Assalamu'alaikum wr. wb.

Sebelumnya terimakasih atas komentarnya.

-----Original Message-----
From: IPD Wiska Susetio [mailto:[EMAIL PROTECTED]

Wa 'alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.

>Pak Agus, Insya Allah kalau ajaran Dien ini dijalankan dengan PENGHAYATAN yang
>murni, maka hati bisa bercahaya sehingga amal yang dilakukan ibarat buah yang
>manis rasanya - menggugah bagi siapa pun yang memandangnya. Jadi barangkali ini
>persoalan utama umat Islam kontemporer. Ajaran memang sudah mapan sejak jaman
>Nabi, tapi penghayatan itu yang berproses sampai ke liang kubur bagi manusia
>dari tiap-tiap jaman.

Supaya lebih jelas gimana pengertian PENGHAYATAN menurut Pak Wiz, apakah
PENGHAYATAN identik dengan PENGAMALAN?


>Jaman sekarang ajaran Dien memang banyak dikaji dan didiskusikan, dibedah 
>sampai
>ke hal-hal kecil. Namun apakah sudah dihayati sampai Ainul Yaqin ?

Bukankah kita umat Islam yakin dengan Isra' dan Mi'raj walaupun tidak
melihatnya??

>Bukan salah kajian dan pembahasannya ketika dampak amal tidak semanis ketika
>didiskusikan, karena kurang penghayatan. Yang perlu diperbaiki ya 
>penghayatannya
>dong ! 

Pertama saya tidak menyalahkan kajian lho pak, kedua kalo INPUT sudah benar, 
kenapa OUTPUT nya kurang/tidak benar?.

Bukankah dalam Teori Dasar System ada yang namanya Input Process Output?
Artinya antara Input dan Output di jembatani oleh Process, bener gak pak?

>Misalnya ketika keimanan kepada Allah Ar Rozaq telah dima'rifati sampai
>menghunjam, seharusnya orang tidak perlu dipaksa-paksa pakai rekayasa aturan
>seperti *zakat profesi* untuk mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Yang perlu
>ditingkatkan ya penghayatannya.

Hehehe.. sensitive yah... ya gak apa pak, kalo gak setuju..mudah-mudahan
Ibnu Umar r.a. bukan termasuk orang yang suka merekayasa, atawa memaksa.

>Itu barangkali *menurut saya*, 

Trimaksih untuk pendapatnya.

 maka ini*menurut Allah* : (QS. Al-Ankabut)

<1> Alif laaf miim.

SAYA MENGIMANI

<2> Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami
telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

SAYA MENGIMANI

<3> Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka
sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang-orang yang dusta.

SAYA MENGIMANI

<4> Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan
luput dari (azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.

SAYA MENGIMANI

<5> Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu
(yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dia-lah yang Maha Mendegar lagi
Maha Mengetahui.

SAYA MENGIMANI

<6> Dan barangsiapa yang berjihad (*laku* kalau bahasa Jawanya), maka
sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta.

SAYA MENGIMANI

<7> Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami
hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka
balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.

SAYA MENGIMANI

Selama masih ada keimanan walaupun sedikit dalam hati, 'saya kira' semua
umat Islam meyakini bahwa al-Qur'an adalah PERKATAAN-NYA, itulah kenapa
disebut ayat-ayat Qauliyah, seperti yang pernah saya tulis di milis ini.

Yang ingin saya soroti adalah kenapa umat Islam selalu terpaku pada
tafsir-tafsir dari orang-orang salaf(terdahulu), kenapa kita takut
menafsiri ayat-ayat al-Qur'an dengan konteks KEKINIAN kalo misalnya
ILMU nya ada.
Adakah jaminan bahwa TAFSIR-TAFSIR tersebut mutlak benar??

Bukankah kita semua tahu bagaimana krisis kekinian dari umat ini?
Bukankah Pak Wiz juga meyakini kalo al-Quran itu adalah Petunjuk
bagi Manusia, hanya saja kalo menurut bapak al-Quran itu petunjuk
untuk sekarang(dunia), nanti (akhirat) atau keduanya (dunia dan akhirat)?

Mohon pencerahannya.


>Mudah-mudahan kita semua mendapatkan petunjuk dan bimbingan dari Allah.

Amin.

a.s.

= Wizh =




Please respond to Milis is-lam <[email protected]>

To:   "Milis is-lam" <[email protected]>
cc:    (bcc: IPD Wiska Susetio/QA/domino_srv)

Subject:  [is-lam] Bagaimana 'Beragama' Yang Benar....



Assalamu'alaikum wr. wb.

Belakangan ini saya sering merenenung apakah pola-pola
'keberagamaan' kita ini sudah benar (mestinya sih cuek saja
yach..ngapain pusing-pusing) ?,
apakah tidak ada yang salah dengan 'keberagamaaan' khusus
nya muslim Indonesia ini.

Kalo kita ke mesjid mungkin masih bisa ikhlas memasukkan uang
ke kotak mesjid selembar pecahan sepuluh ribu, tapi kalo melihat
pengemis di jalanan mau memberi selembar lima ribu saja
rasanya kok berat ya, saya cari-cari dulu diselip-selipan
mungkin masih ada pecahan seribu rupiah, kalo ada saya kasih
kalo gak ada terkadang mesti mikir dulu kasih-gak, kasih gak....
seribu alasan saya cari, kalo dikasih ntar mendidik malaslah, inilah
itu lah dll. dll. Sulit yah mo berbagi itu...hihihihi..
ADA APA DENGAN 'AGAMA'[EMAIL PROTECTED], atau ADA APA DENGAN DIRI SAYA [EMAIL 
PROTECTED]@

Kita juga terkadang merasa sudah bahagia, senang, cukup( padahal saya
pernah nulis orang hidup gak boleh merasa cukup) kalo sudah mejalankan
hal-hal ritual (ibadah, wajib atawa sunnah), padahal disekitar kita masih
banyak orang orang kekurangan, cuman masalahnya gimana kita mo bantu lha
wong kita aja sekarang sering mengalami kesulitan, bener gak?..., nggak juga
gak apa..hehehe.

Mayoritas dari kita lebih suka melakukan kajian-kajian(majelis Ta'lim, dll)
yang melulu Teosentris/Teologi , baik dari kalangan ulama nya ataupun
dari kalangan 'abangan/awam.
Mengapa tidak dicoba kajian itu lebih mengarah pada
Antrophosentris/Antrophologi.
Saya kira mayoritas dari kita (Muslim) TAHU bahwa tidak dijadikannya Jin dan
Manusia kecuali untuk beribadah.
Tapi mungkin tidak menutup kemungkinan juga bahwa sebagian besar/kecil dari kita
tidak/kurang TAHU pengertian/definisi/implementasi...dll. sampai dengan dampak
ibadah itu seperti apa sih. Disinilah saya ingin berdiskusi pada sodara-sodara
di ISNET yang TAHU mungkin bisa kasih pencerahan, beramal dengan ilmunya
seharusnya yang namanya 'IBADAH itu gimana, kapan, harus sperti apa, kalo
melaksanaknnya benar akan bagaimana, bla,bla,bla....dll.

Kayaknya sih (kira-kira), kalo kita memahami al-Qur'an dan al-Kaun dengan
benar mestinya kalo kita tidak tahu, maka KETIDAKTAHUAN seharusnya menjadi
kendaraan bagi kita untuk berada pada jalan PENGETAHUAN agar sampai pada
tempat TAHU, karena kita hidup berproses, kontinyu.

Terkadang kita juga cenderung 'setuju dalam kondisi tertentu terjadi anarkis
(beberapa kali dibahas di ISNET)selama masih dikemas 'agama'
(dulu juga saya berprinsip seperti itu).
Seringkali saya merenenung apakah 'agama' hanya sekumpulan teks-teks suci/
nash-nash agung yang kaku.
Bukankah agama itu seharusnya memberikan maslahat pada ummatnya?
Mungkin memang pola-pola keberagamaan sekarang sudah berbeda dengan
pola-pola keberagamaan jaman Rasul SAW, Sahabat, Tabi'in, dan generasi
salaf.
Rujukan yang digunakan umat Islam selama ini adalah al-Quran, Hadits,
Ijma, dan Qiyas, dan ini seolah-olah SUDAH MAPAN.
Ijma adalah kesepakatan kaum muslim, sementara Jami'atul Muslimin itu
sekarang tidak ada, jadi kalo ada pernyataan kesepakan umat Muslim,
maka akan timbul pertanyaan umat Muslim yang mana? karena yang ada
sekarang adalah Jami'atul minal muslimin.
Begitu juga Qiyas, (analogi/tamtsil), apakah bisa yah tempat/waktu/ dll
tidak sama dibandingkan ntar gak 'aple to aple', gimana tuh ada yang
bisa jelasin sodara di isnet untuk dijadikan bahan diskusi?.

Apakah sekarang mungkin sudah terjadi pergeseran dari IJMA dan QIYAS
menjadi TRADISI/KEBIASAAN, apa iya begitu.
Begitu juga dengan ZAKAT, kalo dulu hanya aspek IBADAH saja, apakah
sekarang sudah mengalami pergeseran bukan hanya aspek ibadah saja
yang ada pada zakat, tapi juga aspek MUAMALAH.
Tapi ntar dicap BID'AH gak ya???, karena nanti BID'AH--->SESAT--->NAAR!

Semoga ada yang komentar supaya milis ini rame lagi dengan diskusi.

Oh ya untuk mas/mbak Uwik, ada hadits dari rasul saw, untuk masalah
ruqyah itu ada keringanan, boleh. Silahkan di baca kitab FATHUL MADJID.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

a.s.

NB: Judul diatas "Bagaiamana.... Yang Benar..", padahal saya itu pernah
dikasih tahu gus kamu ndak perlu tanya gimana/siapa yang benar, nanti
akan subjektif, karena pasti  akan muncul..."Menurut Saya.."... jadi
harus gimana yah...



_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke