Aristo, sharing aja..
Kebetulan saya juga sedang berlatih menerapkan ke anak dengan tindakan , 
bukan dengan kata-kata atau instruksi. Maksud saya biar anak dapat melihat 
secara nyata dan pada kondisi yang alami, tidak di buat atau di 
skenariokan.

Saya mengunakan sebagian-sebagian dari teori sbb :

1. Steven Covey : Seven Habits, 
        Habits ke  1,2 dan 3 untuk Private Victory, Habits ke  4, 5 dan 6 
untuk Common Victory . Habit ke 7 mengasah ketajaman religious.

2. Ajaran dari Sri Mangkunegoro I ( Pangeran Samber Nyowo), :
         "Mulat Sariro Hangroso wani"  : Berani Mengoreksi diri/Berani 
Introspeksi

3. Ajaran Al Qur'an : Surat ke 51, ADZ DZARIYAAT (Angin yang 
Menerbangkan), ayat 56.  :
    " Dan AKU tdak menciptakan bangsa Jin dan Manusia melainkan supaya 
mereka Menyembahku"
    Jadi kita tidak dicipta , jika tidak menyembah, sehingga urusan IQ dan 
EQ ataupun lainnya adalah setelah Statement tsb dan 
    dengan cara-cara yang telah ditetapkan. 
    Agar lebih Sadar (Ma'rifat) maka selalu diiringi dan diniatkan  "La 
haula wala quata lillah Billah" 
    (Tidak ada daya dan kekuatan selain kekuatan dari Allah swt.)
    Sehingga dari bangun tidur sampai tidur lagi atau setiap saat,  kerna 
mungkin nggak tidur, Selalu diniatkan " Karena Allah swt dan 
    mengabdi kepada Allah swt dan seluruh kekuatannya dari Allah swt" 
Sehinnga secara religious kita tidak mengclaim bahwa kita bisa,
    dan ini perlu di latih terus/ di asah ketajamannya.
 
 




From:
"Aristo Y. Suratman" <[email protected]>
To:
<[email protected]>
Date:
15/03/2010 21:05
Subject:
[indonesia] Re: Bls: Re: S3? Siapa takut ?
Sent by:
[email protected]



Kata orang yang terpenting adalah EQ ketimbang IQ, dimana sangat 
menentukan sukses dimasa depan dari seseorang. Banyak teman kita dulu yang 
cukup pandai2 tetapi kurang sukses dan kurang pandai di masyarakat. Itu 
yang saya ingin tahu bagaimana meninggikan EQ dan bagaimana menerapkannya 
ke anak kita. Apakah ada yang tahu caranya ? Thanks. 
----- Original Message ----- 
From: Heddy Darmawan 
To: [email protected] 
Sent: Monday, March 15, 2010 9:33 AM
Subject: [indonesia] Bls: Re: S3? Siapa takut ?

Saya setuju dg Pak Joefrizal dan Pak Achmad,
istri saya hanya berpendidikan SLTA tapi anak laki2 saya pertama lulus S1 
Mesin ITB Cum Laude, Anak perempuan kedua saya lulus S1 informatika 
Cumlaude  ( IP : 3.65 )dan S2 MBA ITB Cumlaude ( IP : 3.79 )  dan Anak 
laki2 saya ketiga Lulus S1 Hukum Sangat Memuaskan ( IP : 3.4 ).
 
Jadi yang diperlukan adalah cara mendidik yang tegas saya dan istri selalu 
menekankan penting nya belajar memberi petunjuk kepada anak akan kesulitan 
mereka alhamdulilah mereka berhasil. Dismaping usaha tidak kalah 
pentingnya adalah doa ayah dan ibu kepada Allah swt untuk keberhasilan 
anak anak nya.
 
Semoga bernanfaat
Heddy EL 76 ITB
081318914114

Dari: joefrizal joefrizal <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sen, 15 Maret, 2010 09:07:47
Judul: [indonesia] Re: S3? Siapa takut ?

Kalau boleh saya ingin juga berpendapat.
 
Semakin tinggi pendidikan seorang ibu, maka akan semakin terbuka matanya 
dan hal ini sangat baik sekali untuk mendidik anaknya. Tentunya hal ini 
dengan assumsi sang ibu meluangkan waktu cukup untuk mendidik anaknya dan 
tidak tenggelam dalam pekerjaan lain yang biasanya menumpuk.
 
Hakikat pendidikan itu adalah untuk memajukan manusia oleh karena itu 
apabila seorang ibu sudah maju, maka akan sangat besar kemungkinannya 
anak-anaknya menjadi maju.
 
Kalau melihat situasi di Indonesia, maka mungkin saja seorang ibu yang 
tidak mengecap pendidikan tinggi juga menghasilkan anak yang mengecap 
pendidikan tinggi.
 
Berangkat bahwa pendidikan itu adalah proses seumur hidup, maka S3 itu 
khan hanyalah pendidikan formal yang diberi gelar.
 
Wassallam
 
 
Joefrizal

--- On Sun, 3/14/10, Achmad Chamdani Eka P. <[email protected]> wrote:

From: Achmad Chamdani Eka P. <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: S3? Siapa takut ?
To: [email protected]
Date: Sunday, March 14, 2010, 8:41 PM

Idealnya begitu. Tetapi, tidak selalu menjadi jaminan dan ada korelasi 
bahwa seorang ibu yang
berpendidikan S3 mampu dan bisa meluangkan waktu untuk mendidik anak 
secara baik. Bahkan 
umumnya bidang yang dia geluti di S3 tsb. tidak berhubungan langsung 
dengan pendidikan anak,
terutama di masa dini. Pendidikan anak tidak sekedar berupa memberikan 
pengetahuan saja.
Tetapi, lebih dari itu yang terpenting adalah pembangunan akhlaq, karakter 
dan kepribadian.
Di dunia ini banyak sekali orang besar yang terlahir dari didikan seorang 
ibu yang tidak mempunyai
gelar di pendidikan formal sekalipun. Dan di Indonesia, tidak jarang anak 
yang terlahir dari seorang 
ibu berpendidikan S3, yang hanya mengecap pendidikan dari pembantu mereka.
Saya kira ini tidak lebih dari sebuah opsi saja, bukan sebuah justifikasi.


Wassalam.

[email protected] wrote: 
Assalamu'alaikum wr wb,

Sekedar meneruskan, semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaikum wr wb,
CA
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

From: "seismic_yuni" <[email protected]> 
Date: Wed, 10 Mar 2010 06:07:06 -0000
To: <[email protected]>
Subject: [daarut-tauhiid] S3 Siapa takut ?

 
ternyata inspirasi bukan lah sebuah hal yang sulit dicari, bahkan seorang 
dosen pun dapat membuat cerita yang begitu menginspirasi kami...

Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi kepada seorang 
dosen, dia menghampirinya dengan wajah yang muram, dan kemudian berkata, 
"Pak, beasiswa Program Magister dan Doktor saya lolos". Dan hanya itu saja 
kata2 yang keluar dari mulutnya, tanpa diikuti ekspresi apapun dari 
wajahnya... mengingat di luar sana berjuta - juta orang memimpikan 
pencapaian ini. Dan sang dosen tertegun, kemudia dia berkata, "Bagus donk 
dek, kamu bisa bikin bangga banyak orang, dan itu merupakan jalan hidup 
yang sangat baik. Lalu apa yang membuat kamu terlihat bimbang dek." 

Akhirnya mahasiswi itu bercerita kepada sang dosen. "Pak, sekolah hingga 
S2 dan S3 merupakan cita-cita saya sejak kecil, ini adalah mimpi saya, 
tidak terbayangkan rasa bahagia saya saat memperoleh surat penerimaan 
beasiswa ini.... Tapi pak, saya ini akhwat, saya wanita, dan saya bahagia 
dengan keadaan ini.. Saya tidak memiliki ambisi besar, saya hanya senang 
belajar dan menemukan hal baru, tidak lebih.. Saya akan dengan sangat 
ikhlas jika saya menikah dan suami saya menyuruh saya untuk menjadi ibu 
rumah tangga.. Lalu, dengan semua keadaan ini, apa saya masih harus 
sekolah?? saya takut itu semua menjadi mubazir, karena mungkin ada hal 
lain yang lebih baik untuk saya jalani."

Pak dosen pun terdiam, semua cerita mahasiswinya adalah logika ringan yang 
sangat masuk akal, dan dia tidak bisa disalahkan dengan pikirannya.. . 
Dosen itu pun berfikir, memejamkan mata, menunggu Allah SWT membuka 
hatinya, memasukkan jawaban dari pertanyaan indah ini... 

Dan jawaban itu datang kepadanya, masuk ke dalah ide nya.... Pak dosen 
berkata seperti ini kepada mahasiswinya. . "Dek, sekarang bertanyalah 
kepada hati kecil mu, apa dia masih menginginkan dirimu untuk melanjutkan 
pendidikan ini hingga puncak nanti.." .. Sang mahasiswi bingung, dia 
menunduk , air mata turun dari kedua matanya, seakan dia merasakan konflik 
hati yang sangat besar ... yang saling ingin meniadakan.. Dosen itu 
melanjutkan nasehatnya.. "Dek, saya ingin bertanya kepadamu, kapan pertama 
kali engkau berhadapan dengan seorang S3 dan mendapat ilmu darinya?" 
"Sejak saya kuliah di ITB , Pak." Jawab sang gadis. Kemudian dosen itu 
melanjutkan ,"Ya dek, betul, saya pun demikian, saya baru diajar oleh 
seorang lulusan S3 semenjak saya kuliah di kampus ini.. Tapi dek, coba 
adek fikirkan, bahwa saat engkau memiliki anak, maka orang pertama yang 
akan menyapih rambut anakmu adalah seorang lulusan S3. Orang yang pertama 
mengajaknya berjalan adalah seorang ilmuwan tinggi, dan sejak dia mulai 
membaca, dia akan dibimbing dan dijaga oleh seorang Doktor. Itulah peranmu 
sebagai ibu nanti, apakah engkau bisa membayangkan betapa beruntungnya 
anak manusia yang akan kau lahirkan nanti." Dan itulah jawaban Allah SWT 
melalui pak dosen.... Mahasiswi itu tersadar dari konflik panjangnya, dan 
ia tersenyum bahagia, sangat bahagia, air matanya menjadi air mata haru, 
dan ia berdiri, mengucapkan terima kasih nya kepada sang dosen, dan 
berkata , "Pak, terima kasih, akan saya lanjutkan pendidikan ini hingga 
tidak satupun puncak lagi yang menghalangi saya." 

Betapa hidup itu sangat berarti, dan jadikan ia bermakna.. Bukan uang yang 
nanti akan membuatmu bahagia, tetapi rasa syukur mu lah yang akan menjadi 
kebahagiaan yang hakiki,.

Based on Dr. Hermawan Dipojono story... Lecture from Physics Engineering, 
ITB .
This article was originally published in forum thread: kisah inspiratif 
(terlebih lagi untuk akhwat) started by jalu_naradi View original post 

__._,_.___
Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New Topic 
Messages in this topic (1) 
Recent Activity: 
New Members 18 
Visit Your Group 
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar 
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
==================================================== 

Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use



.

__,_._,___


Berselancar lebih cepat. 
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 
halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di 
sini! (Gratis)

This email and any attachments to it may be confidential and are intended 
solely for the use of the individual to whom it is addressed. Any views or 
opinions expressed are solely those of the author and do not necessarily 
represent those of PT. JGC Indonesia. If you are not the intended recipient of 
this email, you must neither take any action based upon its contents, nor copy 
or show it to anyone. Please contact the sender if you believe you have 
received this email in error.

<<image/gif>>

<<image/gif>>

Kirim email ke