Generator memang biasa dirancang dengan harmonisa kelipatan tiga yang cukup besar supaya penggunaan iron core bisa lebih efisien. Di PLN, kondisi ini tidak menjadi masalah karena tidak ada generator yang diparalel langsung (selalu diparalel setelah trafo). Sedangkan di industri, banyak generator diparalel langsung. Ada paper saya yang membahas masalah ini. Akibatnya, kalau memparalel langsung generator, tidak dianjurkan mentanahkan seluruh netral generator, lebih hanya satu yang diparalel. Untuk UPS maupun VSD, setahu saya, di Indonesia belum dipasarkan yang memakai rectifier atau converter dengan menggunakan IGBT. IGBT hanya dipakai untuk sisi inverter. IGBT dipakai di sisi rectifier jika kita memerlukan regenerative braking (misal elevator atau lift atau rolling mills). Untuk industri minyak jarang sekali diperlukan regenerative braking. Salam
--- On Thu, 6/12/08, Tavip <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: Tavip <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [indonesia] Re: Seconds from Disaster : harmonik listrik > To: [email protected] > Date: Thursday, June 12, 2008, 10:17 PM > Harmonik bisa juga disebabkan "penyakit bawaan" > dari generatornya, hal ini terjadi akibat konstruksi > stator yang menghasilkan gelombang tidak murnis > sinus, amplitudanya mendatar. > > Penyakit bawaan seperti ini ada di kilang tempat kerja saya > dulu. Di kilang itu ada 15 generator, masing > masing generator ditanahkan dengan resistor 100A, > tapi generator nomor 7 dalam operasinya tidak > boleh ditanahkan karena akan menyebabkan nuisance trip > akibat harmonisa. Nuisance trip > ini terjadi terutama > kalau relay-nya masih elektromekanik (pakai > kumparan putar), kalau pakai numeric relay ada option untuk > memblok harmonisa. > > Di sisi beban penghasil harmonisa bisa ditekan > dengan pemakaian IGBT sebagai pengganti komponen > SCR, atau Thyristor. Sekarang ini UPS sudah banyak yang > memakai IGBT bukan hanya di rectifier tapi juga di > konverternya, demikian punla VFD (variable frequency drive) > pakai IGBT. Kalau beli peralatan non linier jalang lupa > membatasi THD (Total hamonic Distortion) > > Salam > Tavip S. Lubis > > --- On Wed, 6/11/08, Prasetyo Roem > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > From: Prasetyo Roem <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [indonesia] Re: Seconds from Disaster : harmonik > listrik > To: [email protected] > Date: Wednesday, June 11, 2008, 6:16 AM > > > > > > Harmonik. > Harmonik terjadi karena kita sudah mulai banyak menggunakan > alat2 listrik yang 'non linier' seperti komputer, > charger, UPS, inverter, speed controller yang pada dasarnya > bisa mengakibatkan bentuk gelombang sinusoida menjadi cacat. > Berdasarkan analisa kuliah matematika-4 (dapet nilai D, he > he.), semua gelombang cacat, bisa diuraikan menjadi > beberapa gelombang dasar dan gelombang lain dengan > frekwensi kelipatan dari gelombang dasar -- berupa deret > Fourier. (masih ingat kan?). Ternyata deret Fourier ini > bukan sekedar teoritis matematis, tetapi ada dalam > kenyataan, dan bisa diukur dengan alat2 ukur listrik. > > Kabel tua. > Kalau isolasi kabel sudah mulai mengeras, sebaiknya diganti > saja. > > Inspeksi. > Dengan menggunakan alat ukur 'power > analyser', semua penyakit2 listrik penyebab kebakaran > bisa dideteksi dan bisa diambil tindakan preventif, tanpa > menunggu 'disaster' tiba. > > Salam, > Prasetyo Roem > -------------------------------------------------- > > ----- Original Message ----- > From: Muhammad Ari Mukhlason > To: [email protected] > Sent: Wednesday, June 11, 2008 7:51 PM > Subject: [indonesia] Re: Seconds from Disaster : ANTV 22.00 > - 23.00 & 03.30 > > >> 'harmonik', yakni tegangan dan > arus listrik 'ikutan' dengan frekwensi kelipatan > dari 50Hz ( 150, 250, 350, 450 Hz dst) > > ini ilmu yg baru Pak Pras bagi saya. mungkin bisa > dijelaskan secara awam saja, kok bisa begitu ? > apa ada model induksi atau spt konsep edy current ? > > > Ngomong2 ttg usia kabel instalasi listrik, untuk listrik > rumahan standarnya berapa tahun usia > pakainya Pak ? > yang sering ada di rumah2 kan yg biasanya kabel satu fasa, > baik yg berupa : > 1. kabel serabut > 2. kawat tunggal terpisah (insulasi tunggal, biasanya warna > hitam, merah, kuning, atau biru) > 3. kawat tunggal yg disatukan dg double insulasi (biasanya > dalamnya hitam rapuh, dan di luarnya putih > agak keras) > > di rumah saya yg di desa, pakenya kable nomor 2, dengan > diberi proteksi pipa pvc. > berhubung dipasangnya di rumah jawa asli, bahannya full > kayu, dan sudah dipasang sejak 1996 (12 tahun), > apakah sudah perlu diganti ? > > Kira2 inspeksi apa yg perlu dilakukan ? > > Terima kasih atas bagi2 ilmu-nya. > Mukhlason > > > > On 6/11/08, Prasetyo Roem <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > > Iya, saya juga nonton TWA xxx, yang meledak di udara gara2 > listrik. > ---------------- > Permasalahannya, yaitu kabel2 listrik / elektrik > /elektronik yang Berada dekat dengan kompartemen bahan > bakar > sudah mengelupas di sana-sini isolasinya dan menyebabkan > kortsluiting. > Akibatnya, avtur yang berada pada kompartemen bertambah > tekananannya > dan tempertaturnya naik, ditambah percikan listrik dari > Kabel2 tadi, meledaklah kompartemen bahan bakar tsb. > ------------------ > Bulan lalu, gedung Nestle di Jagakarsa lumpuh, gara2 kabel > feeder utama terbakar. > Minggu lalu, kabel 500mm2 yang melayani gedung cyber juga > terbakar. > Nampaknya kasusnya serupa, isolasi kabel > menjadi 'tembus' gara2 impulse lisrik > seperti yang dibahas oleh Cak Pekik (Lab Konversi > Listrik-ITB). Di samping itu, ada juga penyakit listrik > yang disebut 'harmonik', yakni tegangan dan arus > listrik 'ikutan' dengan frekwensi kelipatan dari > 50Hz ( 150, 250, 350, 450 Hz dst) yang numpang di jaringan > kabel dan menyebabkan tambahan arus, sehingga kapasitas > kabel menjadi tidak cukup lagi, jauh dari perhitungan > semula. > > Apakah anda2 sudah memeriksa kwalitas listrik di tempat > anda bekerja? > > Salam, > Prasetyo Roem. > ---------------------------------------------- > 'yang sering "sedih" melihat kebakaran gara2 > listrik, padahal bisa dicegah' > > > > ----- Original Message ----- > From: Muhammad Ari Mukhlason To: > [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] > Sent: Wednesday, June 11, 2008 4:21 PM > Subject: [indonesia] Seconds from Disaster : ANTV 22.00 - > 23.00 & 03.30 > > Assalaamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh > > Tiga minggu ini saya sangat senang, Pasalnya kenapa, > Karena ada acara bagus di TV, tepatnya di ANTV setiap > Hari kerja (CMIIW) jam 22.00 – 23.00 WIB & 03.00 > – 04.00 WIB > (jadwal lengkap ada di www.an.tv) > > Judulnya Seconds from Disaster > > Topiknya membahas berbagai macam musibah yang terjadi > dan merunut akar permasalahannya. Dari musibah transportasi > > sampai bencana alam. > > Di sana saya dapat gambaran bagaimana aktivitas Bapak kita, > Prof Diran bersama teman2 saat berkecimpung di KNKT > menangani > berbagai macam Insiden dan kecelakaan. > > Bahasa yg saya tuliskan di sini adalah versi awam, karena > tanpa > Didukung lingkungan kerja di bidang penerbangan :) > > Yang pertama saya lihat adalah waktu kecelakaan salah Satu > Maskapai di US, yang celaka karena terjadi flashing > (percikan bunga > api) di kompartemen tanki bahan bakar yang di center body > (mohon > dikoreksi, soalnya Bahasanya org awam :p) > > Namun untuk menemukan root cause-nya tidak mudah dan tidak > Sebentar. Terlebih pesawat jatuh di tengah laut. > Setelah melakukan Berbagai macam analisa, serta pengujian, > ditemukanlah akar Permasalahannya, yaitu kabel2 listrik / > elektrik > /elektronik yang Berada dekat dengan kompartemen bahan > bakar > sudah mengelupas di sana-sini isolasinya dan menyebabkan > kortsluiting. > Akibatnya, avtur yang berada pada kompartemen bertambah > tekananannya > dan tempertaturnya naik, ditambah percikan listrik dari > Kabel2 tadi, meledaklah kompartemen bahan bakar tsb. > > Solusi untuk mencegah terulang : kabel2 yang sudah > mengelupas, > Diperketat pengawasannya dan diisolasi / diganti baru. > > Kasus yang kedua yg saya lihat, adalah kecelakaan pesawat > TWA DC-10 (CMIIW lagi), yang mengalami pecah fan di engine > atas, > Sehingga fluida minyak utk bidang kendali di-tap (drain) > habis dan > Kehilangan kendali. Pesawat ini jatuh di tengah ladang > gandum / jagung > Yang sedang subur2-nya. > > Setelah dikumpulkan serpihan2nya seadanya, serta dianalisa > blackbox, > vcr n fdr-nya, disimpulkan kecelakaan disebabkan hal di > atas. Namun > perlu pembuktian lebih lanjut dengan fan yg diduga pecah. > Setelah masa panen (3 bulan after accidet), seorang petani > melaporkan > Penemuan fan di ladangnya, dan setelah dicek dan ditangani > lebih lanjut, > Memang benar kecelakaan bermula dari retak di fan yang > terlambat > diantisipasi. > > Solusinya : > - pemeriksaan yg lebih ketat dan antisipasi lebih dini pada > Temuan2 > kasus retak. > - Dibuatnya mekanisme stop valve pada sistem hidrolik yang > mencegah > terkuras-habisnya oli pada sistem ini pada saat terjadi > kebocoran. > - Letak pipa2 hidrolik dijauhkan dari benda2 yg memiliki > kemungkinan > Keagagalan dan menyebabkan kebocoran. > > Kasus ke tiga : Badai topan (entah apa namanya, yg ada di > US) > > Kasus ke-empat : Tenggelamnya kapal titanic, 1912, karena > menabrak > Gunung es. Titanic sudah diperingatkan oleh kapal yang ada > di dekat > Lokasi, bahwa terdapat gunung es besar di jalur pelayaran > titanic. > Namun karena awak radio tidak mendengar sinyal dengan > jelas, dan > Dianggap hanya interferensi frekuensi radio, diabaikanlah > peringatan > Awal tersebut. > > Setelah menabrak gunung es, lambung kapal bocor. Sehingga > titanic memiliki > Waktu penyelamatan sebelum tenggelam selama kurang lebih > 2-3 jam. > Faktor yang mempengaruhi banyaknya korban : yaitu > diabaikannya > Keselamatan Dengan sedikitnya sekoci yang tersedia, yaitu > hanya 20-an sekoci > Untuk 3000-an penumpang dan awak kapal. Idealnya kapal > sebesar ini > Memiliki sekoci sejumlah 40-an buah (CMIIW). Akibatnya, > korban meninggal > Diprediksi sejumlah 1500 orang. > > Kasus ke-lima : Gempa Bumi & Tsunami maha dahsyat > 26 des 2004 > Kita semua tahu, gempa besar tersebut, yang mengakibatkan > korban meninggal > Lebih kurang 200 ribu orang di berbagai negara. Dari NAD, > Thailand, Malaysia, > Bangladesh, Sri-Lanka, Maladewa, sampai Madagaskar. > korban terbanyak adalah dari NAD. > Dari analisa lapangan dan simulasi gempa dan gelombang yang > terjadi, > Dugaan awal panjang patahan di samudra hindia adalah 400 > km. > Namun setelah disimulasikan, gelombang tsunami yg > dihasilkan tidak sampai > Sedahsyat yang terjadi. > Dugaan yang kedua, merupakan koreksi dari dugaan > sebelumnya, patahan > Lempeng bumi yg terjadi adalah sepannjang 1000 km, namun > disimulasikan > Gelombang yg terjadi tidak sampai ke pantai timur afrika. > > Setelah dianalisa dari bukti2 lapangan, termasuk survey ke > pulau Simeulue > di barat Meulaboh, dan juga foto satelit pra dan pasca > tsunami, diperoleh data > terjadi kenaikan lempeng pulau, (terutama simeuleu). > Di pantai sebelah selatan : terjadi kenaikan pulau setinggi > 0.5 meter > Di pantai tengah : kenaikan 1 meter > Dan di utara : kenaikan 1.5 meter. > > Tinggi gelombang tsunami tercatat yg tertinggi di Lhok Nga, > dg ketinggian 35-meter > > Setelah data2 dianalisa, diperoleh angka 1600 km patahan > gempa dan disimulasikan > Dan diperoleh hasil yg cukup akurat dengan kenyataan > tsunami yg menyebar ke dua benua. > > > Kasus ke-enam : Meledaknya pesawat ulang-alik Columbia pada > fase re-entry, Jan 2003 > Tayangannya baru tadi malam. Sebagaimana teman2 sudah tahu, > penyebab awalnya > Adalah lepasnya panel pelindung panas di sayap karena > terbentur salah satu komponen > Yang lepas saat take-off. > Kamera sudah merekam insiden lepasnya panel pelindung panas > ini dan beberapa saat > Setelah take off, awak Nasa yg di bumi mendiskusikan dan > menganalisa kemungkinan2 > Yg terjadi akibat lepasnya panel ini. Namun tetap tidak > diberitahukan kepada awak pesawat > Yang berada di angkasa. > Setelah melakukan serangkaian percobaan di ruang minim > gravitasi, pesawat kembali masuk > Ke bumi. Namun setelah pada tinggi terbang 60 km di atas > bumi, Columbia mulai mengalami > Masalah. Yaitu sensor temperatur di ruang penyimpanan roda, > mulai mengindera kenaikan > Temperatur yang tidak wajar karena melonjak terlalu cepat. > Kemudian satu-persatu sensor > tersebut mati. > Awak pesawat melaporkan hal ini ke darat, namun, tak lama > kemudian, terjadilah kecelakaan > Yang menewaskan 6 awak. > > Nanti malam ada lagi, entah kasus apa lagi yg diulas. > > Ada rekan2 yang mau menambahkan ? > Terima kasih sudah membaca tulisan ini. > > Wassalaamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh > M Ari Mukhlason > GSM : 0818.223.062 > CDMA : 021-910.745.83 > alt-mail : [EMAIL PROTECTED] > > > > > > -- > M. Ari Mukhlason > ----------------------------- > http://aerogift.com > YM&FS : [EMAIL PROTECTED] > HP : > 0818-223-062 > email : [EMAIL PROTECTED] -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
