Saya setuju dg Pak Joefrizal dan Pak Achmad,
istri saya hanya berpendidikan SLTA tapi anak laki2 saya pertama lulus S1 Mesin 
ITB Cum Laude, Anak perempuan kedua saya lulus S1 informatika  Cumlaude  ( IP : 
3.65 )dan S2 MBA ITB Cumlaude ( IP : 3.79 )  dan Anak laki2 saya ketiga Lulus 
S1 Hukum Sangat Memuaskan ( IP : 3.4 ).

Jadi yang diperlukan adalah cara mendidik yang tegas saya dan istri selalu 
menekankan penting nya belajar memberi petunjuk kepada anak akan kesulitan 
mereka alhamdulilah mereka berhasil. Dismaping usaha tidak kalah pentingnya 
adalah doa ayah dan ibu kepada Allah swt untuk keberhasilan anak anak nya.

Semoga bernanfaat
Heddy EL 76 ITB
081318914114




________________________________
Dari: joefrizal joefrizal <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sen, 15 Maret, 2010 09:07:47
Judul: [indonesia] Re: S3? Siapa takut ?


Kalau boleh saya ingin juga berpendapat.

Semakin tinggi pendidikan seorang ibu, maka akan semakin terbuka matanya dan 
hal ini sangat baik sekali untuk mendidik anaknya. Tentunya hal ini dengan 
assumsi sang ibu meluangkan waktu cukup untuk mendidik anaknya dan tidak 
tenggelam dalam pekerjaan lain yang biasanya menumpuk.

Hakikat pendidikan itu adalah untuk memajukan manusia oleh karena itu apabila 
seorang ibu sudah maju, maka akan sangat besar kemungkinannya anak-anaknya 
menjadi maju.

Kalau melihat situasi di Indonesia, maka mungkin saja seorang ibu yang tidak 
mengecap pendidikan tinggi juga menghasilkan anak yang mengecap pendidikan 
tinggi.

Berangkat bahwa pendidikan itu adalah proses seumur hidup, maka S3 itu khan 
hanyalah pendidikan formal yang diberi gelar.

Wassallam


Joefrizal

--- On Sun, 3/14/10, Achmad Chamdani Eka P. <[email protected]> wrote:


>From: Achmad Chamdani Eka P. <[email protected]>
>Subject: [indonesia] Re: S3? Siapa takut ?
>To: [email protected]
>Date: Sunday, March 14, 2010, 8:41 PM
>
>
>Idealnya begitu. Tetapi, tidak selalu menjadi jaminan dan ada korelasi bahwa 
>seorang ibu yang
>berpendidikan S3 mampu dan bisa meluangkan waktu untuk mendidik anak secara 
>baik. Bahkan 
>umumnya bidang yang dia geluti di S3 tsb. tidak berhubungan langsung dengan 
>pendidikan anak,
>terutama di masa dini. Pendidikan anak tidak sekedar berupa memberikan 
>pengetahuan saja.
>Tetapi, lebih dari itu yang terpenting adalah pembangunan akhlaq, karakter dan 
>kepribadian.
>Di dunia ini banyak sekali orang besar yang terlahir dari didikan seorang ibu 
>yang tidak mempunyai
>gelar di pendidikan formal sekalipun. Dan di Indonesia, tidak jarang anak yang 
>terlahir dari seorang 
>ibu berpendidikan S3, yang hanya mengecap pendidikan dari pembantu mereka.
>Saya kira ini tidak lebih dari sebuah opsi saja, bukan sebuah justifikasi.
>
>
>Wassalam.
>
>[email protected] wrote: 
>Assalamu'alaikum wr wb,
>>
>>Sekedar meneruskan, semoga bermanfaat.
>>
>>Wassalamu'alaikum wr wb,
>>CA
>>
>>Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
________________________________

>>From: "seismic_yuni" <[email protected]> 
>>Date: Wed, 10 Mar 2010 06:07:06 -0000
>>To: <[email protected]>
>>Subject: [daarut-tauhiid] S3 Siapa takut ?
>>
>>  
>>ternyata inspirasi bukan lah sebuah hal yang sulit dicari, bahkan seorang 
>>dosen pun dapat membuat cerita yang begitu menginspirasi kami...
>>
>>Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi kepada seorang dosen, 
>>dia menghampirinya dengan wajah yang muram, dan kemudian berkata, "Pak, 
>>beasiswa Program Magister dan Doktor saya lolos". Dan hanya itu saja kata2 
>>yang keluar dari mulutnya, tanpa diikuti ekspresi apapun dari wajahnya... 
>>mengingat di luar sana berjuta - juta orang memimpikan pencapaian ini. Dan 
>>sang dosen tertegun, kemudia dia berkata, "Bagus donk dek, kamu bisa bikin 
>>bangga banyak orang, dan itu merupakan jalan hidup yang sangat baik. Lalu apa 
>>yang membuat kamu terlihat bimbang dek." 
>>
>>Akhirnya mahasiswi itu bercerita kepada sang dosen. "Pak, sekolah hingga S2 
>>dan S3 merupakan cita-cita saya sejak kecil, ini adalah mimpi saya, tidak 
>>terbayangkan rasa bahagia saya saat memperoleh surat penerimaan beasiswa 
>>ini.... Tapi pak, saya ini akhwat, saya wanita, dan saya bahagia dengan 
>>keadaan ini.. Saya tidak memiliki ambisi besar, saya hanya senang belajar dan 
>>menemukan hal baru, tidak lebih.. Saya akan dengan sangat ikhlas jika saya 
>>menikah dan suami saya menyuruh saya untuk menjadi ibu rumah tangga.. Lalu, 
>>dengan semua keadaan ini, apa saya masih harus sekolah?? saya takut itu semua 
>>menjadi mubazir, karena mungkin ada hal lain yang lebih baik untuk saya 
>>jalani."
>>
>>Pak dosen pun terdiam, semua cerita mahasiswinya adalah logika ringan yang 
>>sangat masuk akal, dan dia tidak bisa disalahkan dengan pikirannya.. . Dosen 
>>itu pun berfikir, memejamkan mata, menunggu Allah SWT membuka hatinya, 
>>memasukkan jawaban dari pertanyaan indah ini... 
>>
>>Dan jawaban itu datang kepadanya, masuk ke dalah ide nya.... Pak dosen 
>>berkata seperti ini kepada mahasiswinya. . "Dek, sekarang bertanyalah kepada 
>>hati kecil mu, apa dia masih menginginkan dirimu untuk melanjutkan pendidikan 
>>ini hingga puncak nanti.." .. Sang mahasiswi bingung, dia menunduk , air mata 
>>turun dari kedua matanya, seakan dia merasakan konflik hati yang sangat besar 
>>... yang saling ingin meniadakan.. Dosen itu melanjutkan nasehatnya.. "Dek, 
>>saya ingin bertanya kepadamu, kapan pertama kali engkau berhadapan dengan 
>>seorang S3 dan mendapat ilmu darinya?" "Sejak saya kuliah di ITB , Pak." 
>>Jawab sang gadis. Kemudian dosen itu melanjutkan ,"Ya dek, betul, saya pun 
>>demikian, saya baru diajar oleh seorang lulusan S3 semenjak saya kuliah di 
>>kampus ini.. Tapi dek, coba adek fikirkan, bahwa saat engkau memiliki anak, 
>>maka orang pertama yang akan menyapih rambut anakmu adalah seorang lulusan 
>>S3. Orang yang pertama mengajaknya berjalan adalah seorang
 ilmuwan tinggi, dan sejak dia mulai membaca, dia akan dibimbing dan dijaga 
oleh seorang Doktor. Itulah peranmu sebagai ibu nanti, apakah engkau bisa 
membayangkan betapa beruntungnya anak manusia yang akan kau lahirkan nanti." 
Dan itulah jawaban Allah SWT melalui pak dosen.... Mahasiswi itu tersadar dari 
konflik panjangnya, dan ia tersenyum bahagia, sangat bahagia, air matanya 
menjadi air mata haru, dan ia berdiri, mengucapkan terima kasih nya kepada sang 
dosen, dan berkata , "Pak, terima kasih, akan saya lanjutkan pendidikan ini 
hingga tidak satupun puncak lagi yang menghalangi saya." 
>>
>>Betapa hidup itu sangat berarti, dan jadikan ia bermakna.. Bukan uang yang 
>>nanti akan membuatmu bahagia, tetapi rasa syukur mu lah yang akan menjadi 
>>kebahagiaan yang hakiki,.
>>
>>Based on Dr. Hermawan Dipojono story... Lecture from Physics Engineering, ITB 
>>.
>>This article was originally published in forum thread: kisah inspiratif 
>>(terlebih lagi untuk akhwat) started by jalu_naradi View original post 
>>
>>
>>__._,_.___
>>Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New Topic 
>>Messages in this topic (1) 
>>Recent Activity:      * New Members 18 
>>Visit Your Group 
>>====================================================
>>Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
>>====================================================
>>Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar 
>>====================================================
>>       website:  http://dtjakarta.or.id/
>>==================================================== 
>> 
>>Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use
>>. 
>>
>>__,_._,___ 



      Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih 
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. 
Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/

Kirim email ke