Nimbrung.....

Nggak usah ngomongin jaman orde baru mas.....sekarang aja kalo ada pejabat yang 
mau
makan di hotel / restaurant di belakang kantor (area Sudirman), pedagang 
makanan 
'Amigos' (agak minggir got sedikit) alias kaki-lima pun nggak boleh jualan 
alias disuruh
libur sehari........giliran kita pelanggan 'Amigos' yang harus nyari alternatif 
lain.... hehe

Pendapat pribadi sih nggak menolak jika memang ada yang ingin melihat sisi 
kumuh dari
suatu kota dan menganggap itu sebagai 'obyek wisata' juga. Karena dari 
gemerlapnya
kawasan bisnis & hiburan kota megapolitan pun pasti ada sisi kumuh yang mungkin 
jauh
dari bayangan kita sebelumnya.......

Cuma jangan sampai karena kawasan kumuh bisa jadi 'obyek wisata' akhirnya justru
malah kawasan kumuh nggak berkurang tapi tetap ada.......belum lagi kalau 
seandainya 
masyarakat kawasan kumuh menganggap sebagai pendapatan tambahan dengan menjual
kekumuhan mereka yang menurut pendapatku pribadi kurang mendidik (mkjs = mohon
koreksi jika salah).....

Ardi

--- Pada Sen, 1/3/10, Yudhi <[email protected]> menulis:

Dari: Yudhi <[email protected]>
Judul: Re: [indobackpacker] Wisata Daerah Kumuh: Apa pendapatmu?
Kepada: "Puguh" <[email protected]>, [email protected]
Tanggal: Senin, 1 Maret, 2010, 9:59 AM







 



  


    
      
      
      Waktu jaman orde baru duluuu, bila ada pejabat akan berkunjung, atau 
hanya 

sekadar lewat daerah kumuh, apalagi ada tamu dari luar negeri, daearh kumuh 

itu sudah dipastikan akan "dibersihkan" lebih dulu. Penduduk yang tinggal di 

daerah ini seperti kotoran dalam rumah yang dimasukkan ke karpet untuk 

kemudian orang2 sama2 menginjak2 karpet itu. Ingat kasus Jan Prank, menteri 

kerjasama pembangunan Belanda yg juga ketua IGGI dgn gayanya yg 'sruntulan' 

(dgn ditemani aktivis2 LSM) mblusuk2 ke daerah2 kumuh - yang membuat 

pejabat2 Indonesia dibuat kalng kabut dan kemudian menekan aktivis LSM.... 

Ini salah satu kisah masa lalu kita.



Saya setuju dengan pendapat Ki Puguh bahwa orang2 yg tinggal di daerah kumuh 

sama sekali tidak mengekloitasi kemiskinanya. Banyak teori ekonomi 

pembangunan pada thn 70-80an, al: Dependency Theory, al: Andre Gunder Frank, 

Peter Evans, Paul Baran yang berbicara ttg proses kemiskinan struktural. 

Yang perlu dicermati mungkin ide membuat tour. Tapi kita jangan su'uzhon 

dulu. Apa salahnya juga membuat paket tour, mengajak "orang asing" melihat 

realita atau sisi lain dari wajah kota/kita. Bahwa wajah kita tidak hanya 

sekitar silang monas (istana) atau bunderan HI (mal grand Indonesia), 

senayan, atau pondok indah, atau museum2 atau Gedung Kesenian, TIM, 

Salihara, tempat pertunjukan2 yang sering dianggap menampilkan seni tinggi 

(high art), mungkin perlu juga mereka diajak ke kolong kembatan Jatinegara 

tempat pertunjukan sintren, tayub, atau jaipong. Biarlah semua realita itu 

sebagai as it is, apa adanya. Penilaian diserahkan ke masing2 orang...

Jika mengajak wisman, ada baiknya juga, setelah capek keluar-masuk daerah 

kumuh, kita ajak nongkrong, ngopi2 atau minum wine di cafe yang lavish di 

hotel bintang lima, sambil mungkin ngomong2 tentang kemiskinan dunia 

ketiga.... sedikit absurd, sebasurd dunia ini.



tabik,

yudhi

Pengecer Jasa Yoga



----- Original Message ----- 

From: "Puguh" <puguh_imanto@ yahoo.com>

To: <indobackpacker@ yahoogroups. com>

Sent: Monday, March 01, 2010 8:59 AM

Subject: [indobackpacker] Wisata Daerah Kumuh: Apa pendapatmu?



>

> Temans;

>

> Membaca di koran beberapa minggu yang lalu tentang wisata daerah kumuh. 

> Pada dasarnya si tamu diajak berkunjung ke beberapa daerah kumuh di 

> Jakarta untuk menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan di kawasan yang 

> secara infrastruktur tidak layak. Uang yang dibayarkan tamu untuk 'guiding 

> service'nya, dikembalikan ke masyarakat di daerah tersebut.

>

> Beberapa teman menyatakan ketidaksetujuan dan menganggap hal ini adalah 

> eksploitasi kemiskinan.

>

> Saya sendiri cenderung berseberangan. Selama masyarakat didaerah kumuh 

> tidak menggantungkan pendapatan utama dari 'wisatawan' yang datang berarti 

> mereka tidak melakukan eksploitasi kemiskinan. Banyak warga yang memang 

> bekerja sebagai pemulung dll yang sebenernya memberi nilai tambah. Bahwa 

> faktanya mereka dipinggirkan secara struktural, itu hal lain.

>

> Kalo memang ada sisi buruk rupa Jakarta, kenapa harus malu? Apalagi kalau 

> memang tak bisa membuat perubahan yang berarti.

>

> Apa pendapatmu?

>

> Tabik;

> Puguh

>



    
     

    
    


 



  






      Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari 
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke