Sebetulnya kalau para S3 mau jujur..saya pikir pasti mereka merasakan bahwa 
ketika mengambil S3 kita merasa bahwa ternyata ilmu yg kita miliki bukan 
bertambah..malah seperti kurang krn kita melihat bahwa ternyata apa2 yg telah 
dipelajari manusia belum mencukupi dibanding dg apa2 yg belum kita ketahui. 
Tool2 yg sebelumnya kita pikir sangat canggih ternyata masih banyak kekurangan 
utk dipakai mempelajari suatu yg lebih kompleks.  Apalagi kalau seseorang itu 
sudah pernah mempelajari riset2 yg gagal krn belum mampu utk mencapai ke sana. 
Jadi mending jadi S1 aja..kita bisa merasa lebih pintar..apalagi kalau tamatan 
ITB:).

Salam,

-Irsal
Coming up soon, http://www.dokterkita.net and http://www.kongkow.net

-----Original Message-----
From: Sholeh Mr <[email protected]>
Date: Mon, 15 Mar 2010 11:22:41 
To: <[email protected]>
Subject: [indonesia] Bls: Bls: Re: S3? Siapa takut ?


Ide dasarnya sangat inspiratif  dan tidak ada yang salah dalam cerita itu,.

Bila kita memiliki berbagai  argument,(istri kita tidak sekolah dan 
anak-anaknya berhasil dan seterusnya,... seterusnya) bukan berarti boleh untuk 
mematahkan semangat belajar mahasiswi tersebut,.. 
Indah sekali,. cerita ini.. mahasiswi tersebut bertekad untuk tidak mengulangi 
dirinya yang hanya belajar dari manusia lulusan S-3 saat diperguruan tinggi,.. 
dan kelak anaknya akan bertemu dan dididik oleh manusia lulusan S-3 semenjak 
dalam rahim nya,..

Kita berharap,.. kelak nanti anaknya akan banyak melahirkan generasi-generasi 
yang S-3 dan berakhlak mulia,.serta rahmatan lil alamain,..

AMieennn,..

Salam,.

--- Pada Sen, 15/3/10, Heddy Darmawan <[email protected]> menulis:

Dari: Heddy Darmawan <[email protected]>
Judul: [indonesia] Bls: Re: S3? Siapa takut ?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 15 Maret, 2010, 2:33 AM

Saya setuju dg Pak Joefrizal dan Pak Achmad,
istri saya hanya berpendidikan SLTA tapi anak laki2 saya pertama lulus S1 Mesin 
ITB Cum Laude, Anak perempuan kedua saya lulus S1 informatika  Cumlaude  ( IP : 
3.65 )dan S2 MBA ITB Cumlaude ( IP : 3.79 )  dan Anak laki2 saya ketiga Lulus 
S1 Hukum Sangat Memuaskan ( IP : 3.4 ).
 
Jadi yang diperlukan adalah cara mendidik yang tegas saya dan istri selalu 
menekankan penting nya belajar memberi petunjuk kepada anak akan kesulitan 
mereka alhamdulilah mereka berhasil. Dismaping usaha tidak kalah pentingnya 
adalah doa ayah dan ibu kepada Allah swt untuk keberhasilan anak anak nya.
 
Semoga bernanfaat
Heddy EL 76 ITB
081318914114





Dari: joefrizal joefrizal <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sen, 15 Maret, 2010 09:07:47
Judul: [indonesia] Re: S3? Siapa takut ?






Kalau boleh saya ingin juga berpendapat.
 
Semakin tinggi pendidikan seorang ibu, maka akan semakin terbuka matanya dan 
hal ini sangat baik sekali untuk mendidik anaknya. Tentunya hal ini dengan 
assumsi sang ibu meluangkan waktu cukup untuk mendidik anaknya dan tidak 
tenggelam dalam pekerjaan lain yang biasanya menumpuk.
 
Hakikat pendidikan itu adalah untuk memajukan manusia oleh karena itu apabila 
seorang ibu sudah maju, maka akan sangat besar kemungkinannya anak-anaknya 
menjadi maju.
 
Kalau melihat situasi di Indonesia, maka mungkin saja seorang ibu yang tidak 
mengecap pendidikan tinggi juga menghasilkan anak yang mengecap pendidikan 
tinggi.
 
Berangkat bahwa pendidikan itu adalah proses seumur hidup, maka S3 itu khan 
hanyalah pendidikan formal yang diberi gelar.
 
Wassallam
 
 
Joefrizal

--- On Sun, 3/14/10, Achmad Chamdani Eka P. <[email protected]> wrote:


From: Achmad Chamdani Eka P. <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: S3? Siapa takut ?
To: [email protected]
Date: Sunday, March 14, 2010, 8:41 PM


Idealnya begitu. Tetapi, tidak selalu menjadi jaminan dan ada korelasi bahwa 
seorang ibu yang
berpendidikan S3 mampu dan bisa meluangkan waktu untuk mendidik anak secara 
baik. Bahkan 
umumnya bidang yang dia geluti di S3 tsb. tidak berhubungan langsung dengan 
pendidikan anak,
terutama di masa dini. Pendidikan anak tidak sekedar berupa memberikan 
pengetahuan saja.
Tetapi, lebih dari itu yang terpenting adalah pembangunan akhlaq, karakter dan 
kepribadian.
Di dunia ini banyak sekali orang besar yang terlahir dari didikan seorang ibu 
yang tidak mempunyai
gelar di pendidikan formal sekalipun. Dan di Indonesia, tidak jarang anak yang 
terlahir dari seorang 
ibu berpendidikan S3, yang hanya mengecap pendidikan dari pembantu mereka.
Saya kira ini tidak lebih dari sebuah opsi saja, bukan sebuah justifikasi.


Wassalam.

[email protected] wrote: 
Assalamu'alaikum wr wb,

Sekedar meneruskan, semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaikum wr wb,
CA

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone


From: "seismic_yuni" <[email protected]> 
Date: Wed, 10 Mar 2010 06:07:06 -0000
To: <[email protected]>
Subject: [daarut-tauhiid] S3 Siapa takut ?

  



ternyata inspirasi bukan lah sebuah hal yang sulit dicari, bahkan seorang dosen 
pun dapat membuat cerita yang begitu menginspirasi kami...

Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi kepada seorang dosen, 
dia menghampirinya dengan wajah yang muram, dan kemudian berkata, "Pak, 
beasiswa Program Magister dan Doktor saya lolos". Dan hanya itu saja kata2 yang 
keluar dari mulutnya, tanpa diikuti ekspresi apapun dari wajahnya... mengingat 
di luar sana berjuta - juta orang memimpikan pencapaian ini. Dan sang dosen 
tertegun, kemudia dia berkata, "Bagus donk dek, kamu bisa bikin bangga banyak 
orang, dan itu merupakan jalan hidup yang sangat baik. Lalu apa yang membuat 
kamu terlihat bimbang dek." 

Akhirnya mahasiswi itu bercerita kepada sang dosen. "Pak, sekolah hingga S2 dan 
S3 merupakan cita-cita saya sejak kecil, ini adalah mimpi saya, tidak 
terbayangkan rasa bahagia saya saat memperoleh surat penerimaan beasiswa 
ini.... Tapi pak,
 saya ini akhwat, saya wanita, dan saya bahagia dengan keadaan ini.. Saya tidak 
memiliki ambisi besar, saya hanya senang belajar dan menemukan hal baru, tidak 
lebih.. Saya akan dengan sangat ikhlas jika saya menikah dan suami saya 
menyuruh saya untuk menjadi ibu rumah tangga.. Lalu, dengan semua keadaan ini, 
apa saya masih harus sekolah?? saya takut itu semua menjadi mubazir, karena 
mungkin ada hal lain yang lebih baik untuk saya jalani."

Pak dosen pun terdiam, semua cerita mahasiswinya adalah logika ringan yang 
sangat masuk akal, dan dia tidak bisa disalahkan dengan pikirannya.. . Dosen 
itu pun berfikir, memejamkan mata, menunggu Allah SWT membuka hatinya, 
memasukkan jawaban dari pertanyaan indah ini... 

Dan jawaban itu datang kepadanya, masuk ke dalah ide nya.... Pak dosen berkata 
seperti ini kepada mahasiswinya. . "Dek, sekarang bertanyalah kepada hati kecil 
mu, apa dia masih menginginkan dirimu untuk melanjutkan pendidikan ini hingga
 puncak nanti.." .. Sang mahasiswi bingung, dia menunduk , air mata turun dari 
kedua matanya, seakan dia merasakan konflik hati yang sangat besar ... yang 
saling ingin meniadakan.. Dosen itu melanjutkan nasehatnya.. "Dek, saya ingin 
bertanya kepadamu, kapan pertama kali engkau berhadapan dengan seorang S3 dan 
mendapat ilmu darinya?" "Sejak saya kuliah di ITB , Pak." Jawab sang gadis. 
Kemudian dosen itu melanjutkan ,"Ya dek, betul, saya pun demikian, saya baru 
diajar oleh seorang lulusan S3 semenjak saya kuliah di kampus ini.. Tapi dek, 
coba adek fikirkan, bahwa saat engkau memiliki anak, maka orang pertama yang 
akan menyapih rambut anakmu adalah seorang lulusan S3. Orang yang pertama 
mengajaknya berjalan adalah seorang ilmuwan tinggi, dan sejak dia mulai 
membaca, dia akan dibimbing dan dijaga oleh seorang Doktor. Itulah peranmu 
sebagai ibu nanti, apakah engkau bisa membayangkan betapa beruntungnya anak 
manusia yang akan kau lahirkan nanti." Dan itulah
 jawaban Allah SWT melalui pak dosen.... Mahasiswi itu tersadar dari konflik 
panjangnya, dan ia tersenyum bahagia, sangat bahagia, air matanya menjadi air 
mata haru, dan ia berdiri, mengucapkan terima kasih nya kepada sang dosen, dan 
berkata , "Pak, terima kasih, akan saya lanjutkan pendidikan ini hingga tidak 
satupun puncak lagi yang menghalangi saya." 

Betapa hidup itu sangat berarti, dan jadikan ia bermakna.. Bukan uang yang 
nanti akan membuatmu bahagia, tetapi rasa syukur mu lah yang akan menjadi 
kebahagiaan yang hakiki,.

Based on Dr. Hermawan Dipojono story... Lecture from Physics Engineering, ITB .
This article was originally published in forum thread: kisah inspiratif 
(terlebih lagi untuk akhwat) started by jalu_naradi View original post 


__._,_.___

Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New Topic 
Messages in this topic (1) 
Recent Activity: 

New Members 18 
Visit Your Group 
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar 
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
==================================================== 
 
Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use


. 

__,_._,___






        Berselancar lebih cepat. 
 Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman 
favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis)


      Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan mereka 
dari email atau jaringan sosial Anda sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke