Mas Puguh dan semua,

Saya juga pernah lihat tayangan itu beberapa waktu yg lalu (udah lupa 
detilnya). Mungkin orang2 Jakarta menganggap daerah2 tertentu di kotanya 
sebagai daerah kumuh, tapi belum tentu tamu punya persepsi yg sama, apalagi 
jika mereka tidak diberi tahu sebelumnya. Terlepas dari ada tawaran "wisata 
daerah kumuh" akhir-akhir ini, tamu, terutama yg punya rasa ingin tahu besar, 
biasanya memang suka mengeksplor kota-kota yg didatanginya tidak saja city 
landmarks dan highlights-nya, tetapi jalan-jalan sampai mblusuk-mblusuk ke mana 
saja untuk melihat apa saja, dan dari situ si tamu dapat gambaran apa adanya, 
daily life, kota yg dikunjunginya. 
Saya jadi inget duluuuuu banget saya pernah mengantar tamu Belanda jalan-jalan 
ke Banten, dan ketika melihat sekumpulan anak kampung main bola di sepetak 
kecil tanah kosong di tengah2 perkampungan sederhana (bukan lapangan bola), dia 
terkesan sekali. Joyful, katanya.    
Jadi bagi saya, kunjungan ke daerah semacam itu  tidak masalah. Bagi saya, 
hanya istilah "wisata daerah kumuh"nya saja yg kurang oke, apalagi kalo istilah 
itu kemudian akan dijadikan istilah resmi.
salam,
Vietha -





________________________________
From: Puguh <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, March 1, 2010 8:59:37 AM
Subject: [indobackpacker] Wisata Daerah Kumuh: Apa pendapatmu?

  

Temans;

Membaca di koran beberapa minggu yang lalu tentang wisata daerah kumuh. Pada 
dasarnya si tamu diajak berkunjung ke beberapa daerah kumuh di Jakarta untuk 
menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan di kawasan yang secara infrastruktur 
tidak layak. Uang yang dibayarkan tamu untuk 'guiding service'nya, dikembalikan 
ke masyarakat di daerah tersebut.

Beberapa teman menyatakan ketidaksetujuan dan menganggap hal ini adalah 
eksploitasi kemiskinan.

Saya sendiri cenderung berseberangan. Selama masyarakat didaerah kumuh tidak 
menggantungkan pendapatan utama dari 'wisatawan' yang datang berarti mereka 
tidak melakukan eksploitasi kemiskinan. Banyak warga yang memang bekerja 
sebagai pemulung dll yang sebenernya memberi nilai tambah. Bahwa faktanya 
mereka dipinggirkan secara struktural, itu hal lain.

Kalo memang ada sisi buruk rupa Jakarta, kenapa harus malu? Apalagi kalau 
memang tak bisa membuat perubahan yang berarti.

Apa pendapatmu?

Tabik;
Puguh





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke