Halo Pugse, 

Tour ke daerah kumuh itu termasuk service yg berbasiskan experience. Makin 
tinggi experience yg di dapat turis, makin senang dia. Jadi, kenapa gak 
sekalian aja wisata tsb diintegrasikan dgn program community development. 
Misalnya turis yg datang diajak jd bagian team kerja bangun sarana sanitasi, 
dgn begini 'experience' turisnya lbh tinggi krn ada interaksi dgn masyarakat, 
dan krn experience yg didapat lebih tinggi maka dia akan lbh puas. Utk turis yg 
males interaksi langsung, bisa jadi tim fotografi aja motretin orang2 kerja dan 
hasilnya fotonya dibagikan ke masyarakat yg kerja. Dengan gini tetap ada 
manfaat yg didapat penduduk dan turis pun akan puas krn mendapat experience 
lebih  melihat & merasakan penduduk ketawa2 senang dapat hasil fotonya. INi 
juga utk menghindari penduduk 'mengantungkan pendapatan dari kemiskinan' lalu 
justru mengeksploitasi kemiskinannya dgn dramatis biar dpt uang lebih. 

Uang utk community devlp utk bangun sarana sanitasi ya didapat dari wisata 
kemiskinan tsb. Dgn begini, uang hasil wisata jelas larinya kemana. Stlh 
infrastruktur beres, community devlp bisa tetap berlanjut, misalnya dgn 
membangun vocational school krn mengentaskan kemiskinan itu perlu waktu lama. 

Hal kecil apa pun bisa membuat perubahan yg berarti koq.....

Salam, 

Tari

YM ID : [email protected]
http://kuntarini.multiply.com
http://profiles.friendster.com/kuntarini


--- On Mon, 3/1/10, Puguh <[email protected]> wrote:

> From: Puguh <[email protected]>
> Subject: [indobackpacker] Wisata Daerah Kumuh: Apa pendapatmu?
> To: [email protected]
> Date: Monday, March 1, 2010, 8:59 AM
> 
> Temans;
> 
> Membaca di koran beberapa minggu yang lalu tentang wisata
> daerah kumuh. Pada dasarnya si tamu diajak berkunjung ke
> beberapa daerah kumuh di Jakarta untuk menyaksikan sendiri
> bagaimana kehidupan di kawasan yang secara infrastruktur
> tidak layak. Uang yang dibayarkan tamu untuk 'guiding
> service'nya, dikembalikan ke masyarakat di daerah tersebut.
> 
> Beberapa teman menyatakan ketidaksetujuan dan menganggap
> hal ini adalah eksploitasi kemiskinan.
> 
> Saya sendiri cenderung berseberangan. Selama masyarakat
> didaerah kumuh tidak menggantungkan pendapatan utama dari
> 'wisatawan' yang datang berarti mereka tidak melakukan
> eksploitasi kemiskinan. Banyak warga yang memang bekerja
> sebagai pemulung dll yang sebenernya memberi nilai tambah.
> Bahwa faktanya mereka dipinggirkan secara struktural, itu
> hal lain.
> 
> Kalo memang ada sisi buruk rupa Jakarta, kenapa harus malu?
> Apalagi kalau memang tak bisa membuat perubahan yang
> berarti.
> 
> Apa pendapatmu?
> 
> Tabik;
> Puguh
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ------------------------------------
> 
> Indonesian Backpacker Community 
> visit our website at http://www.indobackpacker.com 
> 
> Silakan membuka arsip milis 
> http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/   untuk
> melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.
> 
> No SPAMMING or forwarding unrelated messages.
> Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT. 
> 
> Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak
> perlu dan kutip bagian yang perlu saja. 
> 
> Milis Indobackpacker menerima ATTACHMENT baik gambar
> ataupun photo, tetapi mohon indahkan tentang hak cipta dan
> ukuran file. 
> 
> Cara mengatur keanggotaan di milis ini :
> 
> Mengirim email ke grup : [email protected]
> (moderasi penuh)
> Mengirim email kepada para Moderator/Owner: 
> [email protected]
> Satu email perhari: [email protected]
> No-email/web only: [email protected]
> Berhenti dari milist kirim email kosong : 
> [email protected]
> Bergabung kembali ke milist kirim email kosong : 
> [email protected]
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
>     [email protected]
> 
> 
> 


      

Kirim email ke