Djoni, Anak sudah tamat semua kah? Thanks. Aristo. ----- Original Message ----- From: Djoni Supriyadi To: [email protected] Cc: [email protected] ; [email protected] Sent: Wednesday, March 17, 2010 9:22 AM Subject: [indonesia] Re: Bls: Re: S3? Siapa takut ?
Aristo, sharing aja..
Kebetulan saya juga sedang berlatih menerapkan ke anak dengan tindakan ,
bukan dengan kata-kata atau instruksi. Maksud saya biar anak dapat melihat
secara nyata dan pada kondisi yang alami, tidak di buat atau di skenariokan.
Saya mengunakan sebagian-sebagian dari teori sbb :
1. Steven Covey : Seven Habits,
Habits ke 1,2 dan 3 untuk Private Victory, Habits ke 4, 5 dan 6
untuk Common Victory . Habit ke 7 mengasah ketajaman religious.
2. Ajaran dari Sri Mangkunegoro I ( Pangeran Samber Nyowo), :
"Mulat Sariro Hangroso wani" : Berani Mengoreksi diri/Berani
Introspeksi
3. Ajaran Al Qur'an : Surat ke 51, ADZ DZARIYAAT (Angin yang Menerbangkan),
ayat 56. :
" Dan AKU tdak menciptakan bangsa Jin dan Manusia melainkan supaya mereka
Menyembahku"
Jadi kita tidak dicipta , jika tidak menyembah, sehingga urusan IQ dan EQ
ataupun lainnya adalah setelah Statement tsb dan
dengan cara-cara yang telah ditetapkan.
Agar lebih Sadar (Ma'rifat) maka selalu diiringi dan diniatkan "La haula
wala quata lillah Billah"
(Tidak ada daya dan kekuatan selain kekuatan dari Allah swt.)
Sehingga dari bangun tidur sampai tidur lagi atau setiap saat, kerna
mungkin nggak tidur, Selalu diniatkan " Karena Allah swt dan
mengabdi kepada Allah swt dan seluruh kekuatannya dari Allah swt"
Sehinnga secara religious kita tidak mengclaim bahwa kita bisa,
dan ini perlu di latih terus/ di asah ketajamannya.
From: "Aristo Y. Suratman" <[email protected]>
To: <[email protected]>
Date: 15/03/2010 21:05
Subject: [indonesia] Re: Bls: Re: S3? Siapa takut ?
Sent by: [email protected]
------------------------------------------------------------------------------
Kata orang yang terpenting adalah EQ ketimbang IQ, dimana sangat menentukan
sukses dimasa depan dari seseorang. Banyak teman kita dulu yang cukup pandai2
tetapi kurang sukses dan kurang pandai di masyarakat. Itu yang saya ingin tahu
bagaimana meninggikan EQ dan bagaimana menerapkannya ke anak kita. Apakah ada
yang tahu caranya ? Thanks.
----- Original Message -----
From: Heddy Darmawan
To: [email protected]
Sent: Monday, March 15, 2010 9:33 AM
Subject: [indonesia] Bls: Re: S3? Siapa takut ?
Saya setuju dg Pak Joefrizal dan Pak Achmad,
istri saya hanya berpendidikan SLTA tapi anak laki2 saya pertama lulus S1
Mesin ITB Cum Laude, Anak perempuan kedua saya lulus S1 informatika Cumlaude
( IP : 3.65 )dan S2 MBA ITB Cumlaude ( IP : 3.79 ) dan Anak laki2 saya ketiga
Lulus S1 Hukum Sangat Memuaskan ( IP : 3.4 ).
Jadi yang diperlukan adalah cara mendidik yang tegas saya dan istri selalu
menekankan penting nya belajar memberi petunjuk kepada anak akan kesulitan
mereka alhamdulilah mereka berhasil. Dismaping usaha tidak kalah pentingnya
adalah doa ayah dan ibu kepada Allah swt untuk keberhasilan anak anak nya.
Semoga bernanfaat
Heddy EL 76 ITB
081318914114
------------------------------------------------------------------------------
Dari: joefrizal joefrizal <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sen, 15 Maret, 2010 09:07:47
Judul: [indonesia] Re: S3? Siapa takut ?
Kalau boleh saya ingin juga berpendapat.
Semakin tinggi pendidikan seorang ibu, maka akan semakin terbuka
matanya dan hal ini sangat baik sekali untuk mendidik anaknya. Tentunya hal ini
dengan assumsi sang ibu meluangkan waktu cukup untuk mendidik anaknya dan tidak
tenggelam dalam pekerjaan lain yang biasanya menumpuk.
Hakikat pendidikan itu adalah untuk memajukan manusia oleh karena itu
apabila seorang ibu sudah maju, maka akan sangat besar kemungkinannya
anak-anaknya menjadi maju.
Kalau melihat situasi di Indonesia, maka mungkin saja seorang ibu yang
tidak mengecap pendidikan tinggi juga menghasilkan anak yang mengecap
pendidikan tinggi.
Berangkat bahwa pendidikan itu adalah proses seumur hidup, maka S3 itu
khan hanyalah pendidikan formal yang diberi gelar.
Wassallam
Joefrizal
--- On Sun, 3/14/10, Achmad Chamdani Eka P. <[email protected]>wrote:
From: Achmad Chamdani Eka P. <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: S3? Siapa takut ?
To: [email protected]
Date: Sunday, March 14, 2010, 8:41 PM
Idealnya begitu. Tetapi, tidak selalu menjadi jaminan dan ada korelasi
bahwa seorang ibu yang
berpendidikan S3 mampu dan bisa meluangkan waktu untuk mendidik anak
secara baik. Bahkan
umumnya bidang yang dia geluti di S3 tsb. tidak berhubungan langsung
dengan pendidikan anak,
terutama di masa dini. Pendidikan anak tidak sekedar berupa memberikan
pengetahuan saja.
Tetapi, lebih dari itu yang terpenting adalah pembangunan akhlaq,
karakter dan kepribadian.
Di dunia ini banyak sekali orang besar yang terlahir dari didikan
seorang ibu yang tidak mempunyai
gelar di pendidikan formal sekalipun. Dan di Indonesia, tidak jarang
anak yang terlahir dari seorang
ibu berpendidikan S3, yang hanya mengecap pendidikan dari pembantu
mereka.
Saya kira ini tidak lebih dari sebuah opsi saja, bukan sebuah
justifikasi.
Wassalam.
[email protected]:
Assalamu'alaikum wr wb,
Sekedar meneruskan, semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum wr wb,
CA
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
------------------------------------------------------------------------
From: "seismic_yuni" <[email protected]>
Date: Wed, 10 Mar 2010 06:07:06 -0000
To: <[email protected]>
Subject: [daarut-tauhiid] S3 Siapa takut ?
ternyata inspirasi bukan lah sebuah hal yang sulit dicari, bahkan
seorang dosen pun dapat membuat cerita yang begitu menginspirasi kami...
Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi kepada seorang
dosen, dia menghampirinya dengan wajah yang muram, dan kemudian berkata, "Pak,
beasiswa Program Magister dan Doktor saya lolos". Dan hanya itu saja kata2 yang
keluar dari mulutnya, tanpa diikuti ekspresi apapun dari wajahnya... mengingat
di luar sana berjuta - juta orang memimpikan pencapaian ini. Dan sang dosen
tertegun, kemudia dia berkata, "Bagus donk dek, kamu bisa bikin bangga banyak
orang, dan itu merupakan jalan hidup yang sangat baik. Lalu apa yang membuat
kamu terlihat bimbang dek."
Akhirnya mahasiswi itu bercerita kepada sang dosen. "Pak, sekolah
hingga S2 dan S3 merupakan cita-cita saya sejak kecil, ini adalah mimpi saya,
tidak terbayangkan rasa bahagia saya saat memperoleh surat penerimaan beasiswa
ini.... Tapi pak, saya ini akhwat, saya wanita, dan saya bahagia dengan keadaan
ini.. Saya tidak memiliki ambisi besar, saya hanya senang belajar dan menemukan
hal baru, tidak lebih.. Saya akan dengan sangat ikhlas jika saya menikah dan
suami saya menyuruh saya untuk menjadi ibu rumah tangga.. Lalu, dengan semua
keadaan ini, apa saya masih harus sekolah?? saya takut itu semua menjadi
mubazir, karena mungkin ada hal lain yang lebih baik untuk saya jalani."
Pak dosen pun terdiam, semua cerita mahasiswinya adalah logika ringan
yang sangat masuk akal, dan dia tidak bisa disalahkan dengan pikirannya.. .
Dosen itu pun berfikir, memejamkan mata, menunggu Allah SWT membuka hatinya,
memasukkan jawaban dari pertanyaan indah ini...
Dan jawaban itu datang kepadanya, masuk ke dalah ide nya.... Pak dosen
berkata seperti ini kepada mahasiswinya. . "Dek, sekarang bertanyalah kepada
hati kecil mu, apa dia masih menginginkan dirimu untuk melanjutkan pendidikan
ini hingga puncak nanti.." .. Sang mahasiswi bingung, dia menunduk , air mata
turun dari kedua matanya, seakan dia merasakan konflik hati yang sangat besar
... yang saling ingin meniadakan.. Dosen itu melanjutkan nasehatnya.. "Dek,
saya ingin bertanya kepadamu, kapan pertama kali engkau berhadapan dengan
seorang S3 dan mendapat ilmu darinya?" "Sejak saya kuliah di ITB , Pak." Jawab
sang gadis. Kemudian dosen itu melanjutkan ,"Ya dek, betul, saya pun demikian,
saya baru diajar oleh seorang lulusan S3 semenjak saya kuliah di kampus ini..
Tapi dek, coba adek fikirkan, bahwa saat engkau memiliki anak, maka orang
pertama yang akan menyapih rambut anakmu adalah seorang lulusan S3. Orang yang
pertama mengajaknya berjalan adalah seorang ilmuwan tinggi, dan sejak dia mulai
membaca, dia akan dibimbing dan dijaga oleh seorang Doktor. Itulah peranmu
sebagai ibu nanti, apakah engkau bisa membayangkan betapa beruntungnya anak
manusia yang akan kau lahirkan nanti." Dan itulah jawaban Allah SWT melalui pak
dosen.... Mahasiswi itu tersadar dari konflik panjangnya, dan ia tersenyum
bahagia, sangat bahagia, air matanya menjadi air mata haru, dan ia berdiri,
mengucapkan terima kasih nya kepada sang dosen, dan berkata , "Pak, terima
kasih, akan saya lanjutkan pendidikan ini hingga tidak satupun puncak lagi yang
menghalangi saya."
Betapa hidup itu sangat berarti, dan jadikan ia bermakna.. Bukan uang
yang nanti akan membuatmu bahagia, tetapi rasa syukur mu lah yang akan menjadi
kebahagiaan yang hakiki,.
Based on Dr. Hermawan Dipojono story... Lecture from Physics
Engineering, ITB .
This article was originally published in forum thread: kisah inspiratif
(terlebih lagi untuk akhwat) started by jalu_naradi View original post
__._,_.___
Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New
Topic
Messages in this topic (1)
Recent Activity:
New Members 18
Visit Your Group
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe• Terms of Use
.
__,_._,___
------------------------------------------------------------------------------
Berselancar lebih cepat.
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman
favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis)
This email and any attachments to it may be confidential and are intended
solely for the use of the individual to whom it is addressed. Any views or
opinions expressed are solely those of the author and do not necessarily
represent those of PT. JGC Indonesia. If you are not the intended recipient of
this email, you must neither take any action based upon its contents, nor copy
or show it to anyone. Please contact the sender if you believe you have
received this email in error.
<<image/gif>>
<<image/gif>>
