>> 'harmonik', yakni tegangan dan arus listrik 'ikutan' dengan frekwensi
kelipatan dari 50Hz ( 150, 250, 350, 450 Hz dst)
ini ilmu yg baru Pak Pras bagi saya. mungkin bisa dijelaskan secara awam
saja, kok bisa begitu ?
apa ada model induksi atau spt konsep edy current ?
Ngomong2 ttg usia kabel instalasi listrik, untuk listrik rumahan standarnya
berapa tahun usia
pakainya Pak ?
yang sering ada di rumah2 kan yg biasanya kabel satu fasa, baik yg berupa :
1. kabel serabut
2. kawat tunggal terpisah (insulasi tunggal, biasanya warna hitam, merah,
kuning, atau biru)
3. kawat tunggal yg disatukan dg double insulasi (biasanya dalamnya hitam
rapuh, dan di luarnya putih
agak keras)
di rumah saya yg di desa, pakenya kable nomor 2, dengan diberi proteksi pipa
pvc.
berhubung dipasangnya di rumah jawa asli, bahannya full kayu, dan sudah
dipasang sejak 1996 (12 tahun),
apakah sudah perlu diganti ?
Kira2 inspeksi apa yg perlu dilakukan ?
Terima kasih atas bagi2 ilmu-nya.
Mukhlason
On 6/11/08, Prasetyo Roem <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Iya, saya juga nonton TWA xxx, yang meledak di udara gara2 listrik.
> ----------------
> Permasalahannya, yaitu kabel2 listrik / elektrik
> /elektronik yang Berada dekat dengan kompartemen bahan bakar
> sudah mengelupas di sana-sini isolasinya dan menyebabkan kortsluiting.
> Akibatnya, avtur yang berada pada kompartemen bertambah tekananannya
> dan tempertaturnya naik, ditambah percikan listrik dari
> Kabel2 tadi, meledaklah kompartemen bahan bakar tsb.
> ------------------
> Bulan lalu, gedung Nestle di Jagakarsa lumpuh, gara2 kabel feeder utama
> terbakar.
> Minggu lalu, kabel 500mm2 yang melayani gedung cyber juga terbakar.
> Nampaknya kasusnya serupa, isolasi kabel menjadi 'tembus' gara2 impulse
> lisrik seperti yang dibahas oleh Cak Pekik (Lab Konversi Listrik-ITB). Di
> samping itu, ada juga penyakit listrik yang disebut 'harmonik', yakni
> tegangan dan arus listrik 'ikutan' dengan frekwensi kelipatan dari 50Hz (
> 150, 250, 350, 450 Hz dst) yang numpang di jaringan kabel dan menyebabkan
> tambahan arus, sehingga kapasitas kabel menjadi tidak cukup lagi, jauh dari
> perhitungan semula.
>
> Apakah anda2 sudah memeriksa kwalitas listrik di tempat anda bekerja?
>
> Salam,
> Prasetyo Roem.
> ----------------------------------------------
> 'yang sering "sedih" melihat kebakaran gara2 listrik, padahal bisa dicegah'
>
> ----- Original Message -----
> *From:* Muhammad Ari Mukhlason <[EMAIL PROTECTED]>* **To:*
> [EMAIL PROTECTED] ; [email protected]
> *Sent:* Wednesday, June 11, 2008 4:21 PM
> *Subject:* [indonesia] Seconds from Disaster : ANTV 22.00 - 23.00 & 03.30
>
> Assalaamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
>
> Tiga minggu ini saya sangat senang, Pasalnya kenapa,
> Karena ada acara bagus di TV, tepatnya di ANTV setiap
> Hari kerja (CMIIW) jam 22.00 – 23.00 WIB & 03.00 – 04.00 WIB
> (jadwal lengkap ada di www.an.tv)
>
> Judulnya Seconds from Disaster
>
> Topiknya membahas berbagai macam musibah yang terjadi
> dan merunut akar permasalahannya. Dari musibah transportasi
> sampai bencana alam.
>
> Di sana saya dapat gambaran bagaimana aktivitas Bapak kita,
> Prof Diran bersama teman2 saat berkecimpung di KNKT menangani
> berbagai macam Insiden dan kecelakaan.
>
> Bahasa yg saya tuliskan di sini adalah versi awam, karena tanpa
> Didukung lingkungan kerja di bidang penerbangan :)
>
> Yang pertama saya lihat adalah waktu kecelakaan salah Satu
> Maskapai di US, yang celaka karena terjadi flashing (percikan bunga
> api) di kompartemen tanki bahan bakar yang di center body (mohon
> dikoreksi, soalnya Bahasanya org awam :p)
>
> Namun untuk menemukan root cause-nya tidak mudah dan tidak
> Sebentar. Terlebih pesawat jatuh di tengah laut.
> Setelah melakukan Berbagai macam analisa, serta pengujian,
> ditemukanlah akar Permasalahannya, yaitu kabel2 listrik / elektrik
> /elektronik yang Berada dekat dengan kompartemen bahan bakar
> sudah mengelupas di sana-sini isolasinya dan menyebabkan kortsluiting.
> Akibatnya, avtur yang berada pada kompartemen bertambah tekananannya
> dan tempertaturnya naik, ditambah percikan listrik dari
> Kabel2 tadi, meledaklah kompartemen bahan bakar tsb.
>
> Solusi untuk mencegah terulang : kabel2 yang sudah mengelupas,
> Diperketat pengawasannya dan diisolasi / diganti baru.
>
> Kasus yang kedua yg saya lihat, adalah kecelakaan pesawat
> TWA DC-10 (CMIIW lagi), yang mengalami pecah fan di engine atas,
> Sehingga fluida minyak utk bidang kendali di-tap (drain) habis dan
> Kehilangan kendali. Pesawat ini jatuh di tengah ladang gandum / jagung
> Yang sedang subur2-nya.
>
> Setelah dikumpulkan serpihan2nya seadanya, serta dianalisa blackbox,
> vcr n fdr-nya, disimpulkan kecelakaan disebabkan hal di atas. Namun
> perlu pembuktian lebih lanjut dengan fan yg diduga pecah.
> Setelah masa panen (3 bulan after accidet), seorang petani melaporkan
> Penemuan fan di ladangnya, dan setelah dicek dan ditangani lebih lanjut,
> Memang benar kecelakaan bermula dari retak di fan yang terlambat
> diantisipasi.
>
> Solusinya :
> - pemeriksaan yg lebih ketat dan antisipasi lebih dini pada Temuan2
> kasus retak.
> - Dibuatnya mekanisme stop valve pada sistem hidrolik yang mencegah
> terkuras-habisnya oli pada sistem ini pada saat terjadi kebocoran.
> - Letak pipa2 hidrolik dijauhkan dari benda2 yg memiliki kemungkinan
> Keagagalan dan menyebabkan kebocoran.
>
> Kasus ke tiga : Badai topan (entah apa namanya, yg ada di US)
>
> Kasus ke-empat : Tenggelamnya kapal titanic, 1912, karena menabrak
> Gunung es. Titanic sudah diperingatkan oleh kapal yang ada di dekat
> Lokasi, bahwa terdapat gunung es besar di jalur pelayaran titanic.
> Namun karena awak radio tidak mendengar sinyal dengan jelas, dan
> Dianggap hanya interferensi frekuensi radio, diabaikanlah peringatan
> Awal tersebut.
>
> Setelah menabrak gunung es, lambung kapal bocor. Sehingga titanic memiliki
> Waktu penyelamatan sebelum tenggelam selama kurang lebih 2-3 jam.
> Faktor yang mempengaruhi banyaknya korban : yaitu diabaikannya
> Keselamatan Dengan sedikitnya sekoci yang tersedia, yaitu hanya 20-an
> sekoci
> Untuk 3000-an penumpang dan awak kapal. Idealnya kapal sebesar ini
> Memiliki sekoci sejumlah 40-an buah (CMIIW). Akibatnya, korban meninggal
> Diprediksi sejumlah 1500 orang.
>
> Kasus ke-lima : Gempa Bumi & Tsunami maha dahsyat 26 des 2004
> Kita semua tahu, gempa besar tersebut, yang mengakibatkan korban meninggal
> Lebih kurang 200 ribu orang di berbagai negara. Dari NAD, Thailand,
> Malaysia,
> Bangladesh, Sri-Lanka, Maladewa, sampai Madagaskar.
> korban terbanyak adalah dari NAD.
> Dari analisa lapangan dan simulasi gempa dan gelombang yang terjadi,
> Dugaan awal panjang patahan di samudra hindia adalah 400 km.
> Namun setelah disimulasikan, gelombang tsunami yg dihasilkan tidak sampai
> Sedahsyat yang terjadi.
> Dugaan yang kedua, merupakan koreksi dari dugaan sebelumnya, patahan
> Lempeng bumi yg terjadi adalah sepannjang 1000 km, namun disimulasikan
> Gelombang yg terjadi tidak sampai ke pantai timur afrika.
>
> Setelah dianalisa dari bukti2 lapangan, termasuk survey ke pulau Simeulue
> di barat Meulaboh, dan juga foto satelit pra dan pasca tsunami, diperoleh
> data
> terjadi kenaikan lempeng pulau, (terutama simeuleu).
> Di pantai sebelah selatan : terjadi kenaikan pulau setinggi 0.5 meter
> Di pantai tengah : kenaikan 1 meter
> Dan di utara : kenaikan 1.5 meter.
>
> Tinggi gelombang tsunami tercatat yg tertinggi di Lhok Nga, dg ketinggian
> 35-meter
>
> Setelah data2 dianalisa, diperoleh angka 1600 km patahan gempa dan
> disimulasikan
> Dan diperoleh hasil yg cukup akurat dengan kenyataan tsunami yg menyebar ke
> dua benua.
>
>
> Kasus ke-enam : Meledaknya pesawat ulang-alik Columbia pada fase re-entry,
> Jan 2003
> Tayangannya baru tadi malam. Sebagaimana teman2 sudah tahu, penyebab
> awalnya
> Adalah lepasnya panel pelindung panas di sayap karena terbentur salah satu
> komponen
> Yang lepas saat take-off.
> Kamera sudah merekam insiden lepasnya panel pelindung panas ini dan
> beberapa saat
> Setelah take off, awak Nasa yg di bumi mendiskusikan dan menganalisa
> kemungkinan2
> Yg terjadi akibat lepasnya panel ini. Namun tetap tidak diberitahukan
> kepada awak pesawat
> Yang berada di angkasa.
> Setelah melakukan serangkaian percobaan di ruang minim gravitasi, pesawat
> kembali masuk
> Ke bumi. Namun setelah pada tinggi terbang 60 km di atas bumi, Columbia
> mulai mengalami
> Masalah. Yaitu sensor temperatur di ruang penyimpanan roda, mulai
> mengindera kenaikan
> Temperatur yang tidak wajar karena melonjak terlalu cepat. Kemudian
> satu-persatu sensor
> tersebut mati.
> Awak pesawat melaporkan hal ini ke darat, namun, tak lama kemudian,
> terjadilah kecelakaan
> Yang menewaskan 6 awak.
>
> Nanti malam ada lagi, entah kasus apa lagi yg diulas.
>
> Ada rekan2 yang mau menambahkan ?
> Terima kasih sudah membaca tulisan ini.
>
> Wassalaamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
> M Ari Mukhlason
> GSM : 0818.223.062
> CDMA : 021-910.745.83
> alt-mail : [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
--
M. Ari Mukhlason
-----------------------------
http://aerogift.com
YM&FS : [EMAIL PROTECTED]
HP : 0818-223-062
email : [EMAIL PROTECTED]