Tony Wheeler, pencipta Lonely Planet di Ubud Writer and Reader Festval dua thn lalu bilang: "It's always interesting when you discover new things. One thing leads to anothr and you keep finding new things". Bali adalah destinasi pertama dia ke luar dr Australia, seblum kemudian menjelajah hampir semua negara di planet ini. Artinya, perjalanan, apa pun tdk hrs bernama traveling ato backpacking tentu dimulai dr yg paling dekat dr tpt kita tinggal.
Mungkin ini bisa dianggap sbg pembelajaran pada mengatasi rasa khawatir, dan spt Tony bilang hal2 yg kita jumpai dalam perjalanan akan memperkaya hidup dan pengalaman kita, bahkan pengalaman yg tidak menyenangkan. Segala sesuatu akan membawa pada penjelajahan berikutnya. Jadi sbtulnya tdk ada yg perlu dikawatirkan. Soal kendala bahasa. Idealnya memang kita bisa berbahasa lokal spt daerah yg jadi tujuan krn bahasa adalah alat pembebasan dalam konteks pergaulan, tp apakah Columbus bisa berbahasa Indian Amerika atau para pedagang China India dlm epik Jalur Sutra dulu sudah pandai berbahasa daerah2 baru yg akan mereka lalui? Rasanya tidak! Jadi spt kawan saya yg orang Tegal bilang waktu mau ke Amertika: " seng penthing nyong andersten bae lah" dengan aksen jawa Tegal yg kental...yg penting ngerti sedikit2lah..gak perlu pengucapan spt di film2 Hollywood itu. Tabik, yudhi Sent from my BlackBerry® via Smart 1x / EVDO Network. Smart.Hebat.Hemat. -----Original Message----- From: umbo karundeng <[email protected]> Date: Sat, 19 Jun 2010 00:00:34 To: <[email protected]> Subject: Bls: [indobackpacker] Fwd: Diskusi: Mengatasi rasa takut akan backpacking pertama kali Saya suka dengan kata-kata Michael Jordan, kira-kira begini bunyinya ..”Kita boleh gagal, tapi jangan pernah takut mencoba”. Jadi kalau kita tidak pernah mencoba bagaimana kita merasakan “nikmat”nya suatu perjalanan melihat belahan kawasan Indonesia/dunia? nah bagaimana kalau kita ubah menjadi ...”kita boleh khawatir, tapi jangan pernah takut untuk mencoba?”. Ikut kegiatan semacam pramuka, palang merah, atau ikut club seperti pecinta alam dan club fotografi menurut saya mendukung sekali untuk kita berani jalan sendiri. Apalagi kalau kita ikut les bahasa (paling tidak bahasa inggris, sebagai bahasa pergaulan internasional). Ikut kegiatan tersebut, mempunyai andil untuk menumbuhkan rasa percaya diri kita. Menurut saya, rata-rata orang kita (Indonesia) takut berpergian ke luar negeri secara solo traveler lebih kepada penguasaan bahasa inggris yang jeblok (Banget). “Aduh nanti gue bingung, gue kan nggak bisa bahasa inggris, bahasa inggris gue Cuma bisa say hello good bye doang, nanti kalau gue kesasar gimana, ...”. Jadi hal ini salah satu yang membuat seseorang tidak percaya diri di kala waktu, uang dan paspor sudah ada. Jadi pilihan teraman adalah ya ikut tur dari biro perjalanan. Memang bila saya perhatikan, para turis biasanya dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris (walaupun terbatas, seperti saya J). Jadi ingat juga soal diskusi ... kalau di luar negeri ... bahasa inggris kita jadi lebih lancar malah jadi pengen ngomong inggris mulu ... heheheheee. Sayangnya, “kitab suci” para penjelajah dunia, seperti Lonely Planet, belum ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa kita (Indonesia). Bila saja buku-buku pemandu perjalanan ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, saya yakin solo traveler dari Indonesia akan semakin banyak. Untungnya saat ini sudah ada internet, sehingga kita bisa mendapatkan informasi dari mailist, dan blogger yang menuliskan kisah perjalanannya. Saya jadi ingat cerita di buku Trinity, tentang teman satu dorm-nya yang berbangsa Jepang ... heheheheee ..... memang nekat kayaknya ... tapi saya yakin dia memiliki kitab suci yang tertulis dalam bahasanya sendiri. Hehehee ... ternyata dalam buku Jingga (Marina S. Kusumawardhani) ... dia nulis juga tentang hal itu ... bahwa Jepang adalah bangsa paling nekat dalam hal traveling dari segala bangsa! Saya setuju dengan matatita, bahwa keluarga termasuk faktor yang membentuk seseorang jadi berani berpergian sendiri atau tidak. Juga saya sependapat kalau kita dapat memulai untuk berani jalan sendiri dengan cara pergi bersama teman-teman dulu. Buat saya pribadi bila saya “tersasar” di luar negeri/luar kota saya malah menikmati .... karena toh ini adalah daerah baru yang belum saya pernah kunjungi ... dan tujuan saya memang jalan-jalan, jadi kenapa harus takut blusuk-blusuk? So, kita boleh khawatir tapi jangan pernah takut mencoba ... apalagi di negeri sendiri .... Salam Umbo Check me out!
