang), 5. West Celebes (Lariang, Karama, Sulawesi Selatan) - jalur ini bergabung di baratdayanya dengan jalur SE Sunda, 6. East Arm Celebes (Banggai-Sula sekarang), 7. Buton, 8. Timor-Seram (Banda arc sekarang), 9. South New Guinea (memanjang dari Kepala Burung-Lengguru-Asmat-Merauke), 10. Median New Guinea (Central Range), 11. North New Guinea (Sarera-Rombeba-Jayapura). van Bemmelen menyusun jalur2 ini berdasarkan kejadian rembesan, lapangan-lapangan minyak, dan kemungkinan geologinya. Kompilasi jalur2 minyak van Bemmelen ini menarik dan sampai saat ini terbukti benar. Di luar jalur2 ini, meskipun sekarang diidentifikasi banyak cekungan, sampai sekarang tak ada penemuan hidrokarbon. Jalur2 minyak ini meliputi onshore dan offshore. Tentu ada penemuan2 minyak di luar jalur ini yang tak diperkirakan van Bemmelen, yaitu di offshore Natuna, offshore Makassar Strait, dan offshore Tanimbar. Secara garis besar jalur minyak van Bemmelen 80 % benar. Pada akhir tahun 1960an beberapa tulisan penting tentang cekungan minyak Indonesia telah muncul terutama untuk cekungan2 Sumatra Selatan, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur (dari L.G. Weeks dalam suatu forum World Oil Symposium). Khusus Indonesia Barat, Pak Koesoemadinata mempelopori dengan paper klasiknya di AAPG Bulletin tahun 1971. Tidak lama setelah teori plate tectonics diterima banyak pihak, mulailah disusun peta-peta cekungan sedimen Indonesia dan SE Asia secara regional misalnya Richard Murphy (1975), Soeparjadi (1975) dan Fletcher dan Soeparjadi (1976). Fletcher dan Soeparjadi (1976) menyebutkan Indonesia mempunyai 28 cekungan Tersier yang terbagi menjadi tipe : foreland, cratonic, outer arc, dan inner arc. Jumlah ini kemudian direvisi oleh Nayoan dkk (1979) yang kemudian menjadi publikasi resmi IAGI (Hariadi, 1980) menjadi 40 cekungan yang terbagi ke dalam lima tipe cekungan : Foreland, outer arc, interior cratonic, open shelf, unspecified basin. Tahun 1985, IAGI mengeluarkan revisi cekungan sedimen lagi (Suardy dan Taruno, 1985) menjadi 60 cekungan. Inilah pembagian resmi yang sampai sekarang masih dipakai dan sering disebutkan. Tahun 1992, Pertamina dan Beicip merevisi publikasi IAGI (1985) ini menjadi 66 cekungan yang terbagi ke dalam 15 tipe cekungan, tetapi klasifikasi dan jumlah cekungan Pertamina dan Beicip (1992) ini entah mengapa jarang dipakai dan diacu. Berdasarkan pemeriksaan teknis dan data pemboran sampai saat ini, saya pribadi lebih menyukai pembagian cekungan Pertamina dan Beicip (1992). Sebenanya, kita bisa menggabung publikasi IAGI (1985), publikasi Pertamina dan Beicip (1992), data hasil survey geomarin, dan semua data seismik termasuk speculative surveys yang dilakukan sampai 2006 di daerah2 yang sangat frontier (Sulawesi Sea, Gorontalo, dll) untuk menyusun peta cekungan baru. Kita juga bisa bagi-bagi cekungan-cekungan ini menjadi cekungan Tersier, cekungan Mesozoik, dan cekungan Paleozoik. Satu hal lain, saya juga telah meranking semua cekungan di Indonesia berdasarkan 20 kriteria teknis. Dengan demikian, kita pun bisa menampilkan mana-mana cekungan risiko sangat rendah - sangat tinggi. Perlu diawasi bahwa cekungan bukanlah bentuk fisiografi cekungan yang diisi air laut tetapi fisiografi cekung (depresi) yang diisi sedimen. Sebab, dalam klasifikasi cekungan yang kita punya ada cekungan2 laut saja (isinya hanya air laut dengan sedimen sangat tipis) seperti ditunjukkan oleh survey2 geomarin. Cekungan-cekungan di Banda, di forearcs Sumatra, Jawa dan Sulawesi bisa memanfaatkan lintasan2 survey geomarin (single & multi-beam). Sekarang, coba kita lihat perubahan apa yang terjadi setelah 21 tahun kita punya 60 cekungan. Pada tahun 1985, saat kita pertama mempublikasikan bahwa Indonesia punya 60 cekungan sedimen, status ke-60 cekungan itu terbagi menjadi : 14 memproduksi minyak, 7 ada penemuan belum berproduksi, 12 sudah dibor belum ada penemuan, 27 belum dibor. Tahun 2006 sampai Desember ini status ke-60 cekungan Indonesia itu terbagi menjadi : 16 memproduksi minyak, 8 ada penemuan belum berproduksi, 14 sudah dibor belum ada penemuan, 22 belum dibor. Selama 21 tahun dari 1985 ke 2006 hanya ada tambahan 2 cekungan berproduksi (Sengkang dan Banggai), 5 cekungan baru dibor. Saya pikir, ini bukan suatu gambaran yang terlalu menggembirakan. Kelihatannya, kita terlalu berat dengan mengusung bahwa kita punya 60 cekungan, tetapi banyak di antaranya yang potensinya sangat kecil. Mungkin, sekarang kita perlu membedakan mana peta cekungan minyak dan mana peta cekungan sedimen. Tantangan lain, di batas2 cekungan, di tinggian-tinggian pegunungan berbatuan beku atau ofiolit, banyak ditemukan juga rembesan. Di Sulawesi Timur, rembesan gas dan minyak ditemukan di retakan ofiolit sebelah barat dan baratdaya Luwuk sampai ke Tanjung Api. Jauh di bawah thrust sheet ofiolit ini bagian depan cekungan Banggai tertekuk sebagai foredeep dari foreland basin dan menggenerasikan minyak dan gas yang lari ke kedua arah : ke timur mengisi lapangan2 gas dan minyak di Cekungan Banggai, ke atas ke retakan2 ofiolit sampai ke Tanjung Api. Tantangan masih besar... Salam, awang --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006 ----- detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- --------------------------------- Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.

