Well, soal menarik atau enggak kan personal preferences. Saya  
termasuk penggemar pasar tradisional dan menghindari Mall (boss Aris,  
hi5 toss dah). Mau ngga mau saya bandingkan dengan di Damnoen Saduak  
di Thailand. Bedanya seperti  mall dan toko kelontong. Satunya manis  
menyegarkan ditata rapi sedang yang toko kelontong untuk mencari  
barang yang dibutuhkan-pun kudu nyungsep2.

Di Damnoen Saduak penjaja-nya saja lipstikan cantik dandan menor  
abis. Di Banjarmasin mungkin yang ditemui ya mbok tua atau ibu2  
sederhana. Apa yang dijual pun mungkin sama. Sayuran dan buah2an.  
Tapi ya itu loh esensi 'atraksi' itu apa. Photogenic? indah? seperti  
di iklan? Kok saya malah merindukan alami, belum terpoles dan nilai  
kejujuran yang masih ada ya? Ngga seperti di Damnoen Saduak yang  
sudah sangat turistik.

Bukankan apresiasi yang baik itu bisa membuat tempat yang biasa  
menjadi luar biasa?


Salam,

Ambar Briastuti
www.ceritaambar.com | ym : ambar_briastuti | Adventures. Backpacking.  
Photography.


On 3 Jun 2008, at 05:04, kika wrote:

> Permisi ikutan nimbrung....
>
> Kalo saya setuju sekali dengan pendapat mas aris!!! tergantung ma
> orangnya, di pasar terapung tuh yang disuguhkan ya human interest-
> nya dan kehidupan sungai dengan rumah panggung.
>



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke