Saat ini, lebih dari setengah KRL Jabotabek mampu melakukan pengereman 
regeneratif. Hanya kereta lama, yang memakai motor DC, yang tidak mampu 
melakukan pengereman regeneratif.
Sayangnya, walaupun mampu melakukan, pengereman regeneratif tidak selalu bisa 
dilakukan. Pengereman ini hanya bisa dilakukan jika ada kereta lain yang berada 
di dekat kereta yang sedang melakukan pengereman. Jadi, effektifitasnya sangat 
ditentukan oleh traffic density KRL.
Saat ini, saya sedang merancang, bersama INKA, kendali KRL yang saya harapkan 
bisa fully designed by anak bangsa.
Hanya bisa disain karena di Indonesia tidak ada industri komponennya.
Salam



--- On Sat, 6/14/08, Tavip <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> From: Tavip <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [indonesia] Re: Seconds from Disaster : harmonik listrik
> To: [email protected]
> Date: Saturday, June 14, 2008, 2:32 PM
> Sekitar tahun 2004 yang&nbsp;lalu di Indonesia, saya
> menulis spec UPS yang sangat ketat diantaranya pembatasan
> THD-i yang lebih kecil dari sebelumnya, Fully Static Switch
> (bukan kombinasi dengan kontaktor, Static Switch ini
> diperlukan untuk paralel redundan) dan kemampuan terhadap
> arus hubung singkat. Sebetulnya dua yang terakhir tidak
> masalah&nbsp;karena ini bukan revisi terhadap spec UPS
> yang sebelumnya. Untuk memastikan ada manufacturer yang
> bisa memenuhi spec saya mengundang beberapa vendor untuk
> presentasi, kesemuanya mengatakan hana masalah (hana =
> tidak ada, bhs. Aceh). Tapi ternyata begitu ITB (bukan
> Institut Teknologi Bandung, tapi Invitation To Bid)
> diluncurkan hanya sedikit vendor yang memenuhi, karena
> tidak bisa memenuhi Fully Static Switch, dan kriteria
> kemampuan hubung singkat. Tapi untuk THD-i mereka jagonya.
> Untuk kriteria hubung singkat saya sempat diketawai sama
> salah satu vendor, kamu gila katanya, meminta test hubung
> singkat bolted
>  3-phase ???.- Belum tau dia kita biasa melakukannya saat
> FAT (Factory Acceptance Test).
> &nbsp;
> Yang menarik untuk memenuhi THD-i tadi ada banyak cara yang
> digunakan vendor, diantaranya&nbsp;pakai 12-pulse
> ditambah dynamic filter, pakai yang dynamic karena THD saat
> no load berbeda dengan full load. Tapi yang lebih menarik
> lagi ada vendor yang pakai IGBT baik di inverter maupun
> konverter, ini menarik karena pengalaman kami dan spec kami
> hanya mensyaratkan IGBT di inverter (rectifier) saja.
> Sebetulnya vendor ini bukan satu-satunya vendor yang
> memakai IGBT di inverter dan konverter, ada vendor lain
> lagi, tapi decline karena jujur ngak bisa pakai Fully
> Static Switch. Saya toch&nbsp;ngak perlu menyebut kedua
> merek atau vendor UPS tersebut, nanti dikira ikut promosi.
> &nbsp;
> Di Industri Migas VFD atau (EVFD) dipakai bukan untuk
> regenerative braking, tapi betul-betul untuk generator.
> Excess power dari expander misalnya bisa membangkitkan
> power yang lumayan besar lebih dari 1MW. Di Gas Turbin,
> helper motor bisa berubah menjadi generator saat winter
> (musim dingin) bisa supply listrik ke grid sampai 10MW
> (tergantung dari process operasi, prioritas adalah process,
> generation cuma excess). 
> &nbsp;
> Omong-omong regenartive braking saya jadi
> teringat&nbsp;puluhan tahun lalu&nbsp;kang Hasan
> Hambali (EL-81) cerita ke saya tentang tugas akhirnya dari
> Pak Harry Sosrowadiseweyo. Kononnya menurut perhitungannya
> banyak rupiah yang&nbsp;bisa dihemat KRL Jabotabek dari
> pengereman regenerative seandainya power pengereman itu
> dikembalikan ke jala-jala bukan dibuang ke resistor.
> Mungkin pak Pekik (Lab. Konversi) bisa melanjutkan
> penelitian cara pengembalian regenerative brakingnya KRL
> Jabotabek.
> &nbsp;
> Salam
> Tavip S. Lubis
> &nbsp;
> &nbsp;
> &nbsp;
> 
> --- On Thu, 6/12/08, Pekik Dahono
> &lt;[EMAIL PROTECTED]&gt; wrote:
> 
> From: Pekik Dahono &lt;[EMAIL PROTECTED]&gt;
> Subject: [indonesia] Re: Seconds from Disaster : harmonik
> listrik
> To: [email protected]
> Date: Thursday, June 12, 2008, 6:11 PM
> 
> Generator memang biasa dirancang dengan harmonisa kelipatan
> tiga yang cukup
> besar supaya penggunaan iron core bisa lebih efisien. Di
> PLN, kondisi ini tidak
> menjadi masalah karena tidak ada generator yang diparalel
> langsung (selalu
> diparalel setelah trafo). Sedangkan di industri, banyak
> generator diparalel
> langsung. Ada paper saya yang membahas masalah ini.
> Akibatnya, kalau memparalel langsung generator, tidak
> dianjurkan mentanahkan
> seluruh netral generator, lebih hanya satu yang diparalel.
> Untuk UPS maupun VSD, setahu saya, di Indonesia belum
> dipasarkan yang memakai
> rectifier atau converter dengan menggunakan IGBT. IGBT
> hanya dipakai untuk sisi
> inverter. IGBT dipakai di sisi rectifier jika kita
> memerlukan regenerative
> braking (misal elevator atau lift atau rolling mills).
> Untuk industri minyak
> jarang sekali diperlukan regenerative braking.
> Salam
> 
> 
> 
> --- On Thu, 6/12/08, Tavip
> &lt;[EMAIL PROTECTED]&gt; wrote:
> 
> &gt; From: Tavip &lt;[EMAIL PROTECTED]&gt;
> &gt; Subject: [indonesia] Re: Seconds from Disaster :
> harmonik listrik
> &gt; To: [email protected]
> &gt; Date: Thursday, June 12, 2008, 10:17 PM
> &gt; Harmonik bisa juga disebabkan "penyakit
> bawaan"
> &gt; dari generatornya, hal ini terjadi akibat
> konstruksi
> &gt; stator&amp;nbsp;yang menghasilkan gelombang
> tidak murnis
> &gt; sinus, amplitudanya mendatar. 
> &gt; &amp;nbsp;
> &gt; Penyakit bawaan seperti ini ada di kilang tempat
> kerja saya
> &gt; dulu. Di kilang itu ada 15 generator, masing
> &gt; masing&amp;nbsp;generator ditanahkan dengan
> resistor 100A,
> &gt; tapi generator nomor 7&amp;nbsp;dalam
> operasinya tidak
> &gt; boleh ditanahkan karena akan menyebabkan nuisance
> trip
> &gt; akibat harmonisa. Nuisance trip
> &gt; ini&amp;nbsp;terjadi&amp;nbsp;terutama
> &gt; kalau&amp;nbsp;relay-nya masih elektromekanik
> (pakai
> &gt; kumparan putar), kalau pakai numeric relay ada
> option untuk
> &gt; memblok
> harmonisa.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
> &gt; &amp;nbsp;
> &gt; Di sisi beban penghasil harmonisa bisa ditekan
> &gt; dengan&amp;nbsp;pemakaian IGBT sebagai
> pengganti komponen
> &gt; SCR, atau Thyristor. Sekarang ini UPS sudah banyak
> yang
> &gt; memakai IGBT bukan hanya di rectifier tapi juga di
> &gt; konverternya, demikian punla VFD (variable
> frequency drive)
> &gt; pakai IGBT. Kalau beli peralatan non linier jalang
> lupa
> &gt; membatasi THD (Total hamonic Distortion)
> &gt; &amp;nbsp;
> &gt; Salam
> &gt; Tavip S. Lubis
> &gt; 
> &gt; --- On Wed, 6/11/08, Prasetyo Roem
> &gt; &amp;lt;[EMAIL PROTECTED]&amp;gt; wrote:
> &gt; 
> &gt; From: Prasetyo Roem
> &amp;lt;[EMAIL PROTECTED]&amp;gt;
> &gt; Subject: [indonesia] Re: Seconds from Disaster :
> harmonik
> &gt; listrik
> &gt; To: [email protected]
> &gt; Date: Wednesday, June 11, 2008, 6:16 AM
> &gt; 
> &gt; 
> &gt; 
> &gt; 
> &gt; 
> &gt; Harmonik.
> &gt; Harmonik terjadi karena kita sudah mulai banyak
> menggunakan
> &gt; alat2 listrik yang 'non linier' seperti
> komputer,
> &gt; charger, UPS, inverter, speed controller yang pada
> dasarnya
> &gt; bisa mengakibatkan bentuk gelombang sinusoida
> menjadi cacat.
> &gt; Berdasarkan analisa kuliah matematika-4 (dapet
> nilai D, he
> &gt; he.), semua gelombang cacat, bisa diuraikan
> menjadi
> &gt; beberapa gelombang dasar dan gelombang lain dengan
> &gt; frekwensi kelipatan dari gelombang dasar -- berupa
> deret
> &gt; Fourier. (masih ingat kan?). Ternyata deret
> Fourier ini
> &gt; bukan sekedar teoritis matematis, tetapi ada dalam
> &gt; kenyataan, dan bisa diukur dengan alat2 ukur
> listrik.
> &gt; &amp;nbsp;
> &gt; Kabel tua.
> &gt; Kalau isolasi kabel sudah mulai mengeras,
> sebaiknya diganti
> &gt; saja.
> &gt; &amp;nbsp;
> &gt; Inspeksi.
> &gt; Dengan menggunakan alat
> ukur&amp;nbsp;'power
> &gt; analyser', semua penyakit2 listrik penyebab
> kebakaran
> &gt; bisa dideteksi dan bisa diambil tindakan
> preventif, tanpa
> &gt; menunggu 'disaster' tiba.
> &gt; &amp;nbsp;
> &gt; Salam,
> &gt; Prasetyo Roem
> &gt; --------------------------------------------------
> &gt; 
> &gt; ----- Original Message ----- 
> &gt; From: Muhammad Ari Mukhlason 
> &gt; To: [email protected] 
> &gt; Sent: Wednesday, June 11, 2008 7:51 PM
> &gt; Subject: [indonesia] Re: Seconds from Disaster :
> ANTV 22.00
> &gt; - 23.00 &amp;amp; 03.30
> &gt; 
> &gt; &amp;gt;&amp;gt; 'harmonik', yakni
> tegangan dan
> &gt; arus listrik 'ikutan' dengan frekwensi
> kelipatan
> &gt; dari 50Hz ( 150, 250, 350, 450 Hz dst)
> &gt; 
> &gt; ini ilmu yg baru Pak Pras bagi saya. mungkin bisa
> &gt; dijelaskan secara awam saja, kok bisa begitu ?
> &gt; apa ada model induksi atau spt konsep edy current
> ?
> &gt; 
> &gt; 
> &gt; Ngomong2 ttg usia kabel instalasi listrik, untuk
> listrik
> &gt; rumahan standarnya berapa tahun usia
> &gt; pakainya Pak ?
> &gt; yang sering ada di rumah2 kan yg biasanya kabel
> satu fasa,
> &gt; baik yg berupa :
> &gt; 1. kabel serabut 
> &gt; 2. kawat tunggal terpisah (insulasi tunggal,
> biasanya warna
> &gt; hitam, merah, kuning, atau biru)
> &gt; 3. kawat tunggal yg disatukan dg double insulasi
> (biasanya
> &gt; dalamnya hitam rapuh, dan di luarnya putih 
> &gt;
> &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;agak
> keras)
> &gt; 
> &gt; di rumah saya yg di desa, pakenya kable nomor 2,
> dengan
> &gt; diberi proteksi pipa pvc. 
> &gt; berhubung dipasangnya di rumah jawa asli, bahannya
> full
> &gt; kayu, dan sudah dipasang sejak 1996 (12 tahun), 
> &gt; apakah sudah perlu diganti ?
> &gt; 
> &gt; Kira2 inspeksi apa yg perlu dilakukan ? 
> &gt; 
> &gt; Terima kasih atas bagi2 ilmu-nya.
> &gt; Mukhlason
> &gt; 
> &gt; 
> &gt; 
> &gt; On 6/11/08, Prasetyo Roem
> &amp;lt;[EMAIL PROTECTED]&amp;gt;
> &gt; wrote: 
> &gt; 
> &gt; 
> &gt; Iya, saya juga nonton TWA xxx, yang meledak di
> udara gara2
> &gt; listrik.
> &gt; ----------------
> &gt; Permasalahannya, yaitu kabel2 listrik / elektrik 
> &gt; /elektronik yang Berada dekat dengan kompartemen
> bahan
> &gt; bakar 
> &gt; sudah mengelupas di sana-sini isolasinya dan
> menyebabkan
> &gt; kortsluiting. 
> &gt; Akibatnya, avtur yang berada pada kompartemen
> bertambah
> &gt; tekananannya
> &gt; dan tempertaturnya naik, ditambah percikan listrik
> dari
> &gt; Kabel2 tadi, meledaklah kompartemen bahan bakar
> tsb.
> &gt; ------------------
> &gt; Bulan lalu, gedung Nestle di Jagakarsa lumpuh,
> gara2 kabel
> &gt; feeder utama terbakar.
> &gt; Minggu lalu, kabel 500mm2 yang melayani gedung
> cyber juga
> &gt; terbakar.
> &gt; Nampaknya kasusnya serupa, isolasi kabel
> &gt; menjadi&amp;nbsp;'tembus' gara2
> impulse lisrik
> &gt; seperti yang dibahas oleh Cak Pekik (Lab Konversi
> &gt; Listrik-ITB). Di samping itu, ada juga penyakit
> listrik
> &gt; yang disebut 'harmonik', yakni tegangan
> dan arus
> &gt; listrik 'ikutan' dengan frekwensi
> kelipatan dari
> &gt; 50Hz ( 150, 250, 350, 450 Hz dst) yang numpang di
> jaringan
> &gt; kabel dan menyebabkan tambahan arus, sehingga
> kapasitas
> &gt; kabel menjadi tidak cukup lagi, jauh dari
> perhitungan
> &gt; semula.
> &gt; &amp;nbsp;
> &gt; Apakah anda2 sudah memeriksa kwalitas listrik di
> tempat
> &gt; anda bekerja?
> &gt; &amp;nbsp;
> &gt; Salam,
> &gt; Prasetyo Roem.
> &gt; ----------------------------------------------
> &gt; 'yang sering "sedih" melihat
> kebakaran gara2
> &gt; listrik, padahal bisa dicegah'
> &gt; 
> &gt; 
> &gt; 
> &gt; ----- Original Message ----- 
> &gt; From: Muhammad Ari Mukhlason&amp;nbsp; To:
> &gt; [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] 
> &gt; Sent: Wednesday, June 11, 2008 4:21 PM
> &gt; Subject: [indonesia] Seconds from Disaster : ANTV
> 22.00 -
> &gt; 23.00 &amp;amp; 03.30
> &gt; 
> &gt; Assalaamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
> 
> &gt; 
> &gt; Tiga minggu ini saya sangat senang, Pasalnya
> kenapa,
> &gt; Karena ada acara bagus di TV, tepatnya di ANTV
> setiap 
> &gt; Hari kerja (CMIIW) jam 22.00 – 23.00 WIB
> &amp;amp; 03.00
> &gt; – 04.00 WIB
> &gt; (jadwal lengkap ada di www.an.tv)
> &gt; 
> &gt; Judulnya Seconds from Disaster
> &gt; 
> &gt; Topiknya membahas berbagai macam musibah yang
> terjadi
> &gt; dan merunut akar permasalahannya. Dari musibah
> transportasi
> &gt; 
> &gt; sampai bencana alam.
> &gt; 
> &gt; Di sana saya dapat gambaran bagaimana aktivitas
> Bapak kita,
> &gt; Prof Diran bersama teman2 saat berkecimpung di
> KNKT
> &gt; menangani 
> &gt; berbagai macam Insiden dan kecelakaan.
> &gt; 
> &gt; Bahasa yg saya tuliskan di sini adalah versi awam,
> karena
> &gt; tanpa
> &gt; Didukung lingkungan kerja di bidang penerbangan :)
> &gt; 
> &gt; Yang pertama saya lihat adalah waktu kecelakaan
> salah Satu
> &gt; Maskapai di US, yang celaka karena terjadi
> flashing
> &gt; (percikan bunga 
> &gt; api) di kompartemen tanki bahan bakar yang di
> center body
> &gt; (mohon 
> &gt; dikoreksi, soalnya Bahasanya org awam :p) 
> &gt; 
> &gt; Namun untuk menemukan root cause-nya tidak mudah
> dan tidak 
> &gt; Sebentar. Terlebih pesawat jatuh di tengah laut. 
> &gt; Setelah melakukan Berbagai macam analisa, serta
> pengujian, 
> &gt; ditemukanlah akar Permasalahannya, yaitu kabel2
> listrik /
> &gt; elektrik 
> &gt; /elektronik yang Berada dekat dengan kompartemen
> bahan
> &gt; bakar 
> &gt; sudah mengelupas di sana-sini isolasinya dan
> menyebabkan
> &gt; kortsluiting. 
> &gt; Akibatnya, avtur yang berada pada kompartemen
> bertambah
> &gt; tekananannya
> &gt; dan tempertaturnya naik, ditambah percikan listrik
> dari
> &gt; Kabel2 tadi, meledaklah kompartemen bahan bakar
> tsb.
> &gt; 
> &gt; Solusi untuk mencegah terulang : kabel2 yang sudah
> &gt; mengelupas,
> &gt; Diperketat pengawasannya dan diisolasi / diganti
> baru.
> &gt; 
> &gt; Kasus yang kedua yg saya lihat, adalah kecelakaan
> pesawat
> &gt; TWA DC-10 (CMIIW lagi), yang mengalami pecah fan
> di engine
> &gt; atas,
> &gt; Sehingga fluida minyak utk bidang kendali di-tap
> (drain)
> &gt; habis dan
> &gt; Kehilangan kendali. Pesawat ini jatuh di tengah
> ladang
> &gt; gandum / jagung
> &gt; Yang sedang subur2-nya. 
> &gt; 
> &gt; Setelah dikumpulkan serpihan2nya seadanya, serta
> dianalisa
> &gt; blackbox, 
> &gt; vcr n fdr-nya, disimpulkan kecelakaan disebabkan
> hal di
> &gt; atas. Namun
> &gt; perlu pembuktian lebih lanjut dengan fan yg diduga
> pecah.
> &gt; Setelah masa panen (3 bulan after accidet),
> seorang petani
> &gt; melaporkan
> &gt; Penemuan fan di ladangnya, dan setelah dicek dan
> ditangani
> &gt; lebih lanjut, 
> &gt; Memang benar kecelakaan bermula dari retak di fan
> yang
> &gt; terlambat 
> &gt; diantisipasi. 
> &gt; 
> &gt; Solusinya : 
> &gt; - pemeriksaan yg lebih ketat dan antisipasi lebih
> dini pada
> &gt; Temuan2 
> &gt; kasus retak.
> &gt; - Dibuatnya mekanisme stop valve pada sistem
> hidrolik yang
> &gt; mencegah 
> &gt; terkuras-habisnya oli pada sistem ini pada saat
> terjadi
> &gt; kebocoran.
> &gt; - Letak pipa2 hidrolik dijauhkan dari benda2 yg
> memiliki
> &gt; kemungkinan
> &gt; Keagagalan dan menyebabkan kebocoran.
> &gt; 
> &gt; Kasus ke tiga : Badai topan (entah apa namanya, yg
> ada di
> &gt; US)
> &gt; 
> &gt; Kasus ke-empat : Tenggelamnya kapal titanic, 1912,
> karena
> &gt; menabrak
> &gt; Gunung es. Titanic sudah diperingatkan oleh kapal
> yang ada
> &gt; di dekat
> &gt; Lokasi, bahwa terdapat gunung es besar di jalur
> pelayaran
> &gt; titanic.
> &gt; Namun karena awak radio tidak mendengar sinyal
> dengan
> &gt; jelas, dan 
> &gt; Dianggap hanya interferensi frekuensi radio,
> diabaikanlah
> &gt; peringatan
> &gt; Awal tersebut.
> &gt; 
> &gt; Setelah menabrak gunung es, lambung kapal bocor.
> Sehingga
> &gt; titanic memiliki
> &gt; Waktu penyelamatan sebelum tenggelam selama kurang
> lebih
> &gt; 2-3 jam.
> &gt; Faktor yang mempengaruhi banyaknya korban : yaitu
> &gt; diabaikannya 
> &gt; Keselamatan Dengan sedikitnya sekoci yang
> tersedia, yaitu
> &gt; hanya 20-an sekoci
> &gt; Untuk 3000-an penumpang dan awak kapal. Idealnya
> kapal
> &gt; sebesar ini
> &gt; Memiliki sekoci sejumlah 40-an buah (CMIIW).
> Akibatnya,
> &gt; korban meninggal
> &gt; Diprediksi sejumlah 1500 orang.
> &gt; 
> &gt; Kasus ke-lima : Gempa Bumi &amp;amp; Tsunami
> maha dahsyat
> &gt; 26 des 2004
> &gt; Kita semua tahu, gempa besar tersebut, yang
> mengakibatkan
> &gt; korban meninggal 
> &gt; Lebih kurang 200 ribu orang di berbagai negara.
> Dari NAD,
> &gt; Thailand, Malaysia,
> &gt; Bangladesh, Sri-Lanka, Maladewa, sampai
> Madagaskar.
> &gt; korban terbanyak adalah dari NAD. 
> &gt; Dari analisa lapangan dan simulasi gempa dan
> gelombang yang
> &gt; terjadi,
> &gt; Dugaan awal panjang patahan di samudra hindia
> adalah 400
> &gt; km.
> &gt; Namun setelah disimulasikan, gelombang tsunami yg
> &gt; dihasilkan tidak sampai
> &gt; Sedahsyat yang terjadi.
> &gt; Dugaan yang kedua, merupakan koreksi dari dugaan
> &gt; sebelumnya, patahan
> &gt; Lempeng bumi yg terjadi adalah sepannjang 1000 km,
> namun
> &gt; disimulasikan
> &gt; Gelombang yg terjadi tidak sampai ke pantai timur
> afrika.
> &gt; 
> &gt; Setelah dianalisa dari bukti2 lapangan, termasuk
> survey ke
> &gt; pulau Simeulue
> &gt; di barat Meulaboh, dan juga foto satelit pra dan
> pasca
> &gt; tsunami, diperoleh data 
> &gt; terjadi kenaikan lempeng pulau, (terutama
> simeuleu).
> &gt; Di pantai sebelah selatan : terjadi kenaikan pulau
> setinggi
> &gt; 0.5 meter
> &gt; Di pantai tengah : kenaikan 1 meter
> &gt; Dan di utara : kenaikan 1.5 meter.
> &gt; 
> &gt; Tinggi gelombang tsunami tercatat yg tertinggi di
> Lhok Nga,
> &gt; dg ketinggian 35-meter
> &gt; 
> &gt; Setelah data2 dianalisa, diperoleh angka 1600 km
> patahan
> &gt; gempa dan disimulasikan
> &gt; Dan diperoleh hasil yg cukup akurat dengan
> kenyataan
> &gt; tsunami yg menyebar ke dua benua.
> &gt; 
> &gt; 
> &gt; Kasus ke-enam : Meledaknya pesawat ulang-alik
> Columbia pada
> &gt; fase re-entry, Jan 2003
> &gt; Tayangannya baru tadi malam. Sebagaimana teman2
> sudah tahu,
> &gt; penyebab awalnya 
> &gt; Adalah lepasnya panel pelindung panas di sayap
> karena
> &gt; terbentur salah satu komponen
> &gt; Yang lepas saat take-off.
> &gt; Kamera sudah merekam insiden lepasnya panel
> pelindung panas
> &gt; ini dan beberapa saat
> &gt; Setelah take off, awak Nasa yg di bumi
> mendiskusikan dan
> &gt; menganalisa kemungkinan2
> &gt; Yg terjadi akibat lepasnya panel ini. Namun tetap
> tidak
> &gt; diberitahukan kepada awak pesawat
> &gt; Yang berada di angkasa.
> &gt; Setelah melakukan serangkaian percobaan di ruang
> minim
> &gt; gravitasi, pesawat kembali masuk
> &gt; Ke bumi. Namun setelah pada tinggi terbang 60 km
> di atas
> &gt; bumi, Columbia mulai mengalami 
> &gt; Masalah. Yaitu sensor temperatur di ruang
> penyimpanan roda,
> &gt; mulai mengindera kenaikan 
> &gt; Temperatur yang tidak wajar karena melonjak
> terlalu cepat.
> &gt; Kemudian satu-persatu sensor
> &gt; tersebut mati. 
> &gt; Awak pesawat melaporkan hal ini ke darat, namun,
> tak lama
> &gt; kemudian, terjadilah kecelakaan
> &gt; Yang menewaskan 6 awak.
> &gt; 
> &gt; Nanti malam ada lagi, entah kasus apa lagi yg
> diulas.
> &gt; 
> &gt; Ada rekan2 yang mau menambahkan ?
> &gt; Terima kasih sudah membaca tulisan ini.
> &gt; 
> &gt; Wassalaamu 'alaikum wa rahmatullah wa
> barakatuh 
> &gt; M Ari Mukhlason 
> &gt; GSM : 0818.223.062 
> &gt; CDMA : 021-910.745.83 
> &gt; alt-mail : [EMAIL PROTECTED] 
> &gt; 
> &gt; 
> &gt; 
> &gt; 
> &gt; 
> &gt; -- 
> &gt; M. Ari Mukhlason
> &gt; -----------------------------
> &gt; http://aerogift.com
> &gt; YM&amp;amp;FS : [EMAIL PROTECTED] 
> &gt;
> HP&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
> :
> &gt;
> 0818-223-062&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
> &gt; email : [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 
> 
> --
> Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah
> ilmu/teknologi serta
> kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan
> dunia dan akhirat.
> 
> Info pengelolaan milis Indonesia next better :
> http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt




--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke