Dilematis memang!
Sudah 2 eh 3 kali ikut diskusi. yg ujung2 tergantung selera pasar (masyarakat). 
intinya kenapa pusing2 buat film bagus, yg jelek saja menguntungkan koq 
(berarti masyarakat menyukai, toh). 
he he kayak diskusi telur dan ayam, mana yg duluan
- memperbaiki selera masyarakat supaya industri film menghasikan film 
bermutu....
- atau memperbaiki kualitas film agar selera masayarat menjadi naik.

Jawabannya: pendidikan. (wah...koq ngga nyambung ya)..eh satu lagi j 
pengetahuan(wawasan) yg luas (lho malah makin jauh aja ya).

Kita disini pasti punya keduanya, karena kita punya akses dan pengetahuan 
sebagai referensi untuk membandingkan dan memfilter mana film yg bagus mana yg 
tidak. 

Coba saja kita berimajinasi menjadi pedagang pasar tradisionil yg becek bekerja 
sejak remaja dari pagi subuh hingga sore...tapi suskses jadi pedagang, sehingga 
punya ongkos sesekali nonton ke gedung bioskop tak ber THX (emang dia perduli) 
di kota kecilnya. Atau membeli pemutar VCD, Apa yg dia pilih cuma hiburan dari 
kerja yg penat. Yang simple-simple aja,.sesuatu yg menghibur kebutuhan hasrat 
yg sederhana saja. Puas melihat hasrat biologis...eh bukan berarti sex daong 
lho. artinya kesenangan yg kasat mata. Melihat sinetron dng rumah mewah, gedong 
bak istana (ngga perlu tau cara buatnya), senang lihat artis dng akting yg 
berlebih-lebihan dan diulang-ulang. Mereka tak akan pusing2 mikirin apa yg 
dibisikkan Q ke Picard he he he rumit amat sih.
...Dan Jumlah orang pekerja keras dan ingin hiburan yg gampang2 aja karena 
keterbatasn pendidikan dan akses untuk mendapatkan wawasan yg beragam dan luas 
spt ilustrasi diatas sangat banyak di Indonesia.

jadi maklum aja...padangan stereotip ttg film Indonesia. 
ehmm....mungkin mentri yg dimaksud bukan mau menghimbau untuk mencitai film 
Indonesia, tapi menghimbau untuk:
"memaklumi film Indonesia"....ini rasanya lebih tepat, bukan?

/ivul



--- In [email protected], Ario at Yahoo dot Com <progexpr...@...> 
wrote:
>
> 
Tapi iyalah, intinya saya cuma mengajak rekan-rekan untuk tidak dengan mudah 
mencerca (saja) film Indonesia, tapi juga diiringi dengan dukungan. Harapannya, 
dukungan ini akan mengarah ke perbaikan. Sukur-sukur, film sekualitas Star Trek 
akan tercapai 40-50 tahun mendatang.
> 
> 
> Ario
> 
> 
> 
> ________________________________
> From: "royspangayo...@..." <royspangayo...@...>
> 
> Mslhnya film2 Sci-fi kaya StarTrek tuh penggemarnya cuma org2 yg punya IQ & 
> fantasy yg tinggi, yg notabene ngak dipunyain oleh 90% rakyat Indo.
> 
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: Firandia Ko <firandi...@...>
> 
> 
> Ya ampuun saya tu nunggu film startrek disini gak pernah masuk..kecewa bgt 
> sama grup 21, malah milih film2 yang gak mutu dan cenderung mengekploitasi 
> perempuan. PAdahal banyak yg bisa di pelajari di film2 startrek, Leadership 
> (Picard...!!!!! :D)..technologi (Warp engine, teleportm holodeck). 
> 


Kirim email ke