Inget2 wisata pasar jadi ingat artikel ini;

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/05/29/01114750/soewarno.dan.ide.wi
sata.ekologi

tabik,
Puguh

------------------------------------------------

Soewarno dan Ide Wisata Ekologi
KOMPAS/AMIR SODIKIN / Kompas Images
Kamis, 29 Mei 2008 | 03:00 WIB

AMIR SODIKIN

Salah satu hal yang tak pernah dipromosikan sebagai daya tarik wisata adalah 
udara Indonesia. ”Di seluruh dunia, Indonesia itu tidak ada tandingannya untuk 
keunikan udara. Negara kepulauan tropis dengan udara lembab dan hangat banyak 
dicari wisatawan, tetapi tak pernah dipromosikan,” katanya.

Selama ini wisatawan banyak datang dari daerah dingin dan kering. Mereka 
mencari iklim beda, salah satunya daerah tropis dengan intensitas matahari yang 
lain dibandingkan dengan negaranya. Udara lembab, hangat, dan angin semilir. 
Beberapa negara, seperti Filipina, memang negara kepulauan, tetapi bukan tropis.

Thailand yang mencitrakan diri tropis sebenarnya subtropis. Malaysia yang 
mempromosikan diri Truly Asia tak seperti Indonesia yang dilewati garis 
khatulistiwa. Negeri yang murni tropis adalah Indonesia. Aset gratis yang 
dimiliki ini tak pernah dimanfaatkan.

”Karena tak mengerti daya tarik wisata, daerah wisata tak memiliki data penting 
seperti intensitas matahari, kelembaban udara, kecepatan angin. Saya sering 
ditanyai tentang data seperti itu oleh turis asing,” kata Soewarno.

Kritik pariwisata

Soewarno Darsoprajitno sehari-hari mengajar di Universitas Ars Internasional, 
Bandung. Ia juga mengajar di sejumlah perguruan tinggi tentang geologi 
lingkungan dan geologi pariwisata.

Ketika ditemui di rumahnya, Jalan Gamelan, Bandung, Jawa Barat, penulis buku 
Geologi Pariwisata dan Ekologi Pariwisata ini mengalir bicara, mengkritik soal 
pariwisata yang tak tergarap. ”Sedih, kita indah, tetapi tak tahu keindahannya.”

Kecintaannya terhadap geologi dan pariwisata membuat dia memiliki cara pandang 
yang tak biasa soal pariwisata. Salah satu kritik yang disampaikan Soewarno 
adalah pemerintah tak mengenal daya tarik wisatanya.

”Tak mengerti apa itu daya tarik wisata sehingga tak bisa memperkenalkannya ke 
luar,” katanya. Daya tarik pariwisata meliputi tiga unsur: keunikan penampilan, 
latar belakang sejarah, dan fungsi bagi kehidupan.

”Pemerintah punya program Visit Indonesia 2008, tetapi di tingkat lapangan tak 
disiapkan dengan matang,” katanya. Atraksi wisata tak terprogram dengan baik. 
Tak ada kalender wisata yang lengkap diterbitkan.

Berbagai kritik dan saran sering disampaikan, tetapi, menurut Soewarno, ”Mereka 
tidak menanggapi karena tak ada ilmunya.” Padahal, pariwisata itu industri 
multidimensional, yang luar biasa dampaknya jika berkembang. Dia tak habis 
dipakai karena hanya dinikmati.

Banyak negara luar yang memuja Indonesia. Korea, misalnya, menggandrungi alam 
Indonesia yang indah. Orang Amerika yang pernah ditemuinya mengaku kesengsem 
dengan keramahan Indonesia.

”Waktu saya ke Amerika, di lobi hotel ada warga Amerika yang menebak, ’kamu 
pasti dari Indonesia ya, terlihat dari batik yang kamu pakai’,” ceritanya.

”Orang Amerika itu menawari saya jalan-jalan gratis pakai mobilnya. Katanya, 
dia ingin seperti orang Indonesia, ramah menyambut tamu. Maka, saya diajaknya 
keliling kota gratis,” lanjutnya.

Menggali ide

Harus kreatif menggali potensi, itulah inti pariwisata masa kini. Di tingkat 
ini, Soewarno tak hanya berteori karena ia sering memandu wisatawan asing. 
”Saya pernah memandu orang asing masuk kampung, melihat kehidupan desa, hal-hal 
sederhana bisa menjadi luar biasa,” katanya. Wisatawan terkesan dengan 
penjelasan mengenai kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Penduduk desa yang meminta api kepada tetangga untuk modal menyiapkan api di 
dapur pun bisa menjadi daya tarik. Para turis yang melihat warga saling 
meminjamkan garam dan gula, juga membuat mereka seolah kontemplasi soal sisi 
lain dari kehidupan sosial.

Kegiatan mendirikan rumah, bercocok tanam, memanen padi, yang khas gotong 
royong, bisa menjadi atraksi budaya yang langsung bagi turis. ”Setiap ciri khas 
budaya itu menarik, yang penting cara menjelaskannya,” katanya.

Wisata seperti itu termasuk ecotourism atau pariwisata ekologi yang selama ini 
hanya menjadi jargon. Ia mencontohkan lagi pariwisata ekologi yang sederhana.

”Saya pernah menantang wisatawan asing, mau enggak malam-malam diajak ke pasar 
tradisional. Mereka malah tertarik hal seperti itu,” katanya. Di pasar, para 
turis menikmati bagaimana rantai ekonomi itu bekerja.

Perekonomian berputar unik. Ada petani mengantar sayuran untuk pedagang. 
Pedagang memasarkannya kepada konsumen mulai dari masyarakat bawah hingga 
hotel. Banyak mobil dari hotel berseliweran di kawasan sesak itu guna 
mendapatkan sayuran segar.

Di pasar, seorang wisatawan memprotes, mengapa orang selalu menawar, padahal 
harganya sudah murah. ”Saya bilang, tawar-menawar itu silaturahmi, untuk 
menunjukkan kita tidak sombong dan mau bersahabat,” katanya.

Ekonomi nonformal bekerja unik. Persewaan lampu petromaks laku, penjual minuman 
dan makanan meraup keuntungan. Mereka mengatur sendiri semuanya. Di malam hari 
pasar itu padat dengan orang jualan, di pagi hari menjadi jalan macet.

Soal kemacetan, Soewarno juga pernah menunjukkannya sebagai obyek wisata. 
Dengan penjelasan, fenomena itu adalah romantika kehidupan. ”Saya ajak mereka 
ke daerah paling macet. Lihatlah romantika hidup di Indonesia. Itulah contoh 
sederhana wisata ekologi.”

Selain pariwisata ekologi, pariwisata geologi juga terbengkalai. ”Padahal 
potensinya luar biasa. Ada gunung api, air terjun, pantai, goa, bentang alam, 
lembah, danau, sungai, yang terbentuk secara geologi. Di sini ada keunikan, 
latar belakang sejarah, dan fungsi,” katanya.

Sampai sekarang Soewarno merasa tak puas pada bangsanya. ”Kita tak mengenal 
kalau kita itu indah. Kualitas indah saja tidak tahu. Kita kaya, tetapi enggak 
tahu kayanya di mana. Kita rumongso ngerti, tetapi enggak ngerti rumongso....”

Biodata

Nama: H Soewarno Darsoprajitno

Lahir: Yogyakarta, 9 April 1933

Istri: Hj Sri Soemarni (71)

Anak:

- Ir Andika Sarwo Edi (43)

- Ir Buana Suryoputranto (42)

- Ir Pamungkas Trijayanto (40)

- Ratnayu Sitaresmi MSi (38)

Pendidikan:

- Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung

- HIS di Yogyakarta, SMPN I Yogyakarta, SMAN Margoyudan Surakarta

Riwayat organisasi:

- Menjadi anggota Tentara Pelajar Batalyon 300 Brigade 17 tahun 1942-1947

- Masuk Mobile Brigade Polisi Negara, 1948

Aktivitas sekarang:

- Pengajar di Sekolah Tinggi Manajemen Pariwisata Universitas Ars Internasional 
Bandung

- Ketua DPD Objek Wisata Indonesia PUTRI Tk I Jawa Barat

- Mengajar geologi lingkungan dan geologi pariwisata di sejumlah perguruan 
tinggi, seperti Universitas Padjadjaran, Politeknik Negeri Bandung, Sekolah 
Tinggi Teknologi Mineral Indonesia Bandung, dan penceramah di berbagai 
universitas di Indonesia

- Aktif di Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung Heritage

- Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda

Buku yang diterbitkan:

Gunung Api Indonesia, Pengetahuan Umum Geologi, Gejala Alam Geologi, Batu 
Permata Indonesia, Pengetahuan Umum Permuseuman Geologi, Geologi Pariwisata, 
Ekologi Pariwisata, Saya Pilih Mengungsi dalam Rangka Bandung Lautan Api

Buku yang akan diterbitkan:

Gejala Alam dan Budaya di Kota Bandung dan Sekitarnya



--- In [email protected], Ambar Briastuti
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>

>
> Di Damnoen Saduak penjaja-nya saja lipstikan cantik dandan menor
> abis. Di Banjarmasin mungkin yang ditemui ya mbok tua atau ibu2
> sederhana. Apa yang dijual pun mungkin sama. Sayuran dan buah2an.
> Tapi ya itu loh esensi 'atraksi' itu apa. Photogenic? indah? seperti
> di iklan? Kok saya malah merindukan alami, belum terpoles dan nilai
> kejujuran yang masih ada ya? Ngga seperti di Damnoen Saduak yang
> sudah sangat turistik.
>


Kirim email ke