Tanpa bermaksud menggurui atau sok idealis, izinkan saya memberi pandangan dari 
sisi seberang.

Saya rasa (yakin malah) menteri yang dimaksud tidak pernah bermaksud melarang 
masuknya film luar negeri ke Indonesia. Kaitannya dengan bisnis soalnya. Itu 
bukan hal yang mudah diaplikasikan begitu aja. Banyak konsekuensi terkait. 
Rasanya beliau lebih ke arah "mengimbau" agar kita lebih banyak nonton film 
Indonesia daripada film asing, dengan tujuan agar film Indonesia lebih hidup 
dari segi bisnis, yang arahnya lebih ke kesejahteraan masyarakat.

Jujur aja, saya nggak punya basis apa pun terhadap keyakinan di atas, selain 
daripada positive thinking bahwa yang terhormat pak menteri memang peduli pada 
rakyat dan cukup cerdas untuk menyadari bahwa menghentikan film impor bukan 
berarti memajukan film Indonesia, melainkan sebaliknya justru mematikan film 
Indonesia. Persaingan itu ada untuk memacu kedua pihak agar menjadi lebih baik 
kok. Tanpa persaingan, pasti kondisi malah menjadi semakin stagnan (dan 
cenderung buruk.) Lihat aja pelayanan PLN dan PAM.

Di lain pihak, film Indonesia butuh dukungan agar bisa semakin berkembang. 
Bikin film itu kan butuh duit. Kalau tidak ada yang nonton, bagaimana mereka 
bisa melanjutkan bikin lagi? Apalagi bikin lagi yang lebih bagus? Betul bahwa 
saat ini banyak film Indonesia yang jelek. Tetapi tentunya kita tidak bisa 
men-stereotype-kan bahwa semua film Indonesia itu jelek dan akan selamanya 
jelek terus. Saya (saya yakin beberapa rekan lain yang kurang lebih seusia 
saya) pernah melewati masa di mana film Indonesia banyak yang bagus, di mana 
film Indonesia yang jelek juga ada saat itu. Jadi saya yakin kalau memang 
orang-orang yang terlibat di dalamnya berniat, pasti bisa bikin film Indonesia 
yang bagus-bagus lagi, lebih banyak dibanding yang jeleknya.

Untuk itu, rasanya nggak ada salahnya kalau kita ikut mendukung hal ini. 
Caranya gampang. Tonton aja film Indonesia yang menurut kita "least disgusting" 
atawa "nggak terlalu jelek." Beberapa waktu lalu pernah ada pembahasan tentang 
film sci-fi (atau usaha ke arah film sci-fi) Indonesia berjudul Glitch. Sebagai 
penggemar sci-fi mungkin kita bisa mulai dengan menonton film semacam ini. 
Jelek atau bagus belakangan. Kalau jelek ya mari kita cerca bersama-sama. Kalau 
bagus, mari kita puji.

Tapi kalau tidak ditonton, para produser akan mengamini pandangan stereotype 
bahwa film sci-fi tidak laku di pasar Indonesia dan tidak akan ada usaha untuk 
bikin lagi, apalagi bikin lagi yang lebih bagus. Lha para penggemar sci-fi aja 
tidak berusaha untuk mendukung film ini, bagaimana mau diharapkan untuk 
ditonton oleh "bukan penggemar sci-fi"? Pada akhirnya mereka akan kembali pada 
pandangan bahwa lebih baik bikin film horor menjijikkan dan komedi seks (yang 
sama menjijikkannya, dari sisi pandang yang berbeda.) Soalnya yang begini ini 
yang dipastikan akan laku. Walau bagaimanapun UUD tetap berlaku. Ini kan 
bisnis. Orang mau usaha pastinya nggak mau rugi. Lebih bagus kalau untung.

Itu saran saya pada saat diskusi tentang itu berlangsung. Tapi sayang sekali 
saya tidak bisa menjalani saran saya sendiri tersebut, karena entah kenapa film 
Glitch ini tidak masuk ke Semarang. Mungkin bioskop di Semarang (yang cuma ada 
dua itu) lebih keras lagi mengamini stereotype terhadap film sci-fi sehingga 
untuk memutar film itu pun mereka sudah alergi. Mereka lebih suka putar pocong 
dan rekan-rekannya yang sudah pasti laku.

Maaf kalau saya juga men-stereotype-kan film2 horor dan komedi seks Indonesia. 
Mungkin tidak semua menjijikkan. Tapi selagi masih ada yang di luar genre itu, 
mungkin yang di luar itu dulu yang saya dukung. Tapi iyalah, intinya saya cuma 
mengajak rekan-rekan untuk tidak dengan mudah mencerca (saja) film Indonesia, 
tapi juga diiringi dengan dukungan. Harapannya, dukungan ini akan mengarah ke 
perbaikan. Sukur-sukur, film sekualitas Star Trek akan tercapai 40-50 tahun 
mendatang.


Ario



________________________________
From: "[email protected]" <[email protected]>

Mslhnya film2 Sci-fi kaya StarTrek tuh penggemarnya cuma org2 yg punya IQ & 
fantasy yg tinggi, yg notabene ngak dipunyain oleh 90% rakyat Indo.



-----Original Message-----
From: Firandia Ko <[email protected]>


Ya ampuun saya tu nunggu film startrek disini gak pernah masuk..kecewa bgt sama 
grup 21, malah milih film2 yang gak mutu dan cenderung mengekploitasi 
perempuan. PAdahal banyak yg bisa di pelajari di film2 startrek, Leadership 
(Picard...!!!!! :D)..technologi (Warp engine, teleportm holodeck). 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke