Tepatnya: bukan buta huruf kali ya,... tapi... melek pengetahuan dan wawasan.
IMHO, orang cari hiburan ada beberapa alasan. Ada yg cari hiburan yg sederhana saja (bukan berarti tdk berpendidikan atau buta huruf)..just easy entertainment. Yg pastinya kebanyakan orang mencari hiburan yg bisa menggugah langsung cita rasa sesuai selera atau se'jodoh' dng lingkup wawasan seseorang. Sedangkan spt kita penggemar sci-fi, lebih senang cari hiburan yang dapat memuaskan akan hal-hal baru di dunia science (fiction),....atau mencari ide-ide baru yg menggelitik rasa penasaran, imajinasi...dst...dst..dst. Jadi...walaupun..film sci-fi disesuaikan dng audience ...belum tentu terpuaskan.. /ivul --- In [email protected], "Alidjaja Ivan" <ivan.alidj...@...> wrote: > > maap ah mau berbeda pendapat.. > > buta huruf tidak ada hubungan langsung dengan mengapresiasi seni pada > umumnya dan film pada khususnya. > > Saya teringat kalau org2 'buta huruf' ini begitu menyenangi wayang yg > nilai > seni-nya tinggi (dan kalo dalam pandangan kita wayang itu mirip2 science > > fiction..hehehe...teknologinya canggih2, cm dibawakan dengan bahasa yg > sederhana) dan ini dapat diapresiasi dengan baik oleh kawan2 kita yg > buta > huruf tersebut.. > > Jadi mgk, kalo film science fiction itu dibuat dlm bahasa yg dimengerti > oleh > para 'buta huruf' ini, bisa jadi film tersebut akan diterima dengan > baik... > > - > > is > > > ________________________________ > > From: [email protected] > [mailto:[email protected]] On Behalf Of J > Sent: 20. maaliskuuta 2009 15:35 > To: [email protected] > Subject: [Indo-StarTrek] Re: OOT: mencintai film indonesia > > > > ya.. > ini memang misteri yang harusnya lebih menarik dari "apakah ada > alien diluar sana", yaitu "mengapa film horor banyak dibenci tapi tetap > laris?" > > ^_^ > > baru baca koran, tingkat buta huruf di Jatim kedua tertinggi > dari seluruh Indonesia. Maksud gw: HOI..! boro-boro menilai kualitas > film, yang buta huruf aja masih banyak..! tapi ya entahlah, masa > mayoritas mereka bisa / mau membayar untuk masuk bioskop? paling > tontonan mereka ya bajakan kan? > > nah terus.. bagaimana cara pihak PH mensurvey selera penonton > sehingga mereka alergi sci-fi? Glitch bahkan tidak masuk kota tertentu.. > dan tetap pada aliran mainstream horor&adult comedy? siapa penonton yang > mereka survey? itulah pertanyaan nya. > > Lalu ada Henry Riady, sutradara termuda baru umur 23 ya kalo ga > salah? walaupun ia cukup idealis & berpendidikan tinggi, anaknya James > Riady, tetap saja dia nda berminat buat film sci-fi tuh. jadi, akhirnya, > siapa yang mau? > > kalau pun ada yang mau, siapa yang mau mensponsori? > > kalau pun ada yang mensponsori, katakanlah dari donasi indo-ST, > siapa yang mau nonton? > > ^_^ vulcan pun mungkin tidak tau jawabannya ~_~ > > --- In [email protected] > <mailto:indo-startrek%40yahoogroups.com> , "iful_17sb" <iful.spock@> > wrote: > > > > Dilematis memang! > > Sudah 2 eh 3 kali ikut diskusi. yg ujung2 tergantung selera > pasar (masyarakat). intinya kenapa pusing2 buat film bagus, yg jelek > saja menguntungkan koq (berarti masyarakat menyukai, toh). > > he he kayak diskusi telur dan ayam, mana yg duluan > > - memperbaiki selera masyarakat supaya industri film > menghasikan film bermutu.... > > - atau memperbaiki kualitas film agar selera masayarat menjadi > naik. > > > > Jawabannya: pendidikan. (wah...koq ngga nyambung ya)..eh satu > lagi j pengetahuan(wawasan) yg luas (lho malah makin jauh aja ya). > > > > Kita disini pasti punya keduanya, karena kita punya akses dan > pengetahuan sebagai referensi untuk membandingkan dan memfilter mana > film yg bagus mana yg tidak. > > > > Coba saja kita berimajinasi menjadi pedagang pasar tradisionil > yg becek bekerja sejak remaja dari pagi subuh hingga sore...tapi suskses > jadi pedagang, sehingga punya ongkos sesekali nonton ke gedung bioskop > tak ber THX (emang dia perduli) di kota kecilnya. Atau membeli pemutar > VCD, Apa yg dia pilih cuma hiburan dari kerja yg penat. Yang > simple-simple aja,.sesuatu yg menghibur kebutuhan hasrat yg sederhana > saja. Puas melihat hasrat biologis...eh bukan berarti sex daong lho. > artinya kesenangan yg kasat mata. Melihat sinetron dng rumah mewah, > gedong bak istana (ngga perlu tau cara buatnya), senang lihat artis dng > akting yg berlebih-lebihan dan diulang-ulang. Mereka tak akan pusing2 > mikirin apa yg dibisikkan Q ke Picard he he he rumit amat sih. > > ...Dan Jumlah orang pekerja keras dan ingin hiburan yg > gampang2 aja karena keterbatasn pendidikan dan akses untuk mendapatkan > wawasan yg beragam dan luas spt ilustrasi diatas sangat banyak di > Indonesia. > > > > jadi maklum aja...padangan stereotip ttg film Indonesia. > > ehmm....mungkin mentri yg dimaksud bukan mau menghimbau untuk > mencitai film Indonesia, tapi menghimbau untuk: > > "memaklumi film Indonesia"....ini rasanya lebih tepat, bukan? > > > > /ivul > > > > > > > > --- In [email protected] > <mailto:indo-startrek%40yahoogroups.com> , Ario at Yahoo dot Com > <progexprotv@> wrote: > > > > > > > > Tapi iyalah, intinya saya cuma mengajak rekan-rekan untuk > tidak dengan mudah mencerca (saja) film Indonesia, tapi juga diiringi > dengan dukungan. Harapannya, dukungan ini akan mengarah ke perbaikan. > Sukur-sukur, film sekualitas Star Trek akan tercapai 40-50 tahun > mendatang. > > > > > > > > > Ario > > > > > > > > > > > > ________________________________ > > > From: "royspangayoman@" <royspangayoman@> > > > > > > Mslhnya film2 Sci-fi kaya StarTrek tuh penggemarnya cuma > org2 yg punya IQ & fantasy yg tinggi, yg notabene ngak dipunyain oleh > 90% rakyat Indo. > > > > > > > > > > > > -----Original Message----- > > > From: Firandia Ko <firandiako@> > > > > > > > > > Ya ampuun saya tu nunggu film startrek disini gak pernah > masuk..kecewa bgt sama grup 21, malah milih film2 yang gak mutu dan > cenderung mengekploitasi perempuan. PAdahal banyak yg bisa di pelajari > di film2 startrek, Leadership (Picard...!!!!! :D)..technologi (Warp > engine, teleportm holodeck). > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
