Kata orang yang terpenting adalah EQ ketimbang IQ, dimana sangat menentukan 
sukses dimasa depan dari seseorang. Banyak teman kita dulu yang cukup pandai2 
tetapi kurang sukses dan kurang pandai di masyarakat. Itu yang saya ingin tahu 
bagaimana meninggikan EQ dan bagaimana menerapkannya ke anak kita. Apakah ada 
yang tahu caranya ? Thanks. 
  ----- Original Message ----- 
  From: Heddy Darmawan 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, March 15, 2010 9:33 AM
  Subject: [indonesia] Bls: Re: S3? Siapa takut ?


  Saya setuju dg Pak Joefrizal dan Pak Achmad,
  istri saya hanya berpendidikan SLTA tapi anak laki2 saya pertama lulus S1 
Mesin ITB Cum Laude, Anak perempuan kedua saya lulus S1 informatika  Cumlaude  
( IP : 3.65 )dan S2 MBA ITB Cumlaude ( IP : 3.79 )  dan Anak laki2 saya ketiga 
Lulus S1 Hukum Sangat Memuaskan ( IP : 3.4 ).

  Jadi yang diperlukan adalah cara mendidik yang tegas saya dan istri selalu 
menekankan penting nya belajar memberi petunjuk kepada anak akan kesulitan 
mereka alhamdulilah mereka berhasil. Dismaping usaha tidak kalah pentingnya 
adalah doa ayah dan ibu kepada Allah swt untuk keberhasilan anak anak nya.

  Semoga bernanfaat
  Heddy EL 76 ITB
  081318914114




------------------------------------------------------------------------------
  Dari: joefrizal joefrizal <[email protected]>
  Kepada: [email protected]
  Terkirim: Sen, 15 Maret, 2010 09:07:47
  Judul: [indonesia] Re: S3? Siapa takut ?

        Kalau boleh saya ingin juga berpendapat.

        Semakin tinggi pendidikan seorang ibu, maka akan semakin terbuka 
matanya dan hal ini sangat baik sekali untuk mendidik anaknya. Tentunya hal ini 
dengan assumsi sang ibu meluangkan waktu cukup untuk mendidik anaknya dan tidak 
tenggelam dalam pekerjaan lain yang biasanya menumpuk.

        Hakikat pendidikan itu adalah untuk memajukan manusia oleh karena itu 
apabila seorang ibu sudah maju, maka akan sangat besar kemungkinannya 
anak-anaknya menjadi maju.

        Kalau melihat situasi di Indonesia, maka mungkin saja seorang ibu yang 
tidak mengecap pendidikan tinggi juga menghasilkan anak yang mengecap 
pendidikan tinggi.

        Berangkat bahwa pendidikan itu adalah proses seumur hidup, maka S3 itu 
khan hanyalah pendidikan formal yang diberi gelar.

        Wassallam


        Joefrizal

        --- On Sun, 3/14/10, Achmad Chamdani Eka P. <[email protected]> wrote:


          From: Achmad Chamdani Eka P. <[email protected]>
          Subject: [indonesia] Re: S3? Siapa takut ?
          To: [email protected]
          Date: Sunday, March 14, 2010, 8:41 PM


          Idealnya begitu. Tetapi, tidak selalu menjadi jaminan dan ada 
korelasi bahwa seorang ibu yang
          berpendidikan S3 mampu dan bisa meluangkan waktu untuk mendidik anak 
secara baik. Bahkan 
          umumnya bidang yang dia geluti di S3 tsb. tidak berhubungan langsung 
dengan pendidikan anak,
          terutama di masa dini. Pendidikan anak tidak sekedar berupa 
memberikan pengetahuan saja.
          Tetapi, lebih dari itu yang terpenting adalah pembangunan akhlaq, 
karakter dan kepribadian.
          Di dunia ini banyak sekali orang besar yang terlahir dari didikan 
seorang ibu yang tidak mempunyai
          gelar di pendidikan formal sekalipun. Dan di Indonesia, tidak jarang 
anak yang terlahir dari seorang 
          ibu berpendidikan S3, yang hanya mengecap pendidikan dari pembantu 
mereka.
          Saya kira ini tidak lebih dari sebuah opsi saja, bukan sebuah 
justifikasi.


          Wassalam.

          [email protected] wrote: 
            Assalamu'alaikum wr wb,

            Sekedar meneruskan, semoga bermanfaat.

            Wassalamu'alaikum wr wb,
            CA

            Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

--------------------------------------------------------------------

            From: "seismic_yuni" <[email protected]> 
            Date: Wed, 10 Mar 2010 06:07:06 -0000
            To: <[email protected]>
            Subject: [daarut-tauhiid] S3 Siapa takut ?


              
            ternyata inspirasi bukan lah sebuah hal yang sulit dicari, bahkan 
seorang dosen pun dapat membuat cerita yang begitu menginspirasi kami...

            Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi kepada 
seorang dosen, dia menghampirinya dengan wajah yang muram, dan kemudian 
berkata, "Pak, beasiswa Program Magister dan Doktor saya lolos". Dan hanya itu 
saja kata2 yang keluar dari mulutnya, tanpa diikuti ekspresi apapun dari 
wajahnya... mengingat di luar sana berjuta - juta orang memimpikan pencapaian 
ini. Dan sang dosen tertegun, kemudia dia berkata, "Bagus donk dek, kamu bisa 
bikin bangga banyak orang, dan itu merupakan jalan hidup yang sangat baik. Lalu 
apa yang membuat kamu terlihat bimbang dek." 

            Akhirnya mahasiswi itu bercerita kepada sang dosen. "Pak, sekolah 
hingga S2 dan S3 merupakan cita-cita saya sejak kecil, ini adalah mimpi saya, 
tidak terbayangkan rasa bahagia saya saat memperoleh surat penerimaan beasiswa 
ini.... Tapi pak, saya ini akhwat, saya wanita, dan saya bahagia dengan keadaan 
ini.. Saya tidak memiliki ambisi besar, saya hanya senang belajar dan menemukan 
hal baru, tidak lebih.. Saya akan dengan sangat ikhlas jika saya menikah dan 
suami saya menyuruh saya untuk menjadi ibu rumah tangga.. Lalu, dengan semua 
keadaan ini, apa saya masih harus sekolah?? saya takut itu semua menjadi 
mubazir, karena mungkin ada hal lain yang lebih baik untuk saya jalani."

            Pak dosen pun terdiam, semua cerita mahasiswinya adalah logika 
ringan yang sangat masuk akal, dan dia tidak bisa disalahkan dengan 
pikirannya.. . Dosen itu pun berfikir, memejamkan mata, menunggu Allah SWT 
membuka hatinya, memasukkan jawaban dari pertanyaan indah ini... 

            Dan jawaban itu datang kepadanya, masuk ke dalah ide nya.... Pak 
dosen berkata seperti ini kepada mahasiswinya. . "Dek, sekarang bertanyalah 
kepada hati kecil mu, apa dia masih menginginkan dirimu untuk melanjutkan 
pendidikan ini hingga puncak nanti.." .. Sang mahasiswi bingung, dia menunduk , 
air mata turun dari kedua matanya, seakan dia merasakan konflik hati yang 
sangat besar ... yang saling ingin meniadakan.. Dosen itu melanjutkan 
nasehatnya.. "Dek, saya ingin bertanya kepadamu, kapan pertama kali engkau 
berhadapan dengan seorang S3 dan mendapat ilmu darinya?" "Sejak saya kuliah di 
ITB , Pak." Jawab sang gadis. Kemudian dosen itu melanjutkan ,"Ya dek, betul, 
saya pun demikian, saya baru diajar oleh seorang lulusan S3 semenjak saya 
kuliah di kampus ini.. Tapi dek, coba adek fikirkan, bahwa saat engkau memiliki 
anak, maka orang pertama yang akan menyapih rambut anakmu adalah seorang 
lulusan S3. Orang yang pertama mengajaknya berjalan adalah seorang ilmuwan 
tinggi, dan sejak dia mulai membaca, dia akan dibimbing dan dijaga oleh seorang 
Doktor. Itulah peranmu sebagai ibu nanti, apakah engkau bisa membayangkan 
betapa beruntungnya anak manusia yang akan kau lahirkan nanti." Dan itulah 
jawaban Allah SWT melalui pak dosen.... Mahasiswi itu tersadar dari konflik 
panjangnya, dan ia tersenyum bahagia, sangat bahagia, air matanya menjadi air 
mata haru, dan ia berdiri, mengucapkan terima kasih nya kepada sang dosen, dan 
berkata , "Pak, terima kasih, akan saya lanjutkan pendidikan ini hingga tidak 
satupun puncak lagi yang menghalangi saya." 

            Betapa hidup itu sangat berarti, dan jadikan ia bermakna.. Bukan 
uang yang nanti akan membuatmu bahagia, tetapi rasa syukur mu lah yang akan 
menjadi kebahagiaan yang hakiki,.

            Based on Dr. Hermawan Dipojono story... Lecture from Physics 
Engineering, ITB .
            This article was originally published in forum thread: kisah 
inspiratif (terlebih lagi untuk akhwat) started by jalu_naradi View original 
post 


            __._,_.___
            Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New 
Topic 
            Messages in this topic (1) 
            Recent Activity: a.. New Members 18 
            Visit Your Group 
            ====================================================
            Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
            ====================================================
            Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar 
            ====================================================
                   website:  http://dtjakarta.or.id/
            ==================================================== 
             Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use.
             
            __,_._,___ 




------------------------------------------------------------------------------
  Berselancar lebih cepat. 
  Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman 
favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis)

Kirim email ke