Wa'alaikum salam warohmatullaahi wabarokaatuh.
Sambil nunggu jam pulang ... Kayaknya sambil ngopi enak nih, Pak.
Penghayatan berbeda dengan pengamalan, wong di kamusnya saja sudah beda :-)
Kalau di gathuk-gathuk atau kirata basa sundana, penghayatan berasal dari kata
hayat, jadi arahnya barangkali bagaimana seluruh aspek hayat, hidup (hati,
lisan, amal) selaras dalam nafas ajaran. Pengamalan hanya satu aspek saja dari
penghayatan.
Kira-kira maksud saya semakin murni penghayatan berarti semakin tinggi keimanan.
Iman itu kan barangkali nggak hanya meyakini thok, Pak, tapi ada gradasinya.
Dalam Qur'an gradasinya secara garis besarnya kira-kira ialah Iman taqlid, Iman
Ilmu, dan Iman Ainal Yaqin. Mengenai makna ainal yaqin barangkali bisa dibaca
penjelasan para ulama misalnya Allamah Ibnu Qayyim rohimahullah dalam kitab Al
Fawa'id bab-bab awal.
Ketika dikatakan umat Islam meyakini Isra' Mi'raj, maka bisa ditilik lagi : umat
Islam yang mana yang keyakinannya (tingkat keimanannya) seperti apa ?
Nah beda tingkat keimanan kan berarti beda input, Pak. Meskipun prosesnya sama
ya jelas outputnya bakal beda juga. Penjelasan Ibnu Qayyim dalam kitab Al
Fawa'id tersebut ketika membedah tafsir surah Qof ayat 37 itu sangat menarik.
Maksud saya, ketika kita belum optimal mengambil manfaat dari kitab-kitab tafsir
yang ada, yang sebenarnya mengandung lautan ilmu, karena tingkat keimanan yang
masih biasa-biasa saja, kenapa tidak dicoba dulu membaca ulang setelah
ditingkatkan keimanannya. Biasanya akan muncul *rahasia-rahasia* yang belum
terungkap pada pembacaan sebelumnya. Sebelum buru-buru *loncat* menerjuni
samudra tafsir yang baru, belum tentu juga didapat solusi yang segar karena
*rahasia-rahasia*nya belum terungkap secara utuh.
Wallahu'alam,
= Wizh =
Please respond to Milis is-lam <[email protected]>
To: "Milis is-lam" <[email protected]>
Subject: RE: [is-lam] Bagaimana 'Beragama' Yang Benar....
Assalamu'alaikum wr. wb.
Sebelumnya terimakasih atas komentarnya.
-----Original Message-----
Wa 'alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.
>Pak Agus, Insya Allah kalau ajaran Dien ini dijalankan dengan PENGHAYATAN yang
>murni, maka hati bisa bercahaya sehingga amal yang dilakukan ibarat buah yang
>manis rasanya - menggugah bagi siapa pun yang memandangnya. Jadi barangkali ini
>persoalan utama umat Islam kontemporer. Ajaran memang sudah mapan sejak jaman
>Nabi, tapi penghayatan itu yang berproses sampai ke liang kubur bagi manusia
>dari tiap-tiap jaman.
Supaya lebih jelas gimana pengertian PENGHAYATAN menurut Pak Wiz, apakah
PENGHAYATAN identik dengan PENGAMALAN?
>Jaman sekarang ajaran Dien memang banyak dikaji dan didiskusikan, dibedah
sampai
>ke hal-hal kecil. Namun apakah sudah dihayati sampai Ainul Yaqin ?
Bukankah kita umat Islam yakin dengan Isra' dan Mi'raj walaupun tidak
melihatnya??
>Bukan salah kajian dan pembahasannya ketika dampak amal tidak semanis ketika
>didiskusikan, karena kurang penghayatan. Yang perlu diperbaiki ya
penghayatannya
>dong !
Pertama saya tidak menyalahkan kajian lho pak, kedua kalo INPUT sudah benar,
kenapa OUTPUT nya kurang/tidak benar?.
Bukankah dalam Teori Dasar System ada yang namanya Input Process Output?
Artinya antara Input dan Output di jembatani oleh Process, bener gak pak?
>Misalnya ketika keimanan kepada Allah Ar Rozaq telah dima'rifati sampai
>menghunjam, seharusnya orang tidak perlu dipaksa-paksa pakai rekayasa aturan
>seperti *zakat profesi* untuk mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Yang perlu
>ditingkatkan ya penghayatannya.
Hehehe.. sensitive yah... ya gak apa pak, kalo gak setuju..mudah-mudahan
Ibnu Umar r.a. bukan termasuk orang yang suka merekayasa, atawa memaksa.
>Itu barangkali *menurut saya*,
Trimaksih untuk pendapatnya.
maka ini*menurut Allah* : (QS. Al-Ankabut)
<1> Alif laaf miim.
SAYA MENGIMANI
<2> Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami
telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
SAYA MENGIMANI
<3> Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka
sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang-orang yang dusta.
SAYA MENGIMANI
<4> Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan
luput dari (azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.
SAYA MENGIMANI
<5> Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu
(yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dia-lah yang Maha Mendegar lagi
Maha Mengetahui.
SAYA MENGIMANI
<6> Dan barangsiapa yang berjihad (*laku* kalau bahasa Jawanya), maka
sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta.
SAYA MENGIMANI
<7> Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami
hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka
balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.
SAYA MENGIMANI
Selama masih ada keimanan walaupun sedikit dalam hati, 'saya kira' semua
umat Islam meyakini bahwa al-Qur'an adalah PERKATAAN-NYA, itulah kenapa
disebut ayat-ayat Qauliyah, seperti yang pernah saya tulis di milis ini.
Yang ingin saya soroti adalah kenapa umat Islam selalu terpaku pada
tafsir-tafsir dari orang-orang salaf(terdahulu), kenapa kita takut
menafsiri ayat-ayat al-Qur'an dengan konteks KEKINIAN kalo misalnya
ILMU nya ada.
Adakah jaminan bahwa TAFSIR-TAFSIR tersebut mutlak benar??
Bukankah kita semua tahu bagaimana krisis kekinian dari umat ini?
Bukankah Pak Wiz juga meyakini kalo al-Quran itu adalah Petunjuk
bagi Manusia, hanya saja kalo menurut bapak al-Quran itu petunjuk
untuk sekarang(dunia), nanti (akhirat) atau keduanya (dunia dan akhirat)?
Mohon pencerahannya.
>Mudah-mudahan kita semua mendapatkan petunjuk dan bimbingan dari Allah.
Amin.
a.s.
= Wizh =
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam