om pug, tema poverty tourism ini pernah dibahas teman pak harry sufehmi th 2008 lalu. bisa dilihat disini http://harry.sufehmi.com/archives/2008-03-16-1609/#comments
saya sendiri ngga sreg dengan style ini jika semata- mata adalah tur, melihat saja tanpa berbuat sesuatu. lebih memilih ikutan volunteering atau terjun langsung walau cuma sehari dua. "melihat" kemiskinan tidak harus secara fisik. terlebih ada batas antara ingenuity dan real experiences. terkadang kita terjebak pengen liat hal yang 'asli' tetapi menjadi sebuah kepura-puraan atau sangat turistik (pasar terapung di thailand misalnya). kalau sudah begini rasanya ekspektasi pada keaslian jadi pertanyaan. salam, ambar --- In [email protected], "Puguh" <puguh_ima...@...> wrote: > > > Temans; > > Membaca di koran beberapa minggu yang lalu tentang wisata daerah kumuh. Pada > dasarnya si tamu diajak berkunjung ke beberapa daerah kumuh di Jakarta untuk > menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan di kawasan yang secara infrastruktur > tidak layak. Uang yang dibayarkan tamu untuk 'guiding service'nya, > dikembalikan ke masyarakat di daerah tersebut. > > Beberapa teman menyatakan ketidaksetujuan dan menganggap hal ini adalah > eksploitasi kemiskinan. > > Saya sendiri cenderung berseberangan. Selama masyarakat didaerah kumuh tidak > menggantungkan pendapatan utama dari 'wisatawan' yang datang berarti mereka > tidak melakukan eksploitasi kemiskinan. Banyak warga yang memang bekerja > sebagai pemulung dll yang sebenernya memberi nilai tambah. Bahwa faktanya > mereka dipinggirkan secara struktural, itu hal lain. > > Kalo memang ada sisi buruk rupa Jakarta, kenapa harus malu? Apalagi kalau > memang tak bisa membuat perubahan yang berarti. > > Apa pendapatmu? > > Tabik; > Puguh >
