Penjelasan Badan Geologi Terkait Kemunculan Gas Di Desa Walikukun, Serang SELASA, 23 JUNI 2009 06:45 WIB BANDUNG. Kemunculan gas bercampur air yang terjadi di Desa Walikukun, Kec. Cerenang, Kab. Serang, Prov. Banten sering terjadi. Beberapa lokasi telah diteliti oleh Tim Tanggap Darurat Badan Geologi DESDM pada tahun 2007 dan berdasarkan hasil penelitian Tim, gas yang keluar tidak berbahaya.
Penelitian yang dilakukan Tim Badan Geologi pada tahun 2007 tersebut terkait dengan kemunculan gas yang terjadi di wilayah Kabupaten Serang, kemudian Tim Tanggap Darurat Badan Geologi melakukan penelitian di beberapa wilayah seperti, Kampung Cikasap, Desa Sukarame, Kampung Pematang, Desa Pematang, Kecamatan Cikeusai, Kampung Cibeutik, Desa Pengampelan, Kecamatan Walantaka dan sumur bor di dalam kantor Puskemas, Kecamatan Pontang. ”Analisa komposisi gas dengan metode Giggenbach dan detektor multigas Multiwarm menunjukkan, kandungan gas semburan didominasi oleh gas CO2 yang diikuti H2S dan SO2. Ketiga gas tersebut merupakan ciri dari gas-gas vulkanik yang tidak berbahaya”, ujar Kepala Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunungapi, M. Hendrasto. Beliau melanjutkan, meski terdapat kandungan gas metana dalam semburan, namun hal tersebut tidak berbahaya karena persentasenya sangat kecil. Selain itu, tekanan gas yang keluar pada umumnya bertekanan rendah. Gas metana akan mudah menyala jika kandungannya mencapai diatas 5% vol, sedangkan kandungan gas metana pada pusat semburan lumpur di Walikukun kandungannya hanya berkisar antara 0,6-1% vol. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, M. Hendrasto meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak menyalakan api serta mendekati lokasi semburan untuk menghindari terjadinya kebakaran dan jatuhnya korban jiwa akibat menghirup gas yang keluar. Selain itu, Beliau menyarankan menggunakan pipanisasi untuk mendapatkan air bersih dan tidak membuat sumur bor di wilayah tersebut juga wilayah lainnya yang berpotensi terjadinya semburan gas bercampur air. dari: esdm.go.id 2009/6/24 Sunu Praptono <[email protected]> > Andang, > Salut buat sampeyan yang sdh langsung inspect dan observasi di lokasi > kejadian. > > Saat ini pertanyaan saya, bagaimana mereka menentukan titik pemboran ? > Apakah sebelumnya didahului dengan pemetaan dan survey, ataukah hanya > sekedar sedekat mungkin dengan lokasi yang mermbutuhkan suplai air bersih ? > Konon daerah itu punya sejarah sebagai langganan semburan fluida, meskipun > (yang sudah-sudah) katanya tidak membahayakan kesehatan dan hanya > berlangsung beberapa hari saja (maksimum dlm seminggu sdh reda). apakah > semua berasosiasi dengan pemboran dangkal, atau spontan saja ? Zona geologi > macam apa yang cenderung disukai untuk nyembur ? Kita juga nunggu hasil > analisa sampel gasnya. > > Salam, > > Soenoe. > > > 2009/6/23 Andang Bachtiar <[email protected]> > > > Air bercampur gas punya salinitas 2300-5000 ppm diukur dengan alat > > mikrokonduktifitas GDA. > > Kemungkinan air tawar berada di 70 meter, dan itu tidak menyembur > > keluar,... air baru menyembur keluar ketika sudah menembus lapisan gas > > antara 70 s/d 104 meter. > > Pada waktu ngebor lubang pertama yang 104 meter dan terjadi semburan air > > dan gas, rangkaian pipa hendak dicabut, baru 2 joint sudah kejepit, maka > > rangkaian pemboran beserta bit ditinggal di dalam, kemudian bagian atas > > disambung dengan kerangan yang diberi 3 saluran masing2 diberi valve, > untuk > > air dan gas, kemudian keseluruhan rangkaian disemen, istilahnya dibeton, > > atau di plug. Tapi air dan gas gak jadi gak keluar2 (ya jelas aja, karena > > sedang ditutup oleh semen dan konduit satu2nya hanya lewat bit,...yang > > notabene sangat sempit. > > Setelah merasa aman dengan ngeplug sumur 104 meter itu, maka diborlah > sumur > > pengganti 3 meter di sebelah timurnya. Dapat 70 meter, ketemu air. Pasang > > casing. Setelah disemen,... eeee... pagi2 hari Sabtu 20 Juni jam4 subuh > > menyemburlah air, pasir, dan gas dari lubang kedua tersebut. Sampai 15 > > meter-an. Tentu saja ini akibat logis dari tertahannya tekanan di sumur > > pertama yang hanya berjarak 3 meter itu, karena siudah disemen. Pada saat > > ini semburan sudah tinggal 30-50 cm-an dan luasan permukaan antara 2 > lubang > > tersebut melebar menjadi diameter 4 meteran dan semburan HANYA KELUAR > DARI > > bekas lubang pertama. Lubang kedua dah nggak keluar apa-apa. > > > > Air tawarnya memang mungkin dari lapisan alluvial Ciujung. Tapi gasnya > > jelas dari pocket gas-sand yang dilingkupi shale calcareous Cisubuh. > > Sampelnya saya ambil juga. > > > > Kayaknya bukan artesis dech. > > > > Salam > > > > adb > > > > ----- Original Message ----- From: "Rovicky Dwi Putrohari" < > > [email protected]> > > To: <[email protected]> > > Sent: Tuesday, June 23, 2009 3:46 PM > > Subject: Re: [iagi-net-l] Semburan Gas-Lumpur di Serang > > > > > > Ya > >> Aku stuju dugaan sunu. Kalau kedalamanya 100 meter saya rasa itu > >> kemungkinan sumber artesis. Cuman emang perlu dilihat (dibuktikan) > >> dimana ada singkapan batuan reservoir ini. Kalau melihat topografi > >> sekelilingnya yg menyebabkan tekanan piezometric setinggi awal > >> semburan emang aga sulit. > >> Tapi kalau sekarang dibilang sekitar 1-2 meter saja ya bisa jadi > >> reservoirnya memiliki kapasitas yield flowrate yang segitu saja > >> > >> Rdp > >> > >> On 6/23/09, Sunu Praptono <[email protected]> wrote: > >> > >>> Nampaknya daerah itu akan menarik untuk dijadikan lahan bagi para > >>> mahasiswa > >>> melakukan kerja praktek lapangan, seperti resistivity sounding, seismic > >>> refraksi, magnetik dll. mengingat ada obyek bawah permukaan yang tidak > >>> dalam > >>> dan menarik untuk dipetakan. > >>> > >>> > >>> Menurut saya sendiri, pemboran air termasuk sukses besar secara > >>> eksplorasi, > >>> di mana obyektive yang dicari dapat dibuktikan ada dalam jumlah yang > >>> melimpah. Air yang muncrat juga tidak pekat-pekat amat, malah cenderung > >>> ke > >>> arah jernih dan lebih masuk ke kategori air dari pada lumpur (video di > >>> Media > >>> Indonesia/metro tv). Kalau jaman kita SD dulu mungkin termasuk golongan > >>> sumber air artesis. > >>> > >>> Saya punya harapan besar, bahwa dengan persiapan yang lebih matang dan > >>> menurut saya teknologinya juga tidak perlu terlalu canggih bin mahal, > >>> maka > >>> kita dapat persembahkan kepada masyarakat setempat air jernih dari > >>> reservoir > >>> yang sama, sesuatu yang selalu mereka butuhkan hingga saat ini. > >>> > >>> > >>> Soenoe. > >>> > >>> > >>> > >>> > >>> 2009/6/23 Fajar Lubis <[email protected]> > >>> > >>> Banyak kemungkinan dari penyebab semburan ini... > >>>> > >>>> Mudah-mudahan ada yang bisa berbagi data kimia dari semburan. Dari > data > >>>> ini > >>>> bisa dilihat kontribusi airtanah, gas dan faktor lainnya. > >>>> > >>>> Dalam berita dibawah, dikatakan bahwa selain sumur ini, ada sumur > >>>> lainnya > >>>> dengan kedalaman 100 meter. Ada yang bisa berbagi, kondisi sumur 100 > >>>> meter > >>>> ini? > >>>> > >>>> Mungkin ada baiknya kita mengadakan diskusi IAGI mengenai hal ini. > >>>> Teknik > >>>> pemboran airtanah yang semakin baik dan murah ternyata telah > >>>> memungkinkan > >>>> bor-bor 'pantek' untuk menyentuh zona 'overpressure'. > >>>> > >>>> > >>>> Salam, > >>>> Fajar (2448) > >>>> > >>>> --- On Tue, 6/23/09, [email protected] <[email protected]> wrote: > >>>> > >>>> Apakah juga mungkin semburannya berasal dari akifer air artesis yang > >>>> mungkin saja terpanaskan oleh intrusi andesit(dike) yang dangkal > >>>> sehingga > >>>> menyebabkan terbentuknya reservoir hidrotermal ? > >>>> > >>>> > ============================================= > >>>> > Minggu, 21/06/2009 15:56 WIB > >>>> > Lumpur di Serang Sempat Menyembur Setinggi 15 Meter > >>>> > Hery Winarno - detikNews > >>>> > > >>>> > >>>> > Menurut dia, semburan lumpur itu berasal dari lubang yang dibor > untuk > >>>> > mencari air bersih. "Ada dua lubang yang sudah dibor. Satu lubang > >>>> mencapai > >>>> > kedalaman 100 meter. Sedangkan satu lubang lagi berkedalaman 70 > meter. > >>>> > Nah, semburan lumpur itu berasal dari lubang yang berkedalaman 70 > > >>>> meter > >>>> > itu," ujar dia. > >>>> > > >>>> > >>>> > >>>> > >>>> > >>>> > >>>> > >>>> > >>> > >> -- > >> Sent from my mobile device > >> > >> > >> > http://rovicky.wordpress.com/2009/05/30/seamount-si-gunung-raksasa-dibawah-laut-1-proses-terbentuknya/ > >> > >> > >> > -------------------------------------------------------------------------------- > >> PP-IAGI 2008-2011: > >> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] > >> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] > >> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... > >> > >> > -------------------------------------------------------------------------------- > >> ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!! > >> yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, Semarang > >> 13-14 Oktober 2009 > >> > >> > ----------------------------------------------------------------------------- > >> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > >> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > >> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > >> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > >> No. Rek: 123 0085005314 > >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > >> Bank BCA KCP. Manara Mulia > >> No. Rekening: 255-1088580 > >> A/n: Shinta Damayanti > >> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > >> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > >> --------------------------------------------------------------------- > >> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information > >> posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no > event > >> shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited > to > >> direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting > >> from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with > the > >> use of any information posted on IAGI mailing list. > >> --------------------------------------------------------------------- > >> > >> > > > > > > > -------------------------------------------------------------------------------- > > PP-IAGI 2008-2011: > > ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] > > sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] > > * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... > > > > > -------------------------------------------------------------------------------- > > ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!! > > yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, Semarang > > 13-14 Oktober 2009 > > > > > ----------------------------------------------------------------------------- > > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > > No. Rek: 123 0085005314 > > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > > Bank BCA KCP. Manara Mulia > > No. Rekening: 255-1088580 > > A/n: Shinta Damayanti > > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > > --------------------------------------------------------------------- > > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information > posted > > on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall > > IAGI and its members be liable for any, including but not limited to > direct > > or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from > loss > > of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of > any > > information posted on IAGI mailing list. > > --------------------------------------------------------------------- > > > > > -- http://rovicky.wordpress.com/2009/05/30/seamount-si-gunung-raksasa-dibawah-laut-1-proses-terbentuknya/

