Ya saya setuju, simple & masuk akal, nggak usah susah2 dihubung2kan dengan sesar watu kosek segala ...
wass, nyoto 2010/3/22 <[email protected]> > Pak Minarwan anda tertarik sama rel bengkok di Porong, semenjak rel > tersebut bengkok di sekitar daerah tersebut beberapa kali PJKA ganti rel > karena bengkok, juga pipa air yang pecah terjadi tidak hanya sekali tetapi > berkali-kali, kalau saya sih sederhana. Di daerah tersebut terjadi > amblesan makanya rel, pipa dlsb ketarik dan bengkok itu saja. Maaf ini > sangat sederhana lho. (Salam Untung) > > > 2010/3/16 Nataniel Mangiwa <[email protected]>: > >> Dear IAGI netters.. > >> > >> Setelah saya membaca paper yang Pak Bambang P. Istadi sarankan (paper > >> dikirimkan langsung & japri oleh Pak Sawolo), ada beberapa hal yang > >> cukup > >> menarik untuk dikritisi. > >> > >> 1. Dalam kedua paper tersebut sama sekali tidak ada 1 ft pun lay > >> out/cropping dari Masterlog sumur tersebut. Menurut saya ini sangat2 > >> patut > >> untuk dikritisi. Karena Masterlog adalah dasar dan hasil dari pemboran > >> suatu > >> sumur. Kalaupun memang dilarang oleh aturan, mungkin bisa dimintakan > >> ijin > >> minimal untuk 'hanya' menampilkan 50ft atau sejelek-jeleknya 20ft > >> interval > >> sebelum TD. Lebih baik lagi jika ada lay out Masterlog di daerah2 yang > >> penting, yaitu sekitar casing shoe, lalu stuck interval, dan yang > >> paling > >> penting tentu saja di interval dekat2 TD. > >> > >> 2. LOT result, menurut saya yang paling reliable adalah dari DDR. Karena > >> coman pasti sangat concern dengan hal ini, dan kemungkinannya sangat > >> kecil > >> akan terjadi kesalahan reporting dari nilai LOT ini di DDR. Seumur saya > >> melihat DDR, belum pernah saya dapati ada kesalahan reporting dari LOT > >> value > >> di DDR. Jadi seharusnya, ditampilkan juga scan dari DDR yang menstate > >> nilai > >> LOT. > >> > >> 3. Stuck yang terjadi disimpulkan sebagai Differentialy Stuck. Menurut > >> saya > >> juga ini patut dikritisi, apakah memang ada perbedaan pressure yang > >> sangat > >> besar antara wellbore dengan formasi tempat stuck (Subnormal > >> Pressure/depleted?). Apa memang ada zona Subnormal di well dengan > >> rank > >> Wild Cat. > >> > >> 4. Sanggahan2 dari penulis paper tersebut hampir semuanya berdasarkan > >> pada > >> kaidah umum yang berlaku di lingkungan pengeboran 'Drilling Practice', > >> dan > >> hampir semuanya memang reasonable dan sudah sangat familiar digunakan di > >> lingkungan pengeboran. Tetapi terjadi dualisme pendapat dari penulis. > >> Saat > >> mereka menganalisa Loss dan Kick yang terjadi, kenapa mereka tidak > >> mengikuti > >> kaidah umum Drilling Practice juga. Seharusnya Loss dan Kick sangat > >> mudah > >> dijelaskan dalam standart drilling operation, tetapi mengapa tidak > >> mengikuti > >> kaidah umum, malah mencoba memperlihatkan sesuatu yang korelatif dengan > >> Gempa. > >> > >> Ilmu baru atau teori baru jelas tidak salah, tetapi..apakah teori2 yang > >> sudah ada tidak mampu menjawab tentang terjadinya Loss dan Kick > >> tersebut, > >> sehingga harus melahirkan pola pemikiran baru bahwa Loss tersebut > >> 'seperti' > >> ada korelasinya dengan Gempa. > >> > >> 5. Harus juga diajukan ke dunia drilling internasional tentang perubahan > >> definisi dari Loss dan Kick, karena yang selama ini saya pahami adalah > >> kedua > >> definisi tersebut adalah pure berhubungan dengan wellbore, tidak ada > >> hubungannya dengan Gempa dlsb. > >> > >> 6. Dikatakan juga bahwa Kick yang terjadi adalah saline water kick yang > >> memiliki density 8.9ppg. Lalu dengan jelas juga dikatakan bahwa swabbing > >> tidak terjadi di BJP-1. Pertanyaan yang muncul adalah, lalu Kick jenis > >> apakah yang muncul? Dan disebabkan oleh apa? Karena per definisi, kick > >> hanya > >> disebabkan oleh kedua hal tersebut. > >> > >> 7. Dalam paper tersebut juga ada ketidak'fair'an dalam hal penegasan > >> data. > >> Data yang sangat kritikal yaitu data tentang 14ft lithology terakhir > >> sebelum > >> TD, tidak pernah disebutkan dengan TEGAS bahwa ada miss data di interval > >> tersebut. Justru kata2 yang tertulis adalah: "The speculation that the > >> well > >> penetrated any carbonate formation is not supported by cuttings or > >> calcimetry increases" (page 8 Authors reply to discussion). > >> > >> 8. Lapindo selalu mengatakan bahwa tidak ada kesalahan pemboran dalam > >> operasi well ini. Padahal menurut apa yang saya pahami selama ini, semua > >> kasus Stuck itu 100% disebabkan oleh wellbore dan manusia, dan Stuck ini > >> termasuk kesalahan dan itu bisa dihindari. Apakah definisi stuck yang di > >> well BJP-1 sama dengan hal tersebut ataukah Stuck karena > >> Gempa/Mudvolcano/Reaktivasi Sesar? Yang artinya bahwa stuck di well ini > >> tidak dapat diklasifikasikan sebagai faktor kesalahan/kelalaian. > >> > >> 9. Sejak pertama kali teori Lusi karena bencana alam mencuat, yang > >> selalu > >> saya tidak mampu menggambarkan adalah bagaimana penggambaran Sesar > >> Watukosek, shear2nya dan kemenerusannya terhadap BJP-1 (atau lebih > >> spesifiknya depth sekitar TD). Dalam paper tersebut juga ditampilkan > >> diagram > >> dalam Fig 14A (page 17 Authors reply to discussion). Tetapi tetap > >> menurut > >> saya itu tidak bisa menjawab konteks hubungan antara BJP-1 dengan > >> Watukosek > >> fault. Opini penulis paper adalah: > >> - Ada reaktivasi sesar > >> - Ada korelasi waktu antara Gempa dengan Loss > >> Selanjutnya saya tafsirkan bahwa: > >> - Penulis meyakini bahwa Loss karena reaktivasi sesar. > >> - Jika benar demikian, maka harus ada zona/shear dari Fault yang > >> menghubungkan antara sesar dengan well. Artinya harus ada komunikasi > >> dari > >> sesar dengan well, baik langsung di bidang utamanya atau mungkin dari > >> shearnya saja. > >> - Jika memang ada komunikasi, berarti itu sudah terbentuk suatu sistem > >> yang > >> berhubungan (channelling) antara well dengan sesar. > >> - Selanjutnya adalah, mengapa penulis paper tsb yakin bahwa well BJP-1 > >> closed system. Sepertinya ada dualisme pandangan, saat mengkorelasikan > >> Loss > >> dengan Gempa well bukan closed system, karena bisa terganggu oleh sistem > >> dari luar. Tetapi saat ada erupsi, well dikatakan closed system tidak > >> ada > >> komunikasi dengan erupsi. > >> > >> 10. Beberapa opini di paper tersebut yang menunjukan bahwa di beberapa > >> tempat juga 'terbukti' terkena efek dari Gempa Jogaj, sebenarnya kurang > >> objektif. Karena yang kita bicarakan adalah spesifik, yaitu well BJP-1 > >> saja. > >> Apakah benar Loss di BJP-1 ada hubungannya dengan Gempa? Di tempat lain > >> sah2 > >> saja terkena dampak efek Gempa Jogja, tapi tidak berarti di BJP-1 harus > >> terkena juga. Sama seperti logika sederhananya dibeberapa tempat > >> dilaporkan > >> panas terik, tetapi aneh..tepat di tempat kita berada yang terjadi > >> adalah > >> hujan lokal. Atau kalau mau membalikkan kembali kepada contoh yang ada > >> juga > >> di paper tersebut adalah, didaerah sekitar Lusi banyak Mud Volcano, > >> tetapi > >> kenapa hanya MV Lusi saja yang erupted. Kejadiaan yang lokal dan > >> spesifik, > >> dalam kasus ini yaitu di well BJP-1 tidak harus sama dengan kejadian2 di > >> sekitarnya. > >> > >> Salam Nyepi.., > >> Natan > >> > >> > >> On 3/15/10, Awang Satyana <[email protected]> wrote: > >> > >>> Minarwan : > >>> 1. Bengkoknya rel KA tersebut pernah kita diskusikan di milis > >>> ini > >>> hampir empat tahun lalu pada tahun kejadian LUSI (2006). Saat itu ada > >>> dua > >>> pendapat bahwa pembengkokan itu disebabkan reaktivasi Sesar Watukosek > >>> atau > >>> collapse struktur tanah (amblesan) di sekitar Lusi. Untuk ini harus ada > >>> uji > >>> kronologi kapan foto dibuat dan kapan berita diturunkan. Bisa saja ada > >>> kemungkinan bahwa berita terlambat diturunkan di koran, meskipun > >>> kejadiannya > >>> sudah lama. Satu kemungkinan yang lain lagi adalah bisa saja rel KA > >>> tersebut baru terbengkokan pada September 2006 oleh reaktivasi kemudian > >>> Sesar Watukosek. Apa yang dimaksud dengan reaktivasi kemudian adalah > >>> sesar > >>> ini beberapa kali direaktivasi. Apa dasar dugaan ini, yaitu flow rate > >>> semburan Lusi mengalami pulsasi mengikuti regional earthquakes dengan > >>> epicentrums yang terjadi dalam radius 300 km dari Lusi. Untuk > >>> mengeceknya, > >>> silakan plot semua episentrum gempa M >3.7 dari tangga; 27 Mei 2006-21 > >>> Nov > >>> 2006 dan > >>> kontraskan dengan flow rate Lusi dalam m3/hari, maka akan terjadi > >>> linearity di antara mereka. Besar flow rate Lusi mengikuti earthquakes > >>> swarm > >>> yang terjadi di sekeliling Jawa Timur dengan episentrum dalam jarak 300 > >>> km > >>> dari titik lokasi Lusi. Flow rate yang pusating itu juga mencerminkan > >>> dynamic fluid stress change di bawahnya yang lalu terhubung ke > >>> reaktivasi > >>> Sesar Watukosek; jadi pembengkokan rel KA itu tak mesti terjadi pada 27 > >>> Mei > >>> 2006 atau September, bisa saja di antara Mei dan September; sebab sesar > >>> yang > >>> sudah sekali tereaktivasi pada awalnya dan mengalami dynamic fluid > >>> stress > >>> change dengan manifestasi semburan fluida Lusi, akan mudah tereaktivasi > >>> lagi. Sekarang pun arah amblesan Lusi membuat bentuk lonjong dengan > >>> arah > >>> sumbu panjang BD-TL, mengindikasikan bahwa Sesar Watukosek di bawahnya > >>> masih > >>> rentan tereaktivasi oleh perubahan fluida yang melaluinya. Fluida ini > >>> mempunyai tekanan yang bisa menggerakkan bidang yang lemah seperti > >>> sesar. > >>> 2. Bagaimana kita mengetahui bahwa saat itu sudah ada > >>> penambahan > >>> magma di Semeru ? Kalau di Merapi ya, sebab gempa-gempa volkanik pada > >>> badan > >>> gunungapi telah dirasakan sebelum gempa Yogya yang mengindikasi bahwa > >>> terjadi penambahan tekanan dari dapur magmanya. Referensi Sparks et al. > >>> (1977) saya pikir tak valid dalam kasus ini, terlalu lama untuk kasus > >>> reaktivasi Semeru, apakah publikasi tahun 1977 bisa menafsirkan > >>> pengisian > >>> magma Semeru pada 2006 ? Komposisi magma Merapi dan Semeru yang saya > >>> kutip > >>> dari Kusumadinata (1979) menunjukkan magma Semeru relatif sedikit lebih > >>> basa > >>> dibandingkan Merapi. Komposisi ini, harus diingat, berdasarkan > >>> pengukuran > >>> continous selama 30 tahun, juga berdasarkan pemetaan geologi permukaan > >>> di > >>> lereng dan kaki Semeru yang juga menemukan komposisi lebih basa. > >>> 3. Mori dan Kano (2009) telah menghitung (berdasarkan data > >>> analogi > >>> dengan gempa di Jepang, lihat lebih detail di bawah) bahwa dynamic > >>> stress > >>> change di Lusi 0.005-0.010 MPa, dan itu sudah di atas threshold yang > >>> ditetapkan Fisher (2008) sebesar 0.001 MPa, mengapa kita menggunakan > >>> threshold dari Walter et al (2007) dan Stein (1999), threshold > >>> tersebut > >>> untuk magmatic volcano eruption; sedangkan yang dari Fisher (2008) > >>> khusus > >>> untuk mud volcano eruption. Lagipula, menurut hemat saya hitungan dari > >>> Mori > >>> dan Kano (2009) itu lebih kecil dari yang sebenarnya karena tak > >>> memasukkan > >>> kesamaan focal mechanism gempa dan directivity-nya. Yang namanya pemicu > >>> tak > >>> perlu besar dari awal sebab efeknya bisa seperti snowball effect. > >>> 4. Paper saya baik di IAGI (2007) maupun di IPA (Satyana and > >>> Asnidar, > >>> 2008) tak membahas secara spesifik kondisi kritis Lusi sebagai > >>> elisional > >>> critical venting system sebab paper di IAGI menggunakan pendekatan > >>> sejarah > >>> yang menunjukkan bahwa kasus seperti Lusi dulu pun pernah terjadi saat > >>> periode Jenggala-Majapahit di situ. Paper di IPA menunjukkan semua > >>> diapir > >>> dan mud volcano di Jawa, jadi tak khusus ke Lusi. Critical atau > >>> tidaknya > >>> sebuah calon mud volcano, tentu akan butuh penelitian yang seksama. > >>> Saya > >>> saat ini tengah mengevaluasi untuk memodifikasi stages diapir/mud > >>> volcano > >>> dari empat menjadi lima (lihat penjelasan tambahan di bawah). Dengan > >>> kasus > >>> Lusi ini, justru kita belajar –mencari semua bentuk diapir di bawah > >>> permukaan, memetakan semua sesar yang di dekatnya atau melaluinya, dan > >>> mengevaluasi critical point-nya. Critical condition yang Minarwan > >>> daftarkan > >>> itu adalah ideal, tetapi apa kita bisa mengukurnya ? Bukan sesuatu yang > >>> gampang > >>> sebab memerlukan suatu high resolution seismic data, pengukuran > >>> tiltmeter > >>> dan GPS di atas tanah tempat diapir terkubur, gas detector untuk > >>> menangkap > >>> methan, dsb. Untuk info saja, kualitas data seismik di Kendeng Deep tak > >>> terlalu baik sebab di atasnya banyak volcanic cover dan thrust sheets > >>> Kendeng yang sangat tebal. > >>> 5. Telah terjadi reaktivasi Watukosek Fault harus dicurigai > >>> dari : > >>> lima lokasi semburan awal sebelum Lusi yang membentuk liniasi BD-TL, > >>> turunnya muka air sumur2 penduduk di Kampung2 Pulungan, Kalanganyar dan > >>> Gununganyar yang jaraknya 50 km dari Lusi dan terletak di sepanjang > >>> Watukosek Fault, keluarnya minor seeps (lumpur dan gas) pada saat yang > >>> bersamaan di mudvolcano tua Pulungan, Kalanganyar, Gununganyar; > >>> menurunya > >>> 10-20 % flowrate sumur Carat yang juga terletak di jalur sesar > >>> tersebut, dan > >>> rontokan baru di gawir sesar Watukosek. Lihat di bawah untuk keterangan > >>> lebih lanjut. Semua kejadian itu serentak terjadi sesudah gempa > >>> Yogya. Bengkokan rel KA saya tak tahu pasti, tetapi terjadi di antara > >>> Mei-September 2006 (reaktivasi ulang sangat mungkin terjadi). Belokan > >>> Sungai > >>> Porong saya pikir belokan lama yang justru menandakan ada sesar di > >>> bawahnya, > >>> sehingga zone lemah ini diterobos air permukaan. > >>> 6. Parameter induced earthquake (dalam frekuensi, seismic > >>> amplitude, > >>> dan dynamic stress change) di area Lusi karena gempa Yogyakarta > >>> berdasarkan > >>> hitungan atas data analogi gempa bermagnitude sama di Jepang yang > >>> terukur di > >>> record station berjarak sekitar 250 km dari episentrum. Perhatikan > >>> bahwa itu > >>> bukan analogi yang sempurna sebab focal mechanism antara gempa Yogya > >>> dan > >>> gempa Jepang itu berlainan, juga rupture directivity-nya berlainan. Hal > >>> ini > >>> akan menyebabkan bahwa parameter ground earth shaking di Sidoarjo yang > >>> diturunkan dari analogi gempa di Jepang itu tak mesti sama seperti yang > >>> dihitung Mori dan Kano (2009) yaitu maximum velocity amplitude 0.25 > >>> cm/sec > >>> dan dynamic stress change 0.005-0.010 MPa untuk kisaran frekuensi > >>> 0.3-0.5 > >>> Hz. Menurut hemat saya, parameter-parameter induced earthquake di Lusi > >>> itu > >>> akan lebih besar daripada yang diperhitungkan Mori dan Kano (2009) > >>> sebab > >>> focal mechanism gempa Yogya strike-slip fault dengan rupture > >>> directivity SW-NE sejajar dengan semua sesar mendatar besar yang > >>> punya > >>> rigt stepping fault set (lihat terminologi relay pattern ini di > >>> Harding, > >>> 1985 dan Biddle, 1985) dari Sesar Opak tempat episentrum gempa Yogya ke > >>> Sesar Watukosek tempat Lusi. Mengapa akan punya parameter2 gempa yang > >>> lebih > >>> besar ? Sebab, propagasi energi gempa akan lebih mereaktivasi > >>> sesar-sesar > >>> yang sejenis dibandingkan antara hiposentrum dan lokasi distant induced > >>> earthquake-nya secara struktur geologi tak berhubungan. Perhatikan > >>> bahwa > >>> distribusi episentrum aftershocks gempa Yogya berjalan pula dalam arah > >>> right > >>> stepping terhadap episentrum mainshock, ini mengartikan bahwa rupture > >>> directivity gempa ini SW-NE pula. Sungguhpun demikian,hitungan > >>> parameter > >>> gempa Lusi Mori dan Kano (2009) itu masih di dalam kisaran gempa yang > >>> dapat > >>> menyebabkan perubahan local fluid pressure seperti yang dihitung oleh > >>> Fisher > >>> (2008) dengan kisaran dynamic stress change 0.001-0.1 MPa. Saya pikir, > >>> metode > >>> cross plot Fisher (2008) ini lebih ilmiah sebab menghitung stress > >>> change > >>> distant seismic secara individual dibandingkan crossplot Manga dan > >>> Brodsky > >>> (2006) yang hanya merupakan crossplot statistic antara jarak > >>> episentrum-distant induced eruption/earthquake dan magnitude gempanya. > >>> 7. Perhatikan bahwa dalam 15 tahun belakangan ini para ahli > >>> gempa > >>> telah banyak mempublikasikan (contoh : Hill et al, 1993, Miyazawa dan > >>> Mori, > >>> 2006; Hill dan Prejean, 2007; Fisher et al 2007) bahwa stress change > >>> sebesar > >>> 0.001-0.1 MPa dapat menimbulkan gempa yang berasal dari distant > >>> earthquake > >>> di tempat lain. Stress change di Lusi diperhitungkan sebesar 0.005-0.01 > >>> Mpa, > >>> jelas ini di dalam kisaran tersebut. Khususnya, disebutkan Mori dan > >>> Kano > >>> (2009) bahwa pengaruh seperti itu kebanyakan terjadi di area > >>> hidrotermal. > >>> Lusi terjadi di area yang termalnya tinggi sebab Lusi terjadi di dekat > >>> lokasi gunungapi aktif Arjuno, Welirang, Anjasmoro. Ini juga dibuktikan > >>> dengan temperatur air Lusi yang mencapai sekitar 80-100 C. > >>> 8. Mori dan Kano (2009) tidak membahas aspek subsurface Lusi > >>> yang > >>> bila kita lihat data seismiknya jelas merupakan critical venting system > >>> berupa diapir stage -3 (mud volcano eruption : stage-4). Maka > >>> pertanyaan > >>> mereka apakah dynamic stress change yang terjadi di Lusi bisa memicu > >>> mud > >>> volcano eruption, dapat segera dijawab apabila mereka mengetahui bahwa > >>> ada > >>> naturally prepared system di bawah Lusi sehingga goncangan dari bawah > >>> yang > >>> kecil pun bisa memicu erupsi. Sebuah critical venting system akan punya > >>> threshold yang lain yang tak akan masuk kepada crossplot Manga dan > >>> Brodsky > >>> (2005) sebab crossplot tersebut dibangun atas old mud > >>> volcano/eruption/liquefaction, sementara Lusi adalah crital venting > >>> system > >>> yang ready to erupt bila ada perturbation of the critical elisional > >>> venting > >>> system. Threshold magnitude antara yang old mud volcanoes dengan yang > >>> critical venting system ready to erupt akan berlainan. > >>> 9. Mori dan Kano (2009) hanya memasukkan perubahan flow rate > >>> di > >>> sumur Carat (4 km BD Lusi) sebesar 10-20 % yang disimpulkannya akibat > >>> gempa > >>> Yogya sebab perubahan itu diketahui setelah continuous record flow rate > >>> Carat sebelum dan sesudah gempa Yogya terjadi . Pada kenyataannya > >>> perubahan > >>> fluida itu terjadi pada sepanjang 50 km ke arah timurlaut dari Lusi > >>> yaitu > >>> perubahan muka air di sumur-sumur penduduk di Kampung Pulungan, > >>> Gununganyar, > >>> Kalanganyar; disertai seeps yang tiba-tiba terjadi di gununglumpur tua > >>> Pulungan, Gunungayar, Kalanganyar. Mori dan Kano (2009) pun tidak > >>> memasukkan > >>> lima semburan awal yang terjadi di sekitar Lusi yang semuanya terletak > >>> di > >>> splay Watukosek Fault. Jelas semua fenomena perubahan fluida yang > >>> terjadi > >>> serentak sepanjang 55 km dari sumur Carat di BD Lusi, loss di sumur > >>> Banjarpanji-1, di semburan2 awal Lusi dan adik2nya, di sumur2 penduduk > >>> sampai natural seeps pada jarak 50 km NE Lusi di Gununganyar yang > >>> semuanya > >>> berlokasi di Sesar Watukosek, dan semuanya terjadi setelah gempa > >>> Yogya, > >>> sangat mengindikasikan bahwa telah terjadi reaktivasi Sesar Watukosek. > >>> Apa > >>> yang menyebakan reaktivasi sesar tersebut ? Apakah mungkin UGBO sumur > >>> Banjarpanji-1 menyebabkan reaktivasi sesar sampai sepanjang 50 km ? > >>> Apakah > >>> UGBO dapat menyebabkan semua perubahan fluida yang membentuk kelurusan > >>> BD-TL > >>> dalam jarak sepanjang 55 km ? Untuk info teman-teman saja, stress > >>> change > >>> gempa Yogya masih terukur setelah 34 detik pasca gempa Yogya pada jarak > >>> 286 > >>> km di area perairan Pangkah sebelah utara muara Bengawan Solo dan > >>> tercatat > >>> pada seismic record akuisisi seismic menggunakan kapal Orient Explorer. > >>> Nah, > >>> apakah ini akibat UGBO sumur Banjarpanji-1 ? > >>> 10. Analisis sequence temporal yang dilakukan Mori dan Kano (2009) > >>> untuk > >>> partial loss dan total loss circulation di sumur Banjarpanji-1 dan > >>> turunnya > >>> flowrate sumur Carat relative terhadap tempo gempa Yogya bukanlah suatu > >>> kebetulan (coincidence) tetapi punya hubungan sebab-akibat. Pendapat > >>> ini > >>> akan kita peroleh bila kita melihat efek dynamic stress change bukan > >>> hanya > >>> di area Carat dan Banjarpanji, tetapi ke semua jarak sepanjang 55 km > >>> dari > >>> Carat sampai Gununganyar, di area ini banyak sekali perubahan dynamic > >>> fluid > >>> stress change mengikuti gempa. Bila ini sebuah kebetulan, berarti > >>> kebetulan > >>> yang sangat kebetulan ? > >>> 11. Pertanyaan Mori dan Kano (2009) mengapa gempa-gempa lain sebelum > >>> gempa Yogya tak menimbulkan Lusi, baru setelah ada pengeboran BJP-1 dan > >>> gempa Yogya lalu ada Lusi, adalah pertanyaan klasik yang ditanyakan > >>> tanpa > >>> mengecek gempa-gempa yang mana yang sebelum Yogya itu, coba didetailkan > >>> dulu > >>> dan nanti kita analis sama-sama. Sebab dari setiap gempa itu harus > >>> dicek > >>> dulu bagaimana magnitude-nya, focal mechanism-nya, rupture > >>> directivity-nya, > >>> relay fault set-nya antara lokasi episentrum dengan lokasi Lusi, > >>> dominant > >>> directivity propagasi energinya, dll. Pertanyaan Mori dan Kano (2009) > >>> apakah > >>> bila tidak ada sumur BJP-1 Lusi tetap meletus hanya dengan gempa Yogya > >>> juga > >>> merupakan pertanyaan klasik, sama dengan bila saya bertanya, apakah > >>> kalau > >>> tidak ada gempa Yogya, hanya ada sumur BJP-1,Lusi akan tetap meletus > >>> seperti > >>> sekarang ? Kedua pertanyaan ini adalah pertanyaan “kalau” , yang > >>> menurut > >>> hemat saya tidak cukup ilmiah dalam konteks ini untuk ditanyakan > >>> maupun dijawab sebab kita tidak berkalau-kalau, melainkan sedang > >>> berusaha > >>> tiga kejadian yang terjadi secara bersamaan : gempa Yogya, pengeboran > >>> BJP-1 > >>> dan erupsi Lusi. > >>> 12. Mori dan Kano (2009) membedakan antara cause dan trigger Lusi, > >>> ini > >>> tepat sebab cause Lusi sudah tertanam sejak lama di subsurface-nya > >>> (elisional critical venting system), sementara trigger –nya hanyalah > >>> perturbation on cause tersebut. Dan, semua data baik data pengeboran > >>> sumur > >>> BJP-1 yang dianalisis dan diargumentasi Pak Bambang Istadi, Pak Sawolo > >>> dkk. > >>> maupun data regional sekeliling Lusi seperti yang telah saya sebutkan > >>> di > >>> atas tidak menunjukkan suatu UGBO di sumur BJP-1 yang dapat memicu Lusi > >>> mud > >>> volcano eruption. Paper Mori dan Kano (2009) yang saya tambahi dengan > >>> analisis-analisis saya di atas makin meyakinkan saya bahwa reaktivasi > >>> Sesar > >>> Watukosek yang dipicu gempa Yogya adalah trigger utama Lusi eruption. > >>> Trigger utama ? Berarti, ada trigger lainnya ? Itu mungkin saja, saya > >>> tak > >>> pernah menutup kemungkinan trigger lain, tetapi kalau pun ada, tak akan > >>> merupakan trigger yang penting. > >>> 13. Saya tak pernah menyebutkan bahwa gempa Yogya adalah penyebab > >>> Lusi, > >>> beberapa teman telah salah duga tentang hal ini; penyebab Lusi adalah > >>> sistemnya yang merupakan elisional critical venting system, sementara > >>> reaktivasi Sesar Watukosek yang dipicu gempa Yogya adalah trigger utama > >>> yang > >>> membuat naturally prepared system tersebut bererupsi karena telah > >>> terjadi > >>> dynamic fluid stress change yang signifikan atasnya. > >>> 14. UGBO yang diduga terjadi di BJP-1 lalu menimbulkan Lusi mud > >>> volcano > >>> eruption seperti dianut oleh beberapa penulis (Davies et al., 2006, > >>> Davies > >>> et al., 2008; Tingay et al., 2008) dan beberapa teman di milis ini > >>> sangat > >>> patut dipertanyakan baik dari (1) segi keabsahan analisis drilling > >>> (seperti > >>> diargumentasi oleh Sawolo et al, 2009, 2010; Nawangsidi, 2007 dan > >>> beberapa > >>> teman yang aktif di milis ini -lihat argumentasi2 Pak Bambang Istadi) > >>> dan > >>> (2) data geologi regional sekeliling Lusi (lihat butir-butir diskusi > >>> saya di > >>> atas). Analisis drilling dan data geologi regional tidak menunjukkan > >>> UGBO > >>> (bila ada) signifikan memicu erupsi Lusi. Bila UGBO di BJP-1 tidak ada, > >>> maka > >>> tak perlu lagi melibatkan BJP-1 sebagai pemicu Lusi. . > >>> 15. Secara umum, diketahui bahwa kejadian mud volcanoes berhubungan > >>> dengan sesar-sesar di active tectonic setting (Brown, 1980; Kopf, 2002, > >>> 2008; Bonini, 2007). Lusi memenuhi kondisi ini, ia terletak di Sesar > >>> Watukosek di wilayah tektonik yang aktif (beberapa jalur antiklin di > >>> wilayah > >>> Sidoarjo bahkan bergerak dalam satu malam sampai ke permukaan yang > >>> menyebabkan sebuah aliran sungai berubah alurnya –lihat bencana Banyu > >>> Pindah > >>> di Serat Pararaton yang terjadi pada zaman Airlangga memerintah > >>> Kahuripan > >>> –Satyana dan Asnidar, 2008). > >>> 16. Natural process fracture propagation dan fluidisasi dapat > >>> diakselerasi oleh aktivitas seismic. Goncangan gempa dapat membentuk > >>> fracture yang akan menjadi free pathways untuk deeper fluids naik ke > >>> permukaan. Banyak sekali publikasi yang mendokumentasikan bahwa > >>> aktivitas > >>> seismic menggiatkan atau memicu aktivitas geyser, methane emission, > >>> magmatic > >>> volcanoes dan mud volcanoes (Chigira dan Tanaka, 1997; Guliev dan > >>> Feizullayev, 1997; Linde dan Sacks, 1998; Delisle et al, 2002; Hieke, > >>> 2004; > >>> Nakamukae et al, 2004; Manga dan Brodsky, 2006; Ellouz-Zimmermann et > >>> al, > >>> 2007; Lemarchand dan Grasso, 2007; Mau et al, 2007; Mellors et al, > >>> 2007; > >>> Walter dan Amelung, 2007; Judd dan Hovland, 2007; Mazzini et al., 2008; > >>> Eggert dan Walter, 2009; Manga, 2009; Mazzini et al, 2009). > >>> > >>> Demikian, semoga membantu memberikan penjelasan. > >>> Salam, > >>> Awang > >>> > >>> > >>> --- Pada Ming, 14/3/10, MINARWAN <[email protected]> menulis: > >>> > >>> > >>> > >>> Dari: MINARWAN <[email protected]> > >>> Judul: Re: [iagi-net-l] Uneg-uneg..LUSI > >>> Kepada: [email protected] > >>> > >>> Tanggal: Minggu, 14 Maret, 2010, 11:11 PM > >>> > >>> > >>> > >>> Saat sedang memikirkan rel kereta api yang bengkok (salah satu bukti > >>> reaktivasi Sesar Watukosek), secara iseng-iseng, saya mencari berita > >>> mengenai kejadian ini dan mendapatkan tautan berikut: > >>> http://www.suaramerdeka.com/harian/0609/28/nas01.htm > >>> > >>> Foto yang terpampang di situs di atas menurut hemat saya adalah foto > >>> yang hampir sama dengan foto yang dipasang di Mazzini et al (2007) - > >>> EPSL 261, 375-388. Saya lihat tanggalnya, tanggal 27. Gempa Jogja yang > >>> konon telah mereaktivasi sesar Watukosek juga terjadi pada tanggal > >>> yang sama. Tapi lho, beritanya itu dimuat pada bulan September, > >>> sedangkan gempanya kan bulan Mei? > >>> > >>> Jadi, ada selang waktu 4 bulan, di mana tidak ada yang sadar bahwa rel > >>> kereta itu telah bengkok, tidak ada laporan gangguan dan kereta api > >>> jurusan Surabaya-Malang-Blitar lewat seperti biasa setiap hari mungkin > >>> beberapa kali, sampai akhirnya lengkungan rel menjadi parah karena > >>> pergerakan tanah yang membuat rel bengkok. Bagaimana ini Pak Masinis > >>> selama 4 bulan kok tidak melihat posisi relnya sudah berubah? > >>> > >>> Berlanjut ke komposisi magma Merapi dan Semeru, yang membuat kedua > >>> gunung api ini merespon gempa Jogja secara bersamaan walaupun jaraknya > >>> berbeda dari pusat gempa, saya sudah memberikan 3 referensi, di mana > >>> mereka menggunakan XRF untuk menganalisis kandungan SiO2, yang > >>> menyimpulkan Semeru dan Merapi adalah sama-sama gunung api andesit > >>> basaltik. Komentar saya mengenai topik ini saya rasa sudah cukup, > >>> selebihnya saya serahkan kepada para volcanologist yang lebih tahu > >>> daripada saya untuk berkomentar. > >>> > >>> Sampai sejauh ini, saat kita mendiskusikan kaitan gempa dan aktivitas > >>> gunung api, kita selalu tidak mengikutsertakan faktor tambahan magma > >>> baru ke dapur magma (Sparks et al, 1977 di dalam Manga dan Brodsky, > >>> 2006). Padahal, Merapi dan Semeru telah aktif sebelum gempa Jogja > >>> terjadi, dengan kata lain, tekanan di dapur magma sudah meningkat > >>> sehingga ada yang harus dikeluarkan lewat lubang kepundan. Dengan > >>> menggunakan analogi proses yang sama antara gunung api dan gunung > >>> lumpur (walaupun yang satu adalah magma sedangkan yang lain adalah > >>> lumpur), kita bisa mempertanyakan, ada tambahan tekanan apa dan dari > >>> mana di sekitar sumur BPJ/BJP-1 yang membuat LULA/LUSI meledak? Hanya > >>> passing seismic wave sajakah? > >>> > >>> Mori dan Kano (2009) menunjukkan bahwa passing seismic wave dari gempa > >>> Jogja yang sampai ke Sidoarjo paling-paling cuma sekitar 7 kPa, lebih > >>> kecil daripada critical threshold 10 kPA yang digunakan oleh Walter et > >>> al (2007) - mengikuti Stein (1999) - untuk menunjukkan transient > >>> pressure minimum yang dapat mentrigger letusan gunung berapi. Semua > >>> fakta mengenai naik turunnya muka air tanah, rekaman passing seismic > >>> wave di Ujung Pangkah dan seterusnya adalah fakta yang baik. Bahwa > >>> kondisi fluida lokal di Sidoarjo terpengaruh oleh passing seismic wave > >>> menurut Mori dan Kano (2009) adalah fakta yang sahih. Yang menjadi > >>> pertanyaan adalah bagaimana goncangan gempa ini sampai membuat ledakan > >>> yang begitu hebat? > >>> > >>> Mari kita analogikan dengan menggoyang air dalam panci yang sedang > >>> mendidih di atas kompor. Dalam kondisi tidak ada tambahan panas dari > >>> kompor, goyangan yang pelan tentu tidak akan membuat air menggelegak > >>> dan tumpah, tapi jika kemudian panas dari kompor kita tambahkan secara > >>> signifikan, gelembung air yang mendidih menjadi lebih besar, air > >>> panasnya akan tumpah dari panci. > >>> > >>> Jika memang ada faktor kondisi kritis yang bermain, sebenarnya apa > >>> sebenarnya faktor kondisi kritis ini? Untuk kasus Merapi dan Semeru, > >>> mungkin faktor kondisi kritisnya sudah jelas, mereka sedang aktif pada > >>> saat gempa terjadi, kemudian setelah gempa aktivitasnya meningkat > >>> (walaupun responnya masih terlihat aneh padahal jaraknya berbeda dari > >>> pusat gempa, biarlah kita lupakan saja). Saya bisa mengajukan faktor > >>> kondisi kritis ini berupa tambahan magma baru yang menekan dapur magma > >>> kedua gunung api itu. Tapi untuk LULA/LUSI? Apakah mereka? > >>> > >>> Saya sudah membaca makalah tentang 4 tahapan pembentukan gunung lumpur > >>> yang dipublikasikan di IPA 2008 (Satyana dan Asnidar, 2008). Awalnya, > >>> saya berharap dapat menjawab pertanyaan yang saya ajukan di atas > >>> (tentang observasi untuk mengenali sebuah gunung lumpur siap > >>> meledak/berada dalam kondisi kritis) setelah membaca makalah Pak > >>> Awang. Namun rasanya saya tidak menemukan jawaban itu (mohon Pak Awang > >>> berkenan menunjukkan kepada saya pembahasan mengenai topik ini di > >>> makalah tersebut, siapa tahu saya membaca terlalu cepat dan justru > >>> melewatkan bagian ini). Atau mungkin pembahasan ini ada di makalah Pak > >>> Awang di PIT IAGI 2007 yah (saya tidak punya akses ke prosiding PIT > >>> IAGI, ada yang berkenan membantu?). > >>> > >>> Kembali ke Satyana dan Asnidar (2008) yang mengutip Waluyo (2007), > >>> saya lihat tidak ada perbedaan antara Stage 2 dan Stage 3 evolusi mud > >>> diapir menjadi mud volcano, selain di Stage 3, erupsi telah terjadi > >>> (erupting mud volcano phase). Kalau saya tidak salah menangkap tulisan > >>> Pak Awang, justru yang ingin kita observasi adalah "sesaat" sebelum > >>> "syn-eruption", apa tanda mud diapir yang siap meledak dan menjadi mud > >>> volcano? > >>> > >>> Yang saya harapkan adalah misalnya (tanda-tanda sebuah mud diapir > >>> dalam kondisi kritis - sebelum gempa terjadi): > >>> 1. Puncak mud diapir sudah menggelembung membuat topografi di > >>> permukaan yang berbeda dengan kondisi di sekitarnya > >>> 2. Bukan hanya nomor 1, tapi sudah mulai tercium bocoran CH4 di > >>> sekitar "bukit" yang terbentuk oleh desakan mud diapir dari bawah > >>> 3. Sering ada suara-suara dari bawah yang menandakan ada gerakan tanah > >>> akibat tekanan yang sudah tertumpuk > >>> 4. Jika dilihat dari penampang seismik, kemiringan lereng melebihi > >>> sekian dan sekian derajat > >>> > >>> Dengan mengenali tanda-tanda itu sebelum erupsi pertama mud volcano > >>> berlangsung, mudah-mudahan kita bisa tahu bahwa lokasi mud diapir yang > >>> ada di desa A atau B atau C sedang berada dalam kondisi kritis, > >>> sehingga kita perlu mempersiapkan diri. > >>> > >>> Kembali ke LULA/LUSI dan trigger kecil (reaktivasi sesar Watukosek) > >>> serta trigger utamanya (gempa Jogja), selain rel yang bengkok (dan > >>> baru diketahui 4 bulan setelah gempa??) dan sungai Porong yang > >>> berkelok mengikuti zona lemah sesar itu, apakah kita memiliki > >>> observasi lain yang mendukung kesimpulan ini? > >>> > >>> Untuk sementara demikian dulu. > >>> > >>> Salam > >>> mnw > >>> > >>> -- > >>> - when one teaches, two learn - > >>> http://www.geotutor.tk > >>> http://www.linkedin.com/in/minarwan > >>> > >>> > >>> > -------------------------------------------------------------------------------- > >>> PP-IAGI 2008-2011: > >>> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] > >>> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] > >>> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... > >>> > >>> > -------------------------------------------------------------------------------- > >>> Ayo siapkan diri....!!!!! > >>> Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 29 November - 2 > >>> Desember > >>> 2010 > >>> > >>> > ----------------------------------------------------------------------------- > >>> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > >>> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > >>> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > >>> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > >>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > >>> No. Rek: 123 0085005314 > >>> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > >>> Bank BCA KCP. Manara Mulia > >>> No. Rekening: 255-1088580 > >>> A/n: Shinta Damayanti > >>> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > >>> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > >>> --------------------------------------------------------------------- > >>> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information > >>> posted > >>> on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event > >>> shall > >>> IAGI or its members be liable for any, including but not limited to > >>> direct > >>> or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from > >>> loss > >>> of use, data or profits, arising out of or in connection with the use > >>> of any > >>> information posted on IAGI mailing list. > >>> --------------------------------------------------------------------- > >>> > >>> > >>> > >>> > >>> > >>> Pemerintahan yang jujur & bersih? Mungkin nggak ya? Temukan > >>> jawabannya di Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com > >> > > > > > -------------------------------------------------------------------------------- > > PP-IAGI 2008-2011: > > ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] > > sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] > > * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... > > > -------------------------------------------------------------------------------- > > Ayo siapkan diri....!!!!! > > Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 29 November - 2 Desember > > 2010 > > > ----------------------------------------------------------------------------- > > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > > No. Rek: 123 0085005314 > > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > > Bank BCA KCP. Manara Mulia > > No. Rekening: 255-1088580 > > A/n: Shinta Damayanti > > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > > --------------------------------------------------------------------- > > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information > > posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no > event > > shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to > > direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting > > from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with > > the use of any information posted on IAGI mailing list. > > --------------------------------------------------------------------- > > > > > > > > > -------------------------------------------------------------------------------- > PP-IAGI 2008-2011: > ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] > sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] > * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... > > -------------------------------------------------------------------------------- > Ayo siapkan diri....!!!!! > Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 29 November - 2 Desember > 2010 > > ----------------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted > on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall > IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct > or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss > of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any > information posted on IAGI mailing list. > --------------------------------------------------------------------- > >

