dear wina... terharu sekali saya membaca kalimat terakhir emailmu, "ataukah ber-backpacker-ria itu hanya milik orang2 yg masih single atau married tapi blm py anak ????" di satu sisi temen2 backpacker menyerukan, "backpacking is for everyone!"...tapi prakteknya memang nggak sesederhana itu kan? apalagi buat perempuan, menikah, dan sudah punya momongan.
saya juga mulai merasakan hal ini kok. dulu, sebelum ada baby bindi, saya masih bisa leluasa bepergian karena punya suami yang pengertian. tetapi setelah punya momongan, ternyata membuat saya harus menekan hasrat jalan-jalan. kalau nggak ada yang urgent, mendingan di rumah aja menikmati pertumbuhan si kecil yang bisa bikin saya bahagia, sebahagia kalau habis backpacking. beberapa waktu lalu saya 'terpaksa' meninggalkan baby bindi selama 15 hari karena ada busniness trip ke paris. urusan bisnisnya sih nggak lebih dari 5 hari...tapi dasarnya saya suka backpacking..jadilah saya bernegosiasi dengan suami untuk diberi ijin extend buat eurotrip sekalian. karena suami sudah mengenal karakter saya, negosiasi pun berakhir dengan win-win solutions. saya diijinkan backpacking tetapi tidak boleh lebih dari 15 hari. saat itu, saya merasa menjadi seorang isitri dan ibu yang kurang ajar. baby bindi baru berusia 6 bulan, baru belajar makan makanan padat pertama (bubur susu) dan saya meninggalkannya hanya dengan bapaknya. saya tidak tahu bagaimana mengurai rasa bersalah ini. bersalah pada suami yang ndilalah kok ya telaten, setiap pagi sebelum ngantor nyuapin baby bindi dulu, dan setiap malam ngelonin dan mengganti popoknya kalo pup. hanya pada siang hari bindi ditemani mbok nem dan eyangnya. rasa bersalah yang menekan itu, masih ditambah dengan tekanan sosial yang terlontar dari sekitar: kerabat dan teman-teman yang tahu bahwa saya akan ke luar negeri untuk beberapa saat. pertanyaan sederhana yang menohok dada: "trus anakmu, piye? sama siapa?" tapi kemudian, saya berusaha positive thinking. saya menganggapnya sebagai salah satu proses pembelajaran. mengajari anak-anak mandiri, bukan semata membiarkan mereka pergi jalan-jalan sendiri, tetapi juga dengan cara meninggalkannya untuk beberapa saat. dengan tetap berada di rumah, secara psikologis si anak akan merasa lebih nyaman namun karena tidak ada ibunya, ia pun belajar untuk tidak tergantung. memang sih, baby bindi kala itu masih 6 bulan dan belum bisa ngapa-ngapain. tapi, seperti kita semua tahu, meskipun bayi nggak bisa bicara, dia sudah bisa merasakan. sisi positive lain yang kemudian saya dapatkan adalah, baby bindi dan ayahnya jadi makin dekat. dengan begitu, ia tidak akan menuntut bahwa yang ngurusin dirinya harus selalu ibunya. toh dengan bapak juga tetep fun kok. tentu saja semua ini membutuhkan pengertian dan pengorbanan yang sangat dari kedua belah pihak. sebagai istri/ibu yang suka backpacking, saya nggak lantas ingin semena-mena dolan meskipun punya suami yang pengertian dan bisa ngasuh anak. dolan-dolan saya kali ini harus lebih bertanggung jawab. sementara itu, para suami/bapak atau calon suami, sudah saatnya menjalankan prinsip-prinsip kesetaraan gender. nggak lagi pada dataran teoritis, tapi KONGKRIT...!!! salam dari jogja w: www.matatita.com fb : www.facebook.com/matatita [Non-text portions of this message have been removed]
