nimbrung cerita dong.....
saya sering menjumpai banyak kawan2 kita di tempat"sederhana" itu penuh dengan 
artis2/seniman yang mampu menciptakan bentuk2 arsitek2 rumah dadakan yg 
beragam..
contohnya saja didaerah pemukiman nelayan muara angke, disana banyak para 
pengumpul kerang dan pengupas kerang atau disebut selindet (saya juga tidak 
tahu dari mana bahasa ini didapat krn tdk ada dalam kamus Indonesia dan 
Cirebon) he hehehe...
mereka sering membuat cerita2 dan lakon2 yang lucu2 sambil mengupas kerang dan 
membersihkan yang isi ceritanya mirip2 tokoh pendongeng terkenal dari Aceh itu..
biasanya anak2 kecial para nelayan dan para kaum selidet mendengar cerita2 dari 
para laki2 dewasa yang bertugas memasak kerang dan ada banyak Lakon2 cerita 
lagenda Nelayan yang umumnya tidak tertulis di buku cerita anak2 terbitan 
perusahaan terkenal itu..
saya sendiri sering tertawa geli karena ada banyak lakon2 yang mereka bawakan 
dan banyak suara2 para pedagang yang berteriak "jual mangga asam.. dijual 
murah,diskon ma kartu sembako.."... atau tukang bubur bisik2 dgn tukang 
rumba"bahenol oii..tukar rumba ma bubur 2 piring buat abang... ya".. (ada 
barter ekonomi..dan ada interaksi komunikasi manusia).. 
jujur saja,saya menuils ini sambil tertawa geli karena mengulang memory saya di 
sekitar para nelayan n kaum selindet itu...  
.. teman2..cobalah.. saya rasa wisata daerah"sederhana" lebih menyenangkan 
daripada wisata ke mall2 yang menguras kantong anda.. 
salam.. 
Irene...

 



________________________________
From: mutia <[email protected]>
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Sent: Mon, 1 March, 2010 1:50:40 PM
Subject: Re: [indobackpacker] Wisata Daerah Kumuh: Apa pendapatmu?

  
Halo semua,
Saya pribadi lebih suka mendatangi tempat-tempat "sederhana" seperti itu. 
Berkunjung ke tempat terpencil dengan transportasi yang sulit, akses pendidikan 
dan kesehatan yang sangat minim, atau bahkan ke "kampung sebelah" di pinggir 
kali justru dapat mengingatkan bahwa kemiskinan adalah hal yang nyata, dan 
tidak perlu disembunyikan. Mengajak orang asing untuk berwisata ke tempat kumuh 
bukanlah eksploitasi kemiskinan, karena bisa jadi ada kesempatan untuk mengetuk 
hati orang-orang yang mau membantu dan mengulurkan tangan.
Jika mengunjungi tempat seperti itu, ya usahakan untuk tampil sederhana dan mau 
berbaur. Jangan pula melihat mereka dengan pandangan heran. Supaya tidak 
menambah rasa kesenjangan yang mungkin saja timbul di penduduk kawasan kumuh

Salam,
Mutia Muliasih

--- On Mon, 3/1/10, Puguh <puguh_imanto@ yahoo.com> wrote:

From: Puguh <puguh_imanto@ yahoo.com>
Subject: [indobackpacker] Wisata Daerah Kumuh: Apa pendapatmu?
To: indobackpacker@ yahoogroups. com
Date: Monday, March 1, 2010, 8:59 AM

 

Temans;

Membaca di koran beberapa minggu yang lalu tentang wisata daerah kumuh. Pada 
dasarnya si tamu diajak berkunjung ke beberapa daerah kumuh di Jakarta untuk 
menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan di kawasan yang secara infrastruktur 
tidak layak. Uang yang dibayarkan tamu untuk 'guiding service'nya, dikembalikan 
ke masyarakat di daerah tersebut.

Beberapa teman menyatakan ketidaksetujuan dan menganggap hal ini adalah 
eksploitasi kemiskinan.

Saya sendiri cenderung berseberangan. Selama masyarakat didaerah kumuh tidak 
menggantungkan pendapatan utama dari 'wisatawan' yang datang berarti mereka 
tidak melakukan eksploitasi kemiskinan. Banyak warga yang memang bekerja 
sebagai pemulung dll yang sebenernya memberi nilai tambah. Bahwa faktanya 
mereka dipinggirkan secara struktural, itu hal lain.

Kalo memang ada sisi buruk rupa Jakarta, kenapa harus malu? Apalagi kalau 
memang tak bisa membuat perubahan yang berarti.

Apa pendapatmu?

Tabik;

Puguh

[Non-text portions of this message have been removed]





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke