maap ah mau berbeda pendapat..
buta huruf tidak ada hubungan langsung dengan mengapresiasi seni pada
umumnya dan film pada khususnya.
Saya teringat kalau org2 'buta huruf' ini begitu menyenangi wayang yg
nilai
seni-nya tinggi (dan kalo dalam pandangan kita wayang itu mirip2 science
fiction..hehehe...teknologinya canggih2, cm dibawakan dengan bahasa yg
sederhana) dan ini dapat diapresiasi dengan baik oleh kawan2 kita yg
buta
huruf tersebut..
Jadi mgk, kalo film science fiction itu dibuat dlm bahasa yg dimengerti
oleh
para 'buta huruf' ini, bisa jadi film tersebut akan diterima dengan
baik...
-
is
________________________________
From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of J
Sent: 20. maaliskuuta 2009 15:35
To: [email protected]
Subject: [Indo-StarTrek] Re: OOT: mencintai film indonesia
ya..
ini memang misteri yang harusnya lebih menarik dari "apakah ada
alien diluar sana", yaitu "mengapa film horor banyak dibenci tapi tetap
laris?"
^_^
baru baca koran, tingkat buta huruf di Jatim kedua tertinggi
dari seluruh Indonesia. Maksud gw: HOI..! boro-boro menilai kualitas
film, yang buta huruf aja masih banyak..! tapi ya entahlah, masa
mayoritas mereka bisa / mau membayar untuk masuk bioskop? paling
tontonan mereka ya bajakan kan?
nah terus.. bagaimana cara pihak PH mensurvey selera penonton
sehingga mereka alergi sci-fi? Glitch bahkan tidak masuk kota tertentu..
dan tetap pada aliran mainstream horor&adult comedy? siapa penonton yang
mereka survey? itulah pertanyaan nya.
Lalu ada Henry Riady, sutradara termuda baru umur 23 ya kalo ga
salah? walaupun ia cukup idealis & berpendidikan tinggi, anaknya James
Riady, tetap saja dia nda berminat buat film sci-fi tuh. jadi, akhirnya,
siapa yang mau?
kalau pun ada yang mau, siapa yang mau mensponsori?
kalau pun ada yang mensponsori, katakanlah dari donasi indo-ST,
siapa yang mau nonton?
^_^ vulcan pun mungkin tidak tau jawabannya ~_~
--- In [email protected]
<mailto:indo-startrek%40yahoogroups.com> , "iful_17sb" <iful.sp...@...>
wrote:
>
> Dilematis memang!
> Sudah 2 eh 3 kali ikut diskusi. yg ujung2 tergantung selera
pasar (masyarakat). intinya kenapa pusing2 buat film bagus, yg jelek
saja menguntungkan koq (berarti masyarakat menyukai, toh).
> he he kayak diskusi telur dan ayam, mana yg duluan
> - memperbaiki selera masyarakat supaya industri film
menghasikan film bermutu....
> - atau memperbaiki kualitas film agar selera masayarat menjadi
naik.
>
> Jawabannya: pendidikan. (wah...koq ngga nyambung ya)..eh satu
lagi j pengetahuan(wawasan) yg luas (lho malah makin jauh aja ya).
>
> Kita disini pasti punya keduanya, karena kita punya akses dan
pengetahuan sebagai referensi untuk membandingkan dan memfilter mana
film yg bagus mana yg tidak.
>
> Coba saja kita berimajinasi menjadi pedagang pasar tradisionil
yg becek bekerja sejak remaja dari pagi subuh hingga sore...tapi suskses
jadi pedagang, sehingga punya ongkos sesekali nonton ke gedung bioskop
tak ber THX (emang dia perduli) di kota kecilnya. Atau membeli pemutar
VCD, Apa yg dia pilih cuma hiburan dari kerja yg penat. Yang
simple-simple aja,.sesuatu yg menghibur kebutuhan hasrat yg sederhana
saja. Puas melihat hasrat biologis...eh bukan berarti sex daong lho.
artinya kesenangan yg kasat mata. Melihat sinetron dng rumah mewah,
gedong bak istana (ngga perlu tau cara buatnya), senang lihat artis dng
akting yg berlebih-lebihan dan diulang-ulang. Mereka tak akan pusing2
mikirin apa yg dibisikkan Q ke Picard he he he rumit amat sih.
> ...Dan Jumlah orang pekerja keras dan ingin hiburan yg
gampang2 aja karena keterbatasn pendidikan dan akses untuk mendapatkan
wawasan yg beragam dan luas spt ilustrasi diatas sangat banyak di
Indonesia.
>
> jadi maklum aja...padangan stereotip ttg film Indonesia.
> ehmm....mungkin mentri yg dimaksud bukan mau menghimbau untuk
mencitai film Indonesia, tapi menghimbau untuk:
> "memaklumi film Indonesia"....ini rasanya lebih tepat, bukan?
>
> /ivul
>
>
>
> --- In [email protected]
<mailto:indo-startrek%40yahoogroups.com> , Ario at Yahoo dot Com
<progexprotv@> wrote:
> >
> >
> Tapi iyalah, intinya saya cuma mengajak rekan-rekan untuk
tidak dengan mudah mencerca (saja) film Indonesia, tapi juga diiringi
dengan dukungan. Harapannya, dukungan ini akan mengarah ke perbaikan.
Sukur-sukur, film sekualitas Star Trek akan tercapai 40-50 tahun
mendatang.
> >
> >
> > Ario
> >
> >
> >
> > ________________________________
> > From: "royspangayoman@" <royspangayoman@>
> >
> > Mslhnya film2 Sci-fi kaya StarTrek tuh penggemarnya cuma
org2 yg punya IQ & fantasy yg tinggi, yg notabene ngak dipunyain oleh
90% rakyat Indo.
> >
> >
> >
> > -----Original Message-----
> > From: Firandia Ko <firandiako@>
> >
> >
> > Ya ampuun saya tu nunggu film startrek disini gak pernah
masuk..kecewa bgt sama grup 21, malah milih film2 yang gak mutu dan
cenderung mengekploitasi perempuan. PAdahal banyak yg bisa di pelajari
di film2 startrek, Leadership (Picard...!!!!! :D)..technologi (Warp
engine, teleportm holodeck).
> >
>
[Non-text portions of this message have been removed]