Harmonik bisa juga disebabkan "penyakit bawaan" dari generatornya, hal ini 
terjadi akibat konstruksi stator yang menghasilkan gelombang tidak murnis 
sinus, amplitudanya mendatar. 
 
Penyakit bawaan seperti ini ada di kilang tempat kerja saya dulu. Di kilang itu 
ada 15 generator, masing masing generator ditanahkan dengan resistor 100A, 
tapi generator nomor 7 dalam operasinya tidak boleh ditanahkan karena akan 
menyebabkan nuisance trip akibat harmonisa. Nuisance trip 
ini terjadi terutama kalau relay-nya masih elektromekanik (pakai 
kumparan putar), kalau pakai numeric relay ada option untuk memblok 
harmonisa.    
 
Di sisi beban penghasil harmonisa bisa ditekan dengan pemakaian IGBT 
sebagai pengganti komponen SCR, atau Thyristor. Sekarang ini UPS sudah banyak 
yang memakai IGBT bukan hanya di rectifier tapi juga di konverternya, demikian 
punla VFD (variable frequency drive) pakai IGBT. Kalau beli peralatan non 
linier jalang lupa membatasi THD (Total hamonic Distortion)
 
Salam
Tavip S. Lubis

--- On Wed, 6/11/08, Prasetyo Roem <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Prasetyo Roem <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [indonesia] Re: Seconds from Disaster : harmonik listrik
To: [email protected]
Date: Wednesday, June 11, 2008, 6:16 AM





Harmonik.
Harmonik terjadi karena kita sudah mulai banyak menggunakan alat2 listrik yang 
'non linier' seperti komputer, charger, UPS, inverter, speed controller yang 
pada dasarnya bisa mengakibatkan bentuk gelombang sinusoida menjadi cacat.
Berdasarkan analisa kuliah matematika-4 (dapet nilai D, he he.), semua 
gelombang cacat, bisa diuraikan menjadi beberapa gelombang dasar dan gelombang 
lain dengan frekwensi kelipatan dari gelombang dasar -- berupa deret Fourier. 
(masih ingat kan?). Ternyata deret Fourier ini bukan sekedar teoritis 
matematis, tetapi ada dalam kenyataan, dan bisa diukur dengan alat2 ukur 
listrik.
 
Kabel tua.
Kalau isolasi kabel sudah mulai mengeras, sebaiknya diganti saja.
 
Inspeksi.
Dengan menggunakan alat ukur 'power analyser', semua penyakit2 listrik 
penyebab kebakaran bisa dideteksi dan bisa diambil tindakan preventif, tanpa 
menunggu 'disaster' tiba.
 
Salam,
Prasetyo Roem
--------------------------------------------------

----- Original Message ----- 
From: Muhammad Ari Mukhlason 
To: [email protected] 
Sent: Wednesday, June 11, 2008 7:51 PM
Subject: [indonesia] Re: Seconds from Disaster : ANTV 22.00 - 23.00 & 03.30

>> 'harmonik', yakni tegangan dan arus listrik 'ikutan' dengan frekwensi 
kelipatan dari 50Hz ( 150, 250, 350, 450 Hz dst)

ini ilmu yg baru Pak Pras bagi saya. mungkin bisa dijelaskan secara awam saja, 
kok bisa begitu ?
apa ada model induksi atau spt konsep edy current ?


Ngomong2 ttg usia kabel instalasi listrik, untuk listrik rumahan standarnya 
berapa tahun usia
pakainya Pak ?
yang sering ada di rumah2 kan yg biasanya kabel satu fasa, baik yg berupa :
1. kabel serabut 
2. kawat tunggal terpisah (insulasi tunggal, biasanya warna hitam, merah, 
kuning, atau biru)
3. kawat tunggal yg disatukan dg double insulasi (biasanya dalamnya hitam 
rapuh, dan di luarnya putih 
    agak keras)

di rumah saya yg di desa, pakenya kable nomor 2, dengan diberi proteksi pipa 
pvc. 
berhubung dipasangnya di rumah jawa asli, bahannya full kayu, dan sudah 
dipasang sejak 1996 (12 tahun), 
apakah sudah perlu diganti ?

Kira2 inspeksi apa yg perlu dilakukan ? 

Terima kasih atas bagi2 ilmu-nya.
Mukhlason



On 6/11/08, Prasetyo Roem <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 


Iya, saya juga nonton TWA xxx, yang meledak di udara gara2 listrik.
----------------
Permasalahannya, yaitu kabel2 listrik / elektrik 
/elektronik yang Berada dekat dengan kompartemen bahan bakar 
sudah mengelupas di sana-sini isolasinya dan menyebabkan kortsluiting. 
Akibatnya, avtur yang berada pada kompartemen bertambah tekananannya
dan tempertaturnya naik, ditambah percikan listrik dari
Kabel2 tadi, meledaklah kompartemen bahan bakar tsb.
------------------
Bulan lalu, gedung Nestle di Jagakarsa lumpuh, gara2 kabel feeder utama 
terbakar.
Minggu lalu, kabel 500mm2 yang melayani gedung cyber juga terbakar.
Nampaknya kasusnya serupa, isolasi kabel menjadi 'tembus' gara2 impulse 
lisrik seperti yang dibahas oleh Cak Pekik (Lab Konversi Listrik-ITB). Di 
samping itu, ada juga penyakit listrik yang disebut 'harmonik', yakni tegangan 
dan arus listrik 'ikutan' dengan frekwensi kelipatan dari 50Hz ( 150, 250, 350, 
450 Hz dst) yang numpang di jaringan kabel dan menyebabkan tambahan arus, 
sehingga kapasitas kabel menjadi tidak cukup lagi, jauh dari perhitungan semula.
 
Apakah anda2 sudah memeriksa kwalitas listrik di tempat anda bekerja?
 
Salam,
Prasetyo Roem.
----------------------------------------------
'yang sering "sedih" melihat kebakaran gara2 listrik, padahal bisa dicegah'



----- Original Message ----- 
From: Muhammad Ari Mukhlason  To: [EMAIL PROTECTED] ; 
[email protected] 
Sent: Wednesday, June 11, 2008 4:21 PM
Subject: [indonesia] Seconds from Disaster : ANTV 22.00 - 23.00 & 03.30

Assalaamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh 

Tiga minggu ini saya sangat senang, Pasalnya kenapa,
Karena ada acara bagus di TV, tepatnya di ANTV setiap 
Hari kerja (CMIIW) jam 22.00 – 23.00 WIB & 03.00 – 04.00 WIB
(jadwal lengkap ada di www.an.tv)

Judulnya Seconds from Disaster

Topiknya membahas berbagai macam musibah yang terjadi
dan merunut akar permasalahannya. Dari musibah transportasi 
sampai bencana alam.

Di sana saya dapat gambaran bagaimana aktivitas Bapak kita,
Prof Diran bersama teman2 saat berkecimpung di KNKT menangani 
berbagai macam Insiden dan kecelakaan.

Bahasa yg saya tuliskan di sini adalah versi awam, karena tanpa
Didukung lingkungan kerja di bidang penerbangan :)

Yang pertama saya lihat adalah waktu kecelakaan salah Satu
Maskapai di US, yang celaka karena terjadi flashing (percikan bunga 
api) di kompartemen tanki bahan bakar yang di center body (mohon 
dikoreksi, soalnya Bahasanya org awam :p) 

Namun untuk menemukan root cause-nya tidak mudah dan tidak 
Sebentar. Terlebih pesawat jatuh di tengah laut. 
Setelah melakukan Berbagai macam analisa, serta pengujian, 
ditemukanlah akar Permasalahannya, yaitu kabel2 listrik / elektrik 
/elektronik yang Berada dekat dengan kompartemen bahan bakar 
sudah mengelupas di sana-sini isolasinya dan menyebabkan kortsluiting. 
Akibatnya, avtur yang berada pada kompartemen bertambah tekananannya
dan tempertaturnya naik, ditambah percikan listrik dari
Kabel2 tadi, meledaklah kompartemen bahan bakar tsb.

Solusi untuk mencegah terulang : kabel2 yang sudah mengelupas,
Diperketat pengawasannya dan diisolasi / diganti baru.

Kasus yang kedua yg saya lihat, adalah kecelakaan pesawat
TWA DC-10 (CMIIW lagi), yang mengalami pecah fan di engine atas,
Sehingga fluida minyak utk bidang kendali di-tap (drain) habis dan
Kehilangan kendali. Pesawat ini jatuh di tengah ladang gandum / jagung
Yang sedang subur2-nya. 

Setelah dikumpulkan serpihan2nya seadanya, serta dianalisa blackbox, 
vcr n fdr-nya, disimpulkan kecelakaan disebabkan hal di atas. Namun
perlu pembuktian lebih lanjut dengan fan yg diduga pecah.
Setelah masa panen (3 bulan after accidet), seorang petani melaporkan
Penemuan fan di ladangnya, dan setelah dicek dan ditangani lebih lanjut, 
Memang benar kecelakaan bermula dari retak di fan yang terlambat 
diantisipasi. 

Solusinya : 
- pemeriksaan yg lebih ketat dan antisipasi lebih dini pada Temuan2 
kasus retak.
- Dibuatnya mekanisme stop valve pada sistem hidrolik yang mencegah 
terkuras-habisnya oli pada sistem ini pada saat terjadi kebocoran.
- Letak pipa2 hidrolik dijauhkan dari benda2 yg memiliki kemungkinan
Keagagalan dan menyebabkan kebocoran.

Kasus ke tiga : Badai topan (entah apa namanya, yg ada di US)

Kasus ke-empat : Tenggelamnya kapal titanic, 1912, karena menabrak
Gunung es. Titanic sudah diperingatkan oleh kapal yang ada di dekat
Lokasi, bahwa terdapat gunung es besar di jalur pelayaran titanic.
Namun karena awak radio tidak mendengar sinyal dengan jelas, dan 
Dianggap hanya interferensi frekuensi radio, diabaikanlah peringatan
Awal tersebut.

Setelah menabrak gunung es, lambung kapal bocor. Sehingga titanic memiliki
Waktu penyelamatan sebelum tenggelam selama kurang lebih 2-3 jam.
Faktor yang mempengaruhi banyaknya korban : yaitu diabaikannya 
Keselamatan Dengan sedikitnya sekoci yang tersedia, yaitu hanya 20-an sekoci
Untuk 3000-an penumpang dan awak kapal. Idealnya kapal sebesar ini
Memiliki sekoci sejumlah 40-an buah (CMIIW). Akibatnya, korban meninggal
Diprediksi sejumlah 1500 orang.

Kasus ke-lima : Gempa Bumi & Tsunami maha dahsyat 26 des 2004
Kita semua tahu, gempa besar tersebut, yang mengakibatkan korban meninggal 
Lebih kurang 200 ribu orang di berbagai negara. Dari NAD, Thailand, Malaysia,
Bangladesh, Sri-Lanka, Maladewa, sampai Madagaskar.
korban terbanyak adalah dari NAD. 
Dari analisa lapangan dan simulasi gempa dan gelombang yang terjadi,
Dugaan awal panjang patahan di samudra hindia adalah 400 km.
Namun setelah disimulasikan, gelombang tsunami yg dihasilkan tidak sampai
Sedahsyat yang terjadi.
Dugaan yang kedua, merupakan koreksi dari dugaan sebelumnya, patahan
Lempeng bumi yg terjadi adalah sepannjang 1000 km, namun disimulasikan
Gelombang yg terjadi tidak sampai ke pantai timur afrika.

Setelah dianalisa dari bukti2 lapangan, termasuk survey ke pulau Simeulue
di barat Meulaboh, dan juga foto satelit pra dan pasca tsunami, diperoleh data 
terjadi kenaikan lempeng pulau, (terutama simeuleu).
Di pantai sebelah selatan : terjadi kenaikan pulau setinggi 0.5 meter
Di pantai tengah : kenaikan 1 meter
Dan di utara : kenaikan 1.5 meter.

Tinggi gelombang tsunami tercatat yg tertinggi di Lhok Nga, dg ketinggian 
35-meter

Setelah data2 dianalisa, diperoleh angka 1600 km patahan gempa dan disimulasikan
Dan diperoleh hasil yg cukup akurat dengan kenyataan tsunami yg menyebar ke dua 
benua.


Kasus ke-enam : Meledaknya pesawat ulang-alik Columbia pada fase re-entry, Jan 
2003
Tayangannya baru tadi malam. Sebagaimana teman2 sudah tahu, penyebab awalnya 
Adalah lepasnya panel pelindung panas di sayap karena terbentur salah satu 
komponen
Yang lepas saat take-off.
Kamera sudah merekam insiden lepasnya panel pelindung panas ini dan beberapa 
saat
Setelah take off, awak Nasa yg di bumi mendiskusikan dan menganalisa 
kemungkinan2
Yg terjadi akibat lepasnya panel ini. Namun tetap tidak diberitahukan kepada 
awak pesawat
Yang berada di angkasa.
Setelah melakukan serangkaian percobaan di ruang minim gravitasi, pesawat 
kembali masuk
Ke bumi. Namun setelah pada tinggi terbang 60 km di atas bumi, Columbia mulai 
mengalami 
Masalah. Yaitu sensor temperatur di ruang penyimpanan roda, mulai mengindera 
kenaikan 
Temperatur yang tidak wajar karena melonjak terlalu cepat. Kemudian 
satu-persatu sensor
tersebut mati. 
Awak pesawat melaporkan hal ini ke darat, namun, tak lama kemudian, terjadilah 
kecelakaan
Yang menewaskan 6 awak.

Nanti malam ada lagi, entah kasus apa lagi yg diulas.

Ada rekan2 yang mau menambahkan ?
Terima kasih sudah membaca tulisan ini.

Wassalaamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh 
M Ari Mukhlason 
GSM : 0818.223.062 
CDMA : 021-910.745.83 
alt-mail : [EMAIL PROTECTED] 





-- 
M. Ari Mukhlason
-----------------------------
http://aerogift.com
YM&FS : [EMAIL PROTECTED] 
HP     : 0818-223-062      
email : [EMAIL PROTECTED] 



      

Kirim email ke