Wa 'alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.

Pak Agus, Insya Allah kalau ajaran Dien ini dijalankan dengan PENGHAYATAN yang
murni, maka hati bisa bercahaya sehingga amal yang dilakukan ibarat buah yang
manis rasanya - menggugah bagi siapa pun yang memandangnya. Jadi barangkali ini
persoalan utama umat Islam kontemporer. Ajaran memang sudah mapan sejak jaman
Nabi, tapi penghayatan itu yang berproses sampai ke liang kubur bagi manusia
dari tiap-tiap jaman.

Jaman sekarang ajaran Dien memang banyak dikaji dan didiskusikan, dibedah sampai
ke hal-hal kecil. Namun apakah sudah dihayati sampai Ainul Yaqin ?
Bukan salah kajian dan pembahasannya ketika dampak amal tidak semanis ketika
didiskusikan, karena kurang penghayatan. Yang perlu diperbaiki ya penghayatannya
dong ! Misalnya ketika keimanan kepada Allah Ar Rozaq telah dima'rifati sampai
menghunjam, seharusnya orang tidak perlu dipaksa-paksa pakai rekayasa aturan
seperti *zakat profesi* untuk mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Yang perlu
ditingkatkan ya penghayatannya.

Itu barangkali *menurut saya*, maka ini *menurut Allah* : (QS. Al-Ankabut)

<1> Alif laaf miim.

<2> Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami
telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

<3> Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka
sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang-orang yang dusta.

<4> Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan
luput dari (azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.

<5> Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu
(yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dia-lah yang Maha Mendegar lagi
Maha Mengetahui.

<6> Dan barangsiapa yang berjihad (*laku* kalau bahasa Jawanya), maka
sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta.

<7> Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami
hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka
balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.

Mudah-mudahan kita semua mendapatkan petunjuk dan bimbingan dari Allah.

= Wizh =




Please respond to Milis is-lam <[email protected]>

To:   "Milis is-lam" <[email protected]>
cc:    (bcc: IPD Wiska Susetio/QA/domino_srv)

Subject:  [is-lam] Bagaimana 'Beragama' Yang Benar....



Assalamu'alaikum wr. wb.

Belakangan ini saya sering merenenung apakah pola-pola
'keberagamaan' kita ini sudah benar (mestinya sih cuek saja
yach..ngapain pusing-pusing) ?,
apakah tidak ada yang salah dengan 'keberagamaaan' khusus
nya muslim Indonesia ini.

Kalo kita ke mesjid mungkin masih bisa ikhlas memasukkan uang
ke kotak mesjid selembar pecahan sepuluh ribu, tapi kalo melihat
pengemis di jalanan mau memberi selembar lima ribu saja
rasanya kok berat ya, saya cari-cari dulu diselip-selipan
mungkin masih ada pecahan seribu rupiah, kalo ada saya kasih
kalo gak ada terkadang mesti mikir dulu kasih-gak, kasih gak....
seribu alasan saya cari, kalo dikasih ntar mendidik malaslah, inilah
itu lah dll. dll. Sulit yah mo berbagi itu...hihihihi..
ADA APA DENGAN 'AGAMA'[EMAIL PROTECTED], atau ADA APA DENGAN DIRI SAYA [EMAIL 
PROTECTED]@

Kita juga terkadang merasa sudah bahagia, senang, cukup( padahal saya
pernah nulis orang hidup gak boleh merasa cukup) kalo sudah mejalankan
hal-hal ritual (ibadah, wajib atawa sunnah), padahal disekitar kita masih
banyak orang orang kekurangan, cuman masalahnya gimana kita mo bantu lha
wong kita aja sekarang sering mengalami kesulitan, bener gak?..., nggak juga
gak apa..hehehe.

Mayoritas dari kita lebih suka melakukan kajian-kajian(majelis Ta'lim, dll)
yang melulu Teosentris/Teologi , baik dari kalangan ulama nya ataupun
dari kalangan 'abangan/awam.
Mengapa tidak dicoba kajian itu lebih mengarah pada
Antrophosentris/Antrophologi.
Saya kira mayoritas dari kita (Muslim) TAHU bahwa tidak dijadikannya Jin dan
Manusia kecuali untuk beribadah.
Tapi mungkin tidak menutup kemungkinan juga bahwa sebagian besar/kecil dari kita
tidak/kurang TAHU pengertian/definisi/implementasi...dll. sampai dengan dampak
ibadah itu seperti apa sih. Disinilah saya ingin berdiskusi pada sodara-sodara
di ISNET yang TAHU mungkin bisa kasih pencerahan, beramal dengan ilmunya
seharusnya yang namanya 'IBADAH itu gimana, kapan, harus sperti apa, kalo
melaksanaknnya benar akan bagaimana, bla,bla,bla....dll.

Kayaknya sih (kira-kira), kalo kita memahami al-Qur'an dan al-Kaun dengan
benar mestinya kalo kita tidak tahu, maka KETIDAKTAHUAN seharusnya menjadi
kendaraan bagi kita untuk berada pada jalan PENGETAHUAN agar sampai pada
tempat TAHU, karena kita hidup berproses, kontinyu.

Terkadang kita juga cenderung 'setuju dalam kondisi tertentu terjadi anarkis
(beberapa kali dibahas di ISNET)selama masih dikemas 'agama'
(dulu juga saya berprinsip seperti itu).
Seringkali saya merenenung apakah 'agama' hanya sekumpulan teks-teks suci/
nash-nash agung yang kaku.
Bukankah agama itu seharusnya memberikan maslahat pada ummatnya?
Mungkin memang pola-pola keberagamaan sekarang sudah berbeda dengan
pola-pola keberagamaan jaman Rasul SAW, Sahabat, Tabi'in, dan generasi
salaf.
Rujukan yang digunakan umat Islam selama ini adalah al-Quran, Hadits,
Ijma, dan Qiyas, dan ini seolah-olah SUDAH MAPAN.
Ijma adalah kesepakatan kaum muslim, sementara Jami'atul Muslimin itu
sekarang tidak ada, jadi kalo ada pernyataan kesepakan umat Muslim,
maka akan timbul pertanyaan umat Muslim yang mana? karena yang ada
sekarang adalah Jami'atul minal muslimin.
Begitu juga Qiyas, (analogi/tamtsil), apakah bisa yah tempat/waktu/ dll
tidak sama dibandingkan ntar gak 'aple to aple', gimana tuh ada yang
bisa jelasin sodara di isnet untuk dijadikan bahan diskusi?.

Apakah sekarang mungkin sudah terjadi pergeseran dari IJMA dan QIYAS
menjadi TRADISI/KEBIASAAN, apa iya begitu.
Begitu juga dengan ZAKAT, kalo dulu hanya aspek IBADAH saja, apakah
sekarang sudah mengalami pergeseran bukan hanya aspek ibadah saja
yang ada pada zakat, tapi juga aspek MUAMALAH.
Tapi ntar dicap BID'AH gak ya???, karena nanti BID'AH--->SESAT--->NAAR!

Semoga ada yang komentar supaya milis ini rame lagi dengan diskusi.

Oh ya untuk mas/mbak Uwik, ada hadits dari rasul saw, untuk masalah
ruqyah itu ada keringanan, boleh. Silahkan di baca kitab FATHUL MADJID.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

a.s.

NB: Judul diatas "Bagaiamana.... Yang Benar..", padahal saya itu pernah
dikasih tahu gus kamu ndak perlu tanya gimana/siapa yang benar, nanti
akan subjektif, karena pasti  akan muncul..."Menurut Saya.."... jadi
harus gimana yah...



_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke